
"Mau lagi ?", tawar Bryan.
"No, thanks !", jawab Adelia.
Mereka berdua akhirnya pergi ke ice cream shop. Atas permintaan Adelia.
"Udah habis 2 cup, that's enough", lanjut
Adelia.
Bryan terkekeh geli.
"Boleh lo kalo mau nambah", ucapnya.
Adelia tersenyum.
"Maybe next time .....tapi gantian aku yang traktir ", balasnya.
"Siapppp.....', Bryan acungkan jempolnya.
"Okayy....thanks Bry, I have to go now", Adelia beranjak dari duduknya.
Bryan menaikkan sebelah alisnya.
"Buru-buru banget, mau kemana ?", keponya.
Adelia tersenyum ceria. Seperti anak kecil.
"Go home ", serunya.
Bryan mengernyitkan dahi. Tapi dengan senyum-senyum geli melihat tingkah gadis kecil di depannya.
"Go home ?", tanyanya.
"Hmm...", Adelia mengangguki.
"All right....bye Bryan !", lalu bergegas melangkah pergi.
"Uhmm.....wa...wait.....!", ucapan Bryan belum sampai selesai, sudah di balas Adelia dengan lambaian tangan.
"Bye.....see you !", sambil menoleh dengan senyum manisnya.
Bryan menggeleng dan terkekeh. Sebentar tersenyum penuh rencana.
"You'll be mine girl.....soon !", gumamnya.
*************,
"Ken.....uhmm....sorry, boleh kan aku panggil begitu ", ucap Susan.
Mereka berada di restoran sekarang. Makan siang. Setelah acara rapat dengan kolega, Kenan meminta Susan menemaninya makan siang.
"Up to you ", balas Kenan. Tidak keberatan.
"Thank you ", Susan tersenyum. Selalu memamerkan bibirnya yang merah menggoda.
"Hmm...Ken....", Susan kembali berucap, tapi menghentikan kalimatnya begitu pegawai restoran membawakan pesanan mereka.
"Selamat menikmati tuan, nyonya", ucap pramiusaji itu.
"Thanks", bibir Kenan bergumam. Sementara Susan nampak tidak sabar. Karena belum selesai berucap tadi. Nampak sekali dari mimik mukanya yang sedikit masam. Tapi kembali senyum menggoda begitu pramusaji berlalu.
"Uhmm....Kenn, aku......", kembali Susan berucap. Tapi bibirnya kembali tertutup begitu terdengar dering gawai. Milik Kenan.
"Yess....excuse me...!", katanya memberi tahu Susan untuk menerima telepon.
Susan mengangguk. Tapi tak dapat dipungkiri mimiknya berubah menjadi masam. Kalau dibilang sangat masam.
Kenan segera beranjak.
"Hallo Ma.........!, suaranya semakin lirih seiring langkahnya menjauh dari meja makan.
Susan menggeram kesal.
"Damnn....kenapa selalu ada gangguan sih ?", gerutunya.
Ditatapnya berbagai menu di meja. Sengaja memesan.porsi besar agar bisa berlama-lama di sana dengan Kenan. Tapi sepertinya .....arggghh bakal gagal lagi. Seperti saat pertama mengajak Kenan makan siang kapan hari. Hufttt.....menyebalkan ! Batinnya berteriak.
Sementara lelaki tampan di depan sana masih asyik bertelepon ria. Tanpa memperhatikan dirinya dengan perut keroncongan yang minta segera diisi.
Cukup lama Kenan baru kembali. Dannn...
"Susan.....I'm sorry, I have to go home now ", katanya.
Raut kecewa jelas sekali di wajah Susan.
__ADS_1
"Lalu ini.....aku harus makan sendiri ?", keluhnya.
"Sorry.....maybe you can call your friend ?or......whatever ....accept to you", kata Kenan. Tanpa basa-basi. Dan tanpa merasa bersalah sama sekali.
Susan tersenyum masam.
