
"It's done ", ucap Dokter begitu selesai menjahit luka Kenan.
"Thanks, Doc ", balas Adelia.
Dokter Roland mengangguk ramah. Ternyata suaminya sudah kenal dengan Dokter keturunan Jepang itu.
Dokter itu adalah kakak kelas Catherine. Bisa Adelia duga perempuan itu pasti juga mengenalnya. Karena Adelia tadi mendengar Dokter itu menanyakan kabar tentangnya. Atau mungkin malah suaminya mengenal dia dari perempuan itu.
Huft.... menyebalkan !
Kenapa sepertinya ada yang mengebul di kepala Adelia ya ?
Dan sekarang itu membuat moodnya tidak begitu bagus.
Omong-omong, luka di perut suaminya ternyata cukup lebar. Menurut Dokter sih tidak bahaya, karena tidak sampai mengenai organ dalam. Tapi dijahit sebanyak itu, kalau bukan Kenan pasti sudah pingsan dari tadi karena banyak mengeluarkan darah.
Luka diperut suaminya memang tidak bahaya, tapi sekarang hati Adelia yang terancam bahaya. Meradang dan bergejolak, siap memukul siapa saja.
Kalau tidak mengingat Kenan lagi sakit, sudah Adelia ajak duel suaminya itu.
Ehhh.... emang salah apa?
Enggak salah juga. Tapi Adelia jengkel saja, dari tadi yang di bahas Catherine..... Catherine..... memang nggak ada yang lain apa ? Hati Adelia menggerutu.
Aihhh.... kenapa Adelia jadi berlebihan begini sih? Apa Adelia sedang diserang penyakit cemburu sekarang ? Imposible. Batin Adelia menolak.
"Remember Ken, don't move to much, okay!", ingat Dokter Roland sambil membenahi peralatannya.
Membuat Adelia kembali tersadar dari alam angan-angannya.
Kenan tanggapi ucapan Dokter Roland dengan dengkusan lirih.
Dari tadi Dokter Roland membahas Catherine. Sepertinya Kenan juga terlihat sebal karena itu. Adelia bisa melihat itu dari mimik suaminya.
"I know.... I know, thanks ", balas Kenan sekenanya. Sambil membenahi kemejanya.
"Don't forget, give my regards for Catherine !", kata Dokter itu lagi.
Kenan mendengkus lebih keras.
"Okay.... okay ", jawab lelaki itu cepat. Berharap Dokter Roland segera pergi.
Dokter muda itu terkekeh. Lalu melangkah menuju ke arah pintu. Sebelumnya mengedipkan sebelah mata ke arah Adelia.
"Bye Adelia, be careful with him ! ", katanya sambil menunjuk Kenan dengan bibirnya.
Kenan melotot konyol.
"Rolanddd..... ", ucapnya penuh peringatan.
Dibalas senyum lebar oleh Dokter Roland.
"Bye, Doc, nice to meet you !", balas Adelia sambil tersenyum kecil.
Dokter Roland melambaikan tangan, lalu melanjutkan langkah kakinya ke arah pintu. Sebelum benar-benar keluar, kembali menoleh ke arah Adelia.
"Don't be jealous with Catherine, She's just a friend. He loves you", katanya.
Lalu beralih pandang ke Kenan dan mengangkat jempolnya. Setelah itu kembali melangkah dan tubuhnya menghilang di balik pintu.
Adelia bisa menghela lega. Kata-kata Dokter itu barusan paling tidak bisa memberikan siraman dingin di hatinya yang mendongkol. Dan memanas. Meskipun belum semuanya terpuaskan. Tapi cukup membuahkan senyum tipis di bibir mungilnya.
__ADS_1
Kenan beranjak dari ranjang. Adelia segera menghampiri dan menahannya.
"Be careful, Ken ! ", ucapnya.
Dasar Kenan, dia malah bergegas berdiri memeluk pinggang ramping istrinya. Layaknya orang yang tidak terluka saja.
"Senengnya diperhatiin istri cantik aku. I love you, baby ", ucapnya. Semakin mengeratkan pelukannya. Dan menatap wajah cantik itu lekat.
"Biar aku benerin kemeja kamu !", kata Adelia.
Tangannya dengan cekatan memasang kancing kemeja Kenan.
Kenan terkekeh.
"Are you jealous baby ? That's right ? ", bisiknya. Lalu mencuri satu kecupan di pipi mulus istrinya.
Adelia mendengkus. Menyelesaikan kancing terakhir kemeja Kenan.
"So, why ?", cebiknya.
"Don't you like it ? ", lanjutnya.
Kenan terkekeh, selalu suka istrinya yang blak-blakan. Apalagi dengan Bibir yang mencebik menggemaskan begitu.
"Sure, I like it, baby......so much", lembutnya.
