Blind Date

Blind Date
104. Help me, Baby !


__ADS_3

"Shittt....!", Kenan bergerak gelisah. Ada sesuatu yang membuat tubuhnya merasa tidak nyaman. Panas dan mendidih. Bergejolak seperti api di kawah merapi. Jantungnya seperti terpacu lebih cepat. Perasaan apa ini ? Batinnya.


Setelah berbicara enam mata, akhirnya diputuskan, membiarkan Catherine tinggal bersama mereka. Sementara.


Sampai diketahui hasil tes yang dilakukan sepulang nanti. Kenapa menunggu pulang ? Tentu saja Kenan tidak mau repot di negeri orang. Mereka juga memutuskan akan kembali ke tanah air keesokan harinya.


"Bikin kacau aja !", kesal Kenan. Lelaki itu mengumpat beberapa kali.


Bagaimana tidak ? Acara honeymoon mereka jadi kacau karena ulah mantan dokter pribadinya itu. Sekaligus teman akrabnya dulu.


Aishhh....konyolnya, gara-gara exs teman akrab itu, Adelia menggunakan alasan itu untik membiarkan Catherie tinggal satu kamar dengan mereka. Alasannya biar bisa memperhatikan perempuan itu karena sedang hamil. Yang tentu saja langsung di setujui oleh Catherine.


Kenan sebenarnya langsung protes, lelaki itu tidak setuju. Tapi ketika Catherine mual-mual dan muntah, Adelia bersikeras dengan pendapatnya.


"No Ken....biarin dia di sini. Siapa yang bantuin dia kalo mual lagi nanti ?", tegasnya.


Apa-apan itu ? Kasihan dengan orang lain dengan mengorbankan kepentingan suaminya


Tapi bagaimana Kenan bisa menolak kalau istrinya yang meminta seperti itu ? Sedangkan Kenan, bagaimana nasibnya sendiri ? Siapa yang memperhatikan ? Kenapa pula istrinya punya ide konyol seperti itu? Bagaimana nasib samurainya ? Bisa-bisa karatan.


Shitttt....!


Beberapa kali umpatan yang sedianya sudah jarang sekali dia ucapkan semenjak menikah dengan Adelia itu, tiba-tiba meluncur begitu saja dari bibirnya.


Ahhh....lebay memang. Tanpa ada Catherine bersama mereka, Adelia pasti tidak mau di sentuh setelah mantan Dokter pribadinya itu mengaku hamil anaknya.


Kenan memang sial. Akhirnya lelaki itu menerima keputusan istrinya. Meminta petugas hotel menambahkan satu ranjang lagi untuk tempat Catherine.


Oh my gosh.....!


Kamar honey moon diisi orang ketiga. Apa jadinya ? Huft....sungguh terlalu !


Apalagi sekarang ? Tiba-tiba tubuh Kenan memanas. Sesuatu di bawah sana menegang dan bergerak gelisah. Tiba-tiba gairahnya memuncah tak terkendali.


Istrinya tadi pamit keluar untuk bertemu Ina di kamar sebelah.


"Kamu temenin Catherine aja Ken, please !", mohon Adelia ketika Kenan hendak ikut bersamanya.


Lagi-lagi Kenan mengalah.


Sebelum bisa membuktikan kebenaran anak siapa di kandungan Catherine, Kenan harus mendengarkan setiap permintaan istrinya. Agar perempuan cantik itu tidak menjauhinya. Pastinya.


Karena dari tanda-tandanya perempuan mantan sahabatya itu benar-benar hamil. Perempuan itu kini masih berada di kamar mandi. Muntah-muntah lagi sepertinya. Jenan menolak menemaninya ke kamar mandi tadi.


Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Mata Kenan nanar menatap pintu besar kamar hotel itu. Berharap siluet tubuh cantik isrinya muncul.


"Kenapa aku ?", gumam Kenan. Tubuhnya terus bergerak gelisah. Lelaki itu berjalan mondar-mandir. Ingin keluar kamar menyusul istrinya, tapi Adelia pasti akan marah. Perempuan cantik itu melarangnya tadi.


Tapi sekali lagi Kenan tidak bisa menahan "What the hell is going on ?", tangan lelaki itu mengusap sesuatu di balik celananya yang sudah sangat mengeras.


"Baby, where are you ?", sambil menggeram menahan sesuatu yang sangat tidak nyaman di tubuhnya.


Terdengar pintu kamar mandi terbuka.


Sebentar kemudian dari balik dinding muncul tubuh cantik perempuan muda yang hanya berbalut handuk putih. Menampilkan bahu putih mulusnya yang menggoda.


Eh...tunggu, paha mulusnya juga terekspos jelas. Karena handuk yang dikenakannya hanya menutup tepat di bawah pantatnya.


