
"Please, stop !", perempuan itu berdiri di dekat tubuh Arion. Sementara Arion terkulai lemah.
"Cin....cindy .... what are you doing here ?", Arion mengernyit dalam. Matanya membulat sempurna. Tapi tak bisa berbuat banyak karena tubuhnya tiba-tiba tak bertenaga.
Sementara Kenan masih berdiri gagah di tempatnya. Juga merasa sedikit heran karena kondisi lelaki yang telah menantangnya duel itu berbeda jauh dari duel pertama mereka.
Dan ucapan Arion selanjutnya membuat keheranan Kenan terjawab.
"Ka... kamu yang ngelakuin semua ini ?", tuduh Arion. Masih menatap Cindy dengan sorot marah.
"Shut up, Ron. Aku berusaha bantuin kamu ", balas Cindy. Ada kemarahan juga dalam nada bicaranya.
"Ohh .... shittt....!", Arion berusaha bangun. Cindy berusaha menolong, tapi Arion segera mengangkat kedua tangannya.
"No, I can do it my self ", tegasnya.
Cindy berdecih tidak suka.
"Aku minta hentikan pertarungan konyol ini. You have to stop, Ron !", mohonnya.
Arion mendengkus kentara.
"Kayak gini yang kamu bilang bantu ?", marah lelaki itu. Membuat tubuhnya menjadi lemah seperti itu, pasti efek dari minum air semalam. Batin Arion.
"I can't belive it !", lelaki itu mengusap.wajahnya frustasi.
Tidak menyangka saja kalau perempuan yang dia tahu pantang menyerah itu menyuruhnya untuk mundur dari pertarungan.
Arion kini sudah berdiri. Meski belum seimbang sepenuhnya.
Sementara Kenan masih diam tak bergeming. Menyaksikan perdebatan dua orang di depannya.
Lalu mempertemukan pandangan dengan manik coklat cantik yang berdiri di luar arena. Memberi tanda pada gadis cantik itu untuk mendekat kepadanya.
Kenan tatap istrinya dengan senyum.
"Let's get out of here, baby !", kata lelaki itu begitu Adelia sampai di hadapannya. Langsung melingkarkan lengan kokohnya di pinggang ramping perempuan.cantik itu.
"Uhmm....everything is okay, all right ?", Adelia menyentuh lengan kenan yang sedikit tergores. Karena sesuatu yang di lempar Arion tadi.
"Sure, my love !", Kenan mengangguki. Sebuah senyum menghiasi bibir seksinya. Keduanya saling beradu pandang. Sebentar kemudian menyatukan bibir mereka dan saling mengecap mesra.
Keduanya tersenyum begitu melepas decapan itu. Lalu melangkah sambil berpelukan mesra meninggalkan arena.
"Wait ! Mau kemana kalian ? Urusan kita blom selesai ", sergah Arion.
Berusaha menghentikan Kenan dan Adelia. Tapi tubuhnya kembali limbung. Untung Cindy segera menopangnya.
"Enjoy our time, so you ", Kenan balas dengan lambaian tangan. Tanpa menoleh ke arah lelaki yang menggeram marah itu.
"Shiitt....!", Arion berusaha menepis tangan Cindy. Tapi gadis itu tak peduli. Tetap memegangi tubuh lelaki itu.
"Gara-gara kamu Cin !", gerutunya.
Cindy membiarkan Arion berbicara sesukanya. Meskipun terlihat kesal dia lebih fokus pada kondisi tubuh lelaki itu.
"You have to stop, Ron. Stop ngejar Adelia. She has a husband ", ucapnya.
Di cengkeramnya lengan atas Arion kuat. Menggoyangkan tubuh lelaki itu hingga kembali terhuyung. Matanya tajam menyorotkan api kemarahan.
Arion berusaha menepis tangan perempuan muda itu.
"Never, I never stop ", tegas lelaki itu.
"Kenapa aku harus nurutin kamu ? Kita bebas mutusin jalan hidup masing-masing. Nggak ada iikatan apa-apa ", bela lelaki itu.
