Blind Date

Blind Date
139. Ice cream


__ADS_3

"Apa aku bilang? Bawel sih !", gerutu Adelia. Ketika melihat suaminya meringis kesakitan. Bukan karena menggendongnya dari parkiran menuju apartemen tadi siang. Karena tadi lelaki itu terlihat baik-baik, sama sekali tidak mengeluh sakit.


Tapi karena lelaki itu bersikeras melakukan latihan beladiri sore harinya. Padahal Adelia sudah melarangnya.


"Oughhh... !", lenguh Kenan. Sebelah tangannya memegangi tangan Adelia.


"Diam bentar kenapa sih? biar cepat baikan", lanjut Adelia seraya menuntun Kenan duduk di sofa. Di ruang samping apartemen.


"Sakit banget ? ", cemas Adelia. Tangannya bergerak mengusap keringat di dahi suaminya. Lalu berpindah ke perut Kenan yang tertutup kain.


Kenan menggeleng pelan.


"Enggak, baby. Cuma sedikit nyeri ", balasnya.


Sementara Adelia menatapnya dengan seksama. Raut cemas nampak sekali di wajah cantiknya.


Kenapa melihat itu Kenan justru ingin tertawa. Tak lama kemudian bibir lelaki itu tertarik ke samping.


"Gemesin banget kalo cemas begini", lirihnya. Spontan membuat bola mata cantik itu membulat.


Posisi wajah mereka yang sangat dekat memudahkan Kenan untuk mencuri satu kecapan lembut di bibir perempuan cantik itu.


"Udah nggak sakit lagi sekarang ", ucapnya begitu menjauhkan bibirnya.


Adelia cubit hidung mancung Kenan.


"Memang ada, pake cium gitu langsung sembuh? ", cebiknya.


Kenan terkekeh.


"Hmmm......", angguknya. Ditoelnnya bibir ranum istrinya.


"Coba cium la....emmhh ! ", ucapan Kenan belum selesai, begitu bibir mungil Adelia sudah mendarat dengan manis di bibirnya.


Langsung Kenan sambut dengan ******* lembut. Beberapa saat kedua benda kenyal itu saling kecap. Saling pagut dengan mesra.


"Kennn.... ", panggil Adelia begitu pagutan bibir itu terlepas. Tangan Kenan masih menangkup wajah cantik Adelia. Sesekali mengusap lembut bibir mungilnya.


Pun juga tangan mungil Adelia. Juga melakukan yang sama.


"Yess, honey ", mesra Kenan.


"Uhmmm.... beneran mau pulang sendiri? Nanti kalau tiba-tiba luka kamu sakit lagi gimana?", cemas Adelia.


Kenan terkekeh.


"Nggak akan, baby....I'll be okay ", balas Kenan. Dicubitnya hidung mancung Istrinya. Gemas. Tadi saja ngambek, sekarang kenapa sudah jadi manis begini. Batin Kenan.


Mata lelaki itu mengedip nakal dengan senyum meledek seperti biasa.


"Udah nggak ngambek nih? Nggak protes lagi? ", goda Kenan.


Tentu saja bibir mungil itu langsung cemberut. Ditariknya tangannya dari wajah Kenan. Bahkan juga menyingkirkan tangkupan tangan Kenan di wajahnya.


"Pengen aku ngambek lagi?", rajuknya. Sambil memutar tubuhnya agar tidak berhadapan dengan suaminya.


Kenan langsung tergelak. Lalu memeluk tubuh istrinya. Meletakkan dagunya di bahu perempuan cantik itu.


"Of course not , baby. I love you so much", bisik Kenan di telinganya.


Bibir mungil Adelia manyun lucu.


"Tadi di telpon Dosen besok di tunggu di kampus ", cebiknya.


"Is it okay, I'm not coming with you? ", lanjutnya.

__ADS_1


Kenan daratkan ciuman di pipi mulus Adelia. Lalu menegakkan kepalanya. Membawa tubuh Adelia agar menghadap ke arahnya.


