Blind Date

Blind Date
155. Tidak Boleh Gagal lagi


__ADS_3

"At last....kamu datang juga ", Susan duduk di stool bar tepat di sebelah Kenan. Menghembuskan nafas lega.


Bahkan tanpa sungkan menggeser duduknya agar lebih dekat dengan lelaki tampan itu.


Mereka berada di sebuah club malam besar di kota itu. Tempat yang lumayan lama Kenan tinggalkan, semenjak menikah dengan Adelia.


Untuk bisa berangkat tadi saja Kenan harus bertarung dengan dirinya sendiri. Belum lagi mamanya yang beberapa kali menelepon dan memperingati.


"Ingat pesan mama, jangan dekat-dekat sama perempuan itu !", beberapa kali dikatakan oleh perempuan yang sudah melahirkannya itu.


Sementara batin Kenan juga galau.


Apa dia akan menghianati istrinya ? Melakukan hal yang sama yang juga dilakukan istrinya di sana ? Berkencan dengan perempuan lain di sini ?


Ahhhh....tentu saja Kenan bingung.


Kenan belum yakin benar kalau istrinya menghianatinya. Tapi apa yang sudah dilihatnya itu bukan gambar rekayasa. Itu benar istrinya, bersama lelaki lain. Dan mereka begitu akrab. Dan itu cukup membuat hatinya terbakar.


So.....tidak salah kan dia kalau sekarang berkencan dengan sekretarisnya ? Menghibur hatinya yang terluka. Sedikit terluka. Bukan selingkuh juga kan namanya ? Cuma memenuhi undangan teman perempuannya.


Setidaknya itulah yang dipikirkan Kenan hingga mau memenuhi undangan perempuan yang kini sedang duduk di sebelahnya.


"Hmmm...aku hampir lupa sama tempat ini ", Kenan dengan suara datar.


Pandangannya menyapu ke sekitar. Memang lama dia tidak ke sini. Maybe 2 bulan, iya dua bulan semenjak menikah dengan Adelia.


Masih Kenan ingat dengan jelas terakhir kali ke sini bersama Adelia. Lalu dia meninggalkan gadis kecil itu untuk ke toilet. Lalu Adelia diserang beberapa preman.


Kenan merasa sangat bersalah saat itu. Untung saja gadis yang kini menjadi istrinya itu jago beladiri, kalau enggak, Kenan pasti akan menyesalinya seumur hidup.


Susan tersenyum menggoda.


"Really ? Banyak kenangan kita di sini, aku masih ingat jelas loh ", ucapnya.


Kenan hanya mengedik. Lalu tergelak.


"It's better to be forgotten", ucapnya.


Karena jujur saja, Kenan sudah lupa. Hanya Adelia saja yang diingatnya.


Susan menyibak rambutnya yang jatuh di bahu ke belakang. Lalu melipat kakinya dengan anggun, tidak peduli dengan rok spannya yang tersingkap.


"Maybe......tapi kayaknya aku gak pengen lupain itu ", akunya. Kenan mengangkat bahunya. Cuek.


Susan tersenyum.


"By the way ..... aku udah pesenin minum favorite kamu", Susan menoleh dan melambaikan tangan ke arah bartender.


Sebentar kemudian seorang lelaki muda datang dan membawakan dua gelas minuman. Dengan cepat menaruh itu di meja. Dan berlalu begitu Susan memberi tanda agar dia segera pergi.


Susan meraih gelas di depannya, seraya memberi tanda pada Kenan agar melakukan hal yang sama.


"Cheers !", ucapnya sambil mengacungkan gelas minumannya.


"No thanks, aku gak minum itu ", ucap Kenan sambil terkekeh.


Perempuan berpakaian minim dan ketat itu mengedipkan sebelah matanya


"Ahhhh....yang bener ? Sejak kapan ?", serunya.


Kenan terdiam. Tepatnya tidak ingin menjawab. Karena hatinya berpikir lain begitu melihat minuman favoritnya itu.


