
"Ken....what are you doing ?", teriak Adelia.Tidak menjawab, Kenan masih menatap ke arah Arion yang jatuh terjengkang dengan tatapan marah.
Begitu melihat istrinya berpelukan dengan lelaki lain, Kenan menjadi gelap mata. Langsung memberikan bogem mentah pada Arion. Hingga lelaki itu tersungkur di tanah.
Dan kini Arion berusaha bangkit. Punggung tangannya menyeka darah yang mengalir dari ujung bibirnya karena ulah Kenan.
"Stop Ken ato aku pukul kamu !" , teriak Adelia begitu Kenan hendak menghampiri Arion lagi.
Mendengkus lirih, Kenan seketika menoleh ke arah istrinya. Sinar kemarahan masih tampak di sorot matanya.
Tapi begitu beralih pandang ke wajah cantik istrinya, sorot jahil tampak di mata hazel itu. Tanpa bicara, dengan cepat menghampiri Adelia.
Adelia membulatkan matanya, dan tidak bisa berbuat apa-apa ketika dalam satu gerakan cepat tangan kokoh Kenan meraih tubuhnya dan membopongnya di atas punggung.
"Kamu harus di hukum, gadia nakal !", katanya seraya menepuk pinggul gadis cantik itu gemas.
"Kenn.....turunin aku !", marah Adelia seraya memukuli bahu Kenan. Kakinya menendang-nendang ke udara.
Kembali tangan kokoh Kenan menepuk Pinggul gadis cantik itu. Agak keras.
"Stttt....jangan berisik !", tegasnya.
"Turunin, aku mau bantuin Arion !", tangan mungil itu terus memukuli bahu Kenan.
Seperti tidak mendengar, Kenan terus mengayunkan kaki panjangnya. Semakin menjauh dari posisi Arion sekarang.
Adelia terus berontak. Posisi kepalanya yang terjuntai ke bawah, bisa dengan mudah mendongak dan mengarahkan pandangan ke posisi Arion sekarang. Dilihatnya Cindy menghampiri lelaki itu dan membantunya berdiri.
"Udah lihat ? Masih mau bantu ?", ledek Kenan seolah melihat semua kejadian itu.
Adelia hanya mencebik seraya memutar bola matanya. Lelaki ini tidak melihat ke belakang, masih menatap lurus ke depan sambil membopongnya, kenapa bisa tahu kalau sudah ada yang membantu Arion ?
Huft menyebalkan !!!
Apalagi suara lelaki yang sudah menjadi suaminya itu terdengar dingin.
Ihhh .... kenapa terdengar begitu menyeramkan ? Batin Adelia.
Tanpa sadar tubuh perempuan muda itu bergidik. Tapi tak lagi berontak.
"Kenapa ? kebelet pipis?", suara bariton yang masih terdengar datar itu mengejutkannya. Spontan jemari mungil Adelia mencubit bahu lebar lelaki itu.
"Ngawur !", galaknya.
Tak ada reaksi. Tapi seulas senyum tipis menghiasi bibir seksi lelaki yang masih dengan gagahnya melangkah membopong tubuh Adelia selayaknya tanpa ada beban saja.
*********
"Thanks !", ucap Arion ketika Cindy membersihkan luka memar di wajah dan dekat bibirnya.
Perempuan muda yang terlihat sedikit pucat itu hanya mengangguk. Kembali memasukkan obat dan kapas ke tempatnya.
"Aku senang kamu nggak nolak aku bantuin, Rio", ucapnya. Lalu memutar tubuhnya dengan membawa kotak obat di tangannya.
Arion menatap punggung perempuan muda yang perlahan menjauh itu. Baru beberapa langkah, Arion beranjak, lalu meraih lengan gadis itu.
"Cin....!", panggilnya.
Langkah kaki Cindy terhenti.
"Iya...", singkatnya. Sedikit menolehkan kepala. Menatap Arion dengan sorot sendu.
Sebelah tangan Arion menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aku mau tanggung jawab. Kita urus baby itu berdua ", katanya tanpa menatap mata Cindy.
Perempuan muda itu tersenyum. Lalu mengangguk perlahan. Kemudian kembali melangkahkan kakinya. Tapi Arion masih memegangi lengannya.
"Rio...", ingat Cindy sambil menatap ke arah lengannya. Meminta lelaki itu agar melepaskannya.
Arion masih memegangi lengan itu.
__ADS_1
"Aku mau balikin kotak obat ", datar Cindy. Seraya mengangkat kotak obat, bermaksud menunjukkan itu pada Arion
Arion mengusap wajahnya perlahan.
