
"Remember, Baby, don't get too close with him !", pesan Kenan lagi.
Entah sudah yang ke berapa kali.
"Of course, honey. Believe me !", yakin Adelia. Kenan cium istrinya lagi. Juga entah yang ke berapa kali. Membuat perempuan cantik itu belum turun juga dari mobil dari tadi
"Hmmm... ...enough Ken, nanti lagi !", tahan Adelia begitu tangan Kenan menyusup ke dalam bajunya dan menempelkan sesuatu.
"Ssttt....just savety, baby ", lirih lelaki itu.
Bibir Adelia cemberut. Membuat lelaki itu semakin tidak tahan untuk tidak menciumnya. Tentu saja yang dilakukannya kemudian adalah mendekatkan wajahnya, hendak menyambar bibir merah itu, tapi tangan mungil Adelia menahan bibirnya.
"Ssstttt.......nanti, okay ?", menatap suaminya dengan pandangan memohon.
Lelaki itu menurut, tapi bibirnya cemberut.
"Buruan selesaiin urusan sama dia !", rajuknya.
"Udah nahan dari semalam, It's hurt, baby ", lanjutnya. Selalu lebay.
Adelia terkikik geli. Kok bisa lelaki segagah dan sekuat Kenan merajuk seperti itu. Lucu sekali. Ahhh....apa Adelia sedang mengagumi suaminya sekarang ?
Yang jelas lelaki yang kini sudah menjadi suaminya ini tidak garang dan menyebalkan seperti dulu. Lelaki ini sebenarnya lucu dan manis. Itulah sisi lain dari seorang Kenan.
"I know ..... ", balasnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Lalu mencium bibir suaminya cepat dan segera keluar dari mobil.
Mereka berada di depan sebuah bookstore besar di kota itu. Dimana Adelia dan Bryan janjian ketemu.
Sebenarnya Kenan keberatan istrinya menemui lelaki itu sendiri. Kenan ingin menemui lelaki itu secara langsung, berdua, tapi ternyata istrinya punya rencana lain.
Dan apa yang bisa Kenan lakukan selain menuruti ? Karena itulah kesepakatan mereka. Bahwa istrinya yang akan mengatur rencana.
Kenan pandangi tubuh cantik yang berjalan ke arah bookstore itu. Bisa Kenan lihat, di dekat pintu bookstore, seorang lelaki bertubuh jangkung dan berambut perak tersenyum lebar begitu melihat Adelia.
"Hallo, girl !", sapa lelaki itu pada Adelia.
Huft.....ingin raaanya Kenan menghajarnya.
"Hai. .!", balas istrinya.
"Udah lama nunggu ?", lanjut Adelia.
"Not, yet. Hmm....kamu bawa mobil sendiri ?", tanyanya.
Adelia mengangguk.
"Tahu gitu aku jemput ", kata lelaki itu. Membuat darah Kenan memanas seketika.
"Gak perlu, pengen aja bawa mobil sendiri, lama gak nyetir soalnya ", balas Adelia.
Semua percakapan itu bisa Kenan dengar dari sebuah microchip yang dia taruh di dasbord mobil.
"Okay, baiklah lovely girl, maybe next time. C'mon !", ajak lelaki itu.
Rahang Kenan mengeras.
"Dasar brengsek !", kesalnya.
But wait ! Dia sebut apa istrinya tadi ? Lovely girl ! Damnn.....lancang sekali lelaki itu !
Batin Kenan menggerutu.
Bisa Kenan lihat tangan lelaki itu yang hendak merangkul bahu Adelia. Bibir Kenan siap membuka untuk memperingati istrinya. Tapi ternyata perempuan cantik itu dengan cepat melangkah masuk, hingga tangan lelaki itu menemukan udara kosong saja.
Bibir seksi Kenan tersenyum tipis.
Tangannya meraih jacket hoodie hitam di jok belakang. Dikenakannya cepat dan ditutupnya bagian kepala. Sebuah kaca mata hitam dia gunakan untuk menyembunyikan tatapan hazelnya. Tidak lupa meraih microchip di depannya dan menyelipkan di antara pakaiannya.