"Okay, I understand. ..maybe next time ..... ", pasrahnya. Lelaki itu masih tetap sama. Kenan yang dingin dan menyebalkan. Seperti dulu. Batin Susan menggerutu.
Kenan sudah mau beranjak pergi, tapi mengurungkan niatnya begitu suara Susan terdengar lagi.
"How about tonight ?", ajak perempuan itu.
Lelaki tampan itu menoleh.
"Lihat aja nanti.....just call me !" , sambil mengacungkan gawainya.
Susan tersenyum lebar. Kepalanya mengangguk cepat.
"Okay.......I call you later ", serunya
Kenan balas dengan senyum tipis dan lambaian tangan. Lalu melenggangkan kaki panjangnya.
Susan masih menatap punggung lebar itu sampai hilang di balik pintu resto. Bibir perempuan itu tersenyum penuh rencana.
"Tonight......for along time, I've waiting for that", gumamnya.
Lalu mengotak-atik gawainya menghubungi seseorang.
"Gimana.....everything is ready ?",tanyanya.
Perempuan muda itu terkekeh mendengar jawaban dari seberang sana.
"Perfecto......kamu yang terbaik ", pujinya.
"Okayy.......sampe ketemu nanti !", lanjutnya mengakhiri telepon.
" Permainan seru bakal dimulai", gumamnya sambil tersenyum puas.
**************
"Hayo mau kemana ?", suara Kendra mengejutkan Adelia. Lelaki itu sudah berdiri di depan pintu apartemen sambil memeluk bahu pacar barunya begitu Adelia membuka pintu.
"Hmmm....kebetulan banget kalian datang", Adelia menghembuskan nafas lega.
"Come in........ada sesuatu yang pengen aku omongin.", Adelia meminta Kendra dan Sandra masuk.
"Me too ", balas Kendra.
Adelia segera menutup pintu kembali begitu Kendra dan Sandra masuk.
Sebenarnya Adelia hendak memberitahu Kendra tentang kepulangannya lewat telepon saja. Tapi berhubung Kendra datang, ya Adelia akan memberitahunya secara langsung. Tentu saja tanpa sepengetahuan Kenan.
***********
"Mama gak setuju Ken, kenapa harus ada perempuan itu ?", protes mama Jasmine pada putra lelakinya itu.
Mereka tengah duduk di ruang tengah rumah besar kedua orang tua Kenan sekarang.
"Nahh.....apa papa bilang ?", tambah papa Alex.
Kenan menghenbuskan nafas kasar.
"Cuma training Ma, tiga bulan udah kelar ", balasnya.
Mama Jasmine menggeleng.
"Mama tetap gak setuju, fired her !", tegasnya.
Kenan membulatkan matanya. Mamanya ini selalu setegas ini kalau berhubungan dengan menantunya. Dan apa yang di pikirkan Kenan adalah seratus persen benar, buktinya ucapan mamanya setelah itu.
"Mama gak pengen mantu cantik mama salah paham, apalagi berpikir aneh-aneh kalo kamu punya sekretaris perempuan", mama Jasmine seraya menatapnya dalam.
Membuat Kenan salah tingkah seketika. Kenapa kalau begini serasa mamanya menjudgenya telah melakukan suatu kesalahan.
"Dengerin nasehat mama, Son !", Papa Alex menepuk bahu Kenan dan duduk di sebelahnya.
"Papa rasa perempuan itu datang bukan dengan maksud yang baik juga, believe us !", lanjutnya.
Kenan terdiam. Sebenarnya dia sendiri juga tidak ingin melakukan itu. Huft....seorang sekretaris ? perempuan ? Apa pentingnya bagi Kenan. Nothing. Kenan lebih suka kerja sendiri. Batinnya juga membenarkan ucapan orang tuanya.
"Don't think to much, you know the best, just do it !" , Papa Alex beranjak. Kembali menepuk bahu putra lelakinya itu perlahan.
Mama Jasmine juga beranjak.
"Remember boy, pastiin gak ada perempuan itu lagi di perusahaan !", ingatnya.
__ADS_1
"But Pa...Ma !", kelah Kenan.
