
"Yakin orang kamu bisa kalahin sepupu Kenan ?", tanya Catherine.
Jhon tersenyum dan menoleh. Keduanya berjalan beriringan menuju teras rumah besar itu.
"Tentu saja sayang, kamu raguin aku?", seraya melingkarkan tangannya di pinggang ramping dokter muda itu.
Catherine terkekeh. Balas melingkarkan tangannya di pinggang Jhon.
"Not at all, Jhon. Cuma mastiin aja", balasnya.
Jhon yang ganti tergelak.
"Of course, my love, I know you believe me", seraya mengeratkan pelukan di pinggang wanitanya.
Sesaat menghentikan langkahnya dan membawa tubuh Catherine agar menghadap ke arahnya.
"U see honey, aku udah blokir akun si sialan itu, bersihin semua berita menyebalkan di media. And now, It's time to celebrate", ucap Jhon seraya mencubit mesra hidung mancung Catherine.
Catherine tersenyum. Pipinya tampak merona.
"Mau kemana? Rayain di mana ?", tangannya bergerak mencubit mesra perut rata Jhon.
Jhon tersenyum penuh arti.
"Rahasia ", godanya.
Membuat bibir Catherine mencebik manja.
"I tell you later, darling....now, follow me, okay !", menoel mesra bibir Catherine.
"Uhmmmm.....okayy....", balas Dokter muda itu dengan mata berbinar.
Jhon mengangguk cepat. Lalu meraih bibir Catherine mesra. Dan pada detik selanjutnya bibir mereka saling menempel dan berpagut penuh gelora.
"Whoa.....whoa....whoa.....surprise !", suara bariton terdengar, membuat keintiman kedua anak manusia itu terhenti.
Jhon melepas pagutannya dan menatap ke arah suara dengan ekspresi terkejut. Lalu berubah menjadi kesal. Sama halnya dengan Catherine.
"You are......again !", Catherine dengan mata membulat. Dilihatnya Kendra tengah berdiri dengan bersandar pada dinding besar teras rumah.
"Jhon... dia !", rajuknya pada lelakinya.
"Calm down, honey !", hibur Jhon.
"Biar aku urus dia", lanjutnya.
Jhon mengambil sesuatu dari saku jasnya. Tampak tangannya menekan sesuatu. Beberapa kali, tapi tak ada apapun yang terjadi. Jhon menatap ke arah samping rumah. Mimik tegang nampak di wajahnya.
"Jhonnn....what's going on ?", tanya Catherine.
Lelaki itu menggeleng cepat. Tapi tak dapat ditutupi ketegangan itu masih membayang di wajahnya.
"No ..... nothing....!", berusaha menyembunyikan dari Catherine. Kembali jemarinya berusaha menekan sesuatu.
Kendra tersenyum meledek.
"Don't try so hard, man ! it's useless ", ujarnya.
"Look at there !" , lanjut Kendra.
Jhon mendengkus jelas. Lalu mengalihkan pandangan ke arah yang di tunjuk Kendra.
Mata lelaki itu membulat sempurna. Umpatan kasar langsung keluar dari mulutnya.
"Berengsek...... !", marahnya.
Terlihat anak buahnya diikat dengan tali besar bagai onggokan kayu. Ada satu, dua, tiga, ahhh ..... lima ikatan besar. Di tengah halaman rumah besarnya.
"Jhon....", Catherine menyentuh lengan lelaki yang terlihat sangat kesal itu.
Jhon hanya menggeram. Bahkan tanpa sadar menepis tangan Catherine. Kasar. Terhenyak sesaat begitu menyadari apa yang dilakukannya.
"Hmm....I'm so sorry, Cath....aku nggak bermaksud .....", katanya dengan rasa bersalah.
Catherine menggeleng pelan.
"No problem, Jhon. It's okay", ucapnya.
Perempuan muda itu nampak menghela pelan.
"So, apa yang akan kamu lakuin ?", pasrahnya.
"Biar aku hadapi dia !", seraya mengepalkan kedua tangannya hingga terlihat ruas buku jarinya.
