Blind Date

Blind Date
119. Curhat


__ADS_3

"How are you dude, so long time ha ?", kata Kenan begitu mereka sampai di taman belakang mansion.


Bukan jawaban yang lelaki itu terima tapi bogem mentah dari sepupunya. Kendra.


"Bukk....bukkk....bukkk...", pukulan beruntun menghantam tubuh Kenan. Dan juga wajahnya. Lelaki itu tak sempat menghindar. Tentu saja karena tidak menyangka sepupunya itu tiba-tiba melakukan itu


Beberapa saat yang lalu, begitu selesai breakfast, Kendra mengajak Kenan untuk berbicara empat mata.


"Aku pinjam si mesum, may I, sweety ?", tanya Kendra kepada Adelia.


Gadis cantik itu mengiyakan.


"Don't be long, okay !", katanya. Yang dibalas dengan senyuman menggoda oleh Kendra.


"Okay, segera aku balikin, don't worry, honey !", balas lelaki itu.


Senyum menggoda Kendra semakin lebar begitu Kenan meninggalkan kecupan lembut di bibir Adelia.


"Just one minute, baby !", pamitnya mesra.


Seketika membuat Catherine mendengkus marah.


Tapi menghiraukan itu, Kendra meraih bahu Kenan dan menariknya keluar ruang makan. Kedua lelaki bertubuh tinggi atletis dan bagaikan pinang di belah dua itu memilih taman belakang mansion untuk berbincang.


Tapi begitu sampai, apa yang Kenan terima ?


"Hi, what's a matter, dude ? what are you doing ?", pelotot Kenan. Lelaki itu kini berusaha balas menyerang.


Kendra mendengkus jelas.


"Huft dasar mesum gila ! Apa yang kamu lakuin sama perempuan itu ? Kamu bikin hamil dia ?", marah Kendra seraya terus menyerang.


Kenan mengernyit dalam.


"Perempuan siapa maksud kamu ?", masih belum menyadari salahnya.


"Ohhh...shittt !", umpatnya begitu pukulan Kendra kembali mengenainya. Lelaki itu tidak fokus sama sekali.


Kendra mendengkus. Kembali menerjang Kenan.


"Amnesia ? Okay, aku bantu ingetin !", pukulan Kendra kini mengarah ke kepala Kenan.


Kenan berusaha mengingat. Apa mungkin ? Argghhh......apa yang sepupunya maksudkan adalah Catherine ? Bagaimana si cabul ini bisa tahu ? "Damn you, Cath !", umpat Kenan dalam hati.


Kenapa mulut mantan sahabatnya itu jadi bocor ? Padahal mereka sepakat akan menyimpan rahasia itu. Bertiga. Tapi, what is she doing now ?


"Hi, wait a minute !", tahan Kenan. Meminta agar Kendra menghentikan serangannya. Tapi sepupunya itu sepertinya tak menggubris.


"Kenapa ? Do you give up ?", ledeknya.


"Ckck ...... kasihan Adelia, ternyata cuma segitu kemampuan kamu ", lanjut Kendra.


Kenan mendengkus jelas. Ingin sekali memukul mulut sepupunya yang pedas itu. Apa hubungannya dengan Adelia coba ? Dia dan istrinya tentu saja tetap baik-baik saja.


Masalah apapun itu, mereka sepakat menyelesaikan bersama. Dan jangan lupakan tetap tidak melewatkam duel seru mereka di atas ranjang.


Semalam saja Kenan sudah menghajar istrinya semalaman. Hingga perempyan cantik itu tidak henti memanggil namanya dan berteriak keenakan. So, kurang apa Kenan ?


"Hi...cabul, jangan ngawur ! Kalo ngajak gelut aku ladeni !", gusar Kenan.


Kendra tergelak.


"Itu mau aku. C'mon tunjukin kemampuan kamu !", tantangnya.


Kenan terkekeh.


"Okay, let's fight !", ucapnya seraya memberikan serangan balasan.


Mereka bertarung dengan garang. Sesekali pukulan Kenan mengenai Kendra, begitupun sebaliknya. Suatu ketika mereka bertemu di udara, saling serang. Kekehan terdengar dari bibir keduanya. Saling ledek.


"Whoa....not bad, Ndra !", teriak Kenan.


"Actually, so awesome, Ken ! I miss it for along time ", balas Kendra.


***********


Di ruang makan, nampak dua perempuan masih asyik dengan menu yang ada di depannya. Catherine dan Adelia. Sepeninggal Kenan dan Kendra keduanya belum beranjak dari kursinya.


Kalau Catherine karena kehamilannya, semenjak hamil keinginan makannya semakin besar.