Kenan terpana seketika pandangannya tertuju pada pemandangan indah itu. Catherine tersenyum manis ke arahnya. Dengan kaki putih jenjangnya melangkah menghampiri Kenasn. Bibir perempuan itu merah merekah dan menggoda.


"Cath....Catherine !", lelaki itu tergagap. Memundurkan tubuhnya, begitu perempuan itu terus merangsek mendekatinya.


"Mau ngapain kamu, Cath ?", pertanyaan bodoh itu begitu saja keluar dati bibir Kenan.


"Kenapa kamu harus tanya kayak gitu sih Ken ?", hatinya menggerutu.

__ADS_1


Catherine semakin melebarkan senyumnya. Matanya menatap penuh gairah ke arah lelaki tampan itu.


"Masa masih ditanya sih Ken ? Babynya pengen ketemu Daddy katanya ", balas perempuan itu.


Kenan membulatkan matanya.


"Wh...what ?", manik hazel itu membulat penuh tanya. Tapi tak bisa berbuat apa-apa.


Seharusnya Kenan mendorong tubuh perempuan itu kan ?


Tapi apa kenyataannya ? Kenan membiarkan perempuan itu mendorong pelan dadanya. Memojokkannya hingga sampai di pinggir ranjang, membuat Kenan terduduk di sana.


"Stop, Cath !", geram Kenan tertahan. Mati-matian menahan gairahnya yang menggila.


"Why Ken ?", perempuan itu tetap melanjutkan aksinya.


Ahhh....sial ! Apa yang diucapkan Kenan tidak sesuai dengan reaksi tubuhnya. Bahkan dia biarkan Catherine duduk di pangkuannya dengan kaki mengangkang. Kedua tangan perempuan itu menempel di dada bidangnya.


"Kenapa Ken ? Kamu juga pengen itu kan ?", dielusnya dada lelaki itu. Kenan berusaha menghindar, tapi tangan dan tubuhnya seperti terpatri.


Tangan Catherine bergerak turun semakin ke bawah. Kenan memejamkan matanya. Berusaha menahan gairah yang semakin bergejolak.


"Please, Cath, stop it !", suara lelaki itu menggeram dalam. Pertanda dia menahan sesuatu yang super dasyat. Seperti hendak meledakkan kepalanya.


Ketika tangan Catherine hendak menyentuh sesuatu yang sudah sangat menegang di bawah sana, tangan Kenan spontan bergerak cepat menyingkirkan itu.


"Cath ... don't !", tegasnya. Suara lelaki itu sudah terdengar berat.


Catherine tersenyum menggoda. Lalu dengan cepat bibir perempuan itu mematuk bibir Kenan. Menggulatnya dengan brutal.


Kenan ? Seperti api bersambut oksigen, gairah lelaki itu semakin terbakar . Kenan tidak kuasa menolak, meski sekuat tenaga juga tak membalasnya.


Dannnn.. saat itu juga suara pintu hotel terbuka.


"Kenan.....!", seru Adelia di ambang pintu. Manik cantik itu membulat sempurna. Kenan spontan mendorong tubuh Catherine dan menoleh ke arah suara.


Kenan membulatkan mata hazelnya, tak kalah kaget dari perempuan cantik yang kini menyorotinya tajam.


"Baby....I'm...I'm...ss....", Kenan terbata.


"No, Ken....I know what I see, okay ", Adelia segera memutar tubuhnya.


"Baby...wait !", Kenan segera beranjak.


"Ohhh..damn !", geramnya. Masih mati-matian menahan sesuatu yang rasanya ingin meledak di bawah sana, lelaki itu segera melangkah cepat mengejar Adelia.


"Ken, wait ! How about me ?", teriak Catherine sambil menghentakkan kakinya. Kenan hanya mendengkus lirih, tanpa menoleh ke arah perempuan itu.


**********


"Kenapa Del ? What's happened ?", Ina mengernyit dalam. Adelia hanya diam. Tidak menyahut. Mereka berada di kamar hotel Ina sekarang.


"Kayak dugaan kamu ?", kata Ina lagi. Adelia masih belum menjawab. Tapi perlahan kepalanya mengangguk.


"Jangan keburu salah paham, Nona. Saya tahu pasti siapa Tuan Ken. Anda yakin ?", Nino turut bicara.


"I don't know, but I see it by myself ", balas Adelia.


Nino dan Ina saling pandang.


Perlahan Ina mengelus bahu Adelia. "Tenangin pikiran kamu Del. Istirahat aja di sini ", lembutnya.


Adelia tatap Ina dan Nino bergantian.


"Don't think about us. Kita mau jalan-jalan dulu !", ucap Ina selanjutnya.

__ADS_1


"Okay...thanks Na !", jawab Adelia selanjutnya. Lalu menepuk bahu Ina lembut.


Menyatukan punggung tangannya dengan Ina sebelum sepasang suami istri itu melangkah keluar kamar.