"Let's start the game !", lirihnya sambil membuka pintu mobil.
*******
"Mau nyari buku apa, girl ?", tanya Bryan. Mereka berjalan di antara rak-rak buku yang berjejer.
"Maybe filsafat or komik ", balas Adelia.
"Kalo kamu ?", tanya balik Adelia
"Hmmm, kayaknya sama, filsafat or maybe psikologi", balas Bryan.
"Okay......coba lihat ke sana !", tunjuk Adelia.
Bryan mengikuti.
Terlihat sekali lelaki itu ingin selalu menempel dengan Adelia. Karena tidak membiarkan Adelia jauh sedikitpun darinya. Setiap Adelia menjauh, segera dia menipiskan jarak mereka.
__ADS_1
Sepasang mata hazel dari balik kaca mata hitam mengamati itu dari sela-sela rak buku. Sesekali bibirnya menggerutu.
"By the way, kenapa kamu pulang? Bukan lagi ngikutin aku kan ?", Adelia sambil memilih-milih buku..
Bryan juga melakukan hal yang sama.
Lelaki itu tergelak.
"Maybe yes, kamu gak keberatan kan ?", godanya.
"Seriously, Bry. Kamu ambil cuti juga?", ulang Adelia. Sesekali memandang Bryan, sesekali menjelajahi buku-buku yang tertata rapi di rak.
.
"Hemmm... aku ambil satu minggu", balas Bryan kemudian.
"Really ? Kok bisa sama gitu ?", selidik Adelia.
"Berarti kita punya insting yang sama, lovely girl ", kelakar Bryan.
Adelia hanya mengedik.
"Are you kidding ?", balasnya.
Seseorang yang mendengar percakapan mereka dari balik rak buku mengepalkan tangannya marah.
"Huft....tukang gombal !", kesalnya.
Bryan terkekeh.
"Udah nemuin bukunya ?", tanyanya. Lalu beralih ke sebelah Adelia. Lebih dekat.
"Not yet ", Adelia menggeleng. Lalu mendongak melihat jajaran buku di rak atas. Matanya langsung berbinar.
Kaki Adelia berjinjit. Tangannya menjulur hendak meraih buku yang telah menyita perhatiannya itu.
Bryan memperhatikan pergerakan perempuan cantik itu dengan senyum.di bibir.
"Biar aku ambilin !', katanya.
Tangan Bryan menjulur ke atas, siap meraih buku itu, tapi sebuah tangan panjang sudah mendahuluinya. Dibarengi dengan sesosok tubuh yang menyerobot di antara mereka berdua. Lebih tinggi dari Bryan.
"What the hell ....?", Bryan mengumpat dalam hati.
"Thanks ", lirih Adelia. Senyum tipis menghias bibir mungilnya.
Bryan masih menatap ke arah tubuh jangkung yang berlalu itu, hingga hilang di balik rak. Lalu kembali menoleh ke arah Adelia. Menipiskan jarak mereka. Lagi.
"May I see ?", pintanya.
"Sure ! ", Adelia berikan buku itu ke Bryan.
"No, girl, kamu aja yang pegang !", pintanya.
"Okay", balas Adelia.
Lalu menunjukkan buku itu pada Bryan. Mata cantiknya fokus pada buku yang dipegangnya,
tidak sadar kalau Bryan semakin mendekatkan tubuhnya. Bahkan bahu Bryan kini menempel di bahunya.
Saat mereka asyik melihat buku itu, tiba-tiba......
"Excuse, me !", seseorang menyerobot di tengah-tengah mereka. Memisahkan keintiman mereka. Tubuh Bryan bergeser karena tingkah lelakj itu.
"Hei....what the hell are you doing, man ?", marah Bryan.
Lelaki itu tidak menjawab. Tapi sibuk meraih buku di rak teratas. Bryan perhatikan dengan seksama.
"Kamu...lagi !", katanya. Sedikit ketus.
"Sorryyy....", balas lelaki berhodie itu sambil berlalu.
Adelia berusaha menahan senyumnya.
Naughty Kenn ! ucapnya dalam hati.