Adelia ? Jangan ditanya, pasti kelaparan karena duel seru semalam. Sudah menghabiskan dua buah apel, dua porsi stik daging, roti, segelas susu dan masih belum berhenti mengunyah. Kini bibir mungil itu sibuk menyemil anggur merah.


Catherine menatap istri Kenan itu dengan mata memicing.

__ADS_1


"Lapar apa doyan ?", sinisnya.


Adelia hanya mengedikkan bahu.


"Uhmm....kenyang banget ", gumamnya seraya mengelus perut rampingnya.


"Mau ketemu suami aku ahhh...kangen... ", lanjutnya dengan nada centil.


Memasukkan kembali sebutir anggur ke mulutnya, lalu beranjak dari kursinya.


Catherine mendengkus kentara. Kemudian mengatakan sesuatu yang membuat Adelia seketika mengurungkan langkah kakinya.


"Kalo tahu diri harusnya kamu udah pergi dari hidup Kenan ", ucap Dokter muda itu dengan angkuh.


Adelia tersenyum. Menatap Catherine dengan tatapan tajam. Perempuan berpendidikan tapi tak tahu malu. Batin Adelia.


"Kalo aku nggak mau ?", seraya melipat tangannya di dada.


Catherine berdecih.


"Ada baby Kenan di perut aku. Apa lagi yang kamu harapin ?", sergahnya.


Adelia berjalan mengitari kursinya. Menaruh jemarinya di dagu. Bola mata cantik itu berputar, seolah sedang berpikir.


"Baby Kenan ya ?", kepalanya manggut-manggut.


"Uhmmm....aneh aja sih dengernya, tiap hari kita yang bikin baby, kenapa bisa nyasar di perut kamu ya ?", katanya seraya terkikik geli


Tentu saja sukses membuat Catherine mengepalkan tangannya jengkel. Perempuan muda itu semakin membeliakkan matanya begitu Adelia kembali berucap.


"Okay, so what do you want ? Pengen nikah sama Ken ? Ohhh....of course ", dijawabnya pertanyaannya sendiri. Perempuan cantik itu kembali terkekeh geli.


Catherine hendak membuka mulut, kembali tertutup begitu terdengar lagi suara dari bibir mungil Adelia.


"Aku minta Kenan nikahin kamu, That's enough, isn't it ?", sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Absolutely great, Adios !", kemudian berlalu dari depan Catherine sebelum Dokter muda itu menjawab.


Catherine spontan beranjak.


"Adeliaaaa.....", geramnya. Tampak sekali perempuan itu menahan amarah. Bahkan menghentakkan kakinya kasar. Apalagi ketika mendengar ucapan Adelia lagi.


"Kalo dia nolak, kamu harus berusaha lebih keras, okay ? ", Adelia menolehkan ke arah Catherine dengan sebelah matanya mengedip nakal. Kekehan kecil keluar dari bibirmya.


"Damn you Adeliaaa........wanna play with me ? We'll see !", lirihnya seraya tersenyum jahat.


**************


"Hyaaaa......", suara kedua lelaki itu berteriak keras. Keduanya melompat ke udara dan saling menyarangkan pukulan. Tak ayal lagi ketika kedua pukulan itu beradu, keduanya sama-sama terpental jatuh.


Bukannya suara erangan kesakitan, tapi gelak tawa keduanya yang terdengar bersahutan.


"Long time, dude, and you're still the same", ucap Kenan. Seraya melompat bangun.


Kendra juga bergegas bangkit.


"You too, dasar menyebalkan !", balas Kendra.


Keduanya tergelak. Lalu saling berpelukan, saling menepuk bahu lebar satu sama lain.


"Well come back home !", ucap Kenan.


"Congratulation for your wedding !", balas Kendra. Kembali menepuk bahu Kenan keras. .


Sebentar melepas pelukan dan mempertemukan punggung tangan mereka.


"Kamu hutang satu penjelasan sama aku ", lengan Kendra menyenggol lengan Kenan.


Suami Adelia hanya mengedik.


"C'mon.....relax, dude. Jangan terlalu serius begitu, okay !", menepuk bahu Kendra. Cukup keras.


"Bisa nggak kalo nggak nyebelin ?", ledek Kendra. Keduanya saling pandang dan tergelak, lalu melangkah ke bangku taman dan duduk di sana.


Di depan sana tampak danau asri dan bunga beraneka warna. Dua angsa cantik nampak berenang di pinggiran danau. Sesekali saling mempertemukan paruh mereka.


"Okay, what do you want to know ?", mulai Kenan.


Kendra menoleh dengan alis menukik.


"Bener perempuan itu hamil anak kamu ?", Kendra to the point.


Kenan menggeleng tegas. Merebahkan tubuhnya pada badan kursi taman. Lalu bersidekap.

