
"Haha......must been hurt ?", ledek Kenan. Tendangan lelaki berjubah itu merusak pintu kaca resto hingga berkeping-keping.
Dan sepertinya pecahan itu mengenai kakinya. Kenan bisa melihat ada cairan merah di sana.
Kini Kenan sudah berdiri tegak di tempat yang lebih lapang di luar resto.
"C'mon, fight like a man !", tantangnya.
Terdengar dengkusan jelas dari balik penutup wajah lelaki itu.
Melompat cepat, lelaki itu kembali menyerang. Kenan. Tapi kini Kenan sudah lebih siap, bahkan sigap memberikan balasan
"Don't talk to much.....we'll see who's the real mean !", ucap lelaki berjubah itu di sela serangan.
Kenan terkekeh.
"Okayy....let's see !", seraya menghindar dan membalas serangan.
Pertarungan sengit terjadi. Beberapa kali serangan Kenan telak mengenai tubuh lelaki itu. Demikian juga sebaliknya.
Tapi keduanya belum bergeming. Belum ada yang mau menyerah.
Suatu ketika lelaki berjubah itu memperlambat tempo serangan. DI balik penutup wajah itu, bibir lelaki itu meringis menahan sakit. Bisa Kenan lihat kaki lelaki itu yang terluka mengganggu gerakannya.
"Wanna give up ?", ledek Kenan.
"Never.....", balas lelaki itu sambil menggeram. Dari balik penutup wajah, bibir lelaki itu menyeringai menahan sakit. .
Mereka masih saling serang. Kenan siap menyarangkan pukulan mautnya, ketika tiba-tiba sebuah benda asing melesat menghalanginya.
"Wushhhh...!", segera Kenan menghindar. Membuat pukulannya tak mengenai sasaran.
Pada saat bersamaan, tubuh lelaki berjubah itu melesat pergi. Sekejab hilang dari pandangan Kenan.
"Heyyy....wait !", teriak lelaki bermata hazel, suami Adelia itu.
Berusaha mengejar, tapi serangan dari arah belakang menghentikannya.
"Grandpa....!', seru Kenan saat melihat siapa penyerangnya.
Lelaki tua yang masih cekatan itu terkekeh.
"Surprise ...!", ucapnya.
Sudah Kenan duga semua adalah ulah grandpanya. Pasti penyerang berjubah juga hasil rencananya.
"What's next grandpa?", Kenan berusaha menahan serangan. Harus Kenan akui, lelaki yang usianya sudah berkepala 6 itu masih lincah dan sigap.
__ADS_1
Grandpa terkekeh.
"Why grandson, wanna surrender ?", malah meledek cucunya itu.
Kenan ganti terkekeh.
"No way, never grandpa...", tegasnya.
Grandpa tergelak keras. Sambil terus menyerang.
"Great....!", ucapnya.
Lelaki tua itu masih terkekeh.
"Uhuk....uhuk.....", sampai terbatuk-batuk karena tawanya.
Kenan menahan serangan grandpa. Memintanya berhenti.
"Stop Grandpa, !", pintanya. .
Lelaki tua itu justru semakin terkekeh. Meskipun masih dengan terbatuk-batuk.
"Okayyy.....if you want too, what can I say?", pasrahnya.
Menghentikan serangan, lalu mengulurkan punggung tangannya ke arah Kenan.
Kenan tersenyum. Langsung membalas uluran pungung tangan grandpa.
"You're the great, grandpa", balasnya.
Mata hazel Kenan membola ketika tangan grandpa meraih bahunya dan merangkulnya.. Lalu menepuki bahunya.
'"You're too, boy. Take your gift inside !", tunjuk grandpa ke dalam resto.
Bibir Kenan terngangga.
What's gift, grandpa?", tanyanya penasaran.
Grandpa tepuk bahu lebar lelaki bertubuh tinggi atletis itu.
"Just see, boy....and....you'll say thanks then !", ucapnya sambil berlalu pergi.
"Hmmm....grandpa...!", Kenan berusaha menahan, tapi lelaki tua itu hanya melambaikan.tangan dan terkekeh.