Adelia melangkah ke arah ranjang. Lalu menghempaskan tubuhnya tengkurap di sana. Sesaat memejamkan mata. Sekilas terlintas bayangan kelakuan Kenan beberapa saat tadi. Adelia menggeleng cepat.


Spontan mata cantik itu membuka begitu terdengar langkah kaki mendekat.


"Ada apa, Na ?", tanyanya tanpa merubah posisi. Adelia mengernyit, tidak ada sahutan.


Sedikit perasaan curiga.


"Na, that's you ?", lalu dengan cepat memutar tubuhnya hingga terlentang. Mata Adelia membeliak sempurna.


"Ka...kam...?", bibir Adelia terbungkam. Benda kenyal seseorang yang sudah berada di atas tubuhnya menutup bibirnya. Mencumbunya penuh gairah. Kenan.


"Emhhh...Ken ...Kenn, stop it !", berusaha mendorong tubuh tinggi besar itu. Tapi Kenan segera mengunci tangannya. Kembali lelaki itu mencumbuinya.


"Baby, help me, please !", suara lelaki itu menggeram berat. Gairahnya sudah sampai di ubun-ubun.


Adelia berhenti berontak. Ada sesuatu yang menurutnya aneh. Kenapa dengan suaminya ini ? Mereka sudah sering kali bercinta. Tapi saat ini sangat berbeda sekali dengan biasanya. Tingkah lelaki itu begitu liar.


"Baby, so hot, aku nggak tahan, help me !", suara berat Kenan terdengar lagi.


Masih mencumbu Adelia dengan ganas, kini lelaki itu menurunkan ciumannya. Tangannya berusaha membuka paksa pakaian Adelia.


Adelia menarik nafas dalam. Matanya kembali memejam sesaat. Lalu dengan sekuat tenaga menendang tubuh Kena. dan mendorong dadanya kuat. Hingga lelaki itu terjengkang.


"Ada apa sama kamu Ken?", Adelia dengan cepat bangkit dari baringnya. Lalu bergegas menghampiri lelaki yang kini terjerembab di lantai itu.


"Aku nggak tahu, sayang. Aku ngerasa bergairah sekali, baby. Help me, okay !", lelaki itu segera melompat bangun.


Merentangkan kedua tangannya. Setelah lebih dulu membuka kaos yang dikenakannya dengan paksa. Hingga menampilkan dada bidangnya yang terbuka. Dari balik celananya menyembul sesuatu yang besar dan tegang. Terlihat jelas.


"No, Ken. Ada yang nggak bener sama kamu ", Adelia tatap suaminya penuh selidik. Tatapan matanya terhenti pada luka gores di lengan


lelaki itu.


Sesaat Adelia nampak berpikir.


"Ohh...my gosh... !", serunya. Lalu mengambil sesuatu dari saku celananya.


"Kamu minum ini Ken !", menyodorkan itu pada Kenan. Bukannya menerima itu, Kenan justru menarik tangan Adelia hingga tubuh cantik itu menempel di tubuhnya.


"No, baby. Aku nggak mau, pengen minum ini", tangan nakalnya bergerak menyentuh lembut gundukan sintal milik Adelia.


Bersamaan dengan itu bibirnya beraksi, mendarat sempurna di bibir mungil Adelia. Menggulatnya mesra dan penuh gairah.


"Kennn, stop it !", Adelia berusaha mendorong dada terbuka lelaki itu. Sesaat Kenan melepas pagutannya, dengan cepat Adelia memasukkan sesuatu ke bibirnya. Sebuah pil kecil.


Kembali Kenan menyerang bibir mungil Adelia. Perempuan cantik itu membalasnya. Lidah mereka saling menari dan bergulat di dalam sana. Adelia mengalihkan pil ke mulut lelakinya. Bibir mereka masih saling berpagut dan menempel.


"Glekkk....", terdengar Kenan menelan sesuatu. Jakunnya naik turun. Sesaat menjauhkan bibirnya.


"Naughty girlll.....what do you give to me, baby ?" , lirih bibir lelaki itu. Masih di depan bibir ranum menggoda Adelia. Bibir mungil perempuan cantik itu tersenyum penuh arti.


Kenan semakin mengeratkan pelukannya. Bahkan menggesekkan sesuatu yang sudah hendak meledak di bawah sana ke tubuh Adelia.


"Now....terima hukuman aku !", lalu dengan cepat kembali menyambar bibir mungil itu. Adelia membalasnya. Keduanya saling berpagut mesra.


"With my pleasure, I accept it !", balas Adelia di sela cumbuan itu.


Kenan semakin bersemangat mencumbu istrinya. Beberapa lama.


Tapi lama-lama Kenan merasa kepalanya berat. Semakin berat. Hingga detik berikutnya kepala lelaki itu terkulai lemah di bahu Adelia.

__ADS_1


"I love you, baby !", lirihnya sebelum mata hazel itu benar-benar terpejam.


__ADS_2