Blind Date

Blind Date
150. Setia Menemani


__ADS_3

Perlahan mata cantik itu membuka. Belum juga membuka sempurna, bibirnya menggumam.


"Kennn....", panggilnya.


"Yess, baby, i'm here ", jawab Kenan.


Bibir mungil itu langsung menyunggingkan senyum. Bahkan langsung bangun dari baringnya. Lalu menyentuh layar laptop yang sudah menggelap. Tanpa memperhatikan selimutnya yang tersibak.


Begitu layar monitor menyala, Tampak wajah tampan dan tubuh jangkung yang kini terbaring miring menatap lekat ke arahnya. Di ranjang kamar. Tidak lagi di dalam mobil.


"Kenn....kamu masih di situ ?", tanya Adelia.


Lelaki tampan itu mengangguk.


"Uhmmm....aku akan setia temeni kamu, sayang. Just for you my love ", mulai senyum nakal tampak di bibir lelakinya itu.


Bibir mungil yang merah alami itu manyun lucu.


"Kamu jadi gak tidur, masa semalaman nungguin aku ?", rajuknya.


Kenan tersenyum. Tangannya bergerak menyentuh bibir Adelia di tampilan layar.


"No problen, baby. Aku gak keberatan", mata hazel itu mengerling nakal. Apalagi melihat pemandangan indah ini. Lanjut Kenan dalam hati.


Adelia mencebik, tapi kemudian tersenyum. Lelakinya ini selalu membuatnya berbunga. Ternyata Kenan Melviano Parviz bisa bersikap semanis ini. Sebutan casanova yang begitu heboh di dengarnya dulu, sumpah tidak cocok sekali untuknya sekarang ini.


"Thanks so much, Ken....uhmm, masih malam, udah VC nya, kamu tidur sana ", pinta Adelia setengah memerintah.


Kenan tergelak. Dia yakin kalau istrinya belum menyadari sesuatu. Kalau sudah, Kenan yakin perempuan cantik itu akan sangat merona pipinya.


"No way, masih pengen lihatin itu ", tunjuk Kenan dengan bibirnya.


Mata cantik Adelia membola. Lalu menengok ke arah tubuhnya.


"Opsss....my godd .....", sambil menyilangkan tangannya di dada.


"Kennnnn.....nakal kamu, kok gak bilang sih ?", rajuknya.


Kenan tergelak. Makin keras. Bahkan kaki lelaki itu sampai bergerak naik ke atas.


"Kenapa, baby ? Gak perlu malu begitu, aku suka ", katanya.


Membuat bibir mungil Adelia semakin mencebik.


"Ogah Ken, aku malu tauuuuu .....udah aku tutup !", segera mematikan sambungan VC nya.


"Don't baby........don't doo.... !", cegah Kenan. Tapi tetap tidak mempengaruhi keputusan Adelia. Layar monitor itu sudah menggelap.


Adelia menepuki pipinya yang merona. Suaminya ini sungguh......huft.....membuat Adelia salting saja. Tapi kalau dipikir benar juga, kenapa harus malu ? Kenan suaminya kan ? Sudah sering melihatnya, bahkan tanpa sehelai benangpun. Tapi entahlah, yang pasti Adelia masih malu.


Sementara Kenan segera bangkit dari baringnya dan menyambar gawainya. Melakukan panggilan suara pada kontak yang sama.


Langsung terhubung.


"Babyyyy......kenapa dimatiin sayang ?", protes Kenan.


Adelia terkekeh.


"Enough Kennnn.....kamu harus istirahat, ingat harus bantuin papa handle masalah perusahaan kan ?", ingat Adelia.


Kenan menghela pelan.

__ADS_1


"Okay, baby. Aku akan selesaiin cepat, pengen cepet ketemu kamu", kata lelaki itu akhirnys.


"Hmmm...aku juga Kennn....", balas Adelia.


"I love you so much, baby ", mesra Kenan.


"I love you too, Kenn..... ", balas Adelia.


Mengakhiri sambungan telepon kedua sejoli yang saling menahan kerinduan itu.


*************


"Arrrggghhhhhh.......!", kedua lelaki itu berbarengan menghembaskan tubuhnya di rerumputan taman. Karena kecapekan duel beberapa lama.


"Kamu masih tetap hebat, Ron !", Bryan meninju lengan Arion.


Arion tergelak. Kakinya menendang kaki Bryan.


"Kamu juga hebat, Bryy ..", balasnya.


Kedua lelaki itu tergelak bersama. Beberapa saat. Lalu terdiam sejenak menatap bintang di langit malam negeri paman Sam itu.


"Bener Adelia sudah punya suami ?", tanya Bryan membuka omongan. Pandangannya masih menatap lurus ke atas sana.


"Masih nanya lagi ", Arion mendengkus.


"Jangan cari masalah sama dia !"., ingatnya.


