
"Okay San, aku duluan", kata Adelia sambil melesat pergi. Meninggalkan dua orang yang lagi kasmaran itu.
Sejak dari area parkir sampai selasar kampus Kendra bersikeras mengantar mereka. Lebay banget. Mau apa lagi coba kalau tidak ingin berduaan terus. Dan Adelia tahu, tidak ingin menganggu itu. Jadi ketika mereka harus jalan ke arah jurusan mereka masing-masing, segera dia
berpamitan.
"Uhmmm Del, wait !", seru Sandra. Di balas Adelia dengan lambaian tangan ke atas. Tanpa menoleh ke belakang.
"Gara-gara kamu, Adel jadi gak comfort kan !", gerutu Sandra.
Kendra tergelak. Lalu merangkul bahu pacarnya dan sedikit menunduk untuk berbisik.
"Little girl peka, dia ngerti banget kita pengen berduaan", katanya. Lalu mencuri ciuman cepat di pipi pacarnya itu.
Sandra memanyunkan bibirnya.
"So, mau ngapain kalo berdua ? Aku mau kuliah juga kan?", balasnya.
Kendra terkekeh. Lalu menyentil bibir manyun Sandra.
"Kiss-kiss dulu dong,, peluk-peluk, apalagi ?", godanya.
Sandra terkekeh.
"Ya udah, buruan sini !", sambil menunjuk pipinya.
Dengan cepat Kendra mencium pipi Sandra, kiri dan kanan.
"Udah kan ? kamu balik sana !", pinta Sandra.
"Gak usah ngantar sampe kelas ", lanjutnya seraya melangkah pergi.
Kendra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebelah mata lelaki itu mengerling nakal begitu menemukan suatu rencana. Sepertinya.
"Wait a minute, darling !", serunya.
Spontan Sandra menoleh. Berbarengan dengan itu Kendra bergerak cepat, mencuri satu ciuman di bibir Sandra.
"Wh......eughh !", kata-kata gadis itu tertelan kembali. Pagutan lembut bibir Kendra membuat mata gadis itu membola dan membuatnya mematung di tempat. Meski hanya sekilas karena lelaki tampan itu segera menjauhkan tubuhnya.
"Thanks ... !", katanya seraya mengusap bibir Sandra dengan ibu jarinya. Lelaki itu tersenyum manis, lalu melangkah pergi.
"Kabari aku kalo udah pulang, sweetheart !", ucapnya sambil memutar kembali tubuhnya. Lalu memberikan kiss bye sebelum kaki jangkung itu kembali melangkah. Suara kekehan masih terdengar keluar dari bibirnya.
Sandra masih terbengong. Tangannya memegangi bibirnya yang kini tampak tersenyum malu dan tersipu.
"Kendraaaaa.......argghhhhh !", dihentakkannya kakinya. Jengkel dan gemas. Lalu kembali melangkah dengan senyum tipis tersungging di bibir.
************
"Really Mr. Chris ?", yakin Adelia pada dosen mata kuliahnya yang kini duduk di hadapannya.
Lelaki tampan yang sudah matang itu tersenyum.
"Sure ....I give you two days and you'll have free time for a week", balasnya.
"Yeayyyyyy......!", seru Adelia seraya mengangkat tangannya ke atas. Mr. Chris terkekeh kecil. Manik birunya menatap setiap gerak gadis di depannya dengan sorot lembut dan ramah.
__ADS_1
"Thanks Mr.Chris, I'll do it !", kata Adelia seraya beranjak berdiri. Mr. Chris mengangkat kedua jempolnya.
"Do the best, Adelia", ucapnya.
Adelia mengangguk pasti. Lalu memutar tubuhnya dan meninggalkan ruangan dosen itu dengan perasaan bahagia. Terlihat sekali dari mimik ceria di wajahnya.
Sebenarnya Adelia tadi ingin bertanya kepada dosen, apakah bisa mengambil ijin kalau tugas selesai. Setidaknya dalam minggu -minggu ini. Tahu kan, Adelia ingin sekali membantu suaminya mengatasi masalah perusahaan.
Kejadian sebelumnya ketika Adelia meninggalkan Kenan tanpa pamit saat lelaki itu menghadapi masalah, membuatnya merasa bersalah.
Meskipun tujuannya adalah study dan atas dukungan papa mama Kenan juga. Tapi sumpah dalam hati Adelia tidak akan mengulangi itu lagi. Dia akan mendukung suaminya ketika lelaki itu membutuhkannya. Kapan saja. Adelia benar kan ?
Dan sungguh Dewi Fortuna kini berpihak padanya. Sebelum meminta ijin, Mr. Chris sudah memberi tahunya. Memberinya kabar gembira. Two days, yesss two days Adelia akan merampungkan tugasnya dan pulang ke tanah air untuk mendukung suaminya. Adelia yakin bisa lakukan itu dengan baik. Absolutely.
"Yesssss.....!", girang Adelia sambil mengepalkan tangannya ke atas. Tujuannya sekarang adalah ke perpustakaan kampus, mencari referensi untuk menyelesaikan tugasnya. Tanpa disadari sepasang mata mengamatinya tanpa berkedip semenjak gadis itu keluar dari ruang Dosen.