"Trust me, baby. I can handle it !" , yakinnya. Di tatapnya manik coklat indah itu lekat. Berusaha menyakinkan istrinya. Karena bisa Kenan lihat ada kecamasan yang begitu kentara di wajah cantik itu


"I'm afraid, Ken......gimana kalau sesuatu... emhhh.....", Adelia tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Kenan sudah membungkam bibirnya.


"Nothing happened, baby. Cinta dan doa kamu yang akan lindungi aku....It will protect me, honey !", yakin Kenan.


Diusapnya lembut bibir mungil itu dengan ibu jarinya.


"Would you pray for me, baby?", tanyanya.


Bibir mungil Adelia langsung tersenyum ceria.


"Kenapa nanya? Of course, Ken. You're my husband, my lovely husband, thanks so much..... ", Adelia peluk tubuh lelakinya erat. Selalu merasa terharu dengan sikap mengalah dan pengertian Kenan. Itulah yang membuat Adelia bisa jatuh di pelukan hangat lelaki itu.


Kenan balas memeluk lebih erat. Lelaki itu tersenyum dan mengelus rambut Adelia lembut.


Hingga terdengar lenguhan dari bibirnya yang menyadarkan Adelia kalau lelakinya terluka. Ternyata dia sudah menekan luka itu tanpa sengaja.


"Uhmmm Ken...... it's hurt? ", tanyanya sambil menyentuh perut suaminya.


Kenan tersenyum. Sangat manis. Lalu menarik kembali tubuh cantik itu ke dalam dekapan hangatnya.


"Nothing hurt, baby.......If It's you......", lembutnya di telinga Adelia.


Adelia tersenyum di balik dekapan. Meskipun dalam hati ada sebersit khawatir akan membiarkan suaminya kembali ke tanah air sendiri. Tentu saja karena luka di perutnya. Tapi sepertinya bukan itu saja. Ada sesuatu yang sepertinya membuat hati Adelia tidak nyaman.


"But Kenn... ", Adelia menjauhkan tubuhnya.


"Hmm.....?", lembut Kenan.


"Aku mau nyusul kalau urusan kuliah udah kelar", kata Adelia selanjutnya.


Kenan tergelak. Menyentil dahi Adelia lembut.


Wajah cantik itu langsung merengut. Kenan kembali terkekeh.


"Biar aku yang datang ke sini", lanjutnya.


Bibir mungil Adelia makin mencebik. Membuat Kenan kembali tergelak. Lebih keras.


"Okay.... okay, give me two days......If I can't, I call you to come, baby ", ucap Kenan akhirnya.


Bibir mungil Adelia langsung tersenyum.


"Deal... !", lalu mengulurkan kelingkingnya. Disambut kelingking Kenan dan kecupan hangat di bibir mungil Adelia.


"Little kid.... ", gumamnya.


Langsung mendapat pukulan di bahunya dari tangan Adelia.


"Okay ..... okay.....my love, ...how about to spend our time with something ..... satisfied", mata hazel itu mengedip nakal.


Adelia terkekeh kecil. Lalu tubuh cantik itu bergegas bangkit dengan manik yang berbinar.


"Okay..... let's go ! ", ajaknya. Sambil. mengulurkan tangannya, seperti membantu anak kecil yang mau berdiri.


Terngangga, Kenan juga segera bangkit.


"Are you sure, honey? ", herannya. Tentu saja apa yang dipikirkan Kenan berbeda dengan yang dipikirkan Adelia.


Perempuan cantik itu tersenyum dan mengangguk. Lalu menarik tangan suaminya.


"C'mon.....honey !", ucapnya. Dengan senyum tersungging Kenan mengikuti langkah kaki mungil istrinya.

__ADS_1


******************


"Yuk, ikut dulu ", Sandra menarik tangan Kendra. Sementara lelaki itu mengikuti saja kemauan wanitanya.


Baru saja mereka turun dari mobil, beberapa langkah meninggalkan parkiran. Tapi gadis cantiknya itu tiba-tiba menarik tangannya.