"Siapa sih ? Gangguin aja !", Bryan masih terlihat kesal.
"Just forget it, Bry !", hibur Adelia.
"Uhmm.....aku ambil buku ini, It's good. Kamu mau juga?", tanya Adelia.
"Of course, baby !", balas Bryan.
Bibirnya tersenyum, seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal sesaat yang lalu terlihat jengkel sekali.
__ADS_1
Tangan lelaki itu menjulur meraih buku yang sama di rak atas.
"Sini aku bawain !", tawar Adelia.
"No, biar aku aja. Sini punya kamu !", Bryan minta buku yang di pegang Adelia. Perempuan cantik itu menyetujui saja.
"So, mau cari komik sekarang ?", tanya Bryan.
"Boleh, let's go !", Adelia melangkah lebih dulu. Dengan cepat Bryan menahan tangannya.
"What's a matter ?", Adelia berusaha menghindari tangan Bryan.
"Emang tahu di mana?", tanya Bryan.
Adelia mengangguk dan tersenyum. Imut dan manis sekali. Membuat Bryan gelagapan salah tingkah.
Apalagi pemilik sepasang mata hazel yang memperhatikan dari balik kaca mata hitam, bibirnya langsung merengut.
Kenapa senyum manis di depan lelaki lain sih ? Batinnya berteriak.
"Of course I know, what do you mean?", seru Adelia.
Bryan terkekeh
"Over there, baby ! Bukan ke situ !", tunjuknya.
Adelia terkekeh kecil.
"Sorryy..........I forget ", lalu melangkah ke arah yang ditunjuk Bryan.
Seseorang di balik rak buku yang tengah pura-pura membaca langsung menaruh buku yang di pegangnya.
"Baby.....baby.....siapa yang dia panggil baby ? Enak aja ! She's my baby, not yours !", kesalnya.
Adelia yang tengah berjalan tersenyum mendengar suara gerutuan itu. Iya dari sebuah microchip yang diselipkan suaminya di bslik bajunya tadi.
Bryan berjalan menempel di sebelah Adelia.
"My gosh.......komik favorite aku !", girang Adelia.
"Tom Jerry?", Bryan tercengang.
"Iyess....!", mata perempuan cantik itu berbinar. Menatap satu persatu komik di hadapannya.
Kepalanya juga mendongak ke susunan rak atas juga.
Bryan terkekeh keras.
"Dasar bocil......! Baru tahu kalo ngefans sama Tom Jerry ", masih terkekeh.
Lalu spontan tangannya bergerak ke kepala Adelia. Tapi sebelum menyentuh itu, sesosok tubuh tinggi menyeruak di antara mereka.
"Hmmm...Tom Jerry, my favourite too", katanya sambil menyambar dua komik di jajaran atas rak.
"You can get one, baby", menyodorkan salah satunya pada Adelia.
"Uhmm....thank you !', balas Adelia.
Lelaki itu tersenyum. Dibalas senyum yang sama oleh Adelia.
Tak peduli pada lelaki di belakangnya yang langsung menghentikan tawanya dan mengeras rahangnya.
Sebuah tepukan di bahu lebar lelaki berhodie itu membuatnya menoleh.
"You......again.....actually.....what do you want ?", kesal Bryan.
Lelaki berhodie itu menatap Adelia dan Bryan bergantian.
"What do I want ?", ulangnya.
"I want her ", lanjutnya seraya meraih tubuh Adelia. Memeluknya erat. Perempuan cantik itu tidak menolak, juga tidak berontak.
Mata Bryan membelalak. Tangannya langsung mengepal kuat.
"Damn you ! Let it my girl go !", marahnya.
Lelaki berhodie itu tergelak.
"She's mine, what do you want from my wife ?", tegasnya.
Mata Bryan semakin membelalak. Rahangnya kian mengeras. Diamatinya seksama lelaki di depannya itu.
"Ohhhh......shitttt !", umpatnya begitu lelaki di depannya membuka penutup kepalanya.
"You know me, don't you ?", suara bariton lelaki itu membuat darah Bryan memanas. Dan kepalan tangannya semakin mengeras.
__ADS_1