Blind Date

Blind Date
162. Debat Melelahkan


__ADS_3

"Ken....itu....", Adelia terkesiap melihat tampilan di layar laptop. Tanpa dia sadari perlahan berjalan mendekat ke arah sofa, di mana Kenan duduk di sana.


"Yess, That's the truth, baby ", kata Kenan. Lelaki itu mengulurkan tangannya, meminta agar Adelia lebih mendekat.


"Come closer, honey !", pintanya.


Dan anehnya Adelia menuruti. Pandangannya masih fokus ke arah layar laptop. Ketika sudah berada di sebelah Kenan, lelaki itu segera menarik tubuhnya dan membawanya duduk di pangkuannya.


Kenan tersenyum. Istrinya tidak berontak maupun menolak.


"Huft damn.....she's sick ", gumam Adelia. Bisa Adelia lihat, perempuan di video itu sengaja menebar pakaian Kenan dari keranjang dan pakaiannya yang dia lepas sendiri di lantai. Lalu buru-buru memunguti dan memakai pakaiannya lagi begitu Adelia meninggalkan kamar itu.


Adelia menatap Kenan dengan dahi mengernyit dalam.


"Bukannya dia.....?", tanyanya. Lalu kembali menatap laptop.


Kenan tatap istrinya penuh kerinduan. Kangen sekali rasanya. Tapi dia hanya bisa menghela berat. Karena masih akam ada perdebatan yang panjang lagi untuk menjelaskan tentang keberadaan Susan di mansion. Dan semua itu adalah salahnya.


Adelia kembali menatap suaminya penuh tanya.


"Wait...! Kenapa dia ada di kamar kamu ?", selidiknya.


Tangan mungilnya memukul dada bidang Kenan.


"Awwww.....what are you doing Ken ?", kaget Adelia begitu menyadari tengah duduk di mana. Dan jarak mereka yang begitu dekat.


Perempuan cantik itu berontak, dengan cepat beranjak meski Kenan menahan pinggangnya. Lelaki itu dari tadi memeluk erat pinggangnya. Kebapa Adelia tidak sadar. Dasar cerobh ! Batinnya menggerutu.


"Remember.....don't touch me, Ken !", katanya penuh peringatan. Dan lagi-lagi lelaki tampan itu hanya bisa mengangkat kedua tangannya. Pasrah.


Adelia kini berdiri dengan bersidekap di depan suaminya, siap menginterogasi.


"Tell me Ken ! Apa yang dia lakuin di kamar kamu? Kenapa dia ada di sana ?", cecar Adelia.


"Sit down, baby....I'll tell you !", pinta Kenan. Dengan suara lembut.


"Just tell me !", tolak Adelia.


Kenan mengalah. Menghela nafas berat, lalu mulai bercerita.

__ADS_1


Adelia mendengarkan. Tapi menghindari pandangan Kenan. Tidak mau menatap mata hazel lelaki itu yang tajam seakan menusuk jantungnya. Adelia tidak mau terperdaya.


"Huh, sejak kapan kamu butuh sekretaris ? Ngapain juga dia datang ke mansion ? Ada sesuatu yang kamu sembunyiin dari aku, Ken ?", tuduh Adelia begitu lelaki itu selesai bercerita.


"No, baby ....not at all ! Aku cuma kasihan saja sama dia, dia pengen main.....ya...aku ijinin ", Kenan beralasan.


Lalu beranjak dan menghampiri Adelia yang semakin menbuat jarak dengannya.


"Kasihan ? Main ke Mansion ? Kamu masukin perempuan ke rumah kita, waktu istri kamu gak ada ? I can'tbelieve it, Ken !", ", galak Adelia.


Kenan mengusap wajahnya kasar. Dan mengusap rambutnya ke belakang beberapa kali. Memang dia tang bodoh, tidak mendengarkan nasehat mamanya. Sekarang jadi begini kan. Sesalnya.


"Bukan begitu maksud aku, sayang. Aku....", Kenan tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Adelia segera memotongnya.


"Apa ? Kalian clubbing kan ? Lalu dia ngantar kamu pulang karena mabuk ? Don't lie to me, Ken ! ", ucap Adelia. Dan tepat sekali. Bagaimana dia bisa tahu padahal Kenan tidak mengatakannya.


