Blind Date

Blind Date
172. Sepotong daging cinta


__ADS_3

"Kenapa pulang ?", Kenan tendang kaki Kendra di bawah meja. Mereka duduk bersebelahan, Kendra duduk di sebelah kiri Kenan, sehingga memudahkan kaki suami Adelia itu menggapai kaki sepupunya itu.


Kenan gabut karena istrinya sibuk berbincang dengan perempuan yang bersama Bryan tadi.


By the way.....ternyata perempuan yang dikira Kenan istrinya tadi adalah sepupu Adelia. Putri dari kakak mama Rose, yang tinggal di Belanda. Kata istrinya.


Pantesan mirip. Posturnya. Batin Kenan menggerutu. Tapi menurut Kenan tetap lebih cantik istrinya. Itu sudah jelas.


Ngomong-ngomong, kini keluarga besar itu duduk di kursi dengan jajaran meja panjang di depannya. Layaknya orang sedang meeting.


Ahhh....bukan keluarga semuanya, ada Bryan dan beberapa orang asing yang belum Kenan kenal. Tapi sepertinya sahabat kakeknya atau mungkin opa istrinya. Karena mereka terlihat akrab dan duduknya bersebelahan


Tadi mereka sekedar beramah tamah dan berjabat tangan, belum berkenalan secara personil.


Cuma perempuan yang bersama Bryan itu yang sudah terlihat akrab dengan istrinya. Tentu saja, kan sepupuan.


Dan sekarang istrinya yang kini duduk di sebelah kanannya mengabaikannya demi perempuan itu.


Sepertinya berbincang dengan sepupunya lebih menyenangkan daripada ngobrol dengan suaminya.


Huft....beberapa saat yang lalu perempuan itu sudah membuat emosinya memuncak sampai ke ubun-ubun. Dan sekarang lagi. Hati Kenan mendongkol karena diabaikan istrinya.


Mungkin menganggu Kendra akan menyenangkan Pikirnya.


"Asshhhh....", Kendra mendesis lirih. Seperti menahan sesuatu karena ulah kaki Kenan


Beringsut menggeser kakinya menjauh sambil bersungut kesal. Sandra yang melihat itu langsung mengusap lengan Kendra. Menenangkannya..


"Emang gak boleh?", ketus lelaki itu kemudian.


Kenan terkekeh lirih.


"Suka-suka kamu lah, Ndra, tumben aja ", balasnya.


Lalu menaikturunkan sebelah alisnya dengan senyum meledek.


"Udah gak tahan pengen cepat nikah ?", lanjutnya.


Kendra tendang ganti kaki Kenan di bawah sana dengan sebelah kakinya yang lain.


"Pasti lah bro....kamu pamerin terus, bisa-bisa khilaf aku", balasnya.


Kenan terkekeh


"Niceee.....By the way.......kayaknya kaki kamu gak baik-baik saja, bro ", sindirnya.


Kendra menoleh sarkatis. Lalu nyengir kuda.


"Gara-gara sepupu mesum di sebelah aku ini", balasnya sambil menepuk bahu lebar Kenan keras.


Spontan Kenan tergelak.


"Hahaha....kamu harus belajar lebih keras lagi biar jadi penguntit handal ", balasnya.


Ditanggapi Kendra dengan dengkusan jelas.


Ini semua demi menuruti keinginan grandpa, membantu kamu dan istrimu. Dasar tidak tahu diri. Batin Kendra membeo.


Hehe....membantu aku juga sih. Kendra terkikik dalam hati.


Sepasang mata nampak mengarah pada Kenan sambil tersenyum miring. Karena gelak lelaki itu. Bryan.


"Whattt......", tangan Kenan sambil mengangkat dagunya. Juga jari tengahnya.


Adelia yang asyik berbincang sampai menoleh dan mencubit lengan terbuka lelaki itu yang hanya mengenakan kaos hitam pendek.


