Blind Date

Blind Date
140. Double date


__ADS_3

"Ckckck.....emang nggak tahu tempat ya !", suara bariton menghentikan kegiatan sejoli yang tengah dimabuk cinta itu. Serempak keduanya menoleh. Tampak seorang lelaki tampan berdiri dengan melipat tangannya di dada.


"Hahay mesum..... ngapain di sini? Ganggu aja ! ", gerutu Kendra.


Lelaki tampan yang di sana membenahi kaca mata hitamnya. Lalu senyum mencibir.


"Dasar cabul....! Kamu sendiri ngapain? Sama siapa ?", menunjuk dengan bibirnya. Maksudnya perempuan muda yang baru berciuman dengan Kendra.


Kendra terkekeh. Membusungkan dadanya.


"Pacar aku lah, masih nanya", pongahnya.


Kenan mengedikkan bahunya.


"Hmmm.....surprise, sejak kapan si cabul punya pa..... ", Kenan menghentikan ucapannya karena terdengar suara perempuan.


"Kennn......yuk, udah cukup kayaknya !", perempuan cantik muncul dari deretan rak di super mart itu. Mendorong kereta belanja.


Tentu saja pandangan Kenan langsung beralih ke sana. Bibir lelaki itu tersenyum.


"Beneran udah ?", yakinnya.


Kepala Adelia mengangguk cepat.


Perempuan cantik itu tadi bilang katanya ada sesuatu yang kurang. Tentu saja Kenan tidak membiarkannya sendiri kalau saja tidak melihat sosok Kendra di dekat box freezer. Tengah bercumbu dengan seorang wanita.


"Hallo cantik.....! ", ucap Kendra.


Huft. ...lebay sekali. Kenan menoleh sarkatis dengan dengkusan jelas. Adelia juga juga mengalihkan pandangan ke arah suara.


"Hai.....Kendra ..... !", balas Adelia. Mata cantik itu membulat. Sebenarnya tidak perlu terkejut juga, karena suaminya tadi sempat bilang memang datang bersama sepupunya itu. Cuma tidak menyangka saja bertemu lelaki itu di super mart sekarang ini.


Ehhh.... wait ! Kendra bersama seorang gadis. Cantik lagi. Batin Adelia.


"Miss you, little girl !", Kendra melepaskan tangannya dari pinggang Sandra yang sejak tadi di peluknya. Bergegas melangkah agar bisa lebih mendekat ke Adelia.


"Stop.....!", cegat Kenan begitu sepupunya itu lebih mendekat, hendak memeluk istrinya. Kenan lebih dulu meraih tubuh cantik itu dan mendekapnya.


"Alah aku juga punya, nggak usah pamer ", Kendra memutar balik tubuhnya cepat. Hendak meraih tubuh Sandra, tapi perempuan itu segera menghindar.


"Aku mau bayarin es krim ", alasannya.


Lalu bergegas melangkah.


Tercenggang sesaat, Kendra dengan cepat menarik tangan perempuan cantik yang baru jadi pacarnya itu.


"Kenapa? Biar aku yang bayarin. Buat apa uang aku kalo kamu bayar sendiri? ", ucapnya.


Menundukkan wajahnya agar bisa meraih pandangan Sandra. Karena wajah perempuan cantik itu menunduk dalam sekarang. Tidak mau menatap Kendra.


Di tariknya tubuh perempuan muda itu agar lebih dekat.


"Jangan cemburu, dia istri sepupu aku. Yuk aku kenalin !", lanjutnya. Setengah berbisik


Sandra langsung mendongak. Menatap Kendra tajam, seolah mencari kebenaran di sana.


Lelaki yang mempunyai wajah sangat mirip dengan Kenan itu tersenyum. Lalu mengangguk pasti.

__ADS_1


Sandra tersenyum. Mata gadis itu kembali berbinar.


Sementara Kenan dan Adelia yang melihat itu terkikik geli.


"Kenalin, pacar aku, Sandra !", Kendra mengenalkan.


"Kenan...... Adelia.....", balas Kenan dan Adelia bergantian. Kenan masih mendekap tubuh istrinya.


"Sandra... senang ketemu kalian ", balas Sandra sambil tersenyum.


"Hati-hati pacaran sama dia, otak cabul !", celetuk Kenan. Sambil melabuhkan sebuah kecupan di pipi istrinya.


"Kennn.... ", ingat Adelia. Spontan sikunya bergerak ke belakang. Menyikut perut bagian kanan suaminya, yang tidak terluka tentunya.


Kenan terkekeh. Justru mengulangi kecupan lembut itu lagi. Kali ini di bibir Adelia. Sebelumnya menarik dagu perempuan cantik itu.


Kendra mendengkus kesal. Hendak membalas Kenan. Tapi Adelia segera berucap.


"Uhmm.... Ndra, ajak Sandra ke apartemen aku, double date ! , katanya antusias.


Kendra dan Sandra saling pandang. Lalu spontan mengangguk bersama.


"Okay, I'll be glad to know more about you, Adelia ", balas Sandra.


