Blind Date

Blind Date
126. Alibi


__ADS_3

"Mama udah lihat berita ?", tanya Papa Alex seraya menyesap kopinya.


"Tentu aja lah Pa, berita heboh gitu. Di medsos juga. Mama udah iseng nonton videonya..... ihhh, perempuan kok murahan gitu sih, nggak nyangka mama ", Mama Jasmine bergidik.


Sedangkan tangannya bergerak cekatan menyiapkan sarapan di meja makan.


Papa Alex terkekeh.


"Wahhh....papa ketinggalan berita dong, kalo boleh tahu video apa itu Ma !", ucapnya. Masih terkekeh dengan sebelah alisnya naik.


Mama Jasmine menghampiri papa Alex, lalu duduk di sebelahnya.


"Mending papa nggak lihat deh, huft....so ashamed, untung aja bukan Dokter pribadi Ken lagi !", mama Jasmine menghembuskan nafas lega.


"Gitu kok ngaku hamil anak putra kita Pa, lha begituannya sama lelaki lain", lanjutnya menggerutu.


Papa Alex tersenyum.


"Ya namanya orang beralibi ma, tapi mama nggak percaya kan ?", seraya merangkul bahu istrinya.


"Mana mama percaya Pa, kelakuannya aja kayak begitu, Dokter cabul ", gusarnya.


Papa Alex terkekeh. Senyum menggoda tercetak di bibirnya. Tumben ketus sekali pendamping hidupnya ini.


"Hmmm..... mama...... .kok emosi begitu sih, temannya Ken loh dia. Ingat nggak mama lumayan akrab kan sama dia ?", godanya.


Mama Jasmine mencebik.


"Itu dulu Pa, sekarang ? Teman apaan ? Dia udah fItnah Ken Pa, Gara-gara dia kan mantu kesayangan mama pergi", perempuan yang masih terlihat cantik itu tampak kesal sekali. .


Papa Alex terkekeh. Ternyata itu sebabnya kenapa wanita cantiknya ini begitu emosi. Menantu kesayangan ?


Dipeluknya bahu mama Jasmine lebih erat. Seraya melabuhkan kecupan lembut di pipinya. Membuat bibir yang semula cemberut itu tertarik sedikit ke samping.


"Iya...iya, I know honey. But, Your husband is hungry now, C'mon....let's get breakfast darling !", Papa Alex beranjak. Membimbing istrinya agar beranjak.


"Mama marah Pa....so angry...very angry. ..... kalo begini kapan kita punya cucu coba ?", rajuk mama Jasmine, meski tetap saja mengikuti pergerakan suaminya untuk berdiri.


Papa Alex kembali terkekeh. Lalu mengalihkan pelukan di pinggang istrinya.


"Sabar Mama sayang, putra kita hebat dan....", menghentikan ucapannya sebentar.


Lalu senyum menggoda disertai kerlingan matanya ke arah istrinya, papa Alex berkata,


"He's normal, strong and gentleman, bukan masalah besar kalo cuma bikin baby ", seraya mencubit dagu istrinya.


Bibir mama Jasmine mencebik.


"Understand, Pa. Tapi kalo pasangannya nggak ada , mau bikin sama siapa coba ?", rajuknya.


Papa Alex tergelak, lebih keras. Lalu mengecup bibir cemberut istrinya.


"You know honey, jangankan Amerika, ujung duniapun akan disamperin kalo urusan cinta. So don't worry, we know our son better, all right ?", ucap papa Alex.


Mama Jasmine menyetujui itu. Tidak ada jarak yang bisa menghalangi cinta. Apalagi Kenan. Putra tunggal mereka itu sangat mencintai menantu mereka, Adelia. Lelaki muda hebat kebanggaan mereka yang akan melindungi apapun yang sudah menjadi miliknya.


Tapi raut kesal masih nampak di wajah cantik mama Kenan itu.


"I know, Pa. Tapi .....tetap saja mama jengkel sama perempuan itu. Sampe ngancam-ngancam lagi ", tuturnya.


Spontan papa Alex mengernyit tajam.


"Wh...what do you mean, darling ? Ngancam siapa ?", herannya.


Seperti tersadar, Mama Jasmine segera menormalkan ekspresinya.