"Are you sure ?", Catherine menyakinkan.
Lelaki itu mengangguk cepat.
"Be careful !", ucap Catherine lagi.
__ADS_1
Menatap Jhon sedikit dengan mimik cemas.
"Sure !", balas Jhon.
Melabuhkan kembali.kecupan di bibir Catherine sebelum melangkah dengan gagah menghampiri Kendra.
"C'mon, lawan aku !", tantangnya. Siap dengan posisi kuda-kuda.
Kendra yang semula bersandar menegakkan tubuhnya. Lalu memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Wokey, let's get started !", balasnya.
Tanpa menunggu lama, Jhon segera menyerang.
"Hyaaaaa....", suara teriakan keras mengawali serangannya.
Kendra masih dengan santainya menghindar. Menggerakkan tubuhnya ke depan, belakang maupun samping. Tanpa balas menyerang. Tangan lelaki itu masih tersimpan rapi di saku celananya.
Jhon semakin intens menyerang. Tempo serangannya bertambah cepat. Terus merangsek Kendra.
"Ahhhh......shittts !", gumam Kendra.
Merasa kewalahan, Kendra balas menyerang. Tapi naas, sebuah bogem mentah Jhon berhasil bersarang di perutnya karena terlambat menghindar.
"Ougghhhh.....!", lenguhnya
Jhon terkekeh dengan pongah.
"Gimana rasanya ? enak ?", ledeknya
Kendra menyerai geram. Berusaha menegakkan tubuhnya.
"Huft.....not bad.....", sedikit meringis menahan sakit.
Begitu posisi tubuhnya sudah tegak, lelaki itu senyum mencibir.
"Cuma segitu ?", ledeknya ganti.
Dalam hati Kendra mengakui, pukulan lelaki itu lumayan kuat. Buktinya dia sampai mengerang kesakitan.
Jhon tersenyum miring.
"Okay, bersiaplah jerk !", tantangnya.
"Aku buat nggak bisa bangun kamu ", lanjutnya.
Kendra berdecih.
Jhon segera melesat tinggi ke udara. Dan kemudian dengan gerakan cepat menukik ke bawah, tepat tertuju pada tubuh Kendra.
"Habis kamu noob !", serunya.
Bola mata Jhon membulat begitu
pukulannya tidak mengenai sasaran.
"Damnnnn.....!", umpatnya seraya meninju ruang kosong. Lalu kembali mendarat ke lantai.
Sesosok bayangan telah menyambar tubuh Kendra, membawanya berguling ke samping menghindari serangannya.
"Mesum gila, kemana aja kamu ?", seru Kendra seraya melompat bangkit.
"Are you okay ?", suara bariton membalas.
Kendra berdecak.
"Of course I'm okay ! See ! ", balasnya.
Dengan dengkusan lirih.
"Sekarang giliran kamu, finished him !", tunjuknya pada Jhon.
"Kenan.....!", seru Catherine tertahan. Tentu saja lelaki yang dipanggil namanya langsung menoleh ke arahnya dengan pandangan meledek.
"Hi....how are you, darling ? Do you miss me ?", sapa Kenan dengan kerlingan mata.
Jhon menoleh sarkatis, menatap Catherine dengan sorot tajam. Lalu beralih ke arah Kenan dengan sorot tak kalah menusuk. Sebentar kemudian lelaki itu bertepuk tangan dan berseru.
"Whoa.....whoa.....kebetulan banget, sudah lama aku nungguin moment ini ", ucapnya.
"Kenan......si penakhluk wanita", ledeknya.
Kenan terkekeh.
"Ha.....ha.....really ? Any problem with that ?", balasnya.
Jhon mendengkus jelas.
"Big problem actually, but... we'll finished today ! ", tegasnya.
__ADS_1
Kenan melipat tangannya di dada.
"Must be satisfied.....let's start the party, bro !", balasnya.
Jhon menyeringai.
"Absolutely.....c'mon man, you can attack me first !", tantangnya.
Kenan tergelak.
"Okay, aku suka jadi yang pertama ", ujarnya.
"That's right, Cath ?", mata lelaki itu mengedip nakal ke arah Catherine, lalu dengan cepat melompat ke udara.
Rahang Jhon mengeras, muka lelaki itu memerah. Dengan sekali hentak tubuhnya melompat ke udara menyambut serangan Kenan.
Pertarungan seru terjadi di udara.
"Jangan bilang kamu yang udah ngehack data aku ! ", ujar Jhon seraya menyerang agresif.
Kenan terkekeh sembari memberikan balasan serangan cepat.
"Ha....ha.....are you kidding ?", dengan santainya.
Jhon menggeram marah. Mengarahkan pukulan tangannya ke tubuh Kenan. Keras.
"Oopppsss........lolos !", ledek Kenan.
"Shittt....!", umpat Jhon.
Tubuhnya menukik ke bawah karena kehilangan keseimbangan. Akibat pukulan kerasnya menerpa tempat kosong. Sebelum kakinya mendarat di lantai teras, kaki panjang Kenan menghalau kedua kakinya. Dannn.....
"Arghhhhh......damn !", teriakan keras disertai umpatan begitu tubuh Jhon jatuh ke lantai dengan keras.
"Jhonnnn....!", pekik cemas Cathaterine seraya berlari menghampiri.
"Whoa....kenapa cemas begitu Cath ?", seru Kenan dengan eksyen wajah menirukan ekspresi Jhon. Meringis kesakitan.
Lalu menaikturunkan alisnya dengan senyum meledek.
"Baby kamu nggak akan kehilangan Daddy, paling cuma luka doang", lanjutnya.
Catherine mendengkus kesal.
"What do you mean ? Ini baby kamu Ken !", sungutnya.
Kenan tergelak. Disusul gelak tawa Kendra yang tengah asyik bersandar di tiang teras dan memainkan gawainya.
"Bikin babynya sama siapa, ngakunya anak siapa ?", celetuk Kendra.
"Absolutely right, Ndra, tumben cerdas kamu !", ledek Kenan.
Sambil melihat Kendra dengan ujung matanya.
Di balas Kendra dengan acungan jempol ke udara.
Jhon melompat cepat. Lalu berdiri tegak di depan Kenan.
"Lelaki gentle nggak pernah mungkir dari tanggung jawab ", cibirnya.
Kenan bersidekap.
"Who is that ? You ?", tanyanya balik. Sebentar meraih sesuatu dari saku celananya. Menekan benda kecil itu di depan Jhon dan Catherine. Lalu terdengar jelas suara.
"Jhonnnn.......buruan beresin lelaki itu !"
"By the way, how about the baby ? His or my nephew's ?"
"Stupid .... what are you talking about ? Of course, That's Jhon's !"
"Absolutely, darling !"
Suara itu terhenti begitu Kenan kembali menekan sesuatu di tangannya.
"So, what do you want to say ?", tanyanya seraya menaikkan sebelah alisnya.
Mata Catherine membulat sempurna. Tiba-tibs perempuan muda itu seperti gagu. Mulutnya terasa berat berucap.
"Uhmmmm......itu.....itu ...!", gumamnya.
Kenan hanya mengedikkan tangan dan bahunya. Membuat Catherine semakin kelimpungan.
"Uhmmmmm... nnn.....no....not like that, that wasn't me, Ken !", belanya.
"Really ?", Kenan dengan cueknya.
Dokter muda itu tampak gugup sekali. Bahkan dari keningnya tampak mengalir keringat dingin. Jhon tak kalah kaget. Dia hanya terpaku diam seperti patung di dekat Catherine.
Keduanya spechless beberapa saat, bingung harus berucap apa. Mereka benar-benar mati kutu.
__ADS_1
"Kennn.....itu bukan aku, do you believe me, all right ?", ucap Catherine dengan nada memelas. Masih berusaha menyakinkan Kenan. Bahkan melangkah mendekati lelaki itu.
.