"Okayyy.... let's go !", ajak Adelia. Memiringkan kepalanya agar bisa bertemu pandang dengan suaminya. Lelaki itu melepas pelukannya. Sebelumnya mendaratkan satu kecupan lagi, di hidung mancung Adelia.


"Biar dia yang bayar, baby. Sayang kan, kalo uangnya nggak kepake ", Kenan menatap ke arah Kendra. Lalu mengambil alih kereta dorong dari tangan istrinya dan mendorongnya.


Adelia hanya tersenyum. Berjalan di samping lelakinya.


Lelaki itu nampak mendengkus. Bukan karena keberatan membayar, tapi karena sepupunya itu begitu bawel. Apalagi ternyata masih ada lagi yang diucapkan lelaki itu.


"Jangan pelit !", ledek Kenan. Adelia terkekeh. Melayangkan sebuah cubitan kecil di pinggang suaminya. Terdengar gelak Kenan.


Kendra mengacungkan dua jempolnya ke udara. Setelah itu mengarahkan kepalan tangan ke arah Kenan. Tentu saja hanya menjumpai bagian belakang tubuh jangkung itu. Karena sepasang suami istri itu sudah melangkah ke aeah kasir.


************


Oek.... oek...oek ! Cindy menumpahkan isi perutnya di wastafel kamar mandi.


Baru saja mereka sampai di hotel tempat mereka menginap, tiba-tiba Cindy melempar tasnya di ranjang sembarang dan berlari menuju kamar mandi. Arion segera mengikutinya.


Masih di depan wastafel kepala perempuan muda itu membungkuk sambil memegangi rambutnya yang tergerai.


Arion memperhatikan dengan tatapan cemas.


"Cin.... are you okay? ", tanyanya khawatir. Sambil mengelus bahu perempuan yang sudah menjadi istrinya itu.


Kepala Cindy menggeleng. Kembali memuntahkan isi perutnya. Perempuan itu tetlihat tersiksa sekali.


"Cin.....aku harus ngapain? ", tanya Arion


"Bisa bantuin pijit tengkuk aku, Rio ?", pintanya.


"Oek...oek.... oek... ", Cindy kembali memuntahkan isi perutnya.


Sedikit bingung Arion segera mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Uhmm..... like this?", mulai memijit perlahan. Cindy hanya mengangguk. Tanda setuju dengan apa yang dilakukan suaminya.


Beberapa saat kemudian Cindy mendongak.


"Enough Rio, I'm getting better now ", katanya sambil menyeka bibirnya dengan air.


"Really?", menarik tangannya


Perlahan Cindy memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan suaminya.


"Pengen sesuatu? ", Arion raih tangan istrinya. Terasa dingin. Wajahnya juga tampak pucat.


Cindy menatap Arion lekat. Pipinya yang puncat terlihat sedikit memerah.


"Rio.....uhmmm....", Cindy ragu-ragu.


Arion masih menunggu.


"What.... just tell me, Cin ! ", pintanya tidak sabar.


"Boleh minta cium? ", Cindy tersipu.


Arion tersenyum. Tanpa menjawab segera meraih kedua sisi wajah istrinya. Lalu sedetik kemudian meraih bibir pucat Cindy dan mengecapnya lembut. Memagutnya penuh perasaan.


Rasa cemasnya beberapa saat tadi ketika melihat istrinya muntah-muntah berubah menjadi rasa lega. Apalagi Cindy membalas setiap pagutannya penuh gairah.


Ahhh... perempuannya ini memang selalu bergairah sejak awal mereka berjumpa. Mungkin inilah yang akhirnya membuat perasaan Arion sedikit demi sedikit berubah. Luluh juga.


Apakah Arion sudah mulai mencintainya? Ahh... entahlah, yang jelas Arion tidak ingin membuat perempuan yang tengah hamil muda itu merasa bersedih. Apalagi menangis


"Lain kali kalo pengen sesuatu bilang aja, nggak perlu malu begitu. Aku suami kamu Cin ", ucap Arion begitu menjauhkan bibir mereka. Kedua tangannya masih menangkup wajah cantik itu. Sudah tidak sepucat tadi.


Cindy mengangguk dan tersenyum. Tangannya yang semula mengalung di leher Arion, beralih ke kedua sisi wajah lelaki itu.


"Thanks Rio ", ucapnya.


Arion mengecup kembali bibir Cindy. Beberapa saat mereka kembali berciuman.


"Sekarang mau apa ? Gendong? ", tawar Arion.


Bibir Cindy tersenyum lebar, lalu mengangguk cepat.


Dengan sekali angkat tubuh Cindy sudah berada dalam gendongan tangan kekar Arion.


"Mau jus mangga ", manja Cindy dalam gendongan. Disembunyikanya kepalanya di ceruk leher kokoh suaminya.


"Okay... ", balas Arion.


"Apa lagi? ", tanyanya lagi.


Kepala Cindy mendongak, lalu mencium pipi suaminya.


"Babynya pengen di jenguk Daddy", dengan pipi yang memerah.


"Siapppp....", Arion seraya terkekeh.


"Siappp bangettt... ", lanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2