"Uhmmm....no....no ....not like that Pa......Maksud mama....Ken nggak akan biarin Adelia dalam bahaya, hmmmm.....that's right, Pa ?", ralatnya seraya mengusap lembut dada suaminya.


Papa Alex tersenyum. Sebenarnya dia tahu istrinya tengah menyembunyikan sesuatu, bisa dilihat dari kegugupannya. Tapi sengaja dibiarkannya, papa Alex yakin istrinya akan mengatakan itu sendiri nanti.


"Of course darling, bahaya apapun, masalah apapun pasti bisa dihadapi putra kita ..... asal .....nggak ada sesuatu yang disembuyiin", lelaki yang masih gagah dan tampan itu menatap dalam ke manik istrinya.


Mama Jasmine sedikit salah tingkah. Lalu mengalihkan tatapan ke arah lain agar tidak bertemu pandang dengan suaminya.


"No way Pa ......enggak ada yang disembuyiin", ucapnya.


Lalu kembali menatap suaminya dengan sorot dalam, tapi sedikit takut-takut.


"Promise !", yakinnya.


Papa Alex tersenyum. Lalu meraih bahu istrinya dan membawanya melangkah menuju meja makan.


"Okay, papa percaya, sekarang makan dulu, papa lapar ", ucapnya.


"Bener Pa, mama nggak bohong", ucap mama Jasmine lagi. Seraya menggoyangkan tangan suaminya. Semakin membuat papa Alex gemas.


"Iya...iya, papa percaya, mama sayang nggak pernah bohong, kalo pun bohong pasti ada alasan yang rasional, it's true ?", kata papa Alex yang membuat mama Jasmine mengangguk dan menghela lega.


Papa Alex terkekeh. Lalu mengusap lembut kepala istrinya.


"Papa juga bisa tebak, berita heboh yang beredar ulah siapa, menurut mama ?", katanya meminta persetujuan.


Mereka saling pandang. Sebentar kemudian mama Jasmine tersenyum dan tangan kanannya bergerak ke atas,


"Absolutely, ALEX JUNIOR !", seraya memijit mesra hidung mancung papa Alex.


********


"Ssshhhh.....damn !", Jhon mengumpat di depan laptop. Catherine menatapnya dengan dahi mengernyit.


"What's wrong ?", tanyanya.


"Ada yang meretas data perusahaan aku", kesalnya seraya mengotak-atik laptopnya.

__ADS_1


"Can you handle it ?", Catherine dengan sebelah alis menukik ke atas.


Jhon menoleh , lalu kembali fokus ke laptop, Wajah lelaki itu menegang, keringat nampak mengalir di pelipisnya.


"I'm trying now ", jawabnya. Beberapa saat mengotak-atik laptopnya.


"Yess ..!", seru Jhon puas.


"You can make it ?", girang Catherine.


"Aku udah blokir akun asing itu ", balas Jhon.


Catherine mengangguki.


"Who are they ?", tanyanya.


"We'll find out soon ", yakin Jhon.


Catherine menghela lega. Tapi masih ada rasa was-was di hatinya yang membuat wajah cantik itu sedikit tegang.


"Find them, Jhon, kita harus balas mereka !", geramnya.


Jhon menoleh ke samping di mana Catherine berada. Pada saat bersamaan Catherine mempertemukan bibir mereka. Pagutan cepat .


"I believe you, Jhon", seraya mengusap keringat di pelipis lelaki itu.


Jhon tersenyum dan mengangguk.


"I'll try my best...for you", ganti memberikan pagutan. Beberapa saat.


Keduanya menoleh bersamaan ketika terdengar suara deheman keras di balik jendela, arah balkon, di susul suara bariton meledek.


"Whoa....whoa.....so sweet !", lalu siulan terdengar dari bibir lelaki itu. Tubuh tingginya yang semula bergelantungan di tali, langsung melompat ke balkon. Dari pintu balkon yang terbuka lelaki itu menerobos masuk. Tanpa permisi.


Mata Catherine membulat sempurna.


"You....? Wh.....what are you doing here ?", galaknya.


"Kenan....?", bibir Jhon bergumam.


"No ...not him ", Catherine menyahuti. Membuat dahi Jhon mengernyit.


"His cousin, Kendra ", lanjut Catherine. Hingga membuat Jhon beranjak dari depan laptopnya dan mengalihkan pandangan ke arah lelaki di balkon itu.


