
"Baby, please, don't leave me !", rengek Kenan. Sumpah demi Tuhan, baru sekarang ini seorang Kenan menghiba pada seorang perempuan. Dalam seumur hidupnya selama dua puluh lima tahun, baru dengan seorang Adelia Kenan melakukan itu. Merasa takut ditinggalkan.
Oh my gosh...!
Apa benar ini adalah Kenan ? Petualang ulung, penakhluk hampir semua kaum hawa ?Unbelieveable !
"I have to go Ken. Sorry !", Adelia memutar tubuhnya, lalu melenggang pergi.
Membiarkan Kenan mematung di tempatnya.
Kaki Kenan hendak bergerak, menahan langkah kaki mungil gadis cantik itu. Tapi apa daya, kakinya serasa melekat dengan lantai, tak bisa digerakkan.
Saat berupaya keras, justru tubuh Kenan terasa limbung dan terjatuh ke lantai.
"Baby.....please wait for me !", serunya. Tapi Adelia seolah tak mendengar. Tubuh gadis itu semakin menjauh dan menjauh, akhirnya menghilang di balik pintu.
"Babyy.....!", teriak Kenan lebih keras.
"Arrrkkkhhhhh.....!", lelaki itu mengerang kesal. Lalu memukul lantai dengan tangan mengepal kuat. Hingga buku-buku tangan itu berdarah.
Tersentak, lelaki tampan itu membuka mata hazelnya lebar. Spontan duduk dari baringnya . Keringat dingin membasahi keningnya, meskipun ac ruangan menyala.
"Just a dream !", Kenan menggeleng cepat
"Konyol ", gumamnya seraya menyibak selimut.
Ahhh.....gila !
Tentu saja adalah sesuatu yang konyol bermimpi seperti itu. Bagi seorang Kenan. Lelaki tampan dengan sejuta pesona, mantan penakhluk wanita.
Tubuh jangkung itu beranjak dari ranjang dan mengamati sekitar. Masih di kamar hotel, tapi kenapa terasa asing ? Batinnya bertanya-tanya.
"Kamar siapa ini ? Baby, where are you ?", mengedarkan pandangan dan mencoba mencari istrinya. Tak tampak siluet tubuh cantik itu.
Kaki panjangnya melangkah menuju kamar mandi, mungkin istrinya ada di sana. Pikirnya.
Sekilas melihat ke arah jam dinding, waktu sudah menunjukkan hampir pukul 12 malam.
Kemana istrinya pergi malam-malam begini ? Bukankah seharusnya mereka bergulat mesra di ranjang ? secara ini adalah acara honeymoon mereka. Kenapa pula Kenan bisa terlelap ?
Ashhhhhh.....!
Kenan berusaha mengingat sesuatu. Memutar dan menggelengkan kepalanya yang terasa sedikit pusing.
"Baby ....", lirihnya. Sembari membuka kamar mandi. Nothing. Di kamar mandi tidak menunjukkan ada pergerakan apapun.
Lelaki itu mulai cemas. Mencari di seisi ruangan dan celah kamar hotel, bahkan sampai membuka jendela balkon. Siapa tahu istrinya ingin bermain-main dengannya. Tapi hasilnya tetap sama. Zonk.
Kaki panjang itu kembali melangkah ke arah ranjang. Duduk di sana. Di tepian ranjang seraya berusaha mengingat kejadian sebelum dia terlelap tadi. Mata hazel itu memejam.
"Baby.....ohhh shitt !", mata hazel itu kembali membuka setelah mengingat sesuatu.
__ADS_1
"Enggak mungkin kamu ninggalin aku kan, sayang ?", lirihnya. Gurat frustasi nampak di wajah tampannya.
Dengan cepat menyambar gawai yang tergeletak di meja sebelah ranjang. Mengecek GPS dari sana. Bibir seksi itu tertarik sedikit ke samping.