"Kennn...!", ingatnya.


"What's up baby ?", Kenan pura-pura tidak mengerti.


Lalu dengan cepat mencuri satu kecupan di bibir perempuan cantik itu sebelum Adelia mengalihkan pandangan ke sepupunya lagi.


Pipi Adelia merona seketika. Sekali lagi Adelia cubit lengan suaminya itu. Sambil mencebik lucu.


"Tetap aja gak tahu tempat !", suara gerutuan Kendra terdengar. Kenan hanya mengedikan bahunya. Cuek.


Lalu menepuk bahu Kendra keras.


"Aku bisa lebih dari ini, bro ", katanya.


"Mau ngapain ?", Kendra menaikkan sebelah alisnya. Sekaligus mencibir. Di tempat umum, ada para orang tua. Memang apa yang bisa dilakukan si mesum gila ini ? Pikir Kendra.


Tidak menyahuti, Kenan menggeser kursinya agar merapat dengan kursi istrinya. Perlahan tangannya bergerak meraih jemari Adelia. Lalu membawanya ke bawah meja.


"Kenn...what are you doing ?", Adelia setengah berbisik. Kenan hanya tersenyum nakal. Ditahannya telapak tangan Adelia di atas pahanya.


Sedang di depan sana seorang MC tengah berbicara. Tapi tentu saja tidak masuk pada pendengaran Kenan. Karena sekarang fokusnya adalah mengusili istrinys.


Kenan genggam telapak tangan istrinya erat. Dia mainkan telunjuknya di atas sana. Membentuk pola abstrak. Sesekali mengusapnya lembut.


"Kennnn.....stop it !", bisik Adelia nampak tidak tenang. Seperti menahan sesuatu yang tidak nyaman. Geli sekaligus merasakan sensasi aneh.

__ADS_1


Bukannya berhenti, Kenan semakin usil. Buktinya Adelia sampai bergidik geli.


"What's a matter, Del ?", tanya perempuan cantik yang duduk di sebelah kanannya karena melihat pergerakan tubuh Adelia yang gelisah.


"Uhmmm....No Mara, nothing ", gagap Adelia.


"Kennn....!", Adelia menggeram tertahan karena ulah tangan Kenan di bawah sana. Sebelah tangan lelaki itu yang lain mengusap pahanya dan memainkan jemarinya di sana.


Sedang tangan kirinya masih digenggam erat lelaki itu.


Pipi Adelia semakin memerah, seiring pergerakan jemari usil Kenan.


Ketika tangan Kenan semakin nakal, Adelia tarik tangannya agar lepas dari genggaman Kenan dan dicubitnya paha lelaki itu gemas.


"Awwww......", bukannya kesakitan, lelaki itu malah kegelian. Spontan berseru dan tergelak.


Dengan cepat digenggamnya lagi tangan Adelia yang mencubitnya.


Bersamaan dengan gelak Kenan....................wushhhhh....


Sepotong daging di ujung garpu melesat tepat ke arah mulutnya.


Kenan yang masih tergelak tidak menyadari itu. Tapi dua jemari lentik telah menangkap itu tepat di depan bibirnya.


Mencapit garpu berisi daging itu dengan.cantiknya.


Terkesiap, sekilas Kenan bisa melihat Papa Alex menatap ke arahnya dengan kedipan mata dan bergumam.


"Don't be noisy !", penuh peringatan.


Kenan hanya mengangguk pelan. Kembali pandangannya tertuju pada daging yang tepat berada di depan bibirnya.


"Baby....aaa.", ucapnya kepada Adelia. Memberi kode agar potongan daging itu disuapkan padanya.


Bibir Adelia mencebik. Lalu menjauhkan garpu yang dipegangnya.


"Lepasin tangan aku dulu !", rajuknya.


Kenan cemberut, menyerongkan wajahnya ke arah lain. Tapi tetap tidak mau melepas tangan istrinya.


