
"Yeayyyyy.... Walt Disney ! ", seru Adelia begitu mobil yang dikendarai suaminya memasuki area Disney Land.
"Thanks, Ken ", katanya. Spontan memberikan kecupan lembut di pipi suaminya.
Kenan terkekeh. Mematikan mesin mobilnya. Dan menoleh ke arah perempuan cantik di sebelahnya. Mirip anak kecil. Padahal Kenan yakin, Adelia pasti sudah pernah ke sini. Menilik hobbynya yang suka nonton kartun tom jerry.
"Little kid....here, baby ", Kenan menunjuk bibirnya.
Adelia tersenyum manis.
"Okay....", lalu kembali mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Kenan cepat. Sebelum lelaki itu membalasnya. Tahu sendiri lelaki itu selalu lose control kalau berdekatan dengannya.
"Along time ...", lirih gadis cantik itu.
Mata indah itu berbinar menatap ke depan sana. Ke area super luas Disney land.
Nah benar kan yang Kenan pikirkan? Istri
nya ini pasti sudah pernah main ke sini. Tapi tetap saja terlihat begitu senang ketika dia
mengajaknya.
Bagaimana Kenan tidak gemas dengan gadis kecil ini ? Sekarangpun, ingin rasanya Kenan terkam perempuan cantik di sebelahnya ini. Kalau tidak ingat menjanjikan kencan di luar begini. Ehhh.....
"All right Princess, don't move, okay, let me open !", ucap Kenan. Mengecap bibir manis Adelia sebelum kemudian membuka pintu mobil.
"Kenn.... let me...! ", Adelia menahan, hendak melakukannya sendiri.
"Ssstttt.... let me do it, okay !" menaruh telunjuk di bibirnya. Sebelah matanya mengerling nakal.
Okay, Adelia akan menuruti. Daripada kena hukuman tambahan nanti. Batinnya.
Baru saja Kenan membuka pintu.
"Watch out, Ken !", teriak Adelia begitu melihat beberapa orang langsung merangseknya. Menyerang suaminya.
Kenan segera menghindar. Menkayangkan tubuhnya di badan mobil. Tapi lelaki yang lain langsung melancarkan serangan. Dannnn....
"Crushhh....! ", terdengar suara benda tajam. Tak terelakkan mengenai perut Kenan.
Dengan cepat Adelia keluar dari mobil. Bertumpu tangannya pada bagian depan mobil, lalu melompat. Memberikan tendangan pada beberapa lelaki yang mengepung suaminya.
Lima orang. Iya, mereka ada lima orang bertubuh besar. Dua orang diantaranya terpental karena tendangan Adelia.
Adelia segera menghampiri suaminya.
"Are you okay ? ", tanyanya. Cemas.
"Don't worry baby, I'm okay ! ", balas Kenan. Menenangkan istrinya.
Bisa Adelia lihat sebelah tangan suaminya memegangi perut. Darah..... tampak darah di sela-sela jemari Kenan. Adelia melihatnya.
__ADS_1
"No, you're hurt ", kecemasan Adelia ternyata benar. Suaminya terluka.
Satu serangan mengarah kembali ke Kenan. Suami Adelia dengan gesit membalasnya. Meski dengan satu tangan.
"No problem baby, let finished them !", mengarahkan punggungnya ke punggung Adelia. Mereka saling beradu punggung sekarang.
Beberapa orang yang lewat, nampak berhenti melihat adegan seru itu. Seolah melihat tontonan yang menarik
Adelia menatap galak ke arah para lelaki yang mengepung mereka. Dua orang yang terpental sudah berdiri dan bergabung kembali dengan temannya.
"Damn......! ", geram Adelia.
"Berani-beraninya, what do you have been doing? ", marah Adelia.
Lalu dengan garang menyerang para lelaki itu. Yang sedianya berusaha merangsek terus ke arah Kenan.
"He's my man, don't touch him ! ", tegasnya. Sambil melompat, menyarangkan tendangan ke arah dua lelaki sekaligus.
"Brakkkk.....! ", keduanya terpental jatuh. Bibir Kenan tersenyum. Istrinya memang luar biasa. Perempuan tangguh dan hebat. Kenan tahu itu sejak bertemu perempuan cantik itu pertama kali.
Melihat suaminya terluka, amarah Adelia seketika memuncak. Hatinya merasa perih melihat cairan merah itu membasahi baju dan tangan suaminya. Meski tidak terlihat jelas, karena lelaki itu memakai kaos hitam.
"Let me handle them, baby !", lirih Kenan di dekat telinga Adelia. Karena Kenan lihat istrinya begitu bersemangat. Dan ada sedikit amarah di sana.
