
"Yesss....at last !", girang Adelia begitu keluar dari ruang dosen. Dia sudah sukses menyelesaikan tugasnya dengan hasil excellent. Bukan cuma karena itu, Adelia merasa senang karena akan segera bertemu suaminya.
Dua hari ini dia fokus pada tugas, bolak balik kampus dan perpustakaan untuk mencari referensi. Dannn, selama itu juga dia off, tidak menghubungi suaminya.
Bahkan bisa dihitung dengan jari berapa kali dia menggunakan gawainya. Paling-paling saat dia lapar dan memesan makanan saja. Selebihnya dia habiskan di depan laptop.
Demikian juga Kenan, lelaki itu juga tidak menghubunginya. Sama sekali. Tapi Adelia maklum, pasti suaminya sibuk mengurus masalah perusahaan.
"It's time to go home ", lirihnya sebelum melangkah cepat menyusuri selasar. Tanpa dia sadari sepasang mata mengawasi dengan pandangan tak berkedip.
"Hai Adel .....!", sapa seorang mahasiswi yang berpapasan dengannya. Adelia masih ingat, mereka berkenalan beberapa hari yang lalu di perpustakaan.
"Haiii...!", balas Adelia ganti.
Mahasiswi itu bersama teman lelakinya, maybe her boyfriend. Mereka berjalan sambil berpelukan. Mesra sekali.
Adelia menggeleng pelan. Kok jadi pengen ya ? Batinnya.
"Kennnn.....I miss you", gumamnya. Sebentar menghentikan langkah. Meraih gawai di tas dan mengotak-atiknya. Perempuan cantik itu tersenyum.
"Not now.....I'll give a surprise", ucapnya sambil memasukkan kembali gawainya. Membatalkan keiginannya semula untuk menelepon.
"Brukkkk", karena tidak memperhatikan jalan, masih fokus menaruh gawainya di tas tiba-tiba bertabrakan dengan seseorang.
"Arghhhh......kamuuu....lagiii !", serunya melihat siapa yang bertubrukan dengannya.
"Hmm....sorry Del, sengaja....", katanya tidak merasa bersalah sama sekali.
Adelia melotot galak dan mendengkus jelas.
"No ...no....sorry, aku gak fokus tadi !", ralatnya.
"Kebiasaaan...", ketus Adelia.
Lelaki muda itu hanya cengar cengir.
"Btw, thanks Bry....udah temeni aku ke perpustakaan.....twice..... ", sambil mengacungkan dua jemarinya dan tersenyum sangat manis.
Bryan terlihat salah tingkah. Beberapa mengusap rambutnya ke belakang.
"No problem.... yang penting tugas kamu udah beres", balasnya.
Adelia kembali melangkah. Bryan segera mensejajarkan dirinya.
"Absolutely......and I'm very happy now", ceria Adelia.
Bryan tersenyum.
"Sure, I can see that ", sambil melihat dengan ujung matanya pada gadis cantik di sebelahnya itu.
"So....gak keberatan kan kalo aku traktir.....maybe for a cup of coffee", lanjutnya.
"No...I can't ", spontan Adelia. Bahkan sampai menghentikan langkahnya.
"Please, Del.....just once", mohon Bryan.
Adelia terdiam. Sekilas melirik jam tangan cantik yang melingkar di lengannya.
"Okay...... half an hour ", katanya seraya kembali melangkah.
Bryan langsung berseru riang.
"Yessss......thanks Adelll ", ucapnya.
__ADS_1
"My baby girl ", lanjutnya dalam hati.
Lalu bergegas menyusul langkah Adelia.
*************
"Ma....maaf tuan !", Susan langsung memutar balik tubuhnya. Begitu masuk ke ruangan Kenan dan mendapati Tuan Alex di sana.
Papa Kenan memandang dengan mata memicing.
"Who is she ?", tanyanya.
"Uhmm.....sekretaris aku Pa ", jawab Kenan.
Papa Alex menatap ke arah Kenan dengan pandangan penuh selidik.
"Sekretaris ? What for son ?", herannya.
Tumben saja putra lelakinya ini mau bekerja dengan seorang sekretaris. Perempuan lagi.
"Why Pa ? Bukan masalah kan ?", kelit Kenan. Lelaki muda itu berusaha nenghindari tatapan papa Alex dengan mengarahkan pandangannya ke laptop.
"C'mon son.......sejak kapan kamu butuh sekretaris ? Cewek lagi......bukannya akan jadi boomerang buat kamu nanti", ingat papa Alex. Karena paham sekali bagaimana putra lelakinya itu dulu. Sebelum mempunyai istri Adelia. Putranya itu adalah seorang Playboy, Casanova.
"Of course not Pa, lagian dia bisa bantu masalah perusahaan ", Kenan beralasan. Padahal bukan karena itu, lebih tepatnya karena pelampiasan saja.
Karena foto-foto yang diterimanya dua hari ini. Belum lagi tidak ada kabar sama sekali dari istrimya.
Papa Alex terkekeh geli.
"Are you sure ? bisa bantuin apa coba?", tanyanya. Setengah meledek.
"Papa tahu kamu yang beresin masalah perusahaan, bukan orang lain ", tuturnya.
"Hmmm.....ya bantuin...... arghhh....C'mon pa ......rekrut pegawai baru gak akan bikin perusahaan miskin kan ?", kelahnya.
Papa Alex mendengkus lirih.
"Papa gak setuju, apalagi kalo mama kamu tahu. Pikirin lagi keputusan kamu !", lalu bangkit dari duduknya.
Melangkah menghampiri meja kerja Kenan.
"By the way.....congratulation son, kolega kita akhirnya mengakui kesalahan mereka dan setuju teken kontrak ........ karena kamu ", bangga papa Alex.
Kenan terkekeh.
"Semua karena papa, Ken gak nglakuin apa-apa juga", ucap Kenan.
Papa alex tergelak, lalu menepuk bahu putra lelakinya lembut.
"Okayyyy......how about the two of us? ", lalu mengulurkan punggung tangannya, tos.
Kenan langsung membalas itu disertai dengan kekehan.
"Absolutely, Pa....the two of us", balasnya.
Papa Alex tergelak.
"Papa duluan, udah di tunggu mama", katanya dengan nada meledek. Lalu memutar tubuhnya.
"Okayy, Pa ", Kenan mengangguk dengan dengkusan lirih.
Sebelum sampai di depan pintu papa Alex kembali berucap dan menoleh ke arah Kenan.
__ADS_1
"Jangan lupa kita bahas masalah yang tadi di rumah !", ucapnya.
Kenan membulatkan matanya.
"Cuma training dia, Pa ", lelaki itu masih saja bersikeras.
"Papa tunggu ", papa Alex mengedipkan sebelah matanya. Sebelum tubuh yang masih gagah di usia paruh baya itu hilang di balik pintu.
Kenan menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya. Bayangan Adelia muncul di pelupuk matanya. Tangannya meraih gawai di meja. Mengotak-atiknya.
"Apa ini benar kamu baby ?", gumamnya. Karena sudah Kenan cek kalau foto-foto yang diterimanya itu ori, bukan rekayasa kamera.
"Two days kata kamu, inikah yang kamu lakuin selama dua hari", lanjutnya sambil memejamkan mata.
Sebenarnya Kenan juga merasa bersalah selama dua hari ini tidak memberi kabar sama sekali pada Adelia. Tapi ego lebih menguasainya.
Apalagi melihat apa yang dilakukan istrinya di sana, membuat lelaki itu semakin enggan menanyakan kabarnya. Meskipun hanya untuk mengkonfirmasi benar tidaknya.
Sebuah notifikasi masuk. Mata hazel Kenan membuka, dan memanas seketika. Rahangnya mengeras sampai berbunyi gemeletuk. Kepalanya serasa mendidih.
"How dare are you baby ?", marahnya.
"So, itu yang kamu lakuin......sampe gak sempat hubungi aku ", tangannya mengenggam gawai itu erat sekali, seakan hendak meremukkannya. Lelaki itu sampai memutar kursinya membelakangi meja
Terdengar pintu terbuka.
"Tuan Ken.....excuse me !", Suara Susan yang sudah berada di ruangannya sama sekali tak mengusiknya.
"Babyyyy.......", suara lelaki itu setengah berteriak dan menggeram.
Susan yang mendengar itu sampai berjingkat.
"Excuse me !", ulangnya.
Kenan masih belum merubah posisinya.
"Ada tamu dari perusahaan xxxxxx menunggu anda ", kata Susan lagi.
Kenan baru tersadar dari pikirannya.
"Hmm...okay.....I'll be rigt there ", ucapnya sambil memutar kembali kursi kebesarannya.
Hingga bisa melihat perempuan yang kini menjadi sekretarisnya itu berdiri di depan sana. Dengan setelan rok pendek dan blazer yang begitu ketat di tubuhnya.
Sejenak pandangannya terhenti di sana.
Lalu sebentar mengerjapkan mata dan mengalihkan pandangan.
Susan mengangguk dan tersenyum. Memamerkan bibirnya yang merah merekah.
Perempuan itu sudah memutar tubuhnya ketika,
"Wait a minute !", suara Kenan mengintetogasi.
Membuat perempuan muda itu kembali memutar balik tubuhnya.
"Iya tuan", dengan suara yang begitu lembut.
"Temeni aku makan siang nanti !", kata Kenan. .
Langsung disambut dengan anggukan cepat oleh Susan.
"Dengan senang hati tuan ", balasnya.
__ADS_1