Kendra yang melihat itu hanya tersenyum mencibir. Bryan juga melakukan hal yang sama. Baru tahu sakmja kalau suami Adelia sekonyol itu.


Sementara sepupu Adelia menyenggol lengan istri Kenan itu sambil terkikik geli.


"You're both like a kids", ucapnya.


Adelia tersenyum.


Bibirnya mencebik. Menirukan gaya Kenan yang merajuk. Lalu menyodorkan garpu berisi potongan daging itu ke bibir suaminya.


Lelaki tampan itu tersenyum lebar. Lalu menerima suapan daging itu sambil bergumam "thanks baby"7.


Tidak memakan semua, Kenan cuma menggigit daging itu separuh. Lalu mengalihkan sisanya ke bibir Adelia. Perempuan cantik itu menuruti saja. Daripada ngambek lagi. Iya kan ? Pikirnya.


"So sweet.....!", ucap Mara, sepupu Adelia.


Adelia mencubit pinggang Mara.


"Apaan sih ? Biasa aja, Ra ", ucapnya tersipu malu. Mara beradu pandang dengan Bryan dan terkekeh kecil.


"Alahhh...lebay ", suara Kendra mengolok.


"Sirik aja ", balas Kenan. Fokus pandangnya tetap pada istrinya.


Suara MC di depan sana masih menggema.


Tapi Kenan tetap saja melewatkan semua ucapannya.


"Baby....", panggilnya.


"Sttt...dengerin dulu !", pinta Adelia.


Kenan menuruti. Diam, tapi kakinya bergerak gelisah. Arah pandangnya sama sekali tak berubah, tetap fokus pada wajah cantik istrinya.


"Acara tunangan siapa ?", bibir mungil Adelia bergumam. Dan mempertemukan pandang dengan Kenan. Karena Mara fokus mendengarkan sepertinya.


"Hmmm....", Kenan cium jemari lentik Adelia yang sejak tadi masih digenggamnya.


Dan aneh, Adelia merasa seperti tersengat aliran listrik ketika bibir lelaki itu menyentuh kulitnya.


Sengatan itu bergerak cepat mengikuti aliran darah dan membuat otaknya memanas. Gairahnya tersulut tiba-tiba.


Aneh sekali. Perasaan gila apa ini ? Tidak pada kondisi dan waktu yang tepat. Pikirnya.


Adelia juga bisa melihat tatapan mata suaminya.....aishhh tatapan mata yang seolah ingin menerkamnya. Ada apa ini ?


Tapi segera Adelia menormalkan ekspresinya.


"Kenn...kamu dengar kata MC itu ?", tanya Adelia mengalihkan sesuatu yang tengah bergejolak sekarang. Gairah.....iya kenapa tiba-tiba dia merasa bergairah sekali ?


"Hmmm....apa, baby ?", lelaki itu balik bertanya.

__ADS_1


"Siapa yang bertunangan ?", tanya Adelia.


"Dia bilang begitu ?", ucap Kenan. Maksudnya MC di depan sana.


Adelia mendengkus lirih.


"Kennn....kamu gak dengerin ya ?", geramnya tertahan.


Ingin rasanya menjewer telinga suaminya itu. Tapi dia khawatir malah salah nanti. Karena yang dipikirkannya sekarang sungguh berbeda.


"Enggak, kan dari tadi cuma lihatin kamu, sayang ", jawaban lebay Kenan yang justru di dengar Adelia.


Bibir Adelia mencebik. Tapi sungguh, tatapan matanya tidak mau beralih dari wajah suaminya. Kini fokusnya juga bukan pada yang diucapkan MC.


Ketika jemari Kenan di bawah sana kembali bermain di telapak tangannya membentuk pola abstrak,


Adelia membalas itu. Jemari mereka saling bertaut di bawah sana. Saling mengusap lembut.