"I'll found you, baby", katanya seraya menaruh gawai sembarang. Lalu melangkah menuju kamar mandi. Membersihkan tubuhnya lebih dulu mungkin akan membuat pikirannya kembali jernih.
Yang pasti sebelum bertemu dengan istri cantiknya, Kenan akan meluluhkan hatinya malam ini. Karena lelaki tampan itu tidak akan membiarkan dirinya kedinginan. Juga tak merelakan samurainya menganggur.
"Wait for me, my love !", katanya seiring dengan guyuran air shower ke tubuhnya.
*******
"Aku nggak bisa Del. Jangan paksa aku, okey !", lelaki yang duduk di hadapan perempuan cantik itu menghela berat. Beberapa kali lelaki itu mengusap wajahnya frustasi.
"No, Ron. Kamu pasti bisa. Di dalam perut dia ada anak kamu, buah cinta kalian ", yakin perempuan cantik itu.
Adelia, iya perempuan cantik itu adalah Adelia. Sekarang tengah bersama Arion di salah satu resto dekat pantai. Cukup jauh dari lokasi hotel tempat Adelia menginap.
Hampir dua jam mereka sudah berada Sdi sana. Sepertinya masih keukeh dengan prinsipnya masing-masing. Tepatnya Arion masih teguh pada keras hatinya. Tidak menerima bujukan Adelia.
Arion menggeleng cepat. Matanya menatap penuh harap pada manik cantik di depannya.
"Kenapa bukan kamu aja Del ? Kenapa harus dia ?", protes Arion.
Entah sudah berapa kali lelaki itu mengatakan ucapan yang sama seperti itu. Tapi Adelia masih berusaha memahaminya. Berusaha untuk sabar. Tapi waktu dua jam akhirnya membuat Adelia jengah juga.
Spontan perempuan cantik itu beranjak. Menarik nafasnya perlahan kemudian menghembuskannya sedikit kasar. Berusaha menahan emosinya.
"Ronn.......", Adelia dengan suara dalam. Memejamkan mata cantiknya, sekejab kemudian manik cantik itu membuka lagi.
"All right...listen to me !", Adelia mengusap wajah cantiknya. Sedikit kasar. Emosinya serasa tak tertahan tapi gadis cantik itu masih berusaha sekuat tenaga.
"Cindy hamil anak kamu. Baby itu nggak berdosa. Jangan biarkan dia lahir tanpa ayah. Kamu harus tanggung jawab, Ron ", lembut Adelia. Tapi terdengar tegas.
Arion terdiam. Nampak berpikir. Adelia tersenyum, merasa lelaki di depannya ini sedikit mulai mendengarkannya.
"Cindy gadis baik. Dia cinta kamu ...", Adelia mengangkat tangannya ketika Arion mendengkus kentara dan hendak berucap protes.
"Okay....okay, I know, Ron. Tapi dengerin dulu !", ucapnya menghentikan pergerakan Arion. Lelaki itu menghembuskan nafasnya kasar.
"Di perut Cindy ada buah cinta kalian. Okay, kalo itu memang bukan cinta. Tapi ....", Adelia menjeda kalimatnya.
"Baby di dalam perutnya butuh figur ayah yang melindungi dia, Cindy butuh suami yang bisa bantuin dia, temeni dia di masa-masa hamilnya.Coba kamu lihat gimana kondisi perempuan hamil ? Apalagi yang tersiksa dengan mual muntahnya ? kasihan banget dia, Ron ", tutur Adelia.
Perempuan cantik itu menghela pelan. Mengedarkan pandangannya ke hamparan pantai di depan sana. Dengan deburan ombak keras. Bergemuruh seperti hatinya sekarang. Bergejolak tak menentu. Karena ada perempuan lain yang juga mengaku hamil anak dari suaminya.
"Kalo bukan demi Cindy, seenggaknya lakuin buat baby kamu. Buah cinta kamu ", lanjut Adelia.
Arion menunduk dalam. Menelungkupkan kedua tangannya ke wajah.