Kenan hanya mengangguk pasrah. Istrinya adalah perempuan cerdas.Tidak semudah itu membohonginya. Atau mengurangi cerita yang sebenarnya.


"You're right, baby. I'm so sorry.....but....",


Kenan meraih gawai di sakunya.


Mengotak-atiknya sebentar. Lalu menyodorkan ke arah Adelia. Perempuan cantik itu menatap dengan pandangan marah.


"Tell me about that, baby !", ucap Kenan. Adelia mengamati gambar di gawai Kenan.


Menggulirnya beberapa kali untuk melihat gambar lainnya.


Bibir mungil itu berdecih kesal. Sesekali menatap suaminya dengan kepala menggeleng.


"What do you think, he's just a friend ", ucapnya.


"I'm jealous, baby ", jujur Kenan. Menatap Adelia layaknya pesakitan.


Adelia mendengkus jelas.


"So, sengaja mau bales aku ? Kenapa gak tanya dulu, Ken ? Kenapa ?", sesalnya.


Lalu berucap lagi.

__ADS_1


"Aku pikir dua hari kamu sibuk ngurus masalah perusahaan, jadi gak bisa hubungi aku, ternyata......", Adelia tidak bisa meneruskan kalimatnya.


"I'm sorry baby....I know I'm wrong .", sesal Kenan. Tapi kemudian lelaki itu melipat tangannya di dada dan menatap Adelia dengan menaikkan sebelah alisnya.


"But. ...How about you ? kenapa dua hari juga gak hubungi aku sama sekali ? kenapa ?", intonasi suaranya mulai meninggi.


Adelia hanya menggeleng pelan.


Kenan melangkah lebih mendekat. Ditatapnya perempuan cantik di depannya itu dalam.


"Dua hari yang sama, baby, aku terima kiriman foto itu, apa salah kalo aku berpikir kamu kencan sama dia ?", jujur Kenan.


Adelia mengalihkan tatapannya dari mata hazel Kenan yang mematikan itu.


Lalu melangkah menuju ke ranjang, dan menghempaskan pinggulnya di sana. Meletakkan gawai Kenan sembarang di sebelahnya. Sebenarnya dia merasa capek sekali.


"Sorry, Ken, dua hari aku fokus kerjain tugas, biar bisa cepat pulang, ketemu kamu....bantuin kamu .......tapi .....aku capek, Ken ", suaranya melemah.


Perlahan tubuh itu jatuh terkulai di atas ranjang. Dengan posisi kaki terjuntai ke lantai.


Kenan bergegas mendekat.


"I'm sorry baby.....wh....what happend to you ?", cemasnya. Mengira Adelia pingsan.


"Aku capek Ken.....ngantuk, mau tidur", gumam bibir mungil itu sebelum benar-benar terpejam matanya.


"Thanks to God....!", ucap Kenan. Lalu mengangkat tubuh istrinya. Membenarkan posisi tubuhnya. Membawa kepalanya beralas bantal. Lalu berbaring miring di sebelahnya.


"Tidurlah sayang, aku akan temenin kamu ", sambil membelai pipi putih mulus itu, yang agak pucat. Terlihat kecapekan sekali.


"Kamu pasti blom istirahat sama sekali, sayang ....I'm sorry....", matanya tak beralih dari wajah cantik itu. Nafas teratur keluar dari hidung mancungnya.


Perlahan Kenan mendekatkan wajahnya, diciumnya kening Adelia dengan sangat hati-hati. Ciuman itu turun, beralih ke hidung mancung perempuan cantik itu, lalu turun mendapati bibir mungil merah, yang juga sedikit pucat. Tapi sangat manis layaknya buah cerry.


Kenan kecap bibir mungil itu, sekilas. Lelaki itu segera menjauhkan wajahnya. Dia takut lupa diri. Karena menyentuh tubuh istrinya membuat sesuatu di bawah sana berulah seketika.


Dua hari, hampir tiga hari tidak melihat istrinya, rasanya bagai bertahun-tahun. Kembali dia berbaring miring di sebelah perempuan cantik yang lelap seperti putri tidur itu.


Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh cantik Adelia.

__ADS_1


"Aku gak akan pernah hianatin kamu, sayang. You're my baby angel ", lirihnya.


.


__ADS_2