Blind Date

Blind Date
109. Menjaga Jarak


__ADS_3

"Bantuin dia, Ken !", tunjuk Adelia ke arah Catherine. Kenan tidak bergeming. Malah menatap Adelia, dalam.


Adelia tepuk bahu lelaki itu.


"C'mon Ken... !", menunjuk dengan dagunya. Lalu meraih koper yang di pegang Kenan.


"Babyy....", Kenan keberatan.


"Sssttt....aku bisa sendiri, udah sana !", Adelia bersikeras. Mendorong pelan tubuh Kenan agar menjauh darinya.


"Baby....please !", mohon Kenan. Tubuh tinggi atletis itu enggan beranjak.


Iya, pagi setengah siang ini mereka akan kembali ke tanah air. Dengan tambahan penumpang baru di tengah mereka. Catherine.


Sebenarnya mereka merencanakan pulang pagi-pagi, tapi karena Kenan dan Adelia bangun kesiangan, mereka menunda keberangkatan beberapa jam kemudian. Dan kini mereka bersiap naik ke private jet Kenan.


"Biar saya yang bantu nona Catherine, Tuan Ken !", Nino menawarkan.


Seketika Kenan tersenyum sumringah.


"Of course, No, never.....", ucapan Kenan terhenti saat Adelia menatapnya penuh peringatan. Lalu menggeleng tegas.


Menghembuskan nafas berat, Kenan akhirnya melakukan keinginan perempuan cantik itu.


"No way, biar aku aja No !", ditepuknya bahu Nino pelan sebelum melangkah menjauh. Menghampiri Catherine yang kini berdiri agak jauh dari posisi mereka.


Ngomong-ngomong perempuan yang mengaku hamil anak Kenan itu tadi berangkat lebih dulu ke bandara dengan diantar sopir. Itu sudah membuat Adelia protes tadi. Kenapa tidak Kenan yang menjemput dan mengantarnya.


Ahhh....karena bangun kesiangan tentu saja lelaki itu gunakan sebagai alasan.


Bagaimana tidak kesiangan, mereka bercinta sampai pagi. Bahkan tidak tidur lagi setelah itu.


Akal-akalan Kenan tentunya. Lelaki itu mengalihkan pembicaraan, terutama yang menyangkut masalah Catherine. Adelia menyuruhnya menjemput perempuan hamil itu tadi, makanya lelaki itu beralibi.


Sengaja mengajak latihan dan taruhan istrinya. Keduanya melakukan latihan pemanasan setelah mandi. Eitsss....jangan salah, bukan bergelut lagi di atas ranjang, tapi latihan beladiri sungguhan.


Berlatih beberapa jurus membuat mereka segar dan bersemangat kembali. Terutama Kenan, lelaki itu berhasil memperdaya istrinya lagi. Berpura-pura kalah. Dan mendapat hadiah taruhan, menikmati bibir ranum Adelia.


Dan kali ini lelaki itu tidak bisa menolak keinginan istrinya. Lagi. Karena tadi Adelia sudah sempat marah. Karena ciuman mautnya dan sempat mendorong tubuhnya.


Dengan langkah ogah-ogahan Kenan menghampiri Catherine.


"Kennn.....kemana kamu semalam ? Aku cariin kamu !", Catherine langsung menghambur ke arahnya. Memeluknya.


Adelia yang melihat itu langsung mengalihkan pandangan.


"Let's go, Na !" , seraya melangkah menuju pesawat.


Ina mengekorinya seraya menggeleng.


"Adel....Adel ", gumamnya sambil mensejajarkan langkahnya dengan Adelia.


"Benar yang aku bilang kan, Del ? ", katanya kemudian.


Adelia mengedik.


"Ada cara yang lebih bagus, Na ?", tanyanya seraya terus melangkah.


Ina terdiam. Sementara ini memang belum. Tapi Ina tahu Adelia pasti sudah memikirkan rencana untuk mengatasi masalah ini. Mengurai benang kusut yang menimpa rumah tangganya.


Dilihatnya Adelia dari ujung matanya. Gadis di sebelahnya itu tampak tenang. Wajahnya tampak terlihat sangat cantik pagi ini. Lebih cerah dan bersinar.


Perempuan muda yang terlihat lebih ramping itu terkikik tertahan begitu melihat syal di leher Adelia.


"What's a matter, Na ?", tanya Adelia. Menoleh ke arah Ina dengan sedikit mengernyit.


"Nothing, Del ", balas Ina masih terkikik.


"Syal kamu bagus", lanjutnya.


Pipi Adelia seketika merona.


"Uhmm....ini, Kenan yang pakein ", jawabnya sedikit terbata.


"I know, kenapa kamu bisa setenang ini, hati dan tubuh Kenan cuma buat kamu, Del ", ucap Ina. Adelia mengiyakan dan mengaminkan dalam hati. Pandangannya masih lurus ke depan sana.


