Blind Date

Blind Date
166. By One


__ADS_3

Bryan berdecih.


"I don't care who you are, I love Adelia", kata lelaki itu to the point.


Adelia tercengang. Dia sudah pernah bilang kalau dia sudah menikah. Kenapa lelaki ini masih ngeyel sih ? Cari masalah saja !


Tangan Kenan yang memeluk pinggangnya semakin mengerat. Seakan mau mempatenkan kalau dia adalah miliknya.


"She's mine, only mine. Whatever you say, it does't change anything", balas Kenan.


Mereka berada di luar bookstore sekarang. Di area parkir tepatnya. Adelia melihat kemungkinan pertemuan mereka tidak akan berbuah bagus. Lebih baik tidak membuat keributan di dalam toko buku.


Ketika suasana terlihat memanas Adelia segera meraih tangan Kenan, membawanya keluar dan meminta Bryan juga melakukannya.


Bryan tersenyum miring.


"I will change it, although it's impossible, but not for me", tegasnya.


Adelia langsung mendengkus kesal.


"You're crazy, Bryan", geramnya.


Bryan tatap Adelia dalam.


"Because of you, girl. I'll do everything", ucapnya.


Adeliq membuang mukanya Sementara rahang Kenan mengeras mendwngar ucapan itu.


"Damn you .....!", ucapan Kenan belum selesai, tiba-tiba.......


"Tuan muda, kami menangkap dua penguntit ini", dua bodyguard Kenan datang membawa dua orang yang menenteng kamera.


"Mereka mengambil foto Nona muda bersama dia", lanjut bodyguard sambil menunjuk Bryan.


Kenan tersenyum meledek. Adelia menatap Bryan dengan mata memicing.


"Hoho.....I get it.....So, mereka pelakunya", katanya. Menatap tajam ke arah dua orang yang di bawa bodyguardnya. Lalu mata hazel itu beralih ke arah Bryan.


"Kembaliin ke tuan mereka !", perintah Kenan.


"Siap,Tuan muda !", bodyguard melepaskan kedua orang yang disandera itu kepada Bryan.


Sementara lelski itu hanya bisa nembulatkan mata. Marah.


Adelia tatap Kenan penuh tanya. Lelaki itu mengangguk, menggiyakan apa yang dipikirkan Adelia.


"Buat apa kamu nglakuin itu, Bry ?" Ngrecokin hubungan kami?....huft ....so sucks !", dengkus Adelia. Menatap Bryan kesal.


Bryan tergagap. Semula marah, tapi begitu Adelia yang bertanya kata-katanya seakan tertelan kembali. Dan kemarahannya mereda.


"Girl....bukan aku yang ngelakuin itu.....aku...aku cuma ......", ucapan Bryan terhenti.


Kenan berdecih keras.


"Don't be a loser, bro !


"Mereka orang kamu !", tunjuknya pada dua orang yang menenteng kamera dengan takut-takut.


Bryan tersenyum kecut.


"Okayy...... okay, I give up.....!", pasrahnya .


"Mereka orang aku, so what do you want to do ?" ledek Brysn.

__ADS_1


Kenan tersenyum.meledek.


"Aku peringatin, don't do it, again !


"Aku jadi penasaran, seberapa hebat lelaki yang jadi suami gadisku ", ledeknya.


Kenan membulatkan matanya.


"Don't call my girl with "gadisku", dia cuma punya aku !", tegasnya.


"Really ?", Bryan menaikkan sebelah alisnya tajam.


"How about by one with me ? Buktiin kalo Adelia cuma punya kamu !", tantangnya.


Kenan terkekeh.


"Wanna try me ?", ledeknya.


"Okayyy.....I'll serve you ", lanjutnya.


Lalu meraih pinggang istrinya dan memeluknya. Sedikit menunduk dan mencium puncak kepalanyay. Cukup lama.


Adelia balas dengan memeluk pinggang suaminya.


"Kennn....are you sure ?", tanya Adelia.


"Hmmm...may I, baby ?", ijin Kenan.


"Why not?", Adelia tersenyum. Dia akan selalu dukung suaminya. Dan selalu mendoakannya.


Kepala perempuan cantik itu mendongak, memudahkan Kenan meraih bibir mungil yang merah itu. Mengecapnya lembut.


Bryan membuang mukanya. Sebentar kemudian tersenyum miring.


Kenan tersenyum.


"Deal.....", balasnya.


"Aku tunggu di sasana tanding Parviz ", lanjutnya.


************


"Gimana, sayang ? Everything is okay ?", tanya mama Rose dari balik gawai.


Adelia mengapit dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Lalu bersandar di dasbord ranjang. Diliriknya jam di dinding. Sudah sore. Pantas saja mamanya menelepon. Pasti beliau khawatir dia belum mengabarinya dari tadi.


Huft....gara-gara Kenan. Iya, suaminya ini membuatnya lupa waktu. Tak terasa ternyata sudah lama mereka menghabiskan waktu di kamar besar ini. Kamar di gedung sasana tanding milik Kenan.


Sepulang dari bookstore, suaminya itu langsung mengajaknya ke gedung sasana tanding.


