
Aku meminum segelas jahe susu selagi masih hangat, ku silangkan kakiku dan bersender di dinding kayu pada gasebo tersebut. Astrid duduk tepat di depanku, hanya terhalang meja panjang yang di lapisi karpet lantai berwarna biru.
Astrid memegang gelas dengan kedua tanganya yang juga ia letakan di meja. Dalam matanya seperti tersimpan banyak hal yang mungkin ia tahan.
"Ada apa..?" tanyaku,
"Aku cuma kepikiran bapak ku.." jawabnya,
"Memangnya kenapa?" tanyaku,
"Cuma kepikiran dulu itu ada cowok yang suka sama aku, hujan-hujan datang kerumahku, tapi sama bapakku di suruh pulang, katanya jangan menjadi bodoh untuk mengejar perempuan. Bapakku kasihan, tapi bukan begitu caranya mengambil hati bapakku." Astrid menurunkan tatapannya. Aku terdiam menunggu kelanjutan dari ceritanya.
"Untuk bapakku, dia mengutamakan laki-laki yang bisa membaca Al-Qur'an. Itu yang paling utama ada pada akhlaknya." matanya menatap ku dengan tajam. Aku hanya terdiam mendengarkan itu.
"Aku nggak pernah memberi tahu hal seperti ini. Mungkin ini kek bocoran, peluang untuk jadi menantunya." kata Astrid kembali menatap ku dengan tajam.
Seketika jantungku berdegub kencang, aku mencoba berpikir lebih keras untuk memahami ucapannya. Apa maksud dari ucapannya, membocorkan salah satu syarat untuk mendapatkan hati Ayahnya. Ia mengatakannya padaku, apa dia ingin aku yang berusaha untuk menggapainya.
"Aku pernah sakit hati dengan orang tua Jafar. Ketika itu di rumahnya sedang ada acara. Aku di ajak ke rumahnya, udah ngerasa bangga karena di ajak ke rumahnya, bakal ketemu keluarganya. Sampai di sana ternyata banyak orang yang lagi sibuk. Aku nggak begitu paham mesti melakukan apa, aku niatnya udah bantuin, tapi aku memecahkan gelas satu, itupun nggak sengaja, sampai ibunya kek marah.." kata Astrid, matanya terlihat sayu dengan tatapan yang ku lihat itu adalah tatapan kosong,
__ADS_1
"Marah gimana?" tanyaku penasaran,
"Ibunya bilang, kamu bisanya ngapain? Kaya gitu nggak bisa! Gimana nanti pas jadi istri anakku? Nada suaranya agak tinggi, aku tahu itu nada orang yang lagi marah. Aku di gituin sakit hati, aku ngerasa di bentak. Apa lagi itu orang tua pacar sendiri. Aku langsung minta di antar pulang. Sejak saat itu aku selalu sakit hati kalau ku ingat kejadian itu. Alasanku ragu untuk menikah dengan dia." tatapannya mulai sayu, bola matanya terlihat berkaca- kaca,
Mungkin itu kejadian yang berat untuk Astrid terima, aku bisa merasakan bagaimana perasaannya. Ia pasti sangat senang saat dia di ajak ke rumah pacarnya dengan maksud lebih mengenal keluarga pacarnya, alhasil ia malah mendapat tekanan.
Ada hal yang mungkin membuatku merasa senang dan sedih, senang karena itu bisa menjadi peluangku jika ia tidak jadi menikah dengan pacarnya, tapi cukup sedih mengingat Astrid adalah sosok perempuan yang sangat ceria, baik, dan mudah akrab dengan siapa saja. Tapi harus di perlakukan tidak baik dengan ibu dari pacarnya itu. Sedangkan dengan ibuku, Astrid merasa nyaman.
Matanya menunduk,tatapannya masih tampak kosong. Aku hanya memperhatikan, situasi seperti ini aku memikirkan apa yang harus aku lakukan? Jika aku masuk dalam situasi ini, apakah aku akan terlihat lebih jahat? Menenangkannya dengan tidak membuatku merasa lebih baik dari pacarnya, atau aku mengambil kenyamanan dari pacarnya? Tidak, aku tidak akan merebutnya kecuali ia sendiri yang memilihku.
Jika saja aku bisa memeluknya saat itu, mungkin ia akan merasa lebih tenang, dari pada aku harus menenangkan dengan kata- kata saja. Tapi mana mungkin aku memeluknya di tempat umum seperti ini. Aku mungkin bisa saja menjadi pendengar yang baik untuk mendengarkan ceritanya. Tapi entah kenapa aku lebih yakin dia adalah perempuan yang tegar. Dia satu tahun lebih tua dari pada aku, yang awalnya dia terlihat manja, dan seperti anak kecil yang lucu. Tapi ketika ia menunjukan dewasanya, itu mengerikan. Selalu saja laki- laki tidak akan pernah menjadi lebih dewasa di bandingkan dewasa dari wanita yang seusianya. Apa lagi dia lebih tua dari aku satu tahun, akan lebih mengerikan.
Matahari sudah menjulang tinggi. Kami berjalan menuju ke gasebo yang lebih dekat dengan tebing. Dari situ kami bisa menikmati luasnya langit biru.
"Mau foto nggak?" tanya Astrid.
"Aku nanti aja. Sini kalau kamu mau foto, aku fotoin." aku meminta Hpnya untuk segera mengambil foto.
__ADS_1
Setelah beberapa kali mengambil foto, aku kembali ke gasebo. Mataku sudah terasa pedas sekali, aku merebahkan tubuhku dan mulai terpejam, tapi aku coba membukanya lagi. Astrid tampak menyadari kalau aku sangat ngantuk sehingga ia tersenyum.
"Kamu tidur aja.." kata Astrid yang duduk di sebelah kiriku.
Aku tidak menjawab ucapannya, bahkan untuk membuka mata sudah terasa berat meski sudah ku tahan. Yang ku ingat ia ada di sampingku. Entah berapa lama aku sudah tertidur, saat aku membuka mata Astrid sedang foto sendiri. Ia menyadari aku sudah bangun, dia mendekatiku.
"Udah bangun?" tanya Astrid,
"Hhm.." aku hanya menjawab dengan senyuman karena terasa masih ngantuk.
"Tidur lagi aja.." kata Astrid,
Aku langsung merebahkan lagi tubuhku, aku masih menatap Astrid yang berdiri di dekatku, ia mengarahkan kamera hp nya padaku dan berkata," yang di ajak main udah K.O,hehe.." mendengar ucapan itu akupun mulai terpejam lagi. Memang rasanya sangat ngantuk, udara sudah mulai terasa panas.
"Aku mau mandia sebentar ya, ada kamar mandi di sebelah sana.." Astrid berbisik,
__ADS_1
Aku membuka mataku sedikit, Astrid sudah beranjak untuk mandi. Aku kembali terlelap bermimipi. Sambil menunggu ia selesai mandi juga.