
Orang masih berlalu-lalang di sekitar tempat ini, tempat di mana banyak orang mengabadikan momen-momen indahnya pemandangan di tempat tersebut, Top Selfie Kragilan, yang ada di Dusun Kragilan, Kec. Pakis, Magelang.
Udara terasa sejuk meski langit mulai memberi kabar akan segera datangnya hujan. Kami bergegas menuju parkiran motor untuk segera meninggalkan tempat itu. Aku menyalakan motorku dan berlalu meninggalkan tempat itu. Astrid nampak memegang jaketku bagian saku yg ada di pinggangku. Tangannya erat seakan takut ia terjatuh dari motorku. Memang sih, jok motorku sudah aku modif supaya menjadi naik ke belakang, sehingga bakal melorot ke depan.
Dalam perjalan kami tidak bisa menyangkal, hujan pun mengguyur kami yg hendak mulai perjalanan, kami berhenti di sudut jalan dan berteduh di sebuah warung kecil yang sangat sederhana, dengan pagar bambu sebagai dindingnya yang di tutupi plastik supaya air hujan enggan masuk ke dalam. Ya kami berteduh sebelum basah kuyup. Seorang wanita sekitar umur 30 tahun menghampiri kami yang duduk di kursi bambu dan sudah tersedia meja. Dan nampak ada makanan ringan seperti pisang goreng, buah salak, tahu, dan gorengan lain.
"Monggo silahkan, mau minum enggak?" tawar Ibu itu dengan sangat ramah.
"Kamu mau minum?", tanya Astrid padaku.
"Teh anget aja aku." jawab ku.
"Ya udah Bu, teh anget nya dua ya Bu!" pesan Astrid.
"Oh nggih, di tenggo sekedap." jawab ibu itu.
Selang beberapa menit Ibu itu sudah membawa minuman yg kami pesan.
"Monggo di minum nggih." Kata Ibu itu.
"Iya Bu, makasih." Astrid menjawabnya.
Ku lihat Astrid mulai meminum teh dengan kedua tangannya yg menggenggam gelas itu seakan untuk menghangatkan tangannya.
"Di sini dingin juga, serasa di Wonosobo." ucap Astrid setelah meminum tehnya.
"Iya po? Aku belum pernah ke sana." jawabku.
"Gio, coba lihat! Mulutku keluar asapnya."
__ADS_1
"Haha itu bukan asap,"
"Ini asap, aku bisa ngeluarin asap tanpa harus menghisap rokok."
"Itu kan karena kabut, dan kita minum teh anget."
"Hahh.. Hahhh.. Keluar asapnya. Coba kamu gio, ikutin aku!"
"Hahaha, enggak mau ah."
Tingkahnya membuatku terus tertawa, seperti ia terlihat polos, namun itulah dia yg baru ku kenal dengan tingkahnya.
"Gio, kamu mau salak?"
"Kamu mau beli?"
"Ya udah boleh."
Astrid membeli salak yg mungkin cukup banyak menurutku, setengah kilo. Hujan mulai reda, suasana, udara di pegunungan ini tetap saja masih menusuk jaketku dan terasa menusuk kulitku.
"Gio, aku masih bisa ngeluarin uap. Hahh..." Astrid melongo sambil mengeluarkan asap yang ia sebut uap.
"Tadi asap, sekarang uap?" kataku.
"Ini uap namanya, aku suka!"
"Haha ini kabut ah."
"Aku suka air, aku suka hujan, aku suka uap."
__ADS_1
Kami melalui jalan dengan medan berbelok dan naik turun. Jalanan yg masih basah karena air hujan belum mengering, mulai tergenang air saat hujan mulai turun kembali. Kami kehujanan dalam perjalanan, cukup beruntung kami melihat warung bakso. Kami kembali berteduh di warung bakso,sedangkan motorku, aku parkir tepat di depan masjid yang ada di seberang jalan. Kami makan bakso sembari menunggu hujan reda.
"Aku pingin pipis." kata Astrid.
"Mau pipis di mana?" tanyaku.
"Itu ada masjid, mau sekalian sholat ashar juga."
"Ya udah, aku tunggu di depan masjid."
Setelah makan bakso, kami menuju masjid. Udara sangat dingin, jaketku juga telah basah. Tubuhku menggigil karena jaket, bajuku, dan celanaku sudah basah hingga sepatuku.
Ku lihat Astrid sudah selesai dan menghampiriku.
"Kamu basah banget, pakai jaketku juga ya?"
"Nggak usah, kamu pakai aja, nanti kamu kedinginan!"
"Enggak kok, bajuku ini tebel." sambil Astrid melepas jaketnya.
Jaketnya aku pakai dan itu kecil, tapi cukup muat untuk menutupi dinginnya udara itu. Kami melanjutkan perjalanan menyusuri jalan yg menghubungkan kami ke Jln. Candi mulyo. Hujan nampak tak mau mereda, dan kami tetap menerabas dinginnya kala itu.
Langit yg pagi hari nampak cerah kian tak memperlihatkan seberkas cahayanya. Hingga langit mulai nampak gelap sudah mendekati magrib.
Tangan Astrid mulai memeluk pinggangku. Mungkin dia kedinginan. Atau dia nggak mau aku kedinginan. Aku nampak ragu, dan mengingatkannya.
"Ini posisi kita kaya gini, apa nggak apa-apa?"
Sontak dia melepas pelukannya, dan tidak menjawab apapun. Entah apa yg membuatnya memelukku dan entah apa yg membuat tangannya melepaskan.
__ADS_1