"Aku serius, Cin .... aku....", ucapan Arion terhenti begitu jemari lentik Cindy menempel di bibirnya.
"Aku tahu ", lembut Cindy.
Perempuan muda itu menatap Arion dengan sorot sendu. Tapi terlihat ada binar di sana. Sesaat tatapan dua mata itu saling bertemu. Mereka saling berhadapan kini. Saling bertatapan, dengan intens.
Hingga kemudian tangan Arion bergerak menyingkirkan jemari Cindy yang bertengger di bibirnya.
Pada detik berikutnya, entah siapa yang memulai tubuh mereka saling mendekat. Semakin dekat. Sangat dekat, sampai saling menempel.
Dada montok gadis itu menempel di dada bidang Arion. Sementara tangan kokoh lelaki itu sudah menyampir di pinggang Cindy.
Tanpa aba-aba wajah mereka juga mendekat. Hingga kedua benda kenyal itu bertemu. Saling berpagut dengan suara decapan nyaring.
Brakkkk...
Suara kotak obat yang di pegang Cindy terjatuh di lantai. Karena kini kedua tangan perempuan muda itu menangkup kedua sisi wajah Arion.
Keduanya menjauhkan bibir mereka dan tersenyum.
"Wanna see the baby ", lirih Cindy di depan bibir Arion.
Arion mengangguk cepat.
Kedua bibir itu kembali berpagut, semakin hebat. Dan liar. Apalagi saat tubuh Cindy melompat ke gendongan Arion dengan kaki perempuan muda itu yang melingkar sempurna di pinggang lelaki itu, kedua anak manusia itu semakin diliputi gairah.
Mereka kembali merajut cinta. Menyatu dalam gairah dan gejolak asmara. Yang masih penuh tanda tanya.
Meskipun masih bimbang dengan dirinya, tapi Arion tak pernah munafik kalau dia juga menikmati percintaan dengan Cindy. Keduanya dengan penuh gairah berpacu meraih kepuasan bersama.
*******
"Mau apa ?", Adelia tergagap. Manik cantik itu membulat sempurna, begitu lelaki itu melucuti pakaian yang menempel di tubuh atletisnya. Tepat di hadapannya.
Bukannya apa-apa, bukan pula karena belum pernah melihat tubuh yang bisa menawan setiap mata kaum hawa yang melihatnya itu. Tentu saja mata Adelia sudah melihatnya sampai hafal, karena lelaki itu sudah terlalu sering menunjukkannya. meski mereka belum ada satu bulan menikah.
Mereka sudah berada di kamar hotel sekarang. Begitu menurunkan tubuh Adelia di ranjang, lelaki itu langsung membuka kain yang menempel di tubuhnya. Hingga begini sekarang tasmpilannya. Polos bagai bayi baru lahir
"Kenapa malu baby ? Kamu udah sering lihat kan ?", masih dengan senyum menggoda.
Pipi putih mulus gadis cantik itu seketika merona.
"I....iya, tapi pake baju kamu Ken ! ", Adelia menatap ke arah lain, menghindari pandangan tajam Kenan yang seakan menusuk jantungnya.
Lelaki itu merentangkan tangannya.
"Come here, baby !", pintanya.
"I want you ", mata hazel itu mengerling nakal.
Sementara Adelia masih memandang ke arah lain. Dia malu. Apalagi melihat tubuh bagian bawah Kenan yang nampak berdiri dengan gagah di bawah sana.
"Stop kidding, Ken ! Pake baju kamu ato aku akan marah !", galak Adelia.
Manik cantik itu kini bertemu pandang dengan mata hazel yang masih menatapnya. Tajam dan penuh harap.
Sorot mata hazel itu seketika menjadi redup begitu mendengar ucapan Adelia.
"Kamu nolak aku, baby ?", lirihnya hampir mirip sebuah bisikan. Tapi telinga Adelia masih bisa dengan jelas mendengarnya.
Apalagi ucapan bibir lelaki itu kemudian.
"Aku udah di tolak istri aku sendiri ", pasrahnya.
"A....apa? maksud aku.....Oh my gosh, bukan itu maksud aku Ken !", Adelia menyatukan alisnya. Gadis cantik itu sedikit panik dan salah tingkah. Bahkan sampai bangkit dari duduknya.
Kaki mungil Adelia menghentak ke lantai, menahan gemas karena tingkah kekanakan seorang Kenan. Casanova dan penakhluk wanita. Lelaki yang pernah mempunyai jiwa playboy seperti Kenan bisa bersikap selebay itu.
__ADS_1
Sungguh terlalu !
Batin Adelia.
Sementara Kenan dengan cepat memutar tubuhnya, hendak meninggalkan Adelia.
