Blind Date

Blind Date
146. Fokus Tugas


__ADS_3

"What the hell are you doing, Bryan ?", gumam Arion. Geram, ketika melihat message yang diterimanya.


Masih di area Disney Land, Arion kini berada di ruang tunggu depan toilet wanita


Lelaki itu mengotak atik gawainya. Hendak menghubungi si pengirim message.


"Shitt...gak diangkat !", kesalnya.


Lalu kembali melakukan dial. Tetap sama, tidak diangkat.


"Awas ya aku hajar kamu nanti, Bry !", marah Arion. Masih menaruh gawainya di dekat telinga.


"Apa yang mau kamu lakuin sama Ad....?", ucapan Arion terhenti begitu mendengar sapaan lembut perempuan.


"Rio... ", tiba-tiba Cindy sudah berada sebelahnya.


"Ehh........Cin, udah selesai ?", Arion sedikit tergagap. Berharap istrinya tidak mendengar nama yang hendak disebutnya tadi.


"Hmm....", Cindy mengangguki.


"C'mon.....!", Arion beranjak. Meraih pinggang istrinya.


Cindy masih mematung. Enggan beranjak.


"Kenapa ? Ada ngerasa gak enak ?", cemas Arion.


Cindy menggeleng.


"So.....?", Arion penuh tanya. Menelisik wajah cantik istrinya yang tampak sedang memikirkan sesuatu. Mata Cindy tertuju pada gawai yang dipegang Arion.


"Oh my god.....sorry Cin.....teman aku.....iya, aku tadi telpon teman aku ", Arion merasa bersalah.


Lalu membimbing tubuh istrinya agar berhadapan dengannya.


"Beneran temen aku, nih lihat !", Arion menunjukkan gawainya. Riwayat panggilan terakhir yang dilakukannya.


Cindy tersenyum lalu spontan memeluk tubuh suaminya.


"Riooo....aku takut ", lirihnya di balik pelukan.


"Takut apa ? Don't think to much, okay !", hibur Arion. Sambil mengusap lembut bahu Cindy.


Perempuan yang tengah berbadan dua itu semakin menenggelamkan kepalanya di dada suaminya.


"Aku takut......takut kamu ninggalin aku ", jujur Cindy. Takut kamu kembali mengejar Adelia. Gumam hati Cindy.


Arion tersenyum. Lalu menjauhkan tubuh mereka untuk dapat menjangkau wajah istrinya.


"Enggak akan Cin..........gak akan aku biarin kamu sendiri ", tegas Arion.


Matanya menatap lekat manik istrinya yang sudah nampak ada genangan bening di sana. Seolah menyakinkan perempuan yang masih nampak gamang itu agar percaya padanya.


"Promise me, Rio !", Cindy menjulurkan kelingkingnya. Matanya menelisik tajam manik Arion. Berusaha mencari kebenaran di sana.

__ADS_1


Arion malah terkekeh. Istri hamilnya ini sungguh labil sekali menurutnya. Berbeda jauh sekali dengan saat mereka masih.....ahhh.....having fun dulu.


"I promise", Arion mengaitkan jemari mereka berdua.


Bibir merah Cindy tersenyum merekah. Lalu serta merta mengalungkan tangannya di leher Arion dan berjinjit untuk mendekatkan wajahnya. Memahami maksud istrinya, Arion segera meraih bibir merah yang menantang di depannya itu.


****************


"Arrghhhh....", suara lelaki terdengar begitu Adelia memutar tangannya dan mengunci pergerakannya.


"Kamu lagi ", pelotot Adelia begitu tahu siapa yang mengikutinya. Lalu melepaskan kuncian tangannya.


Lagi-lagi Bryan. Lelaki jangkung bermata biru dan berambut perak itu dari tadi menguntitnya.


Setelah di perpustakaan sampai merasa cukup dengan buku yang dibutuhkannya Adelia keluar dari sana. Tentu saja menolak Bryan yang akan mengantarnya.