Cindy tersenyum mencibir.
__ADS_1
"Begitukah cara kamu Ron ? setelah apa yang kita lewati bersama ?", sinis gadis itu.
"Kamu nggak punya perasaan Ron, kamu jahat !", umpatnya
Tangannya memukul dada lelaki itu keras. Hingga tubuh lelaki itu mundur beberapa langkah.
Arion terpaku. Memang hubungan mereka sudah kelewat jauh. Tapi itu adalah simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan. Tidak ada ikatan atau rasa apapun pada perempuan di depannya ini. Dari awal.
Tapi benarkah itu ? Kenapa Arion jadi bimbang sendiri ? Kalau benar tidak cinta, lalu kenapa Arion juga menikmati saat bercinta dengan perempuan di hadapannya ini. Yang kini tampak begitu kacau dan jesal, tak hauh beda darinya.
Arion mengalihkan pandangan pada dua sosok tubuh yang berjalan sambil berpelukan mesra. Semakin menjauhi arena tanding. Gadis yang telah mencuri hatinya.Tapi karena Cindy, akhirnya hubungan mereka hancur.
Perlahan kepala lelaki itu menggeleng. Raut wajahnya tampak frustasi sekali.
"No, Cin....aku nggak bisa. Aku nggak cinta sama kamu", menatap Cindy dengan sorot bersalah.
Cindy tersenyum masam.
"Aku hamil, Ron. Anak kamu ", manik matanya lekat menembus manik mata Arion.
Lelaki itu terhenyak. Matanya menelisik ke seluruh tubuh Cindy. Juga wajah cantik yang sedikit pucat itu.
"Wh...what do you say ?", menyatukan kedua alisnya dengan bibir terbuka.
"Aku hamil anak kamu, Ron. Ada baby di perut aku", seru Cindy. Tangannya bergerak menuntun tangan Arion agar menyentuh perutnya yang masih rata.
Arion tidak menolak. Tapi sebentar kemudian menarik tangan itu menjauh.
"Kamu yakin itu anak aku ?", dengan senyum miring.
Cindy membulatkan matanya, menatap Arion dengan mata berapi-api. Bibirnya bergetar. Tangannya mengepal kuat. Lalu detik berikutnya tangan perempuan itu bergerak dannnn....
"Plakkkkkkk.... ", meninggalkan bekas kemerahan di wajah Arion. Bukannya marah, lelaki itu hanya terpaku diam. Apalagi setelah ucapan Cindy seanjutnya, membuat Arion menelan kembali kata-katanya.
"Kamu pikir aku perempuan apa, Ron ? Perempuan murahan yang mau ngelakuin itu sama siapa saja ?", marah Cindy.
"'How dare you ?", lanjut perempuan itu dengan wajah memerah.
Cindy bergegas memutar tubuhnya dan melenggang pergi. Arion terkesiap. Serta merta bergerak hendak menahan langkah gadis itu, tapi kakinya seperti dibebani batu besar.
"Akkkkhhh.... !", seru lelaki itu. Disusul suara keras tubuh itu terjatuh di lantai.
Seketika Cindy menghentikan langkahnya dan kembali memutar tubuhnya.
"Ron......", bergegas menghampiri tubuh Arion yang sudah terlentang di lantai itu.
************
Kenan dan Adelia baru saja keluar gedung. Menghentikan langkahnya begitu terdengar suara perempuan menginteruksi.
"Wait, Ken. Ada yang mau aku omongin sama kamu !"
Kenan dan Adelia saling tatap, lalu memutar tubuhnya serempak ke arah suara.
"Catherine....", gumam Adelia. Menatap ke arah perempuan muda di depan sana dengan pandangan penuh tanya.
"What's up ?", Kenan dengan menaikkan sebelah alisnya.
Perempuan muda itu mendekat. Tangannya menyodorkan selembar kertas pada Kenan.
"Kamu hamil ?", heran Adelia.
