
Mama Rose dan Papa Bram tersenyum ketika mobil yang dikendarai putrinya melaju keluar halaman rumah.
Iya putri semata wayang mereka, pagi ini tampak ceria sekali. Tidak seperti kedatangannya kemarin siang.
Tentu saja yang tahu itu hanya Mama Rose.
Sedang papa Bram cuma tahu kalau putrinya pulang ke rumah karena kangen papa dan mamanya.
Papa Bram sempat bertanya tentang Kenan. Dan Mama Rose segera memberi tahu kalau Kenan sedang sibuk di perusahaan dan pagi ini mereka baru bisa bertemu.
Papa Bram sempat curiga, karena tahu Kenan sangat mencintai putrinya, tidak mungkin pekerjaan mengalahkan urusan pribadinya.
Sesibuk apapun dia, pasti akan menemui istrinya.
Tapi Mama Rose beralasan, Adelia yang mau. Tidak ingin menganggu suaminya. Lagian pagi ini mereka sudah sepakat bertemu.
"Papa harap hubungan putri kita dan putra Alex baik-baik saja ", lirih Papa Bram di sebelah Mama Rose.
"Maksud papa ? Tentu saja hubungan mereka baik-baik aja, Papa", Mama Rose menoleh sarkatis. Bahkan sebelah alisnya menukik tajam. Papa Bram.hanya terkekeh.
"Papa ihh, pikirannya aneh-aneh ", mama Rose cubit pinggang suaminya , lalu melangkah kembali ke dalam rumah.
"Mama gak nyembunyiin sesuatu dari papa kan ya?", Papa Bram mengekori Mama Rose. Lalu secara mengejutkan memeluk tubuh istrinya dari belakang. Membuat perempuan paruh baya yang masih cantik itu menghentikan langkahnya.
"Enggak Pa, jangan mikir aneh,-aneh deh !", elaknya.
"Papa gak bisa dibohongi ya, Ma ", Papa Bram bimbing istrinya agar memutar tubuhnya dan berhadapan dengannya.
Mama Rose hanya mencebikkan bibir. Papa Bram tersenyum. Lalu dengan cepat mencium pipi istrinya.
"Udahhh.....It's okay, Ma, yang penting semua baik-baik saja. Kalo enggak, papa yang akan turun tangan", tuturnya.
Mama Rose tersenyum.
"Biarin putri kita coba selesaiin masalah sendiri, mama yakin dia mampu kok ", lembutnya.
Papa Bram mengangguk setuju.
"Okayyy mama cantik, Papa juga setuju....putri kita hebat, handle perusahaan aja bisa, apalagi cuma masalah begini, papa yakin itu", dirangkulnya bahu istri tercintanya itu dengan sayang. Lalu keduanya kembali melangkah masuk.
"Putri hebat hasil didikan mama hebat ini", puji Papa Bram. Diiringi suara kecupan.
"Ihhh....papa genit ah !", rajuk mama Rose. Terdengar suara gelak Papa Bram. Semakin menghilang ketika dua tubuh yang berjalan sambil berpelukan itu hilang di balik dinding ruangan.
******************
"Okayyy....okay, aku yakin dia akan segera jatuh ke pelukan kamu", kata Susan dari balik gawai. Perempuan itu tengah berdiri di depan pintu ruang kerja Kenan.
Terdengar balasan dari seberang sana.
Susan tersenyum.
"Sure, one hundred prosen. Nih aku juga otw ketemu dia", ucapnya.
"Good luck !", katanya lagi sebelum menutup sambungan telepon.
Perlahan Susan buka pintu kaca di depannya.
"Wait for me, Ken !", lirihnya sebelum melangkah masuk.
Tatapan pertamanya langsung tertuju ke deretan sofa, terus melangkah masuk dan menemukan meja kerja Kenan dengan laptop di atasnya.
Perempuan itu berdecih lirih, begitu mendapati posisi kursi kerja Kenan yang membelakanginya. Sepertinya tidak seperti ekspetasi dia.