Sementara lelaki yang diperhatikan itu tidak menggubris sama sekali. Bahkan melipat tangannya di dada, dengan sebelahnya berlagak menggaruk kepalanya. yang tidak gatal.


"What am I doing here ? .....ho...ho.....haruskah aku bilang ?", dengan cueknya. Kekehan kecil terdengar dari bibir seksinya.


Catherine mendengkus sebal.


"Buruan pergi dari sini !", usirnya. Lalu senyum mencibir tampak di bibir Dokter muda itu.


"Atau..... harus kita tunjukin jalan keluar ?", lanjutnya.


"Apa itu sebuah ancaman ?" ... oh my gosh, kenapa nggak nakutin ya?", ledeknya.


Catherine semakin telihat kesal. Sementara Jhon mengepalkan tangannya kuat. Dari wajahnya terlihat lelaki itu kesal sekali.


"Whatever.....Jhon, you can handle him, all right ?", Catherine tatap Jhon penuh permohonan.


Jhon mengangguki.


"Of course honey !", seraya bertepuk tangan dua kali.


Tak berapa lama pintu ruangan itu terbuka. Empat lelaki bertubuh tinggi dan berpakaian serba hitam masuk.


"Antar tuan itu keluar, kayaknya dia lupa jalan pulang ", perintah Jhon.


"Siap Bos !", keempat lelaki itu merangsek maju.


Kendra senyum meledek.


"C'mon maju sini, papi kasih hadiah !", seraya menggerakkan jemarinya ke arah para lelaki itu.


Belum sampai mendekati Kendra, dua orang di antaranya sudah terpental.


"Brakkk !", suara tubuh mereka terjatuh di lantai. Karena tendangan cepat Kendra.


"Mau juga, come here !", katanya lagi pada dua lelaki lainnya.


Catherine yang melihat itu menghentakkan kakinya kesal.


"Jhonnnn.......buruan beresin lelaki itu !", rajuk Catherine.


Kembali Jhon menepuk tangannya. Pintu ruangan kembali terbuka. Empat orang lelaki lagi masuk. Bertubuh lebih tinggi dan besar.


"Ckckck.....kenapa perempuan hamil nggak sabaran ya ......apa kayak gitu juga waktu bikin babynya ?", Kendra tertawa ngakak.


Membuat ke empat lelaki itu berhenti seketika.


Catherine membulatkan matanya. Nampak sekali Dokter muda itu tersulut emosinya . Apalagi mendengar ucapan Kendra selanjutnya.


"Pasti menang banyak kamu, sana okay sini okay ", ledeknya seraya menunjuk dengan matanya ke arah Jhon.


Lalu menaikkan sebelah alisnya tinggi.


"By the way, how about the baby ? His or my nephew's ?", senyum meledek nampak di bibir lelaki tampan itu.


Jhon menaikkan tangannya tinggi begitu para lelaki bertubuh tinggi besar itu hendak mendekati Kendra.


Sementara Catherine menatap Kendra dengan sorot tajam dan marah.


"Stupid .... what are you talking about ? Of course, That's Jhon's !", Catherine dan Jhon saling beradu pandang.

__ADS_1


Jhon mengangguki dan memberikan kecupan cepat di bibir Catherine.


"Absolutely, darling !", mesranya.


"Whoa....whoa, so honesty !


Exactly, like what I guess ", seru Kendra.


Catherine dan Jhon tersenyum mencibir, mengedikkan bahunya cuek.


"Ckckck....lancang sekali !", geram Kendra.


"Kalian akan terima akibatnya kalo dia tahu !", lanjut Kendra. Sekarang saja kalian sudah kelabakan dengan ulah sepupunya itu. Batin Kendra.


Jhon dan Catherine tergelak.


"Dia nggak akan tahu, karena mereka akan bungkam mulut kamu", sahut Jhon.


Tangannya memberikan tanda agar anak buahnya bergerak. Lengkap delapan orang, begitu dua orang lagi sudah bangkit setelah dijatuhkan Kendra tadi.


"Ho..... ho, it's so easy, c'mon !", tantang Kendra.


Para lelaki itu segera menyerang.


Satu persatu ditangkis oleh Kendra.


