Blind Date

Blind Date
152. Galau


__ADS_3

"Telpon enggak......telpon enggak.....", gumam Adelia. Sambil mengetukkan jemarinya di meja.


Setelah menghabiskan permen kapas dari tamu tak diundang, yahhh ....yang sempat membuatnya sewot karena masih terlalu pagi untuk seseorang bertamu, perempuan cantik itu pergi membersihkan dirinya.


Adelia harus cepat dan menunda waktu santainya. Deretan kegiatan dan tugas kuliah sudah menunggunya.


Dengan cepat berganti baju. Tangan mungilnya menyambar satu buah Apel di kulkas, lalu menuju ruang belajarnya.


Mengenakan kaos pendek dan celana sebatas lutut. Rambutnya di kucir ke atas, menampilkan leher putih jenjangnya.


Perempuan cantik itu kini sudah duduk di depan laptop. Tangan kanannya yang memegang buah apel sibuk bolak- balik bergerak ke arah bibirnya,. Sedang bibir mungil itu asyik menikmati gigitan demi gigitan.


Ketika hendak memulai mengerjakan tugas, teringatlah wajah tampan suaminya. Galau antara mau menelepon atau tidak. Gadis cantik itu menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"You can do it Del... you can do it !", ucapnya pada diri sendiri. Dia memilih mengerjakan tugas, karena harus selesai dalam dua hari. Menyelesaikan gigitan terakhir apelnya. perempuan cantik itu mulai membuka buku dan file tugasnya di laptop.


Ketika jemari lentik itu menyentuh layar laptop, tampilan pertama yang muncul adalah ahhhh.....lagi-lagi wajah lelaki tampan yang sejak tadi memganggunya. Suaminya, Kenan.


Bukan cuma itu, gambar-gambar kebersamaan mereka juga ada di sana. Ditampilkan random.


Adelia tersenyum.


"Naughty Kennnn ......!", ucapnya sambil mengusap layar monitor itu. Padahal semula Adelia memasang wallpaper tom jerry di sana, sekarang sudah berganti. Siapa lagi pelakunya, kalau bukan suaminya.


Masih tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Kennnn....!". jemarinya meraih gawai di sisi kanannya. Jemari lentik itu mulai menggulir layar benda pipih itu dan sibuk menari di atasnya. Bibir mungil Adelia tersenyum manis. Seiring dengan gerakan tangannya, menaruh kembali gawai itu di tempat semula.


"Harus fokus....fokus ", tegas Adelia.


"Semangat Adel....!", katanya menyemangati diri sendiri.


***********

__ADS_1


"Nona, please !", tegur bodyguard begitu perempuan di hadapan tuan mudanya kembali bangkit. Hendak mendekati.


"Okay....okay, I understand ", ucap perempuan muda itu sambil kembali duduk. Dengan angkuh.


"So, what do you think, Ken ?", tanyanya dengan gaya menggoda. Lebih parah dari tadi. Bahkan beberapa kali merubah posisi duduknya sehingga semakin menyibak roknya dan terlihat jelas pahanya.


Kenan hanya mengedik. Lelaki itu membuang pandangannya ke arah jendela kaca besar di ujung ruangan.


Perempuan di hadapannya itu kini kembali merayunya setelah sekian lama. Tentu saja tidak bagus untuk stabilitas keamanan rumah tangganya. Dia bukan lelaki single lagi sekarang.


Dua bodyguard masih setia berdiri di samping kanan dan kiri tempat duduknya.


"Not bad, but...... I don't need a secretary", balasnya tegas.


"C'mon Ken, punya sekretaris gak akan buat kamu miskin ", desak perempuan itu lagi.


"Haha...', Kenan tergelak.


"of course...but I can handle this problem", Kenan memberikan penekanan.


Perempuan itu tersenyum merekah. Memamerkan bibir sensualnya yang merah.


"Okay.........tapi tawaran aku selalu open kalo kamh berubah pikiran", ucapnya.


Kembali Kenan tergelak.


"Of course, I know .... have you finished ?", Kenan melipat kakinya dengan angkuh. Lelaki itu terlihat jengah. Ingin segera mengakhiei pertemuan yang menurutnya membuang waktu itu.


Perempuan yang bernama Susan itu masih duduk dengan santainya.


"Why are you so hurry Ken ?", ujarnya.

__ADS_1


Lalu mengeluarkan sebungkus cigatette dari tasnya. Belum juga membuka bungkus kotak slim itu Kensn sudah berucsp.


"Susan.....sorry !", sambil menunjuk cigarette perempuan muda itu.


Susan langsung tertawa meledek.


"Woww, hebat banget gadis kecil itu, bisa merubah seorang Kenan.....ckckck.... unbelieveable.!", decaknya tidak percaya.


Kenan mengangkat bahunya. Tangannya nampak bergerak ke saku celana, meraih gawainya.


"Everything can change...... everytime, every minute or every second.....you can see it ", mantap Kenan. Sambil sibuk mengamati layar gawainya. Senyum tipis menghiasi binir seksinya.


Susan terkekeh . Kembali memasukkan cigarette ke tasnya.


"Okayyyy.........how about lunch ? Apa kamu akan menolak undangan teman lama ?", katanya dengan tatapan penuh harap.


Tatapan Kenan yang semula twrtuju ke gawainya mendongak ke arah Susan.


"I'm sorry........!", belum menyelesaikan ucapannya Kenan kembali menatap ke arah gawainya. Seketika dahi lelaki itu mengernyit dalam. Wajah tampannya nampak memerah. Rahang tegasnya mengeras, seperti menahan amarah.


"Ken...what's happened ?", Susan penuh tanya. Kenan mengangkat sebelah tangannya. Meminta perempuan di depannya itu diam. Jemari lelaki itu sibuk menggulir layar gawainya.


"Damnn....!", umpatnya.


Tanpa disadari senyum licik terselip di bibir perempuan yang tengah duduk di depannya. .


"All right Ken.....gak papa kalo kamu sibuk, maybe next time",, Susan sambil bangkit dari duduknya.


Kenan tidak menyahuti. Masih fokus dengan gawainya. Susan melangkah menuju ke arah pintu., dengan gerakan perlahan saja. Salah seorang bodyguard menyilahkan untuknya.


Begitu pintu terbuka dan Susan hendak melangkah keluar, spontan membatalkan niatnya ketika suara bariton Kenan terdengar.

__ADS_1


"Wait..... .!", lelaki tampan itu berdiri. Susan memutar tubuhnya dan menatap kw aeah datangnya suara.


I'm hungry, I come with you for lunch", lanjutnya. Mem5buat Susan langsung memutar tubuhnya dengan senyum cerah di bibirnya.


__ADS_2