"No debat.....kita tunggu di meja makan, It's time to lunch !", Mama Jasmine mengangkat telunjuknya dan menggoyangkannya.
Kenan mengusap wajahnya kasar. Beberapa kali. Memandangi tubuh kedua orang tuanya yang berjalan menjauh dengan pandangan kacau.
"Argghhhh ...", geramnya.
Bukan pada papa mamanya, tapi lebih pada dirinya sendiri.
"Ndra....what are you doing now ?", keluhnya sambil meraih gawai di saku jasnya.
Kemarin Kenan meminta sepupunya itu mengecek nomer yang telah mengirimnya foto -foto laknat itu. Yang membuat darahnya mendidi. Tentu saja tanpa memberitahu sepupu cabulnya itu tentang foto-foto yang diterimanya. Pasti akan dikerjai habis-habisan dia.
Tapi sangat menyebalkan sekali, sepupunya itu belum memberi kabar padanya sampai sekarang. Pasti sibuk pacaran dia. Batinnya menggerutu.
Lelaki itu dengan tidak sabar menggulir layar benda pipih itu. Pada saat bersamaan ada notifikasi masuk. Lelaki tampan itu segera membukanya. Dahinya mengernyit dalam.
"Huhhh....kenapa baru kasih kabar ?', dengkusnya. Mengamati gawainya seksama.
"Mau main-main sama Kenan rupanya", lanjutnya.
"Okayyy......keep to watch him !", tulis Kenan di direct messagenya. Sebentar kemudian notifikasi terkirim.
Lelaki tampan itu mengenggam gawainya erat. Sebelah tangannya mengepal kuat. Perasaan emosi, cemburu, marah dan rindu bercampur jadi satu. Tapi sepertinya rasa cemburu lebih menguasainya. Buktinya dua hari ini sama sekali tidak menghubungi istrinya.
"Whatever you do with him ....I'll gotta to find out, baby ", lirihnya.
***********
Di Apartemen Adelia.
"Aku jadi pengen pulang juga ", rengek Sandra begitu mendengar penuturan Adelia.
Kendra menoel dagu perempuan cantik yang menjadi pacarnya itu.
"Eitsss....selesaiin dulu kuliah kamu , kalo libur boleh pulang ", ucapnya.
Adelia terkekeh.
"Don't worry San, cuma bentar kok di sana..... maybe one week", hibur Adelia.
"Itu lamaaa.....pengennnn....", rajuk Susan. Langsung di raih kepalanya oleh Kendra dan didekapnya dalam pelukan.
Adelia mencebik.
"Biasa aja kalu, Ndra....jadi mupeng nih ", dengkusnya.
Kendra tergelak keras.
"Sorry little girl.....bentar lagi bisa begitu juga kan.....boleh lebih ", godanya.
Adelia meninju lengan atas sepupu suaminya itu.
"Kepo...", galaknya.
Dibalas Kendra dengan kekehan usilnya.
"Okayy....remember, Ndra.....that's a secret, just the three of us", ingat Adelia.
"I'll make a surprise", lanjutnya dengan mata yang mengedip-ngedip lucu.
Kendra mengangguk. Tangannya bergerak, hendak mengacak puncak kepala Adelia.
"Heiii....stop !", cegah Adelia.
Membuat Kendra tergelak seketika.
"Beneran galak ya ", oloknya. Adelia hanya mencebik.
"Remember what I say little girl.....about that guy.....you must be careful, okay !", lanjut Kendra mengingatkan.
"Okay...okay.....I know ....but we're just friend.....He's a good friend....I think", balas Adelia.
Kendra mengangguk-angguk.
"All right .....but don't close to much !", nasehat Kendra. Lalu mengedipkan sebelah matanya genit.
"Si mesum bisa cemburu ", seraya terkekeh mengejek. Kenan tentunya.
Sandra cubit lengan pacarnya itu. Membuat kekehan Kendra semakin keras.
Adelia tersenyum dan mengangguki.
"Uhmm.......I know .", balasnya.
__ADS_1