Baru Adelia tahu, ada banyak beberapa kamar di gedung ini. Kenan menunjukkan semua itu padanya tadi, saat memilih kamar untuk mereka Tentu saja menurut selera yang Adelia suka.


Hmmm....Adelia serasa diperlakukan bagai ratu oleh lelaki yang sudah menjadi suaminya itu. Sungguh Adelia tidak mengira kalau lelaki arogan dan mantan casanova itu bisa se-sweet ini.


"Yes mom, everything is okay. . Maaf Adel blom kasih kabar Mama ", cebik Adelia.


Terdengar suara kekehan mama Rose.


"It's okay, honey. Asal cantiknya mama baik-baik aja. Sekarang di mana, sayang ?", tanya mama Roae.


.


"Di sasana tanding, Ma ?", balas Adelia santai. Tak menyangka tanggapan mama Rose sedemikian hingga, sampai Adelia menjauhkan gawai dari telinganya.

__ADS_1


"What the hell, sweety ? What are you doing in there ? you both are fighting ?", seruan mama Rose dari seberang sana.


Mata cantik Adelia membeliak. Fighting ? Benar sekali tebakan mamanya, tapi fighting di ranjang. Batin Adelia.


"Uhmmm.....of courae not Mom. Kita udah beresin masalahnya, so....aku sama Ken...." Adelia menjeda kalimatnya.


Pipi putihnya merona. Diliriknya lelaki yang terlelap di sebelahnya. Lelaki yang sudah menjadi suaminya itu bersikeras mengajaknya bercinta tadi. Bergulat di atas ranjang. Di siang bolong.


Kenan bilang sebelum.bertempur di arena, mereka harus bertempur lebih dulu. Bergulat bermandi peluh di atas ranjang.


Adelia berusaha menghindar tadi, dengan alasan mengulur waktu nanti malam saja. Tapi lelakinya ini sungguh unstoppable.


Terlalu pandai merayunya. Membuatnya menjadi bergairah. Dan akhirnya Adelia hanya pasrah. Hingga akhirnya mereka kecapekan setelah bergulat beberapa ronde.


Terdengar kekehan geli dari seberang sana. .


"Alhamdulillah, so, udah baikan kan ? Mama seneng dengernya ", ucap Mama Rose lega. Terdengar kekehan lagi.


"Hmmmm.......mama benar dong berarti ?", goda Mama Rose.


Pipi Adelia semakin memerah. Apalagi saat melihat mata hazel lelaki di sebelahnya sudah terbuka lebar. Menatapnya lekat. Bibir mungilnya bergumam mama ke arah lelaki itu. Kenan balas dengan senyuman. Tampan sekali.


"Uhmmmm, about what, mom ?", gugup Adelia.


"Fighting?", mama Rose terkekeh di seberang sana.


Pipi Adelia semakin memerah. Apalagi ketika Kenan duduk dan bersandar di dasbord ranjang seperti dirinya. Dan lansung memeluk tubuhnya. Melabuhkan kecupan-kecupan lembut di bahu dan lehernya yang terbuka.


"Mamaaaaa......", manja Adelia.


Sebenarnys bukan hanya karena di goda mamanya. Tapi geli karena ulah bibir dan tangan Kenan yang menjelajah di balik selimut.


Mama Rose terkekeh.


"Ehem.....It's okay, honey. Enjoy your time ! Be happy always, my love. Mama tutup ya ?", katanya.


"No....wait, mom !", tahan Adelia.


Tapi sambungan telepon sudah diputus oleh mama Rose.


"Ahhhhhh....Ken !", Adelia berusaha menahan tangan Kenan yang sudah asyik bermain di bukit indahnya. Membelai mesra dan memainkan puncaknya dari balik selimut. Sementara bibir lelaki itu tidak berhenti beraksi. Lelaki itu betusaha memancing gairahnya lagi.


"Kenn .......mau mandi ", rajuk Adelia.


"Hmmm.....bentar sayang. Masih kangen", gumamnya di balik kecupan bibirnya yang bertubi-tubi.


"Kennnnn.......emmmhhhh !", ucapan Adelia tertelan kembali saat Kenan meraih dagunya dan menyambar bibirnya. Memagutnya dalam.


Akhirnya Adelia membalas ciuman itu. Mereka saling berbalas ciuman.


Adelia pukul dada suaminya ketika ciuman itu semakin liar. Perempuan cantik itu kesulitan bernafas.


"Huh.....huh....stop Ken !", nafas Adelia memburu.


Kenan tersenyum. Diusapnya bibir mungil merah itu. Adelia memejamkan matanya. Berusaha menahan gairah yang mulai membakar dirinya karena ulah suami mesumnya itu.


Sementara Kenan menatap nakal ke arah tubuhnya. Setelah sebelumya, meraih selimut yang menutupi tubuh mereka dan melemparnya sembarang.


"Lanjutin di kamar mandi, sayang !", diangkatnya tubuh Adelia dalam gendongan. Adelia membuka matanya.


"Hmmm........by one again ?", pasrahnya.


Apa yang bisa dilakukan Adelia selain menurut. Suaminya ini anti di tolak. Terlalu pandai.

__ADS_1


"Hmmmm.....for my full power, baby ", balas lelaki itu.


__ADS_2