"Let me do it Ken, you're hurt !", balas Adelia. Lalu dengan cepat menghalau serangan. Meskipun serangan itu sebenarnya ditujukan ke arah Kenan. Karena kalau Adelia perhatikan orang-orang itu tidak ingin menyerangnya sama sekali. Tanpak sekali dari arah serangan mereka.
Kenan terkekeh.
Tinggal satu lelaki yang lain, terbengong melihat ke empat rekannya terjerembab di lantai. Tak berdaya. Dimanfaatkan oleh Adelia dengan memberikan tendangan keras ke arahnya.
"Hyaaaa.....", serunya penuh tenaga.
"Brakkkk.... ", terdengar tubuh itu jatuh. Terpental jauh, menimpa tong sampah.
Kelima orang itu dengan susah payah bangun. Lalu lari terbirit-birit meninggalkan Kenan dan Adelia.
Perempuan cantik itu melipat tangannya di dada. Menyenggol lengan Kenan dan sedikit menoleh ke samping.
"You can make it, Ken ", katanya.
"No, baby... we are..... oughhh... ", lenguh Kenan sambil merunduk memegangi perutnya.
Tersentak Adelia teringat kalau suaminya tengah terluka. Memutar tubuhnya cepat ke arah Kenan. Adelia lihat cairan merah yang sudah membasahi tangan kiri Kenan.
"Kennn...... ", Adelia segera meraih tangan Kenan. Dengan cepat menarik syal di lehernya, lalu mengikatkan itu pada luka suaminya. Dengan telaten mengelap darah di tangan suaminya dengan bajunya.
"Kita ke rumah sakit ", ajaknya sambil menyangga tubuh suaminya. Meraih tangan Kenan agar mengalung di lehernya, lalu memapahnya masuk ke mobil.
Kenan hanya menuruti. Seulas senyum tipis menghias bibirnya di sela ringisannya menahan sakit.
"Baby....", panggil Kenan begitu Adelia sudah duduk di kursi kemudi.
__ADS_1
"Don't move okay, let me drive ! ", tegas Adelia.
"The key ", Kenan menunjuk ke bawah sana. Di saku celananya.
Pipi Adelia merona ketika pandangannya tertuju ke bawah sana. Salfok pada sesuatu yang tampak menonjol di sana.
"Ambilin ", pintanya. Semakin memerahlah pipinya.
"Oughhh.... ", lenguh Kenan sambil memegangi perutnya.
"Okay.... okay, aku ambil sendiri", ucap Adelia. Sudah Adelia duga suaminya akan memintanya melakukan sendiri.
Begitu Adelia merunduk dan tangannya bergerak mengambil kunci di saku celana Kenan, lelaki itu dengan cepat mengecup pipi nya.
"Thanks so much, baby angel ", bisiknya.
Spontan Adelia mendongak. Tak ayal lagi kecapan kedua mampir di bibirnya.
"Thanks again, baby !", ucap Kenan lagi. Sambil tersenyum manis.
Tidak hanya pipi Adelia yang memerah, telinganya juga. Adelia segera menarik kunci itu dari saku celana Kenan dan kembali ke posisi duduknya.
Kenapa Adelia masih merasa malu pada suaminya sih, padahal mereka sudah sebulan menjadi suami isteri kan ?
Tatapan hazel dan senyum lelaki itu, jujur saja selalu membuat jantung Adelia berdebar lebih keras. Sampai sekarang.
Kenan tersenyum. Tangannya meraih dagu lancip Adelia.
"Kenapa merona begitu, sayang?", godanya.
"Nggak usah malu, udah sering lihat kan?", lanjutnya.
Adelia salah tingkah.
"Ahhh.... apaan sih Ken? Enggak ya ", tangannya menangkup kedua pipinya.
Lalu menoleh ke arah Kenan galak.
"Jangan macem-macem ya, kamu luka sekarang", tegasnya.
Kenan tergelak.
"Iya sayang, perut aku yang luka, bukan itu ", masih dengan gelaknya. Tangannya menepuki pahanya gemas.
Adelia manyum.lucu. Segera menghidupkan mesin. Dan sekali injak pedal gas, mobil sport hitam itu segera melaju meninggalkan area parkir.
Di dalam sebuah mobil merah, di luar area parkiran, sepasang mata menatap tajam. Bibirnya menyeringai sinis. Baru saja ia menerima telepon dari seseorang.
"Itu peringatan pertama, yang kedua mungkin lebih nyakitin ", gumamnya.
Lalu melajukan mobilnya menjauhi Destinasi memikat itu.
__ADS_1