Pandangan mereka menyatu, seakan terlunci. Tampak gairah yang besar di mata keduanya. Tanpa mengalihkan pandangan Adelia menyenggol lengan sepupunya.


"Mara, aku tinggal sebentar ya ?", ucapnya.


"Kemana,Del ? .....uhmmm....iya....iya....


okay", Mara yang semula bingung, segera menyetujui begitu melihat perilaku sepasang suami istri itu.


Apalagi saat keduanya berbarengan berdiri dengan tangan dan jemari yang saling bertaut. Ditambah pandangan mereka yang saling mengunci satu sama lain.


Pada detik berikutnya kedua sejoli itu melangkah bergegas meninggalkan ruang VIP resto itu.


Kendra yang melihat itu langsung bergumam.


"Mesum gila !", ucapnya.


"Sayanggg.....", tegur Sandra. Kendra nyengir saja.


"Tapi ada bagusnya, babe, biar gak gangguin acara kita ", ucap lelaki itu kemudian.


Sandra mengernyitkan dahinya.


"Dia gak bisa diam lama di acara resmi begini", terang Kendra.


"Really ?", Sandra menyakinkan.


"Hmmm......", Kendra mengiyakan.


"Rese memang", lanjutnya. Keduanya terkekeh


Sementara sepasang suami istri itu setengah berlari keluar dari pintu ruang VIP. Dua pegawai resto yang ada di depan pintu segera memberi jalan pada mereka.


Sampai di luar keduanya saling pandang dan berucap bersama.


"Lift....", keduanya dengan nafas yang setengah memburu. Lalu kembali bergegas menuju ruangan yang di maksud.


Begitu pintu lift tertutup, tanpa aba-aba, dengan tidak sabar mereka saling menyatukan bibir mereka. Berpagut mesra penuh gairah. Seperti menemukan sebuah oase yang menyegarkan di padang pasir.


"Kennn....what's happend ..... to me ?", tanya Adelia di sela-sela cumbuan hebat itu.


"I feel the same, baby", balas Kenan tanpa menghentikan cumbuan itu. Kedua tangan mereka saling bergerak liar.


Adelia heran kenapa tiba-tiba gairahnya bisa memuncak seperti ini. Seperti tidak tertahan. Itu juga yang dirasakan Kenan.


Padahal mereka sudah sering melakukannya. Beberapa jam yang lalu juga sebelum berangkat ke resto, mereka mengabiskan waktu berdua.


"Kennn....jangan di sini !", tahan Adelia begitu tangan lelaki itu melepaskan kancing bajunya dengan buru-buru.


Sementara Kenan sendiri sudah bertelanjang dada.


Pakaian yang Adelia kenakan terlihat berantakan sekali.Syal yang dia kenakan tadi sudah tergeletak begitu saja di lantai. Begitu juga kaos yang di kenakan Kenan.


"Tapi, baby....ini....gak bisa di tahan", suara lelaki itu terdengar berat sekali.


Benar, susah di tahan. Adelia juga merasakan itu. Tapi mereka harus bisa menahan setidaknya sampai menemukan tempat yang tepat.


Kembali kedua bibir itu menyatu. Lebih liar dan hebat.


"Cari hotel terdekat, Ken", pasrah Adelia.


"Hmmm.......of course, baby", Kenan menyetujui. Meskipun mati-matian menahan sesuatu yang hendak meledak di bawah sana.


Dengan cepat meraih kaos dan syal yang tergeletak di lantai. Mengenakannya cepat, lalu mengangkat tubuh istrinya dalam gendongan. Diselingi dengan cumbuan hebat lagi.


Sebentar kemudian pintu lift terbuka.


"Hurry up, honey.... !", ucap Adelia dengan wajah yang sudah sangat memerah.


"Hold on, baby....", balas Kenan. Sambil melangkahkan kaki melewati pintu lift.


Suara decapan bibir terdengar santer mengiringi langkah jangkung lelaki itu.


.

__ADS_1


__ADS_2