Blind Date

Blind Date
117. Bibir Manis


__ADS_3

Bibir seksi lelaki itu tak berhenti tersenyum. Istri cantiknya sungguh telah membuatnya lega dan begitu bahagia. Sangat lega.


Ucapan manis yang keluar dari bibir ranum yang selalu ingin Kenan lummat dan kecap itu telah membuatnya seakan lepas dari beban berat.


Perempuan cantik itu percaya padanya. Apa yang Kenan butuhkan sekarang ini selain kepercayaan istrinya ? Adakah yang lain ?


Hmmm....tentu saja bercinta. Itupun istrinya berikan juga. Bercinta di bawah sinar bulan purnama. Begitu ide perempuan cantik itu. Ya Tuhan, Kenan serasa dimanjakan sekali malam ini !


Dengan penuh semangat menggendong istrinya menaiki lift menuju lantai paling atas mansion. Di sanalah keduanya menikmati indahnya malam berdua.


"Kenapa senyum-senyum terus ?", Adelia cubit hidung mancung lelakinya itu.


Yang dari tadi tak mengalihkan pandangan dari wajah cantiknya.


Bahkan setelah dua kali bercinta. Seperti tiada bosan lelaki itu masih memeluk tubuhnya erat. Memberikan lengannya sebagai bantal untuk kepala Adelia.


Kenan tergelak. Lalu sedikit menunduk untuk meraih bibir mungil itu. Mengecapnya dengan lembut. Sangat lembut.


"Karena bibir manis kamu, baby ", mesranya. Lalu menoel bibir mungil itu gemas.


Adelia pukul dada terbuka lelaki itu.


"Gombal, bibir kamu tuh manisnya berlebihan, jadi gila kan para cewek di luar sana ", protesnya.


Kenan tergelak. Lalu mengangkat tubuh cantik itu ke atas tubuhnya. Agar mempermudah pandangan mereka bertemu. . Membuat perempuan cantik itu memekik tertahan.


"Tapi aku gilanya cuma sama kamu, baby !", katanya seraya menoel hidung mancung Adelia.


Bibir mungil Adelia mencebik.


"Really...?", dicubitnya dada terbuka lelakinya


"Hmmm", Kenan kecup bibir menggoda yang tepat berada di depan wajahnya itu.


Adelia beranjak, dan duduk di atas perut Kenan, sebelumnya meraih selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


"Siapa yang kamu suapin tadi pagi ?", protesnya.


Kenan tersenyum. Kemudian menggeser tubuhnya agar bersandar di dasbord ranjang. Sementara Adelia masih dalam posisi yang sama. Malah sekarang melipat tangannya di dada.


"Enggak sayang, aku nggak jadi nyuapin dia tadi. Sumpah !", tegas Kenan.


"Masa ? Padahal aku lapar banget tadi, ehhh.....malah lihat kamu nyuapin perempuan lain ", cebik Adelia.


Kenan melotot konyol. Rupanya sedang protes istrimya ini. Ternyata cemburu juga dia.


Dasar Kenan bodoh !!!


Jelas saja cemburu ! Kenan tidak peka ! Makinya pada dirinya sendiri.


Tak menunggu lama Kenan raih tubuh cantik itu dan mendekapnya erat.


"I'm sorry, baby......I'm sorry .....", lirihnya.


"Pengen makan aku suapi ? Mau sekarang, sayang ?", tawarnya.


Adelia menggeleng di balik dekapan Kenan. Lalu mengangkat wajahnya agar bertemu dengan mata hazel suaminya.


"Besok pagi aja, uhmmm...kalo nggak keberatan ", ditatapnya suaminya dengan sorot dalam.

__ADS_1


Kenan berikan kecapan lembut di bibir istrinya sebelum berucap.


"Ngapain harus keberatan, sayang. Apapun bisa aku lakuin buat kamu, baby ", tegas Kenan.


Kenan berjanji tidak akan melakukan hal konyol lagi. Yang menyakiti hati istrinya. Istrinya bukan perempuan yang pendek pikir. Dia gadis yang cerdas, bisa melihat masalah lebih bijaksana.


Kenan saja yang terlalu takut perempuan cantik itu marah, tapi justru itu yang membuat istrinya merasa diabaikan. Dan tentu saja sakit hati.


Adelia tersenyum ceria. Lalu mencium bibir lelakinya, yang tentu saja disambut dengan senang hati oleh Kenan. Beberapa lama kedua bibir itu saling berpagut mesra.


Sebentar Kenan melepas pagutan mereka. Dipandangnya perempuan cantik di depannya itu dengan sorot tajam dan lembut.


"Jangan dekat-dekat sama si cabul, aku cemburu, sayang ", jujurnya.


Adelia mengernyit. Jemarinya menunjuk ke dada lelaki di bawahnya itu.


Kenan cubit dagu gadis cantik itu gemas.


"Not me, baby, sepupu aku ", jelasnya.


Lalu menaikkan sebelah alisnya dengan senyum menggoda.


"Aku enggak cabul ya, sayang. But romantic ", lanjutnya.


Adelia terkekeh.


"Okay, nggak cabul ya ? Lalu, apaan tuh yang gerak-gerak dari tadi ?", ucapnya. Matanya menunjuk ke bawah sana.