Dengan langkah pasti dan senyum manis tercetak di bibir mungil merahnya, gadis beruia 19 tahun itu melangkah. Pada suatu belokan jalan menuju ruang perpustakaan, tiba-tiba......
"Brukkkk....!", tubuhnya bertubrukan dengan tubuh seseorang.
"Arrghhhhh......what are you doing ?", geram Adelia.
Karena seseorang itu dengan sembarangan memegangi tubuhnya, menahannya agar tidak jatuh. Itu sebenarnya mungkin tujuannya, tapi Adelia tidak suka. Jarak mereka yang begitu dekat membuat Adelia segera mendorong tubuh lelaki itu.
"Let me go !", galaknya.
"Sorry....sorry girl, I don't mean it !", balas lelaki itu.
"Are you ?", mata cantik itu membola begitu tahu siapa lelaki yang menabraknya barusan.
"Mau kemana ? happy banget kayaknya ", lanjutnya. Menatap Adelia lekat dan penuh selidik.
Adelia mengedik.
"What do you think ?", perempuan cantik itu ganti bertanya. Kemudian melalui tubuh jangkung itu dan kembali melangkahkan kaki mungilnya.
Lelaki itu terkekeh. Menggeleng pelan, lalu mengejar dan mensejajarkan langkahnya dengan Adelia. Sebelumnya mengacungkan jempolnya pada seseorang di atas gedung perpustakaan. Tentu saja di belakang tubuh Adelia.
"Suka banget sikap.cuek kamu, girl ", ucapnya.
Adelia hanya mengedik. Terus melangkahkan kakinya ke arah gedung yang sudah tampak di depan mata.
Lelaki itu memandang dari samping wajah cantik Adelia yang menatap tegas ke depan. Bibir mungil gadis itu masih menyunggingkan senyum tipis, padahal baru beberapa detik yang lalu gadis itu melotot galak ke arahnya.
"Boleh aku temani ?", tanyanya.
"Go ahead !", balas Adelia. Tanpa menoleh ke arah lelaki di sampingnya.
Lelaki itu terkekeh. Sepertinya menjadi sesuatu yang menarik dan menantang baginya dengan sikap cuek dan arogan Adelia.
Keduanya memasuki ruang perpustakaan. Lelaki itu terus saja mengekori Adelia. Bahkan sampai ada beberapa mahasiswa yang berbisik melihat keduanya. Yang terlihat layaknya pasangan kekasih.
"Kamu gak ada mata kuliah?", tanya Adelia sambil memilah buku.
"Hmmm.....kayaknya enggak ", balas lelaki itu sekenanya.
Tangannya panjangnya menjulur meraih buku di rak tinggi yang hendak Adelia ambil.
__ADS_1
"Thanks ", lirih Adelia.
Lelaki itu tersenyum.
Adelia langsung membuka-buka buku itu.
"That's what I want ", serunya girang.
"Really ?", sahut lelaki itu ikut mendekat.
"Uhmm..... ", Adelia mengangguk. Pandangannya masih fokus pada buku yang dipegangnya.
Bahkan tidak sadar tangan lelaki itu merangkul bahunya. Sedang sebelah tangan lelaki itu yang lain mengacungkan jempolnya ke arah seseorang. Bibirnya menyunggungkan senyum puas.
"Bry....singkirin tangan kamu !", galak Adelia begitu menyadari ada sesuatu yang menempel di bahunya.
"Ohhh.. .I'm sorry girl, nggak nyadar", sambil nyengir tak berdosa. Kedua tangannya terangkat ke atas.
"Don't do it again !", kata Adelia penuh peringatan.
Lalu melangkah meninggalkan lelaki itu menuju meja baca. Lelaki itu bergegas menyusul.
"Okay girl......I'm really.... really sorry, I don't mean it !", ucapnya penuh sesal.
Lalu duduk di kursi sebelah Adelia begitu perempuan cantik itu sudah mengambil tempat duduk.
"Are you angry ?", tanyanya sambil melongokkan kepala di depan Adelia.
"No....", tegas Adelia.
Bryan terkekeh. Tangannya bergerak cepat meraih buku yang dipegang Adelia dan mengangkatnya ke atas.
"Bryyyy......give it to me !", seru Adelia. '
"Senyum dulu kalo gak marah ", goda lelaki itu.
Adelia berusaha merebut kembali bukunya.
"Apaan sih kamu ?", marahnya.
Bryan semakin menggodanya. Memutar-mutar buku itu di tangannya.
"Senyum dulu, baru aku kasih !", lelaki itu tetap bersikeras. Bahkan menaruh buku itu di atas kepalanya. Dan memainkannya layaknya sebuah bola.
Adelia sampai terkekeh melihat itu.
"Konyol banget kamu......give it to me !", pintanya masih dengan kekehan kecil.
Bryan tergelak.
"For you princess ", ucapnya sambil menyodorkan buku itu pada Adelia
"Not funny !", Adelia sambar buku itu dari tangan Bryan. Lalu kembali duduk dan asyik dengan bukunya..
Bryan tersenyum, lalu kembali duduk di sebelah Adelia. Tangannya meraih sebuah majalah di meja. Membuka-bukanya asal. Karena setiap saat selalu mencuri pandang ke arah perempuan cantik di sebelahnya. Dan sesekali juga tampak memainkan gawainya dengan senyum puas di bibirnya.
.
__ADS_1