"Kemana? ", tanya Kendra.


"Mau ice cream ", Sandra sambil menggigit jemarinya.


Kendra membulatkan matanya. Sudah berapa kali pacarnya ini makan ice cream. Dan sekarang mau lagi.


"Again? ", Kendra menyakinkan. Sandra mengangguk cepat. Lalu kembali menarik lengan lelakinya dan membawanya melangkah lagi. Lebih cepat. Bahkan setengah berlari.


Tak berapa lama mereka sudah memasuki super mart. Ternyata tidak jauh dari lokasi apartemen.


"Aku suka ice cream.... banget ", kata Sandra lagi dengan mata berbinar.


Sebelah tangannya membuka pintu toko swalayan itu. Sebelah tangannya yang lain masih menarik tangan lelakinya.


Kendra hanya menggeleng saja. Mengikuti langkah kaki mungil pacar barunya itu dengan bibir yang sedikit tertarik ke samping.


"Anak kecil... ", gumamnya.


Bibir Sandra mencebik.


"Jadi dewasa gara-gara kamu ", balasnya sambil terus melangkah.


Kendra tergelak.


"Kamu suka kan? ", balasnya. Sedikit membungkuk agar bisa mengatakan itu di telinga perempuannya.


"Kalo aku bilang enggak, kamu percaya?", Sandra ganti bertanya. Sambil menyentil hidung mancung Kendra.


Dibalas Kendra dengan mengacak puncak kepala pacarnya itu.


"Gadis nakal ", gemasnya. Lalu merangkul bahu Sandra. Sepasang sejoli itu terkekeh bersama.


Di depan sebuah box freezer besar, dengan cepat Sandra membukanya. Mengambil satu ice cream kesukaannya. Langsung membuka dan memakannya.


"Ehmm.... delicious ", gumamnya.


"Mau beli banyak, buat besok juga ", katanya lagi. Masih sibuk menikmati es krimnya. Sesekali menjilat, sesekali memasukkan ice cream itu ke mulutnya.


Melihat itu hati Kendra berdesir. Ada gejolak aneh yang membuat darahnya memanas. Dan mengalir ke jantungnya, membuat debaran lebih keras. Tiba-tiba saja ada yang menegang di bawah sana.


"Uhmm.... boleh.....ambil aja semau kamu", Kendra menyetujui. Fokusnya sekarang adalah pada bibir yang sibuk menjilati es krim.


Mereka tadi berencana menghabiskan malam berdua. Sekedar bercengkrama dan mendekatkan hubungan mereka. Yang notabene belum genap 24 jam.


Ahhh.... sepertinya Kendra tidak yakin hanya dengan bercengkrama.


Melihat cara pacarnya memakan ice cream, sepertinya gairah lelaki itu bangkit.


Pikiran liarnya jadi berselancar kemana-mana. Ini masih melihat bibirnya, apalagi melihat yang lain. Tubuh perempuan cantik itu tanpa busana misalnya


Ehhhh......sifat cabulnya mulai beraksi.


"Mau? ", tawar Sandra sambil menyodorkan ice creamnya. Karena melihat lelakinya itu menatapnya lekat.


Pucuk dicinta ulam tiba. Batin Kendra. Inilah saatnya menuntaskan keinginannya pada bibir yang merah menggoda itu. Pasti sangat manis. Apalagi ada ice cream yang menempel di sana.


"Of course....mau ice cream yang ini ", ujarnya seraya mendekatkan wajahnya. Lalu secepat kilat bibir Kendra menyambar ice cream yang belepot di bibir Sandra.


Hmmm... tentu saja tidak hanya ice cream. Tapi bibir basah perempuan cantik itu. Kendra pagut bibir itu penuh gairah. Sempat terkejut Sandra membulatkan mata cantiknya. Tapi akhirnya perlahan membalas pagutan itu.

__ADS_1


"Ckckck..... emang nggak tempat ya ! ", suara seseorang mengejutkan keduanya. Seketika menghentikan keintiman mereka.


__ADS_2