Blind Date

Blind Date
168. Telepon grandpa jahil


__ADS_3

"Done", ucap Adelia begitu selesai mengoleskan salep pada bekas luka di perut Kenan. Luka itu tampak memerah karena terkena tendangan tadi.


Mereka duduk di sofa panjang, masih dalam salah satu kamar di area gedung sasana tanding keluarga Parviz.


Waktu menunjukkan pukul 9 nalam. Mereka memutuskan untuk menginap di sana.


Adelia menggeleng dan tersenyum, saat mendongak dan menemui wajah cemberut suaminya. Entah kenapa.


Tapi tentu saja Adelia tahu cara terbaik untuk membuat bibir suaminya itu tersenyum. Atau mungkin malah tertawa.


Kembali menunduk, diusapnya lembut luka di perut lelaki itu, lalu memberikan kecupan lembut di sana.


"Get well always", lirihnya.


Setelah itu menurunkan kembali kaos yang dikenakan Kenan.


Dan benar apa yang dipikirkan Adelia, apa yang dilakukannya barusan berhasil membuat bibir seksi suaminya itu tersenyum. Manis sekali.


"Thanks, my love !", dibarengi kecapan di bibir Adelia begitu perempuan cantik itu kembali menegakkan kepalanya.


Adelia terkekeh. Apalagi saat bibir nakal Kenan turun ke lehernya.


"Stop, Kenn.....geli !", ucapnya.


Berusaha menahan kepala lelaki itu yang mengendus-endus lehernya.


Kenan menegakkan.kepalanya.


"Kenapa sih harus diantar ? Kayak anak kecil aja. Dasar manja !", gerutunya.


Adelia membulatkan manik cantiknya. Mengedip beberapa kali dan terkikik geli. Ternyata ini yang membuat suaminya merajuk. Gara-gara Bryan minta di antar ke bandara besok.


Dan apa katanya tadi ? Manja ? Bukannya dia juga. Mungkin jauh lebih manja.


Ahhhh....suaminya ini benar-benar random. Kemarin saja baik sekali pada Bryan. Bahkan berinisiatif meminta Nino mengantar lelaki itu pulang karena khawatir lelaki itu tidak bisa mengemudi sendiri


Meskipun pada akhirnya Bryan menolak. Tapi berganti dengan satu permintaan lain, yaitu meminta Adelia mengantarnya sampai bandara besok hari. Dan kini justru membuat Kenan dalam dilema.


"Kan ngantarnya sama kamu, sayang.? aku gak mau juga kalo sendiri", lembut Adelia.


Bibir seksi Kenan ternganga. Mata hazel itu membola.


"Wh...what ? Can you repeat it, baby ?", pintanya.


Adelia terkekeh. Pasti suaminya ini fokus pada kata sayang. Bukan.pada penjelasan Adelia.


"Besok ngantarnya sama kamu, sayang. Kenapa merajuk gitu sih ?", ulangnya.


Kenan tersenyum lebar.


"Kenapa bibir ini manis banget sih ? Jadi pengen cium terus kan ", gemasnya.


Lalu spontan meraih kedua sisi wajah Adelia dan memagut bibir merah ranum itu mesra. Mengecap layaknya melahap buah cerry yang manis.


Dering gawai membuyarkan keintiman mereka. Gawai Adelia yang ditaruh sembarang di atas ranjang tadi.


"Aku terima dulu", ucap Adelia saat Kenan.melepas kecapannya.


"Hmmm....iya sayang, aku tunggu", Kenan mengangguki. Senyum manis tersungging di bibir seksinya.


Adelia beranjak. Pandangan Kenan tak beralih sedikitpun dari tubuh mungil yang melangkah ke arah ranjang itu.


"Bryan.....wanna accept it ?", ucap Adelia ketika sudah mendapati gawainya. Dia memutar tubuhnya agar beradu pandang dengan suaminya.

__ADS_1


Dahi Kenan mengernyit dan bibirnya menjadi cemberut.


Adelia terkekeh. Lalu melangkah cepat ke arah suaminya. Duduk di sebelahnya dan menyodorkan gawainya. Langsung diterima suaminya.


"Hallo, baby girl !", suara sapaan dari seberang sana saat Kenan mendekatkan gawai itu ke telinganya.