Matanya juga menemukan sebuah pintu ruangan tertutup di sebelah meja kerja itu. Sebuah kamar. Baru sejauh ini dia masuk ke ruang kerja Kenan. Perempuan itu tersenyum penuh rencana.
"Kennn.....ada apa ? Ihhh....kenapa posisi duduknya begitu sih ?", protesnya.
"Aku gak bisa lihat wajah tampan kamu", lanjutnya.
Tidak ada sahutan.Tapi senyum menggoda tercetak di bibir perempuan itu. Lalu berjalan berjingkat memutari meja, agar lebih dekat ke kursi besar itu.
__ADS_1
"By the way, kenapa sih kemarin nyuruh aku pulang? padahal aku masih pengen temeni kamu, rawatin kamu, makan bareng kamu", ucapnya. Dibuat manja dan segenit mungkin.
"Aku seneng.bisa jadi sekretaris kamu, uhmmm.... lebih senang lagi kalo bisa jadi wanita kamu !", katanya lagi. Lalu terkikik sendiri.
Susan mengusap kursi besar itu dengan tangannya. Memainkan jemarinya di sana.
"Kenn....bolehkan aku jadi wanita kamu ? Just a moment, please !", mohonnya.
Tangannya hendak bergerak.memutar kursi di depannya, tapi kursi itu sudah berputar lebih dulu dan menampilkan wajah cantik yang duduk dengan anggun di sana. Adelia.
"Ka.....kamu.....?.", bola mata Susan membola.Perempuan itu spontan. memundurkan langkahnya.
Adelia hanya tersenyum. Lalu melipat kakinya dengan tangan bersidekap.
"Kenapa kamu di sini ? Kemana Kenan ?", sinis Susan.
"Emang kenapa kalp di sini ? Punya Ken, punya aku juga. Any problem with that ?", balas Adelia.
Susan berdecih.
"Kamu yakin cinta Kenan cuma buat kamu ? ckckck....kasihan banget ", sambil berjalan ke arah depan meja kerja agar bisa berhadap dengan Adelia. .
"Kamu tahu apa yang telah kami berdua lakukan kemarin malam ?", ledek Susan.
Adelia terkekeh lirih.
"Apa emang ?", cueknya. Lalu beranjak dari kursi kebesaran Kenan. Tapi belum berpindah posisi. berdiri gagah di depan kursi itu.
Susan tersenyum mengejek.
"Kita having fun.... clubbing, dinner, and of course sleeping together ", ucapnya bangga.
Adelia menggeleng dan tersenyum. Tangannya menyentuh laptop yang dari tadi berada di atas meja. Menekan salah satu tombol, lalu muncul tampilan video di layar besar dalam ruang kerja itu.
"Like tbat ?", tunjuknya.
Susan terkesiap. Melihat tampilan video itu membuat mukanya seketika memerah. Malu sekaligus marah. Di sana tampak apa yang dilakukannya di mansion Kenan. Mulai kedatangannya bersama Kenan dan bodyguard, sampai ketika dia menyusup ke kamar Kenan, lalu Adelia datang.
"Bukan....itu bukan aku, bullshitt !", umpatnya.
Adelia hanya tersenyum.
"Jelas-jelas itu kamu, masih mau ngelak ?", ledeknya.
Susan bungkam, terlihat frustasi sekali.
"Kennn....stop watching me ! Get out, honey !", seru Adelia. Matanya tertuju ke arah pintu di sebelah kiri meja kerja Kenan.
Pintu itu terbuka. Sesosok tubuh tinggi atletis keluar dari sana.
"What's up, baby ? everything is okay?",
sambil tersenyum manis ke arah Adelia dan melangkah menghampirinya.
"Sure...! ", Adelia mengangguki.
Lalu menoleh ke arah Susan sambil tersenyum manis.
"He's mine....!", tunjuknya.
Berbarengan dengan Kenan sampai di depannya, langsung memeluk pinggang rampingnya dan melabuhkan kecupan mesra di bibirnya.
Susan mendengkus kesal. Terlihat sekali wajahnya masam dan marah.
Sementara sepasang anak manusia di depannya itu saling pandang dan tersenyum bahagia.