Kenan tergelak keras.


"He wants you, baby. Again. Samurai aku selalu gelisah kalo dekat sarangnya ", balasnya seraya mengerling nakal.


"Gitu nggak mau di bilang mesum", protes perempuan cantik itu.


Kenan membeliakkan matanya konyol ketika istrinya tiba-tiba beranjak dari atas tubuhnya.


"Baby, where are you ? How about this ?", tunjuk Kenan pada sesuatu yang sudah tampak tegang di bawah sana.


Terlihat sangat jelas karena Adelia membawa selimutnya serta untuk menutupi tubuhnya.


Adelia mengedik. Lalu membenahi selimut yang membungkus tubuhnya.


"Tiga jurus, I'll give it again !", tawarnya.


Kenan menggeleng. Tapi senyum nakal menghias bibirnya. Sebentar melompat dari ranjang, tanpa menutup tubuhnya.


"Kennn....tutupin tubuh kamu dulu !", protes Adelia.


"Aku nggak fokus nanti ", lanjutnya.


Kenan mengedikkan bahunya. Sebentar kemudian lelaki itu tergelak.


"That's what I want, baby ", balasnya seraya melipat tangan di dada.


Sengaja memamerkan sesuatu yang tengah berdiri gagah di sana.


Spontan Adelia menutup wajahnya yang memerah dengan telapak tangan.


"Kennnn....", rengeknya.

__ADS_1


"C'mon baby girl, jangan tutupin wajah cantik kamu !", goda Kenan.


Adelia menghentakkan kakinya kesal.


Membuka bekapan tangannya di wajah dan merobek selimut yang dikenakannya. Membaginya jadi dua.


Lalu dengan cepat melempar itu ke tubuh suaminya. Perempuan cantik itu melompat dan berputar mengitari tubuh Kenan, hingga tubuh bagian bawah lelakinya tertutup sempurna.


Aishhhh....apanya yang tertutup sempurna ? Sesuatu itu tetap menyembul di bawah sana.


Batin Adelia.


Not bad, yang penting lelakinya itu tidak berdiri dengan tubuh polos.


Kenan sedikit merengut. Mata hazelnya menatap tubuh bagian bawahnya yang berontak karena terbungkus kain.


Kain laknat ! Nyusahin aja ! , gerutunya dalam hati.


Adelia cekikikan melihat itu.


"C'mon darling, jangan marah dong ! nanti bisa dibuka lagi kan ?", godanya.


Kenan tatap istrinya dengan sorot mesum.


"Aku mau kamu yang bukain nanti, sayang, awas kalo nolak !", ancamnya.


Pandangannya berhenti pada tubuh molek istrinya yang begitu hmmm....erotis menggoda.


Bagaimana tidak ? Karena disobek jadi dua, kain itu kini menutup tubuh perempuan cantik itu minim sekali, hingga menampakkan paha putihnya hingga tepat di bawah pinggul. Begitu juga bagian atasnya, dada montoknya terlihat begitu nyata menggoda dan hmmmm.....Kenan menelan salivanya seketika.


Kain baik, good job buddy !, gumamnya dalam hati.


"I'm ready, baby !", ucapnya dengan senyum nakal. Lalu dengan cepat menyerang istrinya. Yang nampak masih salah tingkah setelah tahu selimut yang menutup tubuhnya begitu minim.


"Kennn....I'm not ready yet !", kata Adelia seraya menghindar. Tangannya sibuk membenahi selimut dan menghindari serangan Kenan.


"Hurry up, baby ! Kamu nggak pengen kain penutup ini robek kan ? Just look at that !" , Kenan tunjuk bagian bawah tubuhnya yang seolah mendesak mau keluar dari balik kain.


Adelia masih berusaha menghindari serangan Kenan. Belum membalas karena masih sibuk dengan kain yang menutup tubuhnya.


Sementara Kenan terus menyerang. Hingga pada suatu ketika Adelia selesai membenahi kainnya, pada saat bersamaan Kenan meraih kain itu dan menariknya.


Adelia berusaha menahan kain yang menutupi tubuhnya tapi Kenan terus menariknya. Hingga tubuh cantik itu mengikuti pergerakan yang dibuat Kenan, semakin lama semakin mendekat ke arah lelaki itu


Dan pada saat kain itu benar-benar terlepas, Kenan tarik tubuh cantik itu agar masuk ke dalam dekapan hangatnya.


"Arghhhh.....Ken !", pekik Adelia.


Kenan terkekeh.


"Have you give up, baby ?", ucap lelaki itu. Semakin mengeratkan dekapannya. Lalu mengelus pinggang ramping istrinya penuh rayuan. Kedua tubuh polos itu saling menempel sekarang.


Tangan mungil Adelia memukul dada Kenan pelan.


"So, what will we do now ?", centilnya. Kenan raih bibir mungil menggoda perempuan cantik itu. Dipagutnya mesra. Lalu tanpa melepas ciumannya, Kenan giring tubuh cantik itu menuju ke ranjang.


"Of course, duel di ranjang, sayang ", seraya mendorong tubuh istrinya perlahan ke atas ranjang.


Dan dimulailah lagi kegilaan sepasang suami istri itu di bawah sinar purnama malam.

__ADS_1


.


__ADS_2