"Uhmm.....wait Ken !", cegah perempuan cantik itu.
Tubuh Kenan yang kini dalam posisi membelakangi Adelia itu mengurungkan langkahnya. Belum berpindah dari posisinya. Belum bergeming. Sesaat suasana hening.
Bibir Adelia terasa kaku. Bingung harus berkata apa pada lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.
Honeymoon yang kacau karena hadirnya perempuan hamil itu. Juga lelaki mantan pacarnya yang masih belum menyerah juga untuk mendapatkannya.
Kemesraan mereka yang berubah menjadi sepenggal jarak karena semua problema itu. Menjadi sesuatu yang aneh ketika Kenan meminta hubungan suami istri di tengah kemelut yang mendera mereka. Meskipun mereka masih sah sebagai suami istri.
Dan malam ini, sebelum mereka meninggalkan maldives, lelaki itu meminta bercinta dengannya. Adelia harus bagaimana ? Gadis cantik itu dalam dilema sekarang.
Manik cantik Adelia menatap nanar punggung kokoh lelaki itu. Otot-otot yang menyembul menambah kesan jantan seorang Kenan.
Membuat pikiran Adelia traveling kemana-mana, bahkan berpikir mesum tentang lelaki itu.
Gadis cantik itu mengerjapkan mata dan menggeleng cepat. Membuang pikiran mesum yang tiba-tiba melintas di pikirannya. Hingga tidak menyadari kaki panjang lelaki itu mulai melangkah.
Satu langkah....dua langkah......tiga langkah. Pada langkah berikutnya terhenti begitu terdengar ucapan dari bibir mungil Adelia.
"A .... aku .... aku mau ", perempuan.cantik itu terbata. Pipi putihnya kembali merona.
Senyum tipis menghiasi bibir seksi Kenan. Masih belum bergeming, lelaki itu seperti menunggu ucapan bibir Adelia selanjutnya. Dan ternyata prediksinya tepat.
"I want you, too !", tegas Adelia, meski sedikit bergetar.
Spontan tubuh atletis tu berbalik. Bersamaan dengan itu, dengan cepat Adelia melompat ke gendongan lelaki itu. Dengan tangan mengalung di leher kokohnya dan kedua kaki melingkar di pinggang.
Sedikit tersentak, Kenan berusaha menahan keseimbangan tubuhnya. Spontan tangan kokohnya menyambut tubuh cantik itu. Memeluk pinggang rampingnya erat.
"Whoa....whoa....naughty girl !", serunya.
Tangannya nakal meremas pinggul Adelia karena gemas.
Bibir Adelia seketika mencebik lucu. Lalu di susul sebuah pukulan keras dari tangan mungilnya di bahu Kenan.
"Naughty hand, kayak mau kamu kan ? ", centilnya.
Kenan terkekeh dan mengangguk pelan.
"I love it, baby !", lirihnya di depan bibir mungil Adelia. Diusapnya lembut bibir ranum menggoda yang berada tepat di depannya itu.
Begitu bibir mungil itu hendak membuka, secepat kilat bibir Kenan membungkamnya.
"Emhhh....", ucapan Adelia tertelan kembali.
Bibir Kenan meliputi bibirnya dan menggulatnya mesra. Dan sedikit liar.
"Nggak akan aku lepasin", lirih Kenan. Masih di depan bibir basah yang semakin memerah itu. Digesekkannya hidung mancungnya ke hidung perempuan cantik itu.
"Apa aku harus takut ?", ledek Adelia.
Kenan tersenyum. Tidak menjawab, djpagutnya bibir merah menantang itu lagi. Menggulatnya mesra.
"Don't ask me to stop,okay? Aku nggak mau ", rajuk lelaki itu begitu melepas pagutannya.
Adelia terkekeh geli.
"Just show me !", tantangnya. Tangannya bergerak menoel hidung mancung Kenan.
Kenan terkekeh. Diciumnya jemari mungil nan lentik itu.
"Okay, baby. I'll drive you crazy all night !", katanya dengan tatapan yang sudah berkabut gairah.
Sebentar kemudian kedua bibir itu bertemu lagi. Saling berpagut dan bercumbu mesra. Mencurahkan perasaan dan gairah yang menggelora di tengah kemelut yang belum ketemu titik terangnya.
__ADS_1
Hingga suara -suara indah dan merdu memenuhi kamar hotel itu. Di pertengahan malam. Malam ini akan menjadi malam panjang bagi mereka berdua.
Tidak peduli pada gawai yang beberapa kali menyala dan berdering tanpa suara karena sudah di silent oleh pemiliknya.