"Believe me, baby ?", tanya Kenan.
"Hemmm...", Adelia mengangguk cepat. Mata cantik dengan bulu lentik itu mengedip menggemaskan.
Selalu Kenan tidak tidak bisa bertahan dengan itu. Kembali mendekatkan wajahnya, hendak meraih bibir ranum istrinya. Tapi Adelia menahan dadanya.
__ADS_1
"Selesaiin dulu !", kata perempuan cantik itu.
Kenan tersenyum. Tapi tetap saja tidak mau keinginannya gagal. Dengan cepat menyambar bibir ranum itu. Memagutnya beberapa saat.
"So, what should I do, baby ?", tanya Kenan. Setelah melepas pagutannya.
Bibir mungil Adelia mencebik. Perempuan cantik itu melipat tangannya di bawah dada.
"Tired her !", tegasnya.
"As you wish, baby", balas Kenan.
Sebentar Kenan mengalihkan pandangan ke arah Susan.
"Kamu tahu di mana pintu keluar kan ?", ucapnya dingin.
"Kennn...aku gak mau pergi, aku mau jadi sekretaris kamu., aku ..........", melas Susan. Ucapannya terhenti ketika Kenan mengangkat tangannya dan dua orang bodyguard masuk.
"Kennn, ....don't do this to me !", serunya. Kenan tidak menggubris, malah sibuk memperhatikan wajah istrinya.
"Huh....awas, akan aku balas kalian !", kata Susan ketika dua bodyguar membawanya setengah paksa keluar.
Kenan dan Adelia tersenyum, lalu menyatukan punggung tangan mereka.
"God job, baby ", puji Kenan.
Adelia mencebik.
"Don't do it again Ken !", ingatnya.
"Apa, sayang ?", mesra Kenan. Kembali meraih pinggang istrinya. Memeluknya erat.
"Clubbing sama perempuan lain ", tegas Adelia.
"Never, baby. Never happeng again, I promise !", tegasnya. Lalu mengangkat kedua jemarinya.
"I keep you words, Ken", balas Adelia, masih bernada kesal.
Kenan bisa merasakan kekesalan hati istrinya.. Kenan sangat menyesal melakukan kesalahan bodoh itu. Terlebih lagi apa yang dilakukannya ternyata sangat menyakiti istrinya.
Terbukti istrinya ini terus mengungkitnya. Padahal semalam Kenan sudah meminta maaf. Lebih dari dua kali. Dan sekarang lagi.
Kenan tetapkan hatinya tidak akan mengulangi itu selama sisa hidupnya nanti. Melihat istrinya menangis, , merajuk, Kenan benar-benar tidak bisa memaafkan dirinya.
"Let's go ,Ken, for the next plan !", Adelia melepas pelukan tangan Kenan di pinggangnya.
"Hmmm....", Kenan menyetujui. Tapi belum beranjak. Padahal Adelia sudah melangkah mendahului.
"Kennn, c'mon !", Adelia menoleh dan menghentikan langkahnya. Lelaki itu masih berdiri di tempatnya.
"What's wrong ?", kernyit Adelia.
"I'm so sorry, baby. I'm stupid fool, I have been hurt you", sesal Kenan.
Adelia menggeleng pelan. Lalu kembali memutar langkahnya. Meraih tangan Kenan, lalu berjinjit untuk memberikan kecupan di bibir lelaki itu.
"Don't think to much ! Aku udah maafin kamu", lembut Adelia.
Kenan tersenyum.
"Thanks, baby, aku janji.....", lirihnya.
"Sssttt.....I know,, kamu udah bilang tadi", Adelia menaruh telunjuknya di bibir Kenan.
Kenan menuruti. Bibir lelaki itu terdiam. Tapi segera bergerak cepat menyambar bibir mungil Adelia. Memagutnya dalam beberapa saat.
"C'mon, baby !", ucapnya begitu menjauhkan bibir mereka.
Adelia pukul dada lelaki itu manja.
"Dasar.....!", rajuknya.
__ADS_1
Kenan dan Adelia terkekeh, lalu keduanya berjalan keluar dengan bergandengan tangan.