Bryan tergelak.


"Suaminya ?", tanyanya sambil menoleh ke arah Arion.


Arion mengangguk.


Arion spontan bangun dari baringnya.


"Where ?", tanyanya.


"In here ", balas Bryan cepat.


."Kenan di sini ?", gumam Arion, seolah bicara dengan dirinya sendiri.


Bryan hanya mengedik.


"Ashhhh.....shittt...!", umpat Arion seraya berdiri.


"I have to go, Bryy ", katanya


Bryan bangkit dari baringnya di rerumputan.


"Why so hurry, Bro ?", tanyanya.


"Istri aku pasti udah nungguin......gara -gara kamu ....jadi gak fokus sama tujuan aku ", gerutu Arion sambil melangkah pergi.


"Woii Ron... wait !", seru Bryan sambil melompat berdiri. Lalu bergegas menyusul Arion.


"Emang minta apa istri kamu ?", tanyanya begitu sudah mensejajarkan langkahnya.


"Permen kapas", jawab Arion sambil terkekeh.


Bryan nenoleh dengan dahi mengernyit. Lalu tawanya pun pecah.

__ADS_1


"What the ****, man ......random banget perempuan hamil", ucapnya.


Arion memukul bahu Bryan. Cukup keras.


"Kamu akan tahu kalo punya istri nanti", ledeknya.


Bryan tergelak


"Really ?......No problem, asal istri aku Adelia", balasnya penuh penegasan.


Arion kembali memukul bahu Bryan. Lebih keras.


"Jangan ngawur !", sergahnya.


Bryan malah terkekeh.


Mereka sudah sampai di depan pedagang permen kapas. Dengan berbagai motif yang unik dan lucu.


"Kamu pergi duluan sana !", usir Arion.


Bryan tersenyum.miring.


"Ngapain ? Aku juga mau beli......buat calon istri aku ", jawabnya ngasal.


"Whatever Bry ..... awas kalo sampe Adelia kenapa pnapa !", ancamnya


Bryan tergelak.


"Aku pastiin dia akan baik-baik aja, bro......don't worry !", kata lelaki itu penuh keyakinan.


Dibalas Arion dengan mengangkat bahunya.


***********


Arion melangkah cepat begitu turun dari mobil. Ditangannya menjinjing tas kresek besar. Lelaki itu terlihat terburu-buru sekali. Bagaimana tidak, dia melupakan pesanan istrinya karena bertemu dan berduel dengan saudara sepupunya itu. Menjengkelkan sekali.


Arion yakin istrinya pasti sudah menunggunya. Tapi kenapa anehnya perempuan cantik itu tidak menelponnya, padahal dia begitu lama meninggalkannya.


Habis tengah malam, setelah keduanya membuat panas ranjang mereka, tiba-tiba istrinya itu bilang ingin makan permen kapas. Akhirnya Arion keluar untuk mencarikannya. Dan melarang istrinya untuk ikut.


Pada saat yang sama terbersit keinginannya kembali menghubungi Bryan. Mau apalagi kalau bukan menanyakan tentang Adelia. Dan akhirnya mereka berduel. Karena terus terang Arion ingin menghajar sepupunya itu. Karena keinginan gilanya yaitu emiliki Adelia. Sampai-sampai dia hampir lupa pesanan istrinya.


Apa istrinya sekarang tertidur lagi ? Atau ngambek ? Arghhhh....Ariion harus segera mencari tahu. Istrinya begitu sensitif semenjak hamil. Arion khawatir kalau dia berpikir macam-macam atau menangis. Arion tidak tega.


Begitu sampai di depan pintu kamar hotel, dengan cepat Arion membuka pintu.


"Cinnn, aku datang", ucapnya.


"Cinn...", panggilnya lagi. Belum ada jawaban. Samar-samar Arion dengar dengkur halus nafas istrinya dan sesosok tubuh terbaring miring di pinggir ranjang. Istrinya itu tertidur.


Arion tersenyum. Satu lagi yang Arion tahu dari perempuan hamil, yaitu suka tidur. Kemarin sewaktu minta jus mangga juga ketiduran. Sekarang begitu juga.


Arion melangkah mendekati ranjang. Sebelumnya menaruh tas yang dibawanya di meja.


"Capek ya sampe ketiduran begini ", sambil meraih selimut untuk menutupi tubuh istrinya.


Sebentar melangkah ke arah almari dan mengganti bajunya dengan piyama. Lalu naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan istrinya. Dipeluknya tubuh perempuan hamil itu dari belakang.


"Tidurlah istriku, aku akan temani kamu. Have a nice dream", bisiknya seraya menciumi rambut Cindy.


Lalu perlahan memejamkan matanya.

__ADS_1


Bibir Cindy tersenyum. Matanya masih memejam.


"Thanks Rio, have a nice dream", batin Cindy.


__ADS_2