Di saat bersamaan ada notifikasi masuk di gawainya.


Susan mengeryit dalam.


"No.....not anymore ", batinnya berharap. Tidak ingin acara malam ini gagal lagi.


Kenan mengamati gawainya. Di antara remang lampu club, tampak rahang lelaki itu mengeras.


Dan sepertinya Susan melihat itu.

__ADS_1


"C'mon Ken.....sekali ini saja, temenin aku minum !", bujuknya .


Lalu mulai meneguk minuman di tangannya. Kenan masih belum bereaksi.


"Uhmmmm.....delicious ", gumam Sandra. Sengaja memamerkan itu di depan Kenan. Bahkan perempuan itu menjulurkan lidahnya untuk menyapu bibirnya yang merah.


"C'mon....one glass, please !", katanya lagi.


Masih dengan memainkan lidahnya di bibir merahnya.


Kenan memalingkan wajahnya ke arah lain. Karena melihat tingkah Susan, darahnya tiba-tiba berdesir. Memanas. Sedang kepalanya sudah memanas karena melihat tamoilan gawainya.


Susan tersenyum puas. Apalagi ketika tangan Kenan bergerak cepat meraih gelas di depannya. Lalu dalam sekali teguk, membuat isi gelas itu kosong.


"Thanks Ken......again ?", tawar Susan lagi. Kegirangan.


Sepertinya perempuan itu sangat tahu kalau lelaki di depannya ini jago minum.


'Yakin aku mau lagi ?", ledeknya dingin.


Susan mengangguk cepat.


"Uhmm....", gumamnya.


Kenan terkekeh.


"Boleh....", balasnya.


Tersenyum merekah, kembali Susan melambaikan tangan ke arah bartender.


Lelaki muda itu membawa baki berisi dua botol minum sekaligus.


Susan memberi tanda kepada lelaki itu agar segera pergi begitu baki ditaruh di hadapan mereka. Lalu menuangkan minuman ke gelas Kenan yang kosong.


"Kita nikmatin malam ini ", ucapnya.


Kenan hanya menggeram. Lalu menyambar gelas yang sudah terisi dan menenggaknya habis.


Susan semakin terlihat puas. Senyum merekah terus saja dia pamerkan. Bahkan sekarang perempuan itu mulai bangkit dari duduknya. Mendekat ke arah Kenan, sangat dekat menempel di tubuh lelaki itu yang masih duduk di stool bar.


"Pinter goda ya kamu ", bisiknya di telinga perempuan itu. Lalu kembali menenggak gelasnya yang sudah kembali terisi.


Susan terkikik. Menhelus dada bidang Kenan. Lalu dengan berani mulai naik ke pangkuan lelaki itu.


Tangan Kenan masih memeluk pinggang Susan. Lebih erat.


Jarak wajah mereka yang begitu dekat membuat Susan semakin berani menggoda. Perempuan itu mendekatkan bibirnya ke telinga Kenan.


"I want you ", bisiknya.


Mata hazel Kenan membulat. Tidak asing dengan kata-kata itu. Ucapan yang sering dikatakannya kalau sedang meminta bercinta dengan istrinya.


Seolah tersadar, Kenan menjauhkan wajahnya.


"Adelia.... ", lirih Kenan sambil mendorong tubuh Susan.


"Kamu.....bukan Adelia ", lanjut lelaki itu.


Membuat tubuh Susan hampir terjengkang. Pada saat bersamaan beberapa lelaki bertubuh besar datang.


"Ciiih.....loser...beraninya sama perempuan ", ejek salah seorang dari mereka.


Kenan berdecih tidak suka.


"Jangan ikut campur, urusi istri kalian sendiri !", ledek Kenan ganti.


Lelaki tampan itu mulai bangkit dari duduknya. Sedikit sempoyongan.


"Heh...awasi istri kalian, jangan biarin keluar sama lelaki lain !", cerocosnya


Salah seorang lelaki itu maju dan langsung melepaskan jotosnya ke wajah Kenan.