Mata hazel lelaki itu mengalihkan pandangan ke arah pintu resto. Dahinya mengernyit. Tapi senyum tersungging di bibirnya.
"Naughty grandpa...!", lirihnya. Tawa kecil terdengar dari bibirnya.
__ADS_1
Di depan sana pintu resto yang berantakan, sudah kembali ke bentuk semula. Rupanya lelaki tua itu langsung bertanggung jawab pada ulahnya.
Pastinya. Kenan kenal betul, biarpun usil dan semaunya, grandpa adalah orang yang paling bertanggung jawab.
Bergegas Kenan melangkah ke arah pintu. Entah kenapa dadanya berdebar. Semakin mendekat ke daun pintu, debarannya semakin keras.
Arghhhhh.....ada apa ini ? Kenan benci sekali perasan seperti ini. Hadiah apa yang menantinya di dalam sana? Apa karena itu dada Kenan berdebar. Konyol sekali.
Begitu mendorong pintu, mata hazel Kenan menyapu ke sekeliling. Sepi. Pegawai resto pun tak ada. Apa yang sebenarnya grandpa rencanakan ?
Kaki panjang lelaki itu melangkah masuk. Terus melangkah hingga jauh ke dalam dan.menjumpai ruang VIP.
Bibir Kenan tersenyum. Di sinilah dulu dia dan Adelia bertemu. Pertama kalinya.
Pandangan hazel Kenan berhenti pada dua sosok tubuh yang tengah duduk bersebelahan di sofa.
Dahi lelaki itu mengernyit dalam.
Bryan....iya Bryan. Posisi duduk lelaki yang miring menghadap ke perempuannya itu bisa Kenan lihat jelas adalah Bryan. Dan siapa perempuan di sebelahnya ? Detak jantung Kenan seakan berhenti. Sesaat.
Perempuan itu......Kenan tidak salah lihat kan ? Itu Adelia. Istrinya.
Biarpun cuma melihat dari belakang, karena posisi duduk perempuan itu yang membelakangi, Kenan bisa menebak siluet tubuh seksi itu adalah tubuh yang sangat Kenan Kenal. Istrinya.
Apa yang mereka lakukan ?
Rahang Kenan mengeras. Giginya gemeletuk menahan amarah yang tiba-tiba memuncak. Kedua tangannya mengepal.
Jadi ini yang mereka lakukan di belakangnya ? Istrinya tidak mau berangkat dengannya karena janjian sama Bryan ? Mengenaskan sekali nasibmu Kennn ......batin Kenan berkeluh.
Mempercepat langkahnya, lelaki itu ingin segera menghampiri kedua sosok tubuh itu.
Baru beberapa langkah, Kenan spontan berhenti. Ketika mata hazelnya menyaksikan tangan Bryan memeluk bahu perempuan itu. Dan apa yang dilakukan perempuan itu ? Dia malah terkekeh geli. Bahkan menjatuhkan kepalanya di bahu lelaki itu.
Darah Kenan seketika bergolak. Mengalir ke kepalanya, membuatnya mengepul seperti terbakar. Nafasnya tiba-tiba memburu dan terengah.
Rasanya ingin berteriak sekeras-kerasnya dan mengumpat pada kedua orang itu. Tapi itu bukan Kenan sama sekali. Tidak elegan. Sebisa mungkin Kenan tahan.
Memilih pergi dan tidak melihat kejadian yang menyakitkan itu akan lebih baik baginya. Karena sepertinya Adelia juga menikmati kebersamaan dengan Bryan. Buktinya mereka berdua terlihat mesra sekali. Layaknya sepasang kekasih.
Dengan cepat kaki panjang lelaki tampan itu berbalik arah. Mata hazelnya sampai memerah menahan marah. Tujuannya sekarang adalah mencari grandpa. Kakeknya pasti tahu tentang semua ini.
"Damn it....!", umpatnya. Dihentakkan kasar langkah kakinya.
Pada langkah kedua, terdengar suara lembut yang sangat familiar dengan telinganya dari arah samping kanan pintu resto. Langsung menghentikan langkahnya.
"Kennn......where are going ?"
__ADS_1
'