Setahu Adelia perempuan di depannya ini belum menikah. Kenapa sudah hamil saja ? Apa maksud semua ini ?
Hati Adelia merasa tidak nyaman. Dan ada rasa ....hmmm....seperti was-was. Tapi kenapa ?
Catherine senyum. Terlihat puas sekali.
__ADS_1
"Tepat banget, kayak yang tertulis di situ", jumawa perempuan itu. Menunjuk kertas yang di pegang Kenan.
Kenan mendengkus lirih.
"So, something wrong ? Kenapa aku harus tahu ?", tanyanya tidak sabar.
Catherine tersenyum manis.
"Bayi kita, Ken. Dia anak kamu ?", aku perempuan itu.
Seperti di sambar petir di siang bolong bibir Kenan ternganga. Diremasnya kertas di genggaman tangannya.
Tak kalah terkejut juga Adelia yang berdiri di sampingnya. Ternyata perasaan tidak nyaman yang dari tadi Adelia rasakan, karena ini. Rasa was-was itu kini berganti dengan menggilanya debaran jantung Adelia. Dan ada rasa perih di sisi hatinya.
"Wh....what are you talking about ? are you kidding me ?", Kenan membulatkan matanya marah.
Catherine terkekeh
"Of course not. Dia memang anak kamu, anak kita Ken ", kata perempuan itu lemah lembut.
Kenan mengusap wajahnya kasar. Lalu menatap Adelia lembut.
"Baby, don't listen it Okay ? Apa yang dikatakan dia tentu aja nggak bener ", yakin Kenan
Adelia masih bungkam.
Tapi Kenan tahu perempuan cantik itu marah. Terbukti dari tangan gadis cantik itu yang menyingkirkan tangannya dari pinggang rampingnya.
Kenan kelimpungan selerti cacing
kepanasan. Beberapa kali mengusap wajahnya kasar.
Berusaha mengingat sesuatu.
"Ohhh...shitts ! ", lirihnya.
Memang dia sempat terluka parah. Dan demam hebat pada saat itu. Dan Catherine yang merawatnya.
Tapi apa mungkin saat itu dia bercinta dengan Catherine ?
Ahhhh.....tidak !
Tiba-tiba kepala lelaki itu menjadi pusing.
Mata hazel Kenan menatap manik cantik istrinya yang kini memandangnya dengan sorot tajam. Menelisik kejujuran Kenab. Bahkan gadis cantik itu menggeser tubuhnya dan memberi jarak dengannya.
"Ini nggak bener sayang. Dia bohong. Dia bukan anak aku..... aku nggak pernah .... ngelakuin itu sama dia ", bela Kenan.
Catherine mengangkat bahunya cuek. Mengamati ujung kukunya dengan senyum terukir di bibir.
Adelia menggeleng pelan. Lalu mengangkat tangannya ketika lelaki itu hendak meraih tubuhnya.
"Stop, Ken ! Kamu selesaiin dulu masalah ini, buktikan kalo kamu benar !", tegas perempuan cantik itu.
Tangan Kenan mengepal kuat. Kalau tidak ingat yang membuat ulah adalah perempuan, sudah Kenan hajar sampai tidak bisa bangun.
"Tapi, Baby......kamu nggak marah kan ? Mau bantuin aku ? Please, believe me !", melas lelaki itu.
Adelia diam beberapa saat. Akhirnya kepala itu mengangguk pelan.
Kenan menghela lega. Lalu mendekati istrinya, menipiskan jarak dengan perempuan cantik itu. Ditatapnya perempuan itu dengan sorot lembut.
Perlahan meraih tangan mungil istrinya. Adelia segera menghindar. Kenan menghela berat.
"Baby.....", gumamnya. Sorot matanya terlihat sendu.
"Kita bicarain ini di hotel !", kata Adelia kemudian. Matanya menatap dalam ke manik hazel Kenan.
__ADS_1
"Hmmm....okay ", Kenan menyetujui.
"Let's go Cath !", seru Adelia seraya melangkah mendahului.