Blind Date

Blind Date
114. Di ajak Ngedate


__ADS_3

Kenan sudah tampak rapi dan terlihat, hmm...sangat tampan. Tapi guratan wajah tampannya nampak keningnya berkerut, kepalanya celingak-celinguk mencari sesuatu.


"Baby, ngerjain aku ini pasti ", pikirnya begitu tak menemukan yang dicarinya. Menyambar sebuah kaca mata hitam yang tergeletak di meja, lalu bergegas melangkah menuju ke pintu.


Tersentak begitu menemukan sosok perempuan yang diharapkan, eh bukan....tidak diharapkannya sama sekali berdiri di depan pintu kamar. Dengan memamerkan senyum di bibirnya yang merah merekah


"Cariin ini ?", tanyanya seraya mengacungkan gawai di depan Kenan.


Lelaki itu tentu saja langsung mendengkus kesal.


"Give it to me !", pinta Kenan. Lalu berusaha meraih gawai itu. Tapi perempuan itu segera menjauhkannya.


Dan kini malah mendekap itu di dadanya. Yang tampak begitu menonjol karena mengenakan pakaian super ketat.


Ohhh...shitt ! , batin Kenan mengumpat.


"Ambil sini !", tantang perempuan itu. Kenan semakin mengumpat dalam hati.


"Catherine, balikin gawai aku !", dengkusnya kesal. Memberi penekanan pada ucapannya.


Perempuan itu terkekeh.


"No....kita pergi dulu, aku balikin entar !", balas Catherine seenaknya.


"Kenapa cemas begitu, aku nggak akan buka gawai kamu ", lanjutnya.


Tentu saja tidak bisa membukanya, Kenan sudah mengganti passwordnya. Kalau dulu Catherine bisa dengan leluasa membuka gawainya, tapi sekarang ? Never ! Gawai Kenan adalah privasi. Hanya dia dan istri cantiknya yang boleh tahu.


Tapi Kenan ingin menelepon istrinya sekarang. Damn...Catherine, kenapa menjengkelkan begini ?


Kenan berdecak.


"C'mon Cath, aku mau kasih tahu istri aku !", desak Kenan.


Catherine hanya mencebik. Tidak merubah posisi gawai itu. Masih menempel di dadanya.


"Enggak perlu, kita berangkat sekarang aja !", tolak perempuan itu. Sinis. Terlihat selalu tidak suka kalau membahas Adelia.


Gawai itu berdering keras. Tapi Catherine tampak tak peduli.


"Cath, give it to me !", desak Kenan. Karena dia tahu pasti istrinya yang menelepon. Perempuan cantik itu sudah lama menunggunya di taman belakang.


Tapi Catherine tetap tak peduli.


Kalau seorang lelaki pasti sudah Kenan tendang perempuan ini. Membuat emosi Kenan untabil saja.


"Ambil sendiri kalo mau !", perempuan itu membusungkan dadanya. Spontan Kenan mengalihkan pandangan.


"Damn... Cath !", umpatnya. Lalu segera melangkah mendahului Catherine.


"Ehhh... Ken, wait !", teriak perempuan muda itu seraya mengikuti langkah panjang Kenan.


Gawai yang dipegang Catherine kembali meraung keras. Kenan spontan berhenti. Dan menoleh ke sebelahnya dimana Catherine sudah mensejajarkan langkahnya.


"Cath, please !", mohonnya.


Perempuan muda itu mengedik. Mengangkat gawai ke atas dan menekan tombol reject.


"See....!", tunjuk Catherine.


Kenan berdecak marah.


"Damnnnn.....", kesalnya dalam hati.


Tapi perempuan muda di sebelahnya itu hanya terseyum. Terlihat puas sekali.


"So, let's go !", Catherine memasukkan gawai itu ke saku celananya. Bagian depan.

__ADS_1


Lalu meraih tangan Kenan dan melingkarkan lengannya di sana. Kenan berusaha melepaskan tangan perempuan itu. Tapi ucapan Catherine membuatnya tak berkutik.


"Kenapa bawel sih ? Aku cium entar ?", godanya.


Ancaman kuno, tapi bukan sekedar menggoda. karena Kenan tahu perempuan mantan sahabatnya ini tak pernah main-main.


Buktinya setelah itu perempuan itu berjinjit dan mencium pipinya. Tanpa sungkan.


"Mau lagi ?", katanya.


Kenan mendengkus kentara.


"Don't do it again, okay ? Atau aku nggak akan.....", marahnya.


"Okay....okay...", sahut Catherine. Kembali melingkarkan tangannya di lengan kokoh lelaki itu.


Sementara lelaki yang mendongkol itu berjalan dengan tempo cepat. Biar saja perempuan yang menggelayut di tangannya ini kewalahan mengikuti langkahnya. Kenan tak peduli.


Tanpa mereka sadari sepasang mata hazel mengamati mereka berdua dari balik dinding. Tersenyum tipis, lalu melangkah menuju ruang lift.


**********


Adelia tak habis pikir kenapa gawai suaminya di bawa perempuan itu. Kok bisa ? Mudah saja Adelia tebak, pasti perempuan itu adalah Catherine.


Adelia juga tahu kalau suami dan perempuan itu pasti pergi ke dokter. Untuk cek kandungan dan sekaligus tes DNA. Mengingat itu hati Adelia mendadak nyeri.


Benarkah perempuan itu akan bertindak jujur nanti ? Apa Kenan bisa menangkap basah perempuan itu kalau saja prasangka Adelia benar tentang kecurangannya ? Pikiran itu kini sedang berkecamuk di kepalanya.