__ADS_1


"Jaga ucapan kamu !", marahnya.


"Istriku gak pernah begitu ", lanjutnya.


Dengan sempoyongan, Kenan masih bisa menghindar.


"Haha......noob banget sih bro !", ledeknya sambil mengacungkan jempolnya terbalik.


Lelaki bertubuh besar itu mendengkus kasar.


"Ayo kita hajar dia !", ajaknya pada teman-temannya. Ketiga lelaki yang lain menyetujui.


"Stop it !", Susan menengahi. Bukannya menyelesaikan masalah, justru membuat lelaki-lelaki itu berang


"Huh....minggir kamu, perempuan nonton saja !", galaknya. Sambil mendorong tubuh Susan ke pinggir. Lalu segera melancarkan serangan ke arah Kenan.


Kenan tergelak.


"Jangan beraninya sama perempuan, sini maju, berempat juga gak keberatan aku ", sambil menangkis serangan.


Ketiga lelaki yang mulai tersulut emosinya ikut menyerang bersamaan.


Pertarungan tidak seimbang berlangsung. Sehebat-hebat Kenan dalam kondisi di bawah pengaruh alkohol membuat gerakannya tak terkontrol. Beberapa kali serangannya luput dan justru tendangan lawan mengenainya.


Bugh....bugh...!


Tubuh jangkung atletis itu terkena bogem mentah berkali-kali. Tapi masih memberikan perlawanan.


Hiingga akhirnya ....brughhhh.....tubuh jangkung itu jatuh di lantai.


Keempat lelaki pengeroyok tertawa mengejek. Sementara pengunjung club hanya menyaksikan saja tanpa ada yang berani ikut campur. Sama halnya dengan Susan.


Karena keempat lelaki itu sudah mengancam jangan ada yang menghubungi polisi atau akan menerima akibatnya.


"Finish him !", ujar salah satu dari para lelaki itu. Dengan senyum puas mereka mendekat. Kembali hendak menghajar tubuh Kenan yang tidak berdaya. Dari bibir lelaki tampan itu terdengar racauan tidak jelas.


Tapi tiba-tiba serombongan lelaki berjas hitam muncul dan langsung menghajar ke empat lelaki itu. Tanpa ampun.


"Jangan pernah ulangi lagi !", salah seorang memperingati dengan keras.


"Preman picisan !", sahut seorang yang lain.


"Kalian tidak tahu berurusan sama siapa, dasar bodoh !", tambah yang lain.


Mereka terus meghajar ke empat lelaki itu.


Tanpa banyak perlawanan, tentu saja karena kalah skill. Tidak butuh waktu lama ke empat lelaki itu jatuh terkapar dan pingsan.


Sementara dua orang lelaki berjas yang lain segera menolong Kenan.


"Tuan muda....are you okay ?", cemasnya sambil membantu Kenan bangun.


"I'm not okay.....It's hurt.....Adellll, what are you doing baby ?.", celoteh Kenan.


"Kita bawa ke mansion !", kata salah satu seorang dari mereka yang baru saja menghajar ke empat lelaki preman tadi.


"Setuju....jangan sampai tuan besar tahu dan khawatir ", sahut yang lain.


Mereka saling mengangguk dan sepakat.


"Adeliaaaaa.....", seru Kenan. Membuat para lelaki berjas itu saling pandang. Tubuh tinggi besarnya masih dipegangi dua orang lelaki berjas.


"Boleh aku ikut ?", Susan menyeruak di antara mereka.


"Dia bukan baby girl.....siapa dia ?", celetuk Kenan.


Lelaki berjas memandang Susan penuh selidik


"Aku sekretaris tuan Ken....", Susan menjelaskan.


Para lelaki berjas itu mengangguk.

__ADS_1


"Okay, tapi jangan melebihi batasan kamu !", ingat salah seorang lelaki.


"Of course ", balas Susan.


__ADS_2