Lelaki tampan itu mendengkus.


"Mau apa ?", ketusnya.


Adelia cubit lengan terbuka suaminya. Dan menaruh dagunya di pundak lelaki itu.


"It's you, bro ! ", suara Bryan terkekeh dari seberang sana.


Kenan balas dengan deheman saja. Sebentar bibir lelaki itu tersenyum ketika bibir ranum Adelia menyentuh pipinya. Spontan Kenan berikan kecapan balasan.


Terdengar suara lagi dari seberang sana.


"Aku gak jadi pulang besok....", ucapan Bryan belum selesai tapi Kenan sudah menyambarnya.


"Maksud kamu ? Mau ingkar janji ?", gusarnya. Adelia menenangkan suaminya dengan melingkarkan kedua tangan di perut sixpack lelaki itu. Dengan dagu masih menenpel di pundaknya.


Terdengar kekehan dari seberang sana.


"No.....never, bro ! Aku gak akan ingkar janji.....besok ada janji ketemu grandpa, jadi aku tunda balik ke Amerika", terang Bryan.


"Okay.......so, gak perlu antar kamu kan? ", tegas Kenan. Mengungkapkan persaan jengkelnya dari tadi.


Bryan tergelak.


"Siapa bilang ? maybe lusa aku tagih janji kalian", balasnya.


Kenan mendengkus lirih. Sebenarnya ingin memaki lelaki di seberang sana itu, tapi pelukan istrinya meredakan amarahnya. Apalagi saat benda kenyal ranum itu beberapa kali mampir ke pipinya, lenyap sudah kemarahan Kenan.


"Okay.....never mind, that's enough ? See you tomorrow !", Kenan tutup telepon itu sepihak. Padahal bisa Adelia dengar suara Bryan akan berucap dari seberang sana.


"Tapi aku suka", lanjut perempuan cantik itu. Membuat gelak Kenan terhenti dan menatapnya dengan pandangan nakal.


Bahkan suaminya itu menangkap kedua tangannya.


"Really, baby ? How about now ? Mau lebih nakal lagi, boleh ?", menoel hidung mancung Adelia.


Sebelum.Adelia menjawab, Kenan angkat tubuh perempuan.cantik itu dalam gendongan.


"Like what ?", manja Adelia seraya mengalungkan lengannya di leher kokoh lelaki itu.


Kenan tergelak.Kaki panjangnya sudah melangkah ke arah ranjang. .


"Let me show you, baby !", nakalnya


Tiba-tiba ....


"Krukkkkk....", suara dari perut Kenan membuat mata cantik Adelia membulat dan terkikik geli.


"Ada yang lapar nih", godanya.


Kepala Adelia mendongak dan.tersenyum meledek.


Kenan sambar bibir yang mengoda tepat di depannya itu.


"Gak mau makan dulu ", ingat Adelia saat Kenan menjauhkan bibirnya.


"Hmmm.....makan kamu aja sayang ", bisiknya di telinga Adelia.

__ADS_1


Adelia terkekeh. Kegelian. Karena tidak.cuma berbisik, lelaki itu menyapukan lidahnya di cuping telinganya.


"Yakin ? Luka kamu ?", tanya Adelia.


Kenan tersenyum. Bertepatan dengan langkahnya yang sampai di sebelah ranjang. Tidak.menurunkan Adelia, tapi membuat perempuan cantik itu duduk di atas pangkuannya di tepi ranjang.


"Luka aku yang mana sayang ? Akan lebih terluka kalo gak nakal sama kamu", tangan kanannya mengusap lembut bibir mungil Adelia yang siap mencebik, sedang sebelahnya lagi mengelus pinggang ramping perempuan.cantik itu mesra.


Adelia belum sempat berucap ketika kemudian bibir Kenan sudah menari di atas bibirnya. Sangat lembut dan penuh gairah.


Dan selalu membuat Adelia tidak bisa menolak.


Keduanya terlena dalam gelombang panas yang siap membakar mereka. Pagutan itu semakin menggila.


Tiba-tiba dering gawai terdengar. Namun tidak mempengaruhi aktivitas keduanya. Kenan menahan tubuh Adelia agar tetap di atas pangkuannya.


Beberapa saat dering itu semakin meraung