Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 5


__ADS_3

Sejak aku mengirim SMS tadi malam, aku hanya memandangi layar HP ku sembari menunggu kemungkinan adanya balasan darinya.


Hari ini tanggal 1 Januari 2017, aku harap semuanya menjadi lebih baik untuk kehidupanku.


Hari itu kami mengadakan rapat bulanan sekitar pukul 14.30 WIB. Semuanya sudah berkumpul, namun aku sedikit resah. Tentu saja menunggu seseorang yang tadi malam sudah ku hubungi dengan harap ia akan membalas pesanku. Tapi, entahlah dia tak kunjung datang. Sampai kurang lebih pukul 15.00 WIB, dia tak kelihatan, hingga akhirnya Mas Matin memberi kabar yang ia dapat dari Astrid. Aku terkejut dengan kabar bahwa dia masih dalam perjalanan pulang, dan posisi mobilnya terjebak macet. Hingga akhirnya mau tidak mau dia harus ijin tidak bisa untuk ikut rapat yg seharusnya itu adalah wajib, bahkan dia tidak bisa masuk kerja.


Aku merasa sedikit kecewa dengan keadaan itu, bahwa dia tidak bisa datang. Padahal aku menantinya, karena SMS ku yg tidak dia balas, dan sekarang dia tidak hadir.


Aku mulai merasakan sesuatu yg membuatku ingin melihatnya. Karena tingkahnya, atau hal lain, saat itu yg ku rasa hanyalah ingin dia ada di sini.


*****


Sekitar pukul 19.00 rapat sudah selesai. Sampai saat itu aku mencoba melihat HP ku, aku melihat notif handphone ku dan saat ku buka dia membalas pesanku, ia memberi tahuku juga bahwa dia tidak bisa masuk. Ya mungkin pending dari semalam yang akhirnya pesan itu baru saja masuk. Semangatku mulai menjadi lain. Yang ada aku harap hari secepatnya berlalu, karena aku ingin cepat segera berganti hari dan dapat melihatnya besok.


Memang sejauh ini belum ku dapati kedekatan yang khusus antara aku denganya, mungkin baru beberapa hari juga ya.


Pikiranku mencerna kembali apa yang ia ucapkan, tentang dia yang mau mentraktirku. Tentu saja bukan karena makanan yang ku tunggu, tapi duduk berdua saja dengannya, itulah yg ku bayangkan selalu.

__ADS_1


Ku pikir akan tiba saatnya, meski harus lebih banyak bersabar untuk terus menantikannya. Ini masih awal, aku tidak punya rencana apapun untuk hal yang lebih dari sekedar menjadi dekat padanya.


 


Duduk di meja konsumen yang paling depan, sambil menikmati secangkir cokelat panas yang ku buat sendiri. Ini tidak seperti aku yang biasanya, memikirkan tentang kemungkinan yang tidak akan ku lakukan.


Hey siapa Astrid? untuk apa memikirkan sejauh itu. Mungkin dia sedang bersenang-senang di sana. Lagi pula aku juga baru saja terima gaji bulananku, aku membagi untuk beberapa keperluan dan yang pasti untuk membayar cicilan dan untuk Ibuku.


 


Tapi tetap saja aku merasa cemas, aku sudah mau tukaran shift untuk membantunya. Jika dia tidak bisa masuk, ada sedikit rasa sesalku.


 


Rasanya ingin langsung tidur saja, tapi pikiranku tidak mau berhenti. Aku meraih handphone ku, hanya membaca balasan smsnya yang tadi malam ia kirim. Apa aku kirim sms saja dia, tapi aku khawatir kalau aku mengganggunya.


 

__ADS_1


"Yok, rung turu?" Omes menyapaku dengan pertanyaan. (Yok, belum tidur?)


"Hurong Mess.. rung ngantuk." (Belum Mess..belum ngantuk.)


"Mikir opo?" (Mikir apa?)


"Kiro-kiro sesok Astrid masuk ra?" (Kira-kira besuk Astrid masuk enggak?"


"Mugo wae masuk lah, lagi kerjo rong dino." (Semoga aja masuklah, baru kerja dua hari)


"Iyo sih.. Padahal maune wis tak sms." (Iya sih, padahal tadinya sudah ku sms.)


"Aku due Pin BB ne yok. Opo agak di chat wae?" (Aku punya pin BBnya Yok. Apa mau di chat aja?)


"Ora usah, udu sopo-sopone kok." (Nggak usah, bukan siapa-siapanya kok.)


Ngobrol sedikit dengan Omes ternyata membuat mataku mulai berat. Omes juga sudah tidak merespon ucapanku. Saat ku lihat, dia sudah tidur. Astaga secepat itu dia bisa tidur.

__ADS_1


Hal.5


__ADS_2