Tapi ternyata lelaki itu mengikutinya. Sampai menuju ke area parkir, di mana Adelia sudah janjian dengan Kendra dan Sandra di sana. Adelia menjebak dan menangkap penguntitnya itu.


"Ngapain ngikutin aku terus ?", Adelia melipat tangannya di dada.


Bryan cengar cengir sambil beberapa kali menggaruki kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Pengen maen ke rumah kamu, boleh ya ? Please !", mohonnya.


"Next time, okay. Sekarang aku fokus sama tugas aku, for two days ", Adelia mengacungkan kedua jemarinya.


Bryan mengernyit.


"Why.... I mean, Why are you must take for two days?", heran lelaki itu.


"For my free day, one week you know, kalau aku bisa finishing tugas selama 2 hari ", wajah cantik itu terlihat semakin cantik karena begitu ceria dan tampak bahagia.


"Wooww......so great, then what will you do ?", seru Bryan.


"Go home", balas Adelia cepat.


Bryan manggut-manggut. Lalu kembali berucap.


"So, sekarang gak nolak kan kalo aku antar ?", ucapnya


.


Adelia terdiam.


"C'mon, just for two days.....biarin aku antar jemput kamu okay !", desak Bryan.


"No way .....", tegas Adelia. Membuat Bryan menghela nafas berat.


"Please, girl.....Don't make me sad !", melasnya.


.


Adelia mengedik tak peduli.

__ADS_1


"Except....." , perempuan cantik itu menjeda ucapannya.


Bryan langsung berseru kegirangan. Berarti masih ada harapan agar bisa mengantar perempuan yang telah mengacaukan hatinya itu.


"What is it ? Tell me please !", mohonnya.


"Five minutes, make me lose !", tantang Adelia.


Mata Bryan membola.


"Girl, please ! Gak mungkin kan aku pukul kamu ", lelaki itu keberatan.


Adelia terkekeh.


"Let's see ! You hit me or I do ?", tegasnya.


Jiwa lelaki Bryan merasa tertantang dengan ajakan Adelia. Seumur-umur belum ada seorang gadis yang berani menantangnya.


"Okay.....I take it, girl ", akhirnya menyetujui.


"Bukan di sini kan ? Where ?", tanyanya.


Adelia menunjuk tempat di belakang area parkir. Yang lumayan sepi dan jauh dari pandangan banyak orang.


"C'mon !", Adelia mengerakkan kepalanya Mengajak Bryan ke tempat yang dimaksudnya.


Bryan terkekeh. Semakin besar rasa penasarannya pada gadis yang kini berjalan cekatan di depannya. Langkahnya begitu cepat, meninggalkan dirinya cukup jauh.


"Wonderful girl ", gumamnya sambil melangkahkan kaki jangkungnya.


Dua pasang mata nampak mengamati keduanya dari mobil sport tak jauh dari posisi mereka tadi. Kendra dan Sandra.


"What will they do ?", heran Sandra.


Kendra malah terkekeh. Membuat Sandra semakin penasaran.


"Ndra.....apaan malah ketawa ?" rajuknya seraya memukul bahu lebar pacarnya itu.


"Wanna know, honey ? Let's follow them !", balasnya.


Lalu menarik handle pintu mobil


"C'mon, I show you !", ajaknya pada Sandra yang masih tertegun di tempat duduknya. Masih shock melihat aksi Adelia beberapa saat yang lalu terhadap lelaki berambut perak tadi.


Kembali Kendra memutar tubuhnya dan melabuhkan kecupan di pipi Sandra.


"Ayo turun....!", bisiknya.


Membuat Sandra langsung tersadar dari lamunannya.


"I...iya....", langsung membuka handle pintu dan keluar dari mobil. Kendra mengulurkan tangan dan langsung disambut oleh Sandra.


"Adelia jago beladiri ?", tanyanya sambil menggelayut di lengan Kendra. Masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya tadi.

__ADS_1


Kendra terkekeh. .


"We'll find out, sweety ", balasnya.


__ADS_2