Sebentar kemudian mata gadis itu berbinar. Lalu meraih gawainya yang dia taruh di sebelahnya. Kemudian menghubungi seseorang.


"Ada tugas buat kamu ", katanya begitu sambungan terhubung.


"Okay, aku DM ", kata Adelia lagi.


Sebentar mengotak-atik kembali gawainya. Tersenyum tipis ketika mendapati yang dia mau. Lalu menekan tombol kirim. Perempuan cantik itu tersenyum. Mengetikkan sesuatu, cukup panjang lalu kembali menekan tombol send.


"So, di sini rupanya gadis cantik menyendiri ?", suara bariton seorang lelaki terdengar di sebelahnya.


Spontan Adelia menoleh. Bibir mungil gadis cantik itu melongo karena terkejut.


Lelaki ini, Kenan ? Ahhh....bukan, sepupu Kenan, kenapa sangat mirip dengan suaminya ? Mereka seperti pinang di belah dua. Sangat mirip. Karena sekarang cambang dan kumis lelaki ini dicukur bersih.


Aiiihhh.....rupanya setelah Adelia meninggalkannya di taman belakang tadi, lelaki ini membersihkan dirinya.


Dan kini menyusulnya di taman samping mansion. Huft ...tahu saja lelaki ini kalau dia ada di sini. Batin Adelia.


"Kennn...", tak sadar bibir gadis itu menggumam.


Lelaki itu terkekeh. Lalu melewati tubuh Adelia dan duduk tepat di kursi depan perempuan cantik itu.


"Terpesona sama ketampanan aku ?", mata lelaki itu mengedip nakal. Menaruh jari telunjuk dan jempolnya di dagu.


"Remember, my name is Kendra, not Kenan ", tegasnya.


Adelia mengerjapkan matanya berkali-kali. Segera menutup bibirnya yang terbuka. Dan mencebik menggemaskan.


"Ge-er !", ketusnya.


Lelaki yang mengaku bernama Kendra itu terkekeh.


"Awas loh, bibir aku suka khilaf kalo ada bibir kebuka kayak begitu. Pengen cium bawaannya !", goda lelaki itu.


Bibir mungil itu semakin mencebik.


"Pengen tahu rasanya ini ?", Adelia mengangkat kepalan tangan kanannya.


Lelaki itu langsung mengangkat tinggi kedua tangannya.

__ADS_1


"No baby, no, pasti sakit tuh ", pura-pura memelas, tapi terlihat sangat menyebalkan di mata Adelia.


"By the way, udah ketemu Kenan ?", tanya Adelia.


Lelaki itu menggeleng.


"Kemarin mau ketemu, tapi karena lihat dia lagi sama cewek, ya udah aku batalin ", balasnya.


Lalu menatap Adelia penuh selidik.


"Something wrong with the both of you ?", seraya menaikkan sebelah alisnya.


Adelia menggeleng cepat. Tapi nampak menghela berat.


Lelaki muda yang duduk di depannya itu tersenyum meledek.


"Really ?", tanyanya tidak percaya sama sekali.


Bibir mungil itu mencebik dan bahunya mengedik.


"Of course ", singkatnya.


Lelaki yang mengaku bernama Kendra itu tergelak.


"Bad liar ", gumamnya.


Mata cantik Adelia membeliak.


"Whatever ", balasnya.


Spontan lelaki itu beranjak. Lalu mengulurkan tangannya ke arah Adelia.


"C'mon, aku anterin kamu !", katanya.


Adelia terkekeh.


"Kemana ?", tanyanya. Dahinya mengernyit.


Kendra berdecak lirih.


"Nyusulin suami kamu lah, emang kemana ?", ucapnya.


"Don't lie to me, okay ? orang buta aja bisa lihat, ngapain kamu biarin suami kamu pergi berdua sama perempuan lain kalo kalian nggak ada masalah ?", selidiknya.


"She's Kenan's best friend, what's wrong with that ?", bela Adelia.


Kembali lelaki itu tergelak.


"Who's the most important ? Wife or friend ?", pancingnya.


Adelia diam. Menatap jauh ke depan sana, ke arah halaman mansion yang sangat luas itu.


Pada saat ini tentu saja perempuan itu lebih penting, maksudnya menyelesaikan masalah dengan perempuan itu lebih penting. Agar semuanya jelas.


"Hallooo.....!", Kendra melambaikan tangannya di depan wajah Adelia. Membuat gadis cantik itu sedikit tergagap. .


"Wh.....what ?", tanyanya sekenanya.


Kendra berdecak lirih. Masih berdiri di sebelah kursinya tadi. Lelaki itu melipat tangannya di dada.


"Kita susul si mesum. Penasaran aku, kenapa ninggalin istri cantik begini sendiri ? Aku tikung baru tahu rasa dia ", katanya seraya mengerling nakal.


Bibir mungil itu masih tertutup rapat. Tapi dengkusan lirih terdengar. Apalagi ketika lelaki tampan di depannya itu kembali berucap.


"Atau kita ngedate aja ? That's a Good idea, isn't it ? What do you think, honey ?", kedua alis lelaki itu bergerak naik turun. Bibirnya tersenyum penuh rencana. Senyum mesum.


Spontan Adelia berdiri, melipat kedua tangannya di bawah dada. Senyum tipis menghiasi bibir mungilnya.

__ADS_1


"Uhmmm.....not bad !", balasnya.


__ADS_2