Bidadari Waktu

Bidadari Waktu
bab 16


__ADS_3

 


Inilah hari di mana kami kembali bekerja dalam satu shift. Aku masih ingat bagaimana malam itu membuat pikiranku kacau. Dasar, aku kurangnya profesional tergoyahkan dengan masalah hati.


 


Pagi itu aku bangun pagi untuk bersiap bekerja. Kami sudah berkumpul untuk berdoa, tapi kami menunggu satu orang yang belum juga datang. Astrid terlambat, entah apa yang membuatnya terlambat. Aku harap dia tetap datang. Tak lama kemudian ku dengar suara motor beat dari luar. Mataku yang masih tampak sayu, karena masih mengantuk, tiba-tiba menjadi segar saat Astrid masuk melalui pintu dengan tergesa-gesa.


"Maaf Pak Feri, Astrid telat." sambil berlalu mengambil presensi.


 


Kami bekerja secara normal. Suara musik mengiringi berjalannya waktu kami sambil bekerja. Bergantian lagu kami dengar sampai akhirnya lagu terakhir berhenti.


 


"Musikkan pake Hp Astrid aja ya?" pinta Astrid, entah ia bicara dengan siapa, dengan maksud kami semua mendengarnya.


Matahari tak begitu terang, dan sudah condong ke arah barat, menunjukan hari sudah mulai sore. Jam 15.15 WIB, kami sudah mulai closing. Aku yang sedang mencuci penanak nasi, tiba-tiba Astrid mendekat dan duduk di sampingku dan berbisik.


"Gio, kamu mau pergi enggak?" Tanya Astrid dengan suara pelan.


"Emm.. Nggak kok!" jawabku.


"Mau lihat sunset?" tanya Astrid.


"Boleh, di mana?" tanyaku balik.


"Em.. Yang dekat-dekat aja!"


"Emang di mana?"


"Paris aja, mau?"


"Boleh, mau kapan?"


"Em.. Habis ini pulang kerja kita berangkat."


"Ya udah. Iya."


 


Mana bisa aku menolak permintaannya. Apa lagi kami hanya akan pergi berdua. Oke, setelah aku menyelesaikan closinganku. Aku menunggu sambil berdiri tidak terlu jauh dari Astrid dan Mas Feri sedang mengerjakan laporan kasir dan penghitungan stok barang yang tersisa.


 


"Ayo cepat Astrid!! Saya harus pulang cepat ini. Istri saya sudah menunggu di rumah ini." Mas Feri sambil senyum.


"Iya Pak Feri." Jawab Astrid.


"Gimana Astrid, bisa enggak?" Tanya Mas Feri.


"Bisa bisa, gini kan?" Astrid menyodorkan laporan itu untuk segera di cek ke Mas Feri.


"Coba sini lihat. Kalau minus nanti kamu tak gendong." Sahut Mas Feri.


"Hahaha di gendong di ajak jalan-jalan?" Astrid tertawa.


"Oke, mulai besok kalau minus di gendong belakang, kalau plus di gendong depan ya? Haha." tambah Mas Feri.

__ADS_1


 


Aku hanya ikut tertawa dengan bercandaan mereka, aku tahu itu hanyalah bercandaan Mas Feri.


 


"Kalian mau pergi ya?" tanya Mas Feri, matanya menghadap kami secara bergantian.


"Iya Pak." jawab Astrid.


"Mau kemana?"


"Mau lihat sunset aja." sahut Astrid.


"Oh.. Di mana?" imbuh Mas Feri.


"Yang dekat sini aja Pak, di Paris." jawab Astrid


"Kayaknya kok mendung ya ini." Mas Feri menoleh ke langit melalui pintu.


"Saya mau pergi sama istri tercinta juga ini." imbuh Mas Feri.


"Ya udah nanti kita pergi bareng Pak." Astrid sambil merapikan laporan yang sudah di cek Mas Feri.


"Pak Feri ke arah pulang, Aku sama Gio ke arah Paris. Haha...!"


"Hmmm.." Mas Feri hanya nyengir.


 


Waktu menunjukan 15.45 kami sudah presensi. Ku lihat Mas Feri meninggalkan kami lebih dulu dengan menyapa semua karyawan. Astridpun mulai berlalu meninggalkan outlet. Aku pergi mandi dan bersiap menjemputnya.