__ADS_1


"Of course not, are you crazy ?", elaknya.


Kendra menyenggol kaki lelaki itu. Lalu mengangkat kakinya, menumpangkan pada kaki lainnya.


"How about Adelia ?", tanyanya. Seraya melipat tangannya di dada.


"She knows and .......", Kenan menjeda kalimatnya. Lalu menoleh ke arah Kendra dengan tatapan penuh percaya diri.


"She believes me", lanjutnya.


Kendra nampak menghela lega. Kepalanya manggut-manggut tanda mengerti.


"Aku kira kamu khilaf, terus nyelup sembarangan", kekehnya.


Kenan mengurai lipatan tangannya, lalu memukul bahu sepupunya itu keras.


"Aku masih waras ya, dasar cabul !", gelaknya.


Kendra juga tergelak.


"Dasar mesum ! Aku tahu seberapa parahnya kamu dulu ", masih dengan gelaknya.


"Whoa....whoa, c'mon man, itu masa lalu, now it's over, you know !", tegasnya.


"Baguslah !", balas Kendra setengah mencibir. Sambil kembali menendang kaki Kenan. Membuat suami Adelia itu membulatkan matanya konyol.


"Hi....hi, don't you believe me ?", kata lelaki itu selanjutnya.


Kendra tergelak. Lalu mengangkat bahu dan tangannya.


"I don't know. Tapi yang pasti apa yang grandma dan grandpa pikirkan benar ", ucap lelaki itu.


Kenan mengangguki. Tentu saja kakek neneknya sudah menduga. Kepulangan Kenan dan Adelia ke tanah air, sebelum masa honeymoon mereka selesai, jelas membuat mereka curiga dan berpikir kalau ada masalah yang serius.


Meskipun Kenan mengatakan pulang karena urusan perusahaan, tapi kedua sesepuh itu tak akan percaya begitu saja.


Dan sekarang buktinya, menyuruh sepupunya ini menyelidiki. Tepatnya menjadi mata-mata. Kenan tersenyum meledek.


"So, kamu memata-matai aku sekarang ?", tebaknya.


Kendra hanya mengedik. Kenan juga sudah hafal, Kendra lah yang selalu di suruh mengawasinya dari semenjak kuliah dulu.


Karena yah....tahu sendiri tingkah absurd Kenan pada setiap perempuan cantik. Selalu tebar pesona maut. Dan Kendra yang selalu di bikin repot karena ulahnya.


Berbeda jauh dengan Kendra, meskipun disebut bad boy juga, lelaki itu sebenarnya tak pernah bermain-main dengan perempuan. sekedar mengertak sambal saja. Setiap diajak kencan perempuan selalu menghindar.


Tapi bersama Kenan selalu membahas tentang perempuan-perempuan body seksi, itulah yang membuat Kenan menyebutnya cabul. Sejujurnya Kendra adalah a good boy.


"So, what will you do ?", tanya Kendra selanjutnya.


Kenan mengedik.


"I don't know yet ", singkatnya.


Lalu menoleh sarkatis ke arah sepupunya.


"How about you ? Try to find a girlfriend, ha !", seraya menepuk bahu Kendra.


Kendra tergelak.


"It's easy, man. You're in a big trouble now. Kenapa pusing mikirin aku ?", oloknya.


Kenan terkekeh. Sepupunya ini dari dulu selalu kepo.


Tapi sejujurnya Kenan memang belum tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya. Tepatnya dengan Catherine. Karena bukan suatu yang baik kalau membiarkan perempuan itu terus tinggal satu atap dengannya dan Adelia.


Meskipun Adelia percaya, tapi bagaimana kalau papa mamanya tahu, papa mama mertuanya tahu, bisa runyam urusannya. Apalagi mulut Catherine, apa benar bisa dipegang ? Secara sekarang saja sudah bilang pada sepupunya.


Sebentar kemudian Kendra menjentikkan jemarnya.


"Biar aku yang urus perempuan itu ", usulnya.


Kenan menggeleng. Catherine bukan perempuan bodoh, tidak semudah itu memperdayainya.


"How come?", tanya Kenan pasrah.


Kendra menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Dia sendiri juga bingung.


Padahal biasanya selalu punya ide brilliant untuk mengatasi kekacauan yang dibuat sepupunya itu.


Kenan tergelak. Sebentar kemudian berseru dan beranjak dari duduknya.


"C'mon, I have a good idea !", menggerakkan kepalanya meminta Kendra berdiri. Lelaki muda itu menyatukan alisnya. Tapi tetap saja beranjak dengan senyum tipis menghiasi bibirnya.

__ADS_1


"Let's go !", sambutnya.


__ADS_2