
"My god.....what should I do without you, baby ?", lirih Kenan. Beberapa kali lelaki itu menjedukkan kepalanya ke kemudi. Menyesali semuanya memang tiada berguna.
Tapi sungguh, Kenan idak menyangka kalau masalah sampai melebar seperti ini. Ia kira sudah tak masalah selama istrinya percaya padanya. Ternyata tak sesimpel itu. Kekhawatirannya kini terbukti.
Baru saja Papa dan mama mertuanya mendudukkan dia layaknya tersangka. Kedua mertuanya sudah tahu tentang masalah yang menimpa rumah tangganya.
Kehadiran perempuan yang mengaku hamil anaknya sudah sampai ke telinga mereka. Bahkan ke media.
Tadi pagi Papa Bram dengan jelas membacanya di head line surat kabar. Untung saja beliau segera mengambil tindakan. Mendatangi sumber berita dan meminta menarik itu dari peredaran. Begitu cerita yang Kenan dengar.
"Kenapa Kenan nggak di kasih tahu, Pa ?", sesal Kenan tadi.
Masih menurut mertuanya, itu yang terbaik yang bisa segera dilakukan. Sebelum berita meluas memenuhi seluruh kota.
Dan apa konsekwensinya ? Putri kesayangan semata wayangnya, yang merupakan istri cantiknya harus pergi meninggalkan mereka.
Direktur media, entah apa maunya, memberikan syarat konyol seperti itu. Tentu saja yang satu itu dirahasiakan dari Kenan.
Papa dan Mama Adelia cuma mengatakan kalau putrinya ingin melanjutkan studinya. Dan meminta Kenan menyelesaikan masalah dengan perempuan itu dulu.
"Nggak ada cara lain, Ken, biarin Adel lanjutin sekolahnya sampe situasi kondusif ", ucap papa Bram tadi beralasan.
Kenan memukulkan tangannya ke kemudi.
"Shittt...!", umpatnya seraya mengusap wajahnya kasar.
"Jangan ganggu Adelia sebelum masalah ini beres, okay !", pesan papa Bram yang membuat Kenan tak bisa berkutik.
Bukankah ini artinya Kenan dilarang bertemu dengan istri cantiknya ? Apa-apaan ini ?
Really ....really .....nightmare ! Hati Kenan menggerutu.
Bahkan keberadaan istrinya saja Kenan tidak tahu sekarang. Papa Mama mertuanya tak memberitahunya. Huft .... kejam sekali mereka !
"But Pa..... I can't ....Ken nggak bisa .....!", melas Kenan.
"Ken...please ....help your wife !", Mama Rose dengan tatapan memohon.
Membuat Kenan mau tidak mau menyetujui permintaan mereka. Padahal dalam hati Kenan akan segera mengejar istrinya. Sampai ke ujung dunia sekalipun.
Tapi mendengar ucapan Papa dan Mama mertuanya, hati Kenan jadi menciut juga.
"Remember, selesaiin masalah ini dulu atau istri kamu akan marah !", ingat mereka.
"Promise us, son !", bahkan mereka memintanya berjanji. Dengan berat, sangat berat Kenan akhirnya menyetujui.
"All right Pa, Ma. I'll try ", kata Kenan akhirnya.
Today, tapi nggak janji buat besok. Batinnya meneruskan.
"Baby, kenapa kamu pergi kayak gini ?", seraya kembali menelungkupkan wajahnya di atas kemudi.
"Bener kamu akan marah kalo aku temui ?", gumamnya.
"Arrggghhhh......", lelaki itu menggeram keras. Tangannya memukul-mukul kemudi hingga memerah. Sebentar terdiam, tak ada pergerakan.
Tak lama kemudian kepalanya mendongak. Menatap lurus ke depan sana. Terlintas bayangan istrinya tersenyum manis ke arahnya.
"Baby.....that's you ?", gumamnya seraya mengerjapkan mata beberapa kali. Mendesah berat, ternyata cuma lalu lalang mobil yang tampak di di depan sana. Bukan istri cantiknya.
No Ken.....kamu nggak boleh lemah !
Kamu harus beresin ini secepatnya !
__ADS_1
Kamu harus segera nemuin istri kamu !
Dengan cepat Kenan meraih gawainya dan menghubungi seseorang.
"Cek jadwal penerbangan hari ini !", perintahnya dari balik gawai. Lalu menutup sambungan telepon begitu terdengar balasan dari seberang sana.
Kembali Kenan mengotak-atik gawainya. Menghubungi seseorang lagi.
"Selidiki perusahaan surat kabar xxxx, kabari aku secepatnya ", perintahnya lagi.
Mematikan sambungan sepihak begitu balasan dari seberang sana terdengar.
Kembali mengotak-atik gawainya. Tapi keburu terdengar dering masuk lebih dulu.
"Apaan sih, Cabulll ?", gerutu lelaki itu sebelum menerima panggilan.