 


"Kamu udah siap?"


"Udah, ayo. Kamu jemput aku?" balas Astrid


"Ya udah, aku yang jemput ke situ."


Tiba-tiba ada suara yang memanggilku dari belakang, saat aku menoleh. Itu Cahyo.


"Yo, di omongke Astrid, ojo lali. Aku mau ws omong ro Astrid. Ojo lali titipanku." kata Cahyo.


Entah apa yang ia titipkan ke Astrid aku tidak tahu. Tapi baiklah. Aku mengiyakan aja.


Aku bergegas melaju motorku untuk menuju kosnya. Dua menit aku melaju sudah sampai depan gerbang kosannya.


"Aku udah di depan.." ku kirim BBM.


"Masuk aja, aku lagi beresin kandang kucingku." balas Astrid.


Motorku ku bawa masuk sampai di depan kos Astrid. Ku lihat Astrid sedang membersihkan kandang kucingnya.


"Bentar ya, aku harus bersihin ini dulu."


"Iya nggak apa-apa."


"Oh iya ini anak aku yg aku bilang ke kamu, namanya Emblot." sambil memasukan kucingnya ke dalam kandang.

__ADS_1


"Hahaha, jadi anak kamu kucing?"


"Iya.. Karena dia aku urusin tiap hari, udah kayak anak sendiri." jawab Astrid dengan polos.


"Yang satunya mana? Kan dua anak."


"Yang satu lagi pergi, dia temen aku. Bisa ngurusin sendiri."


"Hahaha.." kami tertawa bareng.


 


Kami berangkat sekitar jam setengah lima. Mungkin menurutku itu sudah terlalu sore untuk bisa mengejar waktu. Kami berangkat menggunakan motornya. Kami menyusuri Jln. Kali Urang, dengan banyak bercanda. Ada dua jalur untuk sampai ke Paris, kami memilih melewati Janti.


 


Kami harus menepi, saat hujan mulai turun. Astrid mengajakku untuk berteduh di sebuah angkringan di tepi jalan itu.


"Pak saya minumnya susu hangat ya?"


"Kamu minum apa?" Astrid menyayaiku.


"Aku kopi goodday aja."


Astrid mengambil nasi yg sudah di bungkus untuk ia makan. Ia mengambil beberapa lauk, dan ia makan dengan lahapnya. Aku pun juga ikut makan. Ya sembari menunggu hujan reda. Tapi, aku tak yakin kami bisa mengejar waktu untuk melihat sunset.


"Pak Feri pasti udah pergi sama istrinya ya?" kata Astrid.


"Iya mungkin, soalnya juga hujan." jawabku.


 


Aku memperhatikan cara ia makan, sangat polos. Dia terlihat sederhana. Tidak terlihat seperti memilih\-milih tempat yang harus mewah.


Hujan sudah mulai reda, selesai makan kami melanjutkan perjalanan. Aku melajukan motor cukup cepat untuk mengejar matahari yg akan segera tenggelam. Kami menyusuri jalan Paris yang ku pikir itu sangat jauh.


 


Kami melewati jebatan yang sudah hampir dekat dengan pantai. Namun matahari sudah memperlihatkan sinar merahnya. Astrid memintaku untuk memelankan laju motor. Aku sedikit menyesalkan karena mungkin Astrid kecewa karena mungkin ketika sampai di pantai pasti langit sudah gelap.


"Gio, pelan dulu! Lihat itu sunsetnya." Astrid menunjukkan tangannya ke matahari itu.


 


Aku melajukan motor sangat pelan, dengan menoleh ke arah yang ia tunjuk.


 


"Terus gimana ini, nggak dapat sunset di pantai." tanyaku.


"Enggak apa-apa kok." jawab Astrid.


"Aku suka lihat sunset, aku suka hujan, aku suka air, aku suka dengar ombak." tambahnya.


Ia menceritakan apa saja yg ia suka, seolah ia ingin aku harus tau apa yang ia suka.


"Nggak mau foto dulu?" tanyaku.


"Nggak usah, aku sudah merekamnya di mataku." jawab Astrid.

__ADS_1


Jawaban-jawaban yg tak pernah ku dengar dari orang lain. Dan aku mendengarnya melalui seorang Astrid. Aku sangat mengaguminya, dia berbeda dari orang pernah aku kenal.


__ADS_2