Ina menoleh ke sebelahnya begitu sebuah tangan merangkul bahunya. Lalu sebuah kecupan lembut menempel di bibirnya. Dari Nino.


Adelia melihat itu sekilas. Bibir mungilnya tersenyum. Ikut merasa senang melihat kebahagiaan temannya.


Sebentar Adelia mengarahkan pandangan pada Kenan. Lelaki itu masih berusaha menjauhkan tubuh Catherine.

__ADS_1


"I'll try to believe you, my love ", gumamnya.


***********


.


"Sini, aku bawain koper kamu !", Kenan berusaha mengalihkan tangan Catherine yang memeluknya.


"Thanks Ken !", balas perempuan itu manja. Tangannya menggelayut mesra di lengan kokoh Kenan.


"Cath, lepasin tangan kamu !", ingat Kenan seraya menatap lengannya.


"Biarin aja, enggak ganggu kan ? ", masih menggelayut mesra di lengan Kenan.


Kenan berdecak kesal. Berusaha menyingkirkan tangan Catherine.


"Biar saya yang bawakan tuan muda !", seorang lelaki muda menghampiri dan segera meraih koper dari tangan Kenan.


Pramugari cowok yang melayani di pesawat Kenan.


"Okay, thanks !", balas Kenan akhirnya.


Lalu segera melangkah mendahului Catherine begitu tangan gadis itu berhasil dilepaskannya.


"Kennnn.....wait for me, please !", teriak Catherine. Lalu bergegas menyusul Kenan.


Kembali menggelayutkan tangannya lagi di lengan Kenan begitu sudah berjalan di samping lelaki itu. Mendengkus kesal, akhirnya Kenan membiarkan tingkah perempuan muda itu.


Dari balik kaca mata hitamnya mata hazel itu bisa melihat sepasang mata cantik yang baru saja mengamatinya. Sesaat sebelum masuk ke pesawat.


********


Arion spontan membuka matanya begitu mendengar suara berisik dari kamar mandi. Suara perempuan tengah muntah-muntah.


Dengan cepat menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan beranjak duduk di tepi ranjang.


Matanya menyapu ke arah lantai, pada pakaian yang bertebaran di bawah sana.


Segera berdiri dan meraih celana pendek di sana. Mengenakan itu, Lalu bergegas ke kamar mandi. Dari luar pintu yang terbuka itu dia bisa melihat Cindy tengah tersiksa dengan muntahnya.


"Sakit ?", tanya Arion begitu berdiri di sebelah Cindy. Di dekat wastafel kamar mandi.


Perlahan kepala itu menoleh ke arah suara dan menggeleng. Lemas.


Deg....Dada Arion seketika berdetak cepat. Ada perasaan aneh yang menjalar di hatinya. Entah perasaan apa itu, Arion juga bingung.


Lalu tanpa di duga keluar ucapan dari bibirnya.


"Bisa aku bantu kamu ?", ucapnya.


Cindy seketika menoleh lagi. Menyatukan keningnya dengan tatapan penuh tanya. Membuat Arion jadi serba salah.


"Hmm....ada yang bisa aku bantu buat hilangin mual kamu ?", katanya masih dengan salah tingkah.


Cindy menyibak rambutnya. Terlihat leher putih itu dengan beberapa bekas hickey di sana. Hasil ulah Arion semalam. Deggg....dada Arion kembali berdebar.


"A....apa yang .....?", lelaki itu terbata.


"Tolong bantu pijitin leher aku !", pinta Cindy.


Perempuan muda itu kembali menutup mulutnya karena berasa ingin muntah. Lalu kembali memuntahkan isi perutnya. Lagi. Yang tentu saja cuma cairan karena belum makan apapun.


Dengan sigap jemari Arion membantu memijat lehernya. Membuat Cindy merasa sedikit nyaman dan segera menyelesaikan mualnya. Senyum tipis menghiasi bibir perempuan muda itu.


"Cukup Rio...!", Cindy menegakkan tubuhnya. Sebelumnya mengusap bibirnya dengan air.


"Mau apa lagi ?", tawar Arion. Mereka saling berhadapan sekarang.


"Boleh aku pinjam bahu kamu ? aku lemas banget ", tatapan Cindy terlihat begitu sayu.


Arion mengangguk. Dengan cepat Cindy menjatuhkan kepalanya di bahu lebar lelaki itu.


"Thanks Rio... !", lirihnya. Arion hanya mengangguk dan bergumam.


"Hmmm...", di dekat telinga Cindy.


Beberapa saat mereka saling diam. Hingga kemudian Cindy menjauhkan kepalanya.


"Aku mau balik ke ranjang ", ujarnya.


Dengan cepat Arion mengangkat tubuh itu ke gendongannya.

__ADS_1


"Apa ini cukup membantu ?", tanyanya seraya melangkah.


Cindy tersenyum manis.


"Membantu banget. Thanks Rio !", seraya mendongak untuk memberikan ciuman di pipi Arion.