"Woiii, Ken, buruan ke sini, there is a good news !", suara keras terdengar dari seberang sana.
"Ada spa ? buruan bilang, aku ada urusan ! ", sahut Kenan.
Suara decihan terdengar dari seberang sana.
"whatever, ke sini atau kamu nyesel nanti !", gertak suara di sana.
"Asssemmm ya, Ndra....apaan ..", belum juga selesai berucap, suara Kenan terhenti begitu terdengar suara dari seberang sana.
"Aku sharelok ", lalu sambungan terputus dari seberang sana. Langsung saja kata umpatan keluar dari bibir suami Adelia itu.
"Dasar cabul gila !", kesalnya.
Sebentar kemudian notifikasi terdengar dari gawainya. Dengan ogah-ogahan melihat pesan itu.
"Awas aja kalo bohong, aku kebiri kamu !", ancamnya. Lalu segera menyalakan mobilnya dan melaju kencang.
"I got you ...!", gumam lelaki tampan itu begitu selesai membidikkan kamera. Fokusnya masih tertuju pada seorang lelaki dan perempuan yang kini saling berpelukan.
"Jhon....", panggil perempuan itu seraya memeluk lelakinya.
"I Miss you, Cath ?", balas si lelaki seraya balas memeluk tubuh perempuannya erat.
Lalu melabuhkan ciuman di bibirnya begitu menjauhkan pelukan mereka.
"Gombal .. !", manja si perempuan.
Si lelaki tergelak.
" I miss everything.....about you ", bisiknya di telinga si perempuan. Seraya menarik kursi untuknya.
"Thank you ", ucap perempuan muda itu. Sedikit tersipu. Terlihat dari pipinya yang merona.
Lelaki yang berperawakan tidak tinggi dan juga tidak pendek itu mengangguk. Lalu mengambil tempat duduk, tepat di depan perempuannya. Diraihnya jemari perempuan itu.
"Pengen makan apa ?", tanyanya.
Perempuan itu menggeleng.
"No, just drink ", balasnya.
Lelaki itu tersenyum.
"Kenapa sayang ? C'mon, be happy, aku udah beresin masalah kamu", ujarnya.
Perempuan itu langsung tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Really ? Dia udah pergi ?", riangnya.
Lelaki di depannya itu mengangguk. Lalu membawa jemari si perempuan untuk di kecupnya.
"Are you happy now, darling ?", seraya tersenyum penuh arti.
Si perempuan langsung mengangguki.
Lelaki itu terkekeh.
"So, makan yang banyak, biar sehat ", menatap si perempuan penuh perhatian.
"Okay, aku mau makan sampe puas hari ini. Pesenin makan ", manjanya.
Si lelaki tergelak.
"Of course, honey. Bentar lagi pasti datang, your favourit food ", tangannya bergerak membelai rambut si perempuan. Turun ke pipinya dan memainkan jemarinya di sana.
Sesekali perempuan itu memejamkan matanya menikmati sentuhan itu. Mata bulat itu kembali terbuka begitu si lelaki berucap.
"Bagaimana kondisi baby k ..... ehmm .", belum selesai perempuan itu sudah membungkam bibir lelakinya dengan telapak tangan.
"Don't talk about that in here ! Aku takut ada yang ngawasin kita ", ingat si perempuan setengah berbisik.
Lelaki muda itu menaikkan sebelah alisnya.
"Why ? Ada yang ngikutin kamu ?", herannya.
Perempuan cantik di depannya itu mengedik.
"Maybe. Sedari di mall tadi, kayaknya ada seseorang ngikuti aku ", terangnya.
"Kenan ?", tebak si lelaki.
Perempuan itu menggeleng cepat.
"Of course not, but there is someone else ", akunya.
Terdengar gawai si lelaki berdering. Sebentar memberi tanda kepada si perempuan untuk menerimanya lebih dulu. Perempuan itu menyetujui.
Beberapa saat lelaki itu berbincang dengan seseorang. Tersenyum puas begitu sambungan telepon di tutup.
"Kamu bisa tenang, darling. Penguntit kamu udah di atasi anak buah aku ", ucapnya.
Perempuan muda itu mengernyit.
"Siapa dia ?", tanyanya penasaran.
"I don't know yet. Bentar lagi orang aku pasti kasih kabar", yakinnya.
Spontan si perempuan berdiri. Lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, ke arah lelakinya.
"Thank you so much !", Izlalu menempelkan bibirnya di bibir lelaki itu.
Dari balik kamera rekam, pada posisi lumayan jauh, di sisi resto yang lain, nampak bibir seksi lelaki yang menyaksikan pemandangan itu spontan berseru.
"Whoa....whoa......busyetttt !", disertai kekehan.
"So agresive !", katanya masih terkekeh.
Terdiam seketika begitu sebuah tangan menepuk bahunya dan suara bariton berucap
"Gotcha !"
__ADS_1
.