"Aku nggak tahu Del.....aku bingung", terdengar beberapa kali lelaki itu menggeram. Menghembuskan nafasnya kasar. Seolah menahan sesuatu yang sangat berat.
__ADS_1
Adelia menggeleng. Bibir mungil ranum itu tersenyum cantik. Merasa kalau usahanya sepertinya akan berhasil kali ini. Arion sudah sedikit terpengaruh dengan omongannya.
Gadis cantik itu melangkah mengitari meja lalu berdiri tak jauh dari dari posisi Arion dengan menaruh tangannya di pinggang.
"Okay....get up, Ron. Jangan jadi lelaki cengeng, c'mon lawan aku !", ucapnya.
Tentu saja langsung membuat Arion menegakkan tubuhnya. Spontan juga membuka bekapan tangannya di wajah. Lelaki itu menaikkan sebelah alisnya.
"What....what are you doing, Del ?", dengan manik mata membeliak. Sebentar kemudian beranjak dari duduknya.
Adelia menggerakkan jemarinya ke arah Arion.
"C'mon, kita tanding. Buktiin kalo kamu layak disebut pejantan tangguh ! ", gadis cantik memutar tubuhnya.
"Dan juga lelaki yang bertanggung jawab", lanjutnya dengan menekankan ucapannya. Sebelum kemudian melangkah menuju area di luar resto.
Berhenti sejenak, lalu sedikit menoleh ke belakang.
"Nungguin apa kamu ? Takut ?", ledek Adelia. Mengedipkan matanya ke arah Arion yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Arion menarik bibirnya ke samping. Gadis yang dari awal sudah membuatnya jatuh hati itu selalu menggemaskan. Terkekeh lirih lelaki itu mengikuti langkah kaki mungil Adelia.
"Aku nggak mau ngelawan cewek ya, Del. You know that, don't you ?", katanya ketika sampai di depan Adelia.
"Kenapa ? Takut nggak bisa kalahin aku ?", ledek Adelia lagi.
"Of course not, babe. Aku lebih suka peluk kamu ketimbang duel. Aku nggak pengen kamu terluka ", jawab Arion seraya tersenyum nakal.
Adelia mencebik lucu. Tapi dia tak akan marah. Melihat ekspresi Arion yang lebih santai, gadis cantik itu merasa sedikit senang.
"Alasan aja kamu. Ayo kita tanding, kalahin aku, dan.....", Adelia mengedip-ngedipkan matanya. Sangat menggemaskan.
Membuat Arion terkekeh.
"Apa...?", lelaki itu tersenyum penuh arti.
"Aku nggak akan paksa kamu lagi buat.....", ucapan Adelia belum selesai, ketika tiba-tiba tubuh tinggi itu sudah mendekapnya erat.
"Aku ikutin kata kamu, Del. Demi kamu, aku akan berusaha terima baby aku ", lirih Arion di balik pelukan.
Adelia hanya bisa membulatkan matanya. Mengerjapkan manik cantiknya beberapa kali. Perlahan bibir mungil itu tersenyum, lalu tangannya bergerak membalas pelukan Arion.
"Aku ikut senang dengarnya, Ron ", balasnya.
"Aku pengen peluk kamu terus kayak gini", lembut Arion. Adelia spontan mendorong tubuh lekaki itu, berusaha menjauhkan tubuhnya. Tapi Arion semakin mengeratkan pelukannya.
"No, Del. Biarin aku peluk sebentar lagi. Aku kangen kamu ", mohon Arion. Berbisik lembut di telinga Adelia.
Adelia berhenti berontak. Membiarkan Arion memeluknya. Sebagai teman, tidak lebih.
Sesaat mereka saling berpelukan.
__ADS_1
Hingga pada detik berikutnya, sebuah tangan kokoh menarik tubuh Arion menjauh. Menyusul sebuah pukulan bersarang di wajah lelaki itu.. Membuatnya terjengkang ke belakang.
"Kennn.....what are you doing ? Stop it !", teriak Adelia.