Lelaki itu tersenyum. Apalagi ketika tangan Cindy mengalung di lehernya.


"Bilang, mau apa lagi ?", katanya lagi.


"Mau minum jahe hangat, boleh ?", menatap Arion dengan sorot memohon.


"Tentu aja boleh tuan putri. Wait a minute, okay ?", perlahan menurunkan tubuh Cindy di ranjang.


Cindy mengangguk cepat. Senyum cerah menghiasi wajahnya, yang sudah tidak sepucat tadi.


*********


"Baby, come with me !", Kenan menarik tangan Adelia begitu gadis itu keluar dari kamar kecil.


"Kemana Ken ?", Adelia berdecak kesal. Tapi tetap saja mengikuti langkah lelaki itu.


Bagaimana tidak, lelaki itu sudah mengejutkannya. Sangat mengejutkannya. Dengan tiba-tiba ada di depan pintu begitu Adelia keluar. Lalu tanpa basa basi meraih tangannya dan memaksanya mengikuti langkah lebar lelaki itu.


Mereka ada dalam pesawat sekarang, Kenan bawa Adelia ke sebuah ruangan. Ruangan yang sepertinya akan Adelia gunakan untuk istirahat tadi. Apa yang akan dilakukan lelaki ini ?


"Kennn....", ucap Adelia begitu Kenan menutup pintu dan memojokkannya di dinding ruangan. Menahan pergerakan tangan dan kaki Adelia.


"Mau apa kamu ?", sedikit bergidik begitu menatap mata hazel yang kini menyorotinya tajam. Seolah hendak menerkamnya.


"Jangan macem-macem ya, aku tendang kamu nanti !", galak Adelia.


Karena memang Adelia ingin istirahat sekarang. Tidak ingin melakukan yang lain.


Kenan masih menyoroti wajah cantik itu. Tanpa ekspresi. Sebentar kemudian tergelak.


"Mau nanya, sayang, kenapa galak gitu sih ?", katanya lembut. Berbanding 180 derajat saat lelaki itu menarik tagannya tadi. Sungguh menyeramkan.


Adelia tarik tangannya yang di pegang Kenan. Di pukulnya lengan atas lelaki itu. Cukup keras.


"Dasar nakal ! Aku kira ada apa " , gadis cantik itu menghela lega. Sementara Kenan masih mengungkung tubuhnya.


"Kenapa, sayang ? Takut ? Aku nggak akan makan kamu ", Kenan pijit lembut hidung mancung Adelia.


"Kecuali ..... khilaf ", mata hazel itu mengedip nakal.


Langsung Adelia berikan pukulan di dada lelaki itu.


"Tadi nyeremin gitu ", bibir mungil itu manyun lucu. Spontan Kenan berikan kecupan lembut di sana.


"Ya udah lepasin, aku mau tidur, ngantuk !", rajuknya.


"Bentar baby, jawab dulu pertanyaan aku !",


balas Kenan.


"Apa ?", Adelia melipat tangannya di bawah dada. Kedua tangan Kenan melingkar erat di pinggang rampingnya.


"Kenapa terus hindarin aku ? Nggak mau dekat sama suami kamu ?", protesnya.


Mata hazel Kenan menatap tajam ke manik cantik Adelia. Kedua mata itu saling bertemu.


Adelia mengurai lipatan tangannya. Lalu menaruhnya di dada bidang lelaki yang masih sah sebagai suaminya itu.


"Apa ada pilihan, Ken ? Perempuan itu lebih butuh kamu, ada.....", ucapan Adelia terhenti begitu Kenan memotong kalimatnya.


"So, perempuan itu lebih butuh aku ? Kamu enggak ?", lelaki itu menekankan kalimatnya. Ada nada dingin di sana.


"No, Ken, not like that !", Adelia usap dada lelaki itu. Ada rasa bersalah, kenapa dengan bodohnya berkata seperti itu.


"Like what, baby ? Emang itu kan yang kamu bilang ? Kamu nggak butuh aku .....Okay ", lelaki itu melepaskan pelukan tangannya dari pinggang Adelia. Bahkan kini lelaki itu memundurkan tubuhnya, menjauh dari Adelia.


"Kennn....wait !", tahan Adelia.Tapi lelaki itu keburu membuka pintu.


"Aku ikutin mau kamu ", katanya sebelum pintu benar-benar tertutup. Membuat Adelia seakan terpatri di tempatnya berdiri.


Adelia menyandarkan tubuhnya pada pintu. Mendongakkan kepalanya dan menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.


"I'm sorry Kenn.....you'll know then ", lirihnya.


Di luar sana, di balik pintu yang sama, Kenan juga menyandarkan tubuhnya di sana. Kepala lekaki itu mendongak dengan mata terpejam.

__ADS_1


"I know baby. Tapi kenapa harus kamu yang mengalah, sayang ", gumamnya.


__ADS_2