Agak tercengang, Kendra melihat serangan ke delapan lelaki itu lebih tangguh dari tadi dannn....terus terang membuatnya agak repot. Ternyata mereka satu formasi lengkap, makanya lelaki Catherine begitu yakin mereka bisa mengalahkannya.


"Have a fun, let's go darling !", Jhon meraih pinggang Catherine dan berlalu dari ruangan itu. Catherine mengangguki dan melenggang mengikuti lelakinya.


Sedikit mendengkus Kendra menahan serangan ke delapan lelaki itu.


"Damnnn.....!", umpatnya. Seraya terus membalas serangan para lelaki itu.


Kalau terus menghadapi orang-orang Jhon, Kendra pasti akan menghabiskan banyak waktu di situ. Padahal tujuannya adalah menangkap basah kedua pasangan laknat itu di depan Kenan.


Sambil bergerak menyerang, Kendra raih sesuatu dari balik sakunya. Gawai. Dengan cepat menekan nomer seseorang.


"Shyutttt...!", tendangan keras hampir saja mengenai tangannya yang memegang gawai.


"Shittt...!", umpat Kendra sambil terus bergerak lincah membalas serangan.


"Kennn....Hallo !, ", kata Kendra dari balik gawai begitu berhasil mendekatkan benda pipih itu ke telinganya dan panggilannya terhubung.


"What's up ? Need some help ? ", suara bariton meledek terdengar begitu santai, tapi sangat jelas.


Kepala Kendra celingak-celinguk. Mencari sumber suara yang dirasanya berada tak.jauh dari ruangan itu. Tentu saja seraya membalas serangan yang bertubi-tubi dari para anak buah Jhon.


Ahhh ....benar saja prasangkanya. Lelaki itu mengumpat kesal begitu mendapati sesosok tubuh tinggi atletis berkaca mata hitam menyandarkan tubuhnya di pagar balkon.


"Damnnn you, Ken ! What the hell are you doing in there ? Help me, hurry up !', marahnya.


Kenan terkekeh.


"Relax, dude, I know you can handle them !", balas lelaki itu seenaknya.


Kendra mendengkus jelas. Dia tahu kalau sepupunya itu sangat menjengkelkan. Sambil menahan kesal, Kendra lebih agresif membalas serangan para lelaki itu.


Pertarungan seru terjadi. Cukup lama, tapi formasi ke delapan lelaki itu sulit dipecahkan. Buktinya Kendra masih berjuang keras melawan mereka. Dan belum bisa menjatuhkan mereka.


"Shitt...!", umpatnya begitu melihat ke arah balkon. Sepupunya yang menyebalkan sudah tidak ada di sana.


"Ken, damn you man !", kesal Kendra. Tapi kekesalan itu tidak bertahan lama ketika terdengar suara teriakan.


"Arrgghhh.....", tiga lelaki tumbang sekaligus.


"What are you looking for ? C'mon let's finished them !", terdengar suara bariton dan siku yang menyenggol lengannya. Kenan.


Sepupu yang sejak tadi diumpatnya itu sudah berdiri di belakangnya. Beradu punggung dengannya.


Bibir Kendra tertarik ke samping. Membalas menyenggol lengan Kenan.


"Okay, let's go !", balasnya dengan helaan lega.


Keduanya bergerak cepat, kompak menyerang para lelaki itu.


Satu persatu berjatuhan. Tidak bisa dipungkiri, biarpun menjengkelkan sepupunya itu memang sangat hebat. Buktinya dengan mudah memporak-porandakan formasi mereka.


"So great, dude !", Kendra begitu Kenan kembali menjatuhkan lelaki terakhir.


"Sure , It's me ! ", bangga Kenan. Seraya melipat tangannya di dada.


Kendra berdecih.


"Really ? gimana sama tipuan cewek ? Do you give up ?", ledeknya.


Kenan tergelak.


"Siapa bilang ? I know and I hear everything ", balasnya.


Kendra mengangguki.


"Uhmmm....so what will you do ?", tanyanya.


Kenan tersenyum penuh rencana.


"We'll see later. Tapi aku pastiin dia nggak bisa beralibi lagi ", yakinnya.


Kendra terkekeh.


"Okay, Let's gotta catch her, dude !", seraya menyatukan punggung tangan mereka.


"Let's go !", balas Kenan.

__ADS_1


__ADS_2