
Bab 53
Seketika semuanya menjadi tampak tidak baik, di luar dugaan ini akan terjadi. Perutku mulai terasa panas, jantungku berdebar tidak beraturan, rasa cemas semakin membuatku tidak bisa tenang. Semua telah terjadi, ingin sekali aku bisa memutar waktu kembali, tapi itu tidak akan pernah terjadi. Malam ini aku akan sulit untuk memejamkan mata.
******
Banyak hal yang ingin ku jelaskan padanya, tapi mungkin itu tidak akan mampu untuk merubah asumsi dari realita yang telah ia saksikan sendiri dengan kedua bola matanya. Sangat menyimpang dari apa yang telah ku persiapkan tentang perjalanan cerita ini.
Tubuhku terasa semakin bergetar saat aku melihat jam yang menempel pada dinding. Waktu menunjukan pukul 14.47 WIB, jantungku semakin berdetak lebih kencang namun rasanya tubuh mulai terasa lemas. Aku tidak punya alasan lain untuk merobohkan keraguannya padaku. Pada akhirnya siap atau tidak, aku harus bisa meyakinkan ia kembali.
Bruk bruk bruk..
Suara langkah sepatu yang berjalan dengan terburu-buru terdengar di telingaku. Suara itu berhenti tepat di samping kiriku, aku menoleh ke kiri, dan aku sangat gelisah melihat Astrid ada di situ sedang mengambil presensi masuk. Aku terus memandangi wajahnya yang manis, aku yakin ia tahu aku sedang memandanginya, namun sayangnya ia tidak memperdulikan itu. Ia berlalu tanpa menolehku sedikitpun. Rasanya ingin sekali aku memanggilnya, namun apa daya bila lidahku saja mendadak kaku tak berkutik untuk memulai percakapan.
"Gio Hp ku..!"
__ADS_1
Aku mendengar suara Astrid memanggilku dari belakangku. Dengan rasa takut aku membalik badanku mengahadap padanya, ia berdiri dan tangan kanannya menyodorkan hpku. Aku segera membuka kartu handphoneku dan ku ambil.
"Nanti aku mau ngomong.." kataku pelan,
Astrid hanya terdiam tanpa merespon ucapanku, sangat dingin sikap yang ia tunjukan padaku. Aku akan menunggu sampai nanti ia selesai bekerja. Aku harus bisa mencairkan sikapnya yang mungkin sudah membeku.
Baiklah, aku akan memikirkan setelah ini. Aku akan tidur menunggunya hingga selesai. Jam kerjaku sudah usai, aku segera masuk ke dalam mes. Membuka facebookku yang belum sempat ku log out. Aku buka inbok, ku cari nama Eka di inbok itu, lalu ku buka pesan itu, mulai ku hapus seluruh percakapan dan aku semakin menyesali, mengapa ini tidak ku lakukan sejak awal.
Aku membuka pintu kamar mes sedikit supaya aku bisa melihatnya beraktivitas. Namun mendengar suaranya yang ceria dan tawanya, semakin hatiku mulai teriris, ada bahak tawa untuk mereka, untuk teman-teman di sekelilingnya, namun tidak ada tawa seperti itu untukku. Aku takut kehilangan tawa yang biasa ia beri, aku takut kehilangan kedekatanku dengannya, aku merasa aku sudah memiliki hatinya, namun tidak pada orangnya.
*******
"Aku mau ngomong dulu.." kataku,
"Tidak ada yang perlu di omongin.." jawabnya,
"Aku bisa jelaskan!"
"Nggak perlu, aku udah tahu itu. Kalau kamu masih ingin dia kembali silahkan." kata Astrid memalingkan wajahnya,
__ADS_1
"Enggak.. Aku udah nggak ada ingin untuk balik dengannya." aku mencoba meyakinkannya,
"Foto yang ada di dalam inbok masih kamu simpan, kamu masih mengharapkannya." kata Astrid,
"Enggak, itu aku lupa menghapusnya!" kataku,
"Aku tidak percaya itu. Kalau kamu mau kembali dengan wanita itu silahkan. Aku nggak perduli! Melihat foto itu, rasanya aku ingin mengirim bom untuk kalian berdua. Foto itu sudah menjelaskan semuanya." kata Astrid,
"Sudahlah.. Biar aku yang mundur, aku tidak akan mengganggu kalian, biar aku yang pergi." kata Astrid,
"Enggak, jangan pergi." aku berusaha menahannya, aku tidak ingin berakhir menyedihkan, jika ia pergi aku tidak ingin karena kesalahanku,
"Aku nggak kenal siapa kamu, aku nggak bisa menebak pola pikirmu." Astrid memakai helm,
"Tunggu.. Jangan pulang dulu." aku mencoba mencegahnya,
"Aku ngantuk, butuh istirahat, besok masih ada kegiatan." Astrid menyalakan motornya dan berlalu pergi,
Aku hanya bisa melihatnya berlalu, tidak ada titik terang dari percakapan ini. Esok akan seperti apa aku hanya bisa meratapi kelalaianku. "Biar aku yang pergi.." ucapan itu membuatku terus memikirkannya. Harapan untuk melalui waktu bersamanya sudah ku gantung tinggi, mulai runtuh. Rasa putus asa, hilangnya rasa semangat mulai menyelimuti pikiranku.
__ADS_1