
Lumayan ramai hari ini, aku sudah mulai masuk bagian kasir beberapa hari ini. Itu pun karena kemarin Mas Matin dan Mas Feri selaku pimpinan shift tidak bisa masuk kerja karena sakit bersamaan. Sekarang sudah lumayan lancar dari pada waktu itu pertama aku menjadi kasir aku merasa gugup. Tidak ada yang ngajarin aku juga, cuma aku biasanya memperhatikan bagaimana mereka pada saat masuk bagian kasir.
"Wuihh.. Panaseee!!!" teriak Mas Matin dari dalam dapur berjalan ke area bartender untuk mengambil minum,
"Iki lho mas es teh.." sahut Rahmad yang saat itu sedang mengisi bagian bartender, (ini lho mas es teh)
"Aku banyu putih wae.." ucap Mas Matin sambil membawa gelas yang biasa ia pakai, (Aku air putih aja)
Currrrrrr...
Suara air galon yang masuk ke gelas melalui kran despenser. Mas Matin menunggu hingga gelasnya terisi penuh.
"Yok.. Madang sik, rupamu wis ra mutu tenan!" kata Mas Matin menyuruhku untuk makan, ia mematikan kran despenser dan meneguknya, (Yok makan dulu, mukamu udah nggak mutu banget)
"Oke lah.." aku berjalan meninggalkan area kasir, aku memikirkan mau makan apa hari ini?
"Mad, air putih mu rasane nikmat.. Ming air putih isoh senikmat iki nek koe sik ngebar.." kata Mas Matin, lalu jongkok di dekat pintu, (Mad, air putihmu rasanya nikmat. Cuma air putih bisa senikmat ini kalau kamu yang ngebar)
"Aaahahaha.." Rahamad hanya duduk dan tertawa dengan memegang sebatang rokok yang sudah ia nyalakan,
Aku masih berfikir mau masak apa untukku makan, sambil berjalan memandangi daging ayam, daging bebek, dan daging puyuh.
"Ya Tuhan, berikanlah pentujuk hamba untuk makan apa hari ini Ya Alloh.." aku mengadahkan kedua tanganku dengan maksud berdoa,
"Kui ono bebek, ayam, nila.." ucap Mas Matin, sambil menghisap rokok dan masih jongkok di dekat pintu,
"Okelah.. Aku makan mie!" aku berjalan mengambil mie instan yang ada di kardus, aku bikin mie dok-dok tanpa telur,
******
__ADS_1
Suara sepeda motor yang berhenti sampai di parkiran terdengar samar- samar. Aku sedang menyiapkan uang modal untuk shift dua.
Ngekkkk...
Suara pintu belakang terdengar saat Astrid membukanya. Ia langsung berjalan menuju kasir untuk mengambil kertas presensi. Aku menoleh padanya saat ia menekan tombol presensi.
"Cie nggak telat.." kataku sambil merapikan uang yang sudah selesai ku hitung,
"Iya.. Soalnya tadi pulang dari kampus agak cepet." Astrid mengambil bolpoin yang ada di sampingku untuk mengisi presensi.
Ia berlalu meninggalkanku berjalan ke pintu mes untuk menyimpan tas dan jaket jeans nya. Aku sangat menyukai ketika ia mengenakan jaket jeans itu. Sangat elegan, dan terlihat ada kharisma tersendiri.
Jam kerjaku sudah habis aku mengambil presensi sebagai tanda jam kerjaku telah habis.
"Modalnya udah?" tanya Astrid berdiri di sebelah kiriku,
"Hp mu ku bawa ya?" pintaku, sambil tersenyum.
"Iya.. " jawabnya singkat menoleh padaku sebentar lalu kembali fokus menghitung uang modal,
Seperti biasa aku meminjam handphone nya untuk ku main game. Aku bawa handphone miliknya dan berjalan menuju mes. Ku letakan handphone Astrid di bantal yang ada di kamar mes ku, ku beralih berjalan keluar untuk menuju ke kamar mandi yang terletak di belakang outlet. Rasanya sudah sangat gerah, badan berkeringat rasanya ingin segera membasuh badan ini dengan air.
******
Selesai mandi aku kembali masuk ke dalam kamar, rebahan dan mulai memainkan game di hp Astrid yang ku pinjam tadi. Meski sesekali aku mengecek handphone milikku, namun sangat jarang ada chat masuk, jikalau aku tidak memulai mengirim komentar dari story orang lain yang mereka buat. Aku menyimpan nomer whatsapp Eka, tapi merasa khawatir untuk mencoba chatting dengannya.
Beberapa kali aku memainkan game, ternyata membuatku mulai mengantuk. Mataku juga mulai terasa berat, meski ku paksa untuk tetap melanjutkan bermain game. Perlahan -lahan suara berisik yang ada di outlet mulai samar\-samar, mataku mulai terpejam dan tidur.
__ADS_1
******
Aku terbangun dari tidur yang membuatku terasa melelahkan. Sontak aku kaget saat ku ingat tadi aku sedang bermain game tapi ketiduran. Ternyata jam sudah menunjukan pukul sebelas malam.
Ngekkk..
Pintu kamar mes terbuka, ternyata Astrid sudah berdiri di mulut pintu," Gio Hp ku!" pinta Astrid mengulurkan tangan kanannya, tanpa aku menjawab aku langsung bangkit dan berdiri memberikan handphone padanya. Astrid memutar badannya membuat kibasan angin dari badannya menembus wajahku, ia berjalan menuju area kasir. Aku memandanginya sebentar lalu pergi ke luar, duduk di rak sepatu yang biasa ku duduki.
Benerapa manit ia telah keluar dari pintu masih memegang handphone miliknya.
"Kamu mau bawa handphone ku?" tanya Astrid, merapikan jilbabnya yang kusut,
"Nanti kalau dia hubungi kamu gimana?" tanyaku,
"Enggak, tadi dia udah ngabarin kalau besok bakal sibuk." jawab Astrid,
"Tapi kartunya tetep aku bawa.." imbuh Astrid,
"Ya udah.. Ini." aku mematikan handphonku untukku isi kartu miliknya, Astrid pun melakukan hal yang sama.
"Hari ini aku capek, pingin langsung bobok!" kata Astrid, yang mengambil handphone milikku,
"Ya udah.. Nanti chat aja!" kataku,
Astrid berjalan menuju motor miliknya. Aku hanya maemandanginya sampai ia benar\-benar meninggalkan parkiran. Aku masuk lagi ke kamar, dan mulai rebahan. Aku teringat bahwa facebook yang ku buka tadi masih belum ku log out. Ya, itu facebook yang lainnya, karena aku punya dua, dan yang itu kebetulan ku buka, dan di inbok ada foto Eka sangat banyak. Astaga aku lalai, jika ia membuka inbok, dia akan tahu isi pesan inbok itu, foto Eka yang belum aku hapus, memang belum ku hapus, karena facebook yang itu sangat jarang ku buka.
Klungg...
Suara notif BBM terdengar, ternyata Astrid mengirim pesan. Jantungku langsung deg-degan, tanganku mulai gemetar menggenggam handphone Astrid. Dengan ragu aku membuka pesan itu.
__ADS_1
"Maksud kamu apa?"
Aku tahu, dia telah membuka inbok facebookku tadi. Rasanya seperti mendengar petir menyambar. Aku harus menjelaskan yang bagaimana?