Gemas sekali dengan istrinya, segera Kenan sambar bibir mencebik itu. Mengecapnya beberapa saat. Adelia pukul dada lelaki itu. Manja. Begitu Kenan melepas pagutannya.
"Nggak suka kamu ngomongin perempuan itu", rajuk perempuan cantik itu.
Kenan tergelak lebih keras.
Diulurkannya jari kelingkingnya ke arah istrinya.
Bibir mungil Adelia langsung merekah.
"Don't lie to me ! ", yakin Adelia. Membalas uluran kelingking suaminya.
Kenan mengangguk cepat.
"You know, baby, I love you so much", tegasnya.
Keduanya saling tatap. Mata hazel Kenan menatap lekat ke manik coklat Adelia.
"I love you too, Ken ", balas Adelia.
Akhirnya dengan gerakan pasti kedua wajah itu saling mendekat. Menyatukan bibir mereka penuh cinta.
Keduanya tersenyum disela-sela sesapan bibir yang menggebu dan penuh gairah itu. Lalu kembali menyatukan bibir mereka. Lebih dalam lagi. Hingga terdengar dering gawai Adelia yang mengakhiri keintiman mereka.
Adelia tahan dada suaminya yang sedianya tak mau mengakhiri cumbuan mereka.
"Kennn..... Mama ", lirih Adelia begitu melihat layar gawainya.
Kepala lelaki tampan itu mengangguki, kembali mencuri sebuah kecapan di bibir mungil ranum istrinya. Sebelum perempuan cantik itu menerima panggilan. Video call dari Mama Jasmine.
"Assalamualaikum, Ma ! ", sapa Adelia.
"Waalaikum salam, sayang ", balas Mama Jasmine.
"How are you, honey? Are you okay? Ken? ", pertanyaan beruntun ditujukan mama Jasmine. Seperti ada kecemasan di sana.
__ADS_1
Adelia tersenyum.
"Adel baik Ma, Ken juga, nih lagi sama, Adel ", sambil mengarahkan kamera ke Kenan. Tapi lelaki itu sudah memindahkan tubuhnya ke belakang Adelia dan memeluk tubuh itu erat.
"Ken di sini, Ma ", Kenan melambai ke arah mamanya. Tak lupa mencuri satu kecupan lagi di pipi istrinya.
Nampak Mama Jasmine menghela lega.
"Alhamdulillah", ucapnya.
"Mama baik saja kan ? ", tanya Adelia.
Mama Jasmine tersenyum.
"Alhamdulillah, mama sama papa baik saja. Mama Rose dan papa Bram juga, sayang ", tutur Mama Jasmine.
"Mama khawatir, dari tadi telpon Kenan nggak diangkat. Perasaan mama nggak enak. Syukurlah, kalian baik-baik saja ", lanjut Mama Jasmine lega.
Adelia menoleh, mempertemukan pandangan dengan Kenan.
"Uhmmm..... gawai Ken....", menghentikan ucapannya sejenak.
"Ketinggalan di mobil, Ma ", lanjut Kenan. Sedikit membungkuk dan masih menempelkan pipinya di pipi Adelia.
Mama Jasmine mengangguk.
"Ya udah, mama tenang kalian baik-baik saja, Di sini juga......", mama Jasmine menjeda ucapannya. Tapi nampak ada mimik gundah di wajahnya.
Kenan menegakkan tubuhnya. Dahi lelaki tampan itu mengernyit. Demikian juga halnya Adelia.
"What's wrong, Ma? Tell me !", penasaran Kenan.
Paling tahu bagaimana cara mamanya menutupi masalah.
Mama Jasmine tersenyum.
"Di sini juga baik saja, sayang ", balasnya.
Kenan dan Adelia menatap mama Jasmine seksama. Sepertinya ada sesuatu yang ingin Beliau sampaikan.
"Beneran ", yakin Mama Jasmine. Berusaha menyakinkan kedua putranya agar percaya.
Tapi pasangan suami istri itu terlanjur menangkap kejanggalan dan kecemasan pada ucapan Mama Jasmine.
"Ma, please ! ", mohon Kenan dan Adelia hampir bersamaan.
"Hmmm... ada sedikit masalah di perusahaan, tapi papa udah .....", aku mama Jasmine akhirnya.
"Maaa.... ", terdengar suara papa Alex memanggil.
".........mama tutup ya sayang, Papa udah datang ", kata mama Jasmine.
Lalu layar gawai Adelia menjadi gelap. Mama Jasmine menutup teleponnya. Adelia memutar tubuhnya. Agar bertemu pandang dengan suaminya.
"What do you think, Ken?", tanya Adelia.
Kenan raih kedua tangan lembut istrinya.
"The same with you, baby", balasnya. Keduanya mengangguk bersama. Kenan raih pinggang istrinya dan melangkah bersama keluar dari ruangan di rumah sakit itu.
.
__ADS_1