Blind Date

Blind Date
157. Butuh sendiri


__ADS_3

"Ngapain kamu di sini ?", tanya Kenan.


Lelaki itu masih mengenakan bathrobe.


Susan berjingkat kaget. Karena tiba-tiba lelaki itu sudah ada di belakangnya. Sekaligus melongo melihat ketampanan lelaki yang baru keluar dari kamar mandi itu. Dengan tetesan air di rahang tegasnya, rambut hitamnya yang basah, menambah kesan macho dan jantan saja. Setidaknya itu yang dipikirkan Susan.


"Aku....egh...saya.....", Susan tergagap. Bersamaan dengan itu dua asisten rumah muncul .


"Tuan muda, makan pagi untuk anda", kata salah satu dari mereka.


"Eghhh....iya, aku mau nganterin ini tadi ", jawab Susan menengahi. Lalu meraih nampan yang di pegang salah satu asisten dan membawanya ke meja di kamar itu.


Kedua asisten saling berpandangan, lalu seorang asisten lagi yang masih membawa nampan ikut menaruh itu di meja, melakukan yang sama dengan Susan.


"Kami permisi tuan muda ", pamit kedua asisten perempuan itu.


Kenan mengangguk.


"Wait....!", tahannya. Sepertinya hendak menanyakan sesuatu.


"Ada yang bisa kami bantu tuan ?", tanya salah seorang dari mereka. Dengan mimik takut-takut.


"Hmmm.....just forget it , kalian bisa pergi !", Kenan mengurungkan niatnya.


"Baik tuan !", keduanya mengangguk hormat dan segera berlalu menuju pintu keluar.


Susan segera menutup pintu.


"Gimana, masih sakit ? Aku bantu kamu makan ", tawarnya.


Kenan mengernyit dalam.


"Dari semalam kamu di.sini ?", tanyanya.


"Heem.....temeni kamu..", Susan mengangguki.


Kenan membulatkan mata hazelnya.


"Kamu tidur di kamar aku ?", tanyanya lagi. Mau aku sih begitu. Bodyguard kamu tuh overprotect. Batin Susan menggerutu.


"Kamu dengar aku ?", ulang Kenan.


Susan gelagapan.


"Ohh...of course not Ken.....aku cuma bantuin kamu, kompres luka kamu ", sambil menunjuk ke wajah Kenan yang sedikit memar karena pukulan para preman semalam.


"Really ?? Thanks...", Kenan melangkah menuju ke sofa. Duduk di sana. Matanya memandangi berbagai menu di meja.


Susan segera mengikuti. Duduk di sofa tepat di hadapan lelaki tampan itu.


"Aku lapar ", ucap Kenan. Masih memandangi makanan di depannya. Kenapa sepertinya lama sekali dia merasakan makan di rumah. Berdua.


Seandainya istrinya ada, pasti Kenan akan minta disuapi.


Arghhh.....Kenan kangen sekali pada istri cantiknya itu, tapi.......apa yang dilihatnya ? Damn.....!!! Membuat Kenan naik pitam saja. Siapa sebenarnya yang ingin mengacaukan rumah tangganya ? Siapa lelaki yang bersamanya ? Pikiran Kenan memanas setiap mengingat itu.


"Mau aku bantuin ? ", suara Susan mengejutkannya. Perempuan muda itu menyodorkan potongan buah ke mulut Kenan dengan garpu.


Kenan menggeleng.


"No, aku bisa sendiri. Kamu makan aja, temeni aku !", pintanya. Lalu meraih sebuah apel merah dan menggigitnya.


Susan tersenyum.Tentu saja senang sekali memenuhi permintaan lelaki di depannya ini. Menemaninya makan. Karena itulah yang dia inginkan. Bahkan lebih dari itu juga Susan mau Menemaninya tidur misalnya.


"Sure, dengan senang hati. Uhmmm....kamu udah baikan ?", tanyanya.


Kenan tersenyum miring.

__ADS_1


"Emang aku sakit ? I feel better right now", balasnya. Lelaki itu asyik menikmati apel di tangannya.


Susan tersenyum.


"Syukurlah.....", menghembuskan nafas lega.


"Aku tahu kamu terluka. Tapi jangan khawatir, aku akan obatin itu".


Batinnya melanjutkan.


*******


"Ka....kamu lagi ?", Adelia membulatkan matanya.


Lelaki yang menjadi sopir taksi itu tergelak, lalu melepas topi yang dia gunakan untuk menutupi wajahnya ke jok kosong di sebelahnya.


"Terciduk juga akhirnya", kekehnya.


"Huh....dasar ! Kamu ngikutin aku ?", tuduh Adelia.


Lelaki yang tak lain adalah Bryan itu semakin terkekeh.


"No way, girl.....aku kan emang mau pulang. Gak tahu juga kok bisa samaan, padahal gak janjian kan?", akunya.


Bibir Adelia mencebik. Bryan amati dengan senyum dari balik spion.


"You're a liar ", ketusnya.


"So, sejak kapan jadi sopir taksi ?", lanjutnya menginterogasi.


Bryan semakin tergelak.


"Iseng aja tadi, kan gak mau ngrepotin orang rumah, yahhh terpaksa deh nyewa taksi", terangnya.


Adelia semakin mencebikkan bibirnya.


"Dasar tukang boong !", oloknya.


"Tapi ada bagusnya loh jadi sopir taksi, bisa ketemu gadis cantik yang lagi ngambek ", godanya.


"Heh ...siapa yang ngambek ? Aku mau turun", rajuk Adelia.


"Sorry....sorry girl, just kidding", Bryan mengangkat sebelah tangannya.


"It's okay, tapi turunin aku di taman depan", pinta Adelia.


"Are you sure ?", yakin Bryan.


"Hemm....", Adelia mengangguki.


Bryan menghentikan taksi yang dikendarai di depan taman.


"Mau aku temenin ?", tawar Bryan.


"No, thanks !", singkat Adelia. Lalu bergegas turun.


"Adel....wait !", Bryan dengan cepat membuka pintu mobil, keluar dan segera menghampiri Adelia.


"Ngapain ?", Adelia penuh tanya.


Bryan tatap mata cantik itu dalam.


"Aku selalu siap bantuin kamu", ucapnya tegas.


Bibir mungil Adelia tersenyum.


"Thanks Bry, tapi ..... aku butuh waktu buat sendiri", balas Adelia.

__ADS_1


Bryan menghela berat.


"Okayy....call me anytime you want, girl !", katanya.


"Hemmhh..", Adelia mengangguki. Lalu melangkahkan kakinya masuk ke area taman kota.


Bryan pandangi tubuh cantik itu yang semakin menjauh. Bibirnya menyunggingkan senyum.


"Aku akan temani kamu baby girl, dengan atau tanpa sepengetahuan kamu sekalipun ", lirihnya.


***********


"Istriku gak akan bilang ke nona Adelia kan, tentang kejadian semalam ?", tanya Nino pada Ina. Istrinya sekaligus teman kuliah Adelia dulu. Mereka sedang bercengkarama di taman belakang pavilium tempat tinggal mereka. Di area mansion Kenan.


"Tentu aja enggak suamiku, aku gak mau Adelia sedih ......meskipun lambat laun dia akan tahu juga ", balas Ina.


"Lebih baik dia tahu sendiri nanti. Tapi istriku.....ngerasa aneh gak kenapa tuan Ken ngelakuin itu ?", heran Nino.


"Iya juga sih ", Ina menyetujui itu.


Sejak dekat dan menikah dengan Adelia Kenan memang sudah tidak pernah ke club lagi. Tidak mabuk lagi. Tapi kenapa sekarang lelaki itu melakukannya.


"Apa karena perempuan itu ya ?", guman Nino seakan bicara sendiri.


"Yang suamiku bilang sekretarisnya itu ?", yakin Ina.


Nino mengangguki.


"Coba tanya si ganteng.... eh maaf suamiku ", ralat Ina sambil cengar cengir begitu suaminya cemberut.


Nino kebaratan kalau Ina memanggil Kenan ganteng, seperti cara panggilnya pada Kenan sewaktu kuliah dulu. Nino bilang cemburu.


"Aku maafin, jangan ulangin lagi !", rajuk Nino.


"Iya...iya, maaf ", Ina menggelayut mesra di lengan Nino. Lelaki itupun tersenyum akhirnya. Lalu mengelus kepala istrinya lembut.


"Coba tanya tuan Ken, suamiku kan dekat sama dia ?", Ina membuka omongan lagi.


Nino menghela pelan.


"Gak enaklah istriku, kan itu privasi tuan Ken ", balas Nino. Tangannya berpindah mengelus bahu Ina yang masih menempelkan kepala di pundaknya.


"Iya juga...uhmmm....apa aku tanya Adelia ya suamiku, ada masalah apa sebenarnya ?", usul Ina.


Nino menghembuskan nafas berat. Sebelum angkat bicara, terdengar dering gawai. Milik Ina.


Perempunan yang tengah hamil muda itu mengangkat kepalanya. Meraih gawainya yang tergeletak di depannya, di meja taman.


"Adelia....", girangnya begitu melihat nama si penelepon.


"Hallo Adel sayang....aku kangeennnn ", rengek Ina.


Suara balasan dari seberang sana membuat bibir Ina tersenyum lebar. Matanya saling pandang dengan suaminya.


"Baby aku sehat, Ahamdulillah, papa mamanya juga sehat, semua sehat ", tuturnya.


Nino elus perut istrinya perlahan yang sudah tampak membuncit itu dengan sayang.


Ina mendengarkan ucapan Adelia dari seberang sana dengan seksama.


"Masih di negeri jiran kah? ", tanyanya kemudian.


"Aaaaaa....wh.....what ....kenapa gak bilang ?", girang Ina. Bahkan bangkit dari duduknya. Hampir saja melompat kalau tidak dipegangi suaminya.


.


"Uhmmm....okay....okay...", Ina setengah berbisik. Nada suaranya merendah seketika setelah mendengar balasan Adelia.

__ADS_1


Sepasang suami istri itu salling pandang.


"Di mana ?", tanya Ina.


__ADS_2