
"Dasar bocah nakallll.....awas ya, grandma jewer kuping kamu nanti !", suara memekakkan telinga itu membuat Kenan segera menjauhkan gawainya.
Lelaki bertubuh tinggi atletis itu baru saja memasuki teras mansion. Berjalan di depannya Catherine yang digandeng oleh asisten perempuan mansion karena mengeluh pusing dan mual.
Sementara Adelia masih membantu Ina yang juga mengalami hal yang sama. Lalu ikut menemani Ina dan Nino kembali ke rumah mereka. Masih berada satu lokasi dengan mansion.
Hari itu sudah rembang malam, ketika tiba-tiba gawai Kenan berdering. Dan ternyata adalah telepon dari grandma.
Tanpa basa-basi nenek Kenan itu langsung berteriak nyaring. Sepertinya sudah tahu kalau Kenan kembali dari.bulan madu tanpa mampir ke tempat mereka.
"Please deh grandma, kecilin suaranya, telinga Ken sakit tahu", balas Kenan.
Terdengar dengkusan jelas dari seberang sana.
"Biar aja sakit, telinga unfaedah begitu ", ucapan kesal dari ujung gawai di seberang sana. Ehhhh.....ternyata belum selesai.
"Kalo di bilangi orang tua nggak mau denger. Kenapa nggak mampir ke sini ? you know boy, granpa marah besar karena itu ", lanjut grandma panjang lebar.
Belum.sempat menjawab, terdengar suara Catherine.
."Ken, siapa ?", perempuan iti menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Kenan.Yang masih fokus dengan gawainya.
Kenan memberikan tanda agar Catherine masuk lebih dulu. Dengan wajah sedikit masam, Catherine mengangguki. Karena memang masih merasakan tidak nyaman dengan tubuhnya.
"Okay, aku duluan ", gumam perempuan itu.
Kenan mengangguk cepat.
"Yesss.....", tidak sadar bibirnya berucap, tangannya mengepal ke udara. Karena terbebas dari Catherine tentunya.
Selain itu mata elangnya menangkap sebuah mobil yang memasuki halaman mansion. Pasti istrinya. Batinnya.
"Huh ... gimana ? Kamu seneng bikin marah grandpa sama grandma ? Bocah tengill, tunggu aja pukulan ....", suara melengking terdengar kembali dari sana. Berhenti sejenak karena Kenan berucap.
"No, no....Grandma, bukan begitu maksud Ken. Ada urusan urgent di perusahaan, jadi kami harus segera pulang ", terang Kenan.
"Alah, alasan aja kamu Ken, emang ada yang lebih penting dari bulan madu kalian ? Mana cucu mantu cantik, grandma mau ngomong ?", suara dari sana menginteruksi.
"Uhmm...bentar grandma ...", Kenan terbata. Menghela lega begitu siluet tubuh cantik itu kini tengah melangkah ke arahnya.
Sesaat Kenan teringat kejadian di pesawat. Dia tidak butuh kamu Ken, tidak butuh. Batin Kenan berteriak.
Selama di pesawat tadi saja, mereka juga saling tak bertegur sapa. Sampai pesawat landing. Tentu saja karena keduanya sama-sama tertidur. Kecapekan.
Bahkan saat menemani Ina saja, Adelia pamit lelaki itu tanggapi dengan sambil lalu. Karena dia masih jengkel. Kenapa istrinya seolah selalu membiarkannya bersama Catherine. Huft....rasanya Kenan ingin memukul seseoramg untuk melampiaskan emosinya sekarang.
"Istri aku kecapekan grandma, udah tidur. Gimana kalo besok aja ?", bohong Kenan kemudian. Berpura-pura tidak menatap Adelia yang kini sudah semakin mendekat ke arah posisinya.
__ADS_1
"Don't lie to us, boy, buruan panggil cucu cantik grandma !", desak nenek Kenan dari seberang sana.
Kenan salah tingkah dan serba salah. Lebih-lebih ketika perempuan cantik itu tersenyum tipis ke arahnya, tapi tanpa menghentikan langkahnya.
Dikasih tahu nggak ya ? Kasih tahu ...enggak....kasih tahu....enggak....terjadi pertarungan ego dalam hatinya.
Ketika melewati tubuh jangkungnya, tangan mungil Adelia bergerak memukul lengan atasnya.
"Let's go !", kata perempuan cantik itu.
Kenan hanya mematung.
"Buruan Ken, sebelum dia jauh !", teriak hatinya.
"Where is she, Ken ?", suara menginteruksi kembali terdengar dari gawainya.
"O...okay, grandma, wait a minute !", Kenan tersadar dari perseteruan pikirannya.
Sesaat memutar tubuhnya dan menarik lengan mungil yang sudah melampauinya. Membuat Adelia seketika berhenti dan menoleh.
"Grandma ....", Kenan nenyodorkan gawainya.
Adelia menerima dengan bergumam thank you.
Sebelumnya menekan tombol loud speaker.
Terdengar suara tawa gembira dari seberang sana. Beda sekali saat bicara dengan Kenan.
"Kita baik-baik sayang. Kenapa enggak mampir ke tempat grandma, honey ? grandma sama grandpa kangen ", sapaan lembut terdengar dari seberang sana.
Mendengkus lirih Kenan mengalihkan pandangan ke sembarang arah. Tapi senyum tipis terukir di bibir seksinya.
"Uhmm....maaf grandma, ada yang urgent yang harus di selesaiin, jadi kami harus pulang....maafin kami grandma, kalo masalah udah kelar kita ke sana, promise ! ", Adelia berbicara sambil menatap ke arah Kenan.
Bertepatan dengan lelaki itu yang juga mengalihkan pandangan ke arahnya. Kedua mata itu saling tatap.
"No, darling. You don't need to say sorry, okay. Tapi...ini bukan karena ulah anak nakal itu kan ?", selidik grandma.
Kenan mendengkus kentara. Adelia menahan tawanya. Lalu meletakkan sebelah tangannya di dada lelaki itu. Mengusapnya lembut. Membuat hati Kenan seketika luluh lantak karenanya. Egonya seakan rontok ke bumi seperti dedaunan di musim gugur.
Hatinya yang semula jengkel, terasa nyaman dan tenang. Terlihat sekali lelaki itu menahan senyumnya. Karena terlalu berbunga hatinya.
"Of course not, grandma. Just company problem", balas Adelia.
Kenan raih tangan mungil itu dan mengecupnya lembut. Beberapa kali. Mau tidak mau terdengar sampai di seberang sana. Hingga akhirmya keluar suara kekehan dari grandpa dan grandma.
"Something serius, honey ? What's the naughty boy doing ?", suara dari seberang sedikit menggoda.
__ADS_1
"No, grandma. Everything is okay. Ken can handle it. He's so great, grasndma ", balas Adelia.
Manik mata cantik itu mengikuti arah gerak tubuh Kenan. Sedikit tersentak begitu dua tangan kokoh itu menarik tubuhnya mendekat dan memeluknya. Dari belakang.
"Okay, honey. We're happy to hear that. Enjoy your time, you next honeymoon at home !", suara dari seberang sana menghela lega.
"Thanks grandma, happy nice day. See you ", balas Adelia. Segera mematikan gawainya karena ulah tangan nakal Kenan yang menganggu konsentrasinya.
"Kennnn....tangan kamu !", Adelia pukul tangan lelaki itu yang bercokol di dada dan di bawah sana. Tepat di bawah perutnya.
Tak menjawab Kenan putar tubuh mungil itu. Lalu dengan cepat meraih kedua sisi wajah cantik Adelia. Tak butuh lama langsunv meraup bibir ranum itu penuh kerinduan.
Hanya dalam jeda semalam tidak menyentuh istrinya selama di pesawat, kenapa rasanya seperti berbulan-bulan tidak menyentuhnya.
"Kennn.....masuk dulu ", Adelia pukul bahu Kenan, hingga lelaki itu melepaskan ciumannya. . Nafas Adelia terengah karena ciuman hebat lelaki tampan itu.
Kenan usap lembut bibir merah itu dengan ibu jarinya. Kembali mengecap itu lagi. Mesra.
"I can't baby, I can't ", lirihnya di depan bibir itu.
Adelia menyatukan alisnya. Menatap Kenan dengan penuh tanda tanya.
"Wh ...what ?", herannya.
"Aku nggak bisa abaikan kamu, nggak bisa marah sama kamu, sayang ", lanjut Kenan jujur. Menatap Adelia dengan rasa bersalah.
Adelia tersenyum. Menepuk dada lelaki itu manja.
"Syukurin, siapa suruh marah sama aku?", bibir mungil itu mencebik menggemaskan.
Membuat Kenan semakin tidak bisa menahan.
"Naughty girl, kenapa gemesin banget sih?", gemas lelaki itu. Lalu dengan cepat menggulat bibir menggoda itu lagi.
Beberapa saat kedua benda kenyal itu saling mengecap dan memagut. Karena terlalu gemas, Kenan gigit lembut bibir mungil itu.
"Awwww....Ken, sakit !", seru Adelia begitu Kenan menjauhkan bibirnya. Tangan mungilnya spontan memukul bahu lelaki itu keras.
Kenan tergelak. Mengecap lembut bibir yang semakin memerah itu.
"Biarin, aku habisin bibir nakal ini !", katanya seraya mengangkat tubuh mungil Adelia. Membawanya melangkah memasuki mansion.
"Kenannnn.....", Adelia pukuli dada dan bahu suaminya kesal. Di balas dengan gelak tawa oleh lelaki itu.
Tanpa mereka sadari sepasang mata menatap mereka dengan sorot penuh kebencian dari atas balkon.
"Lihat aja nanti !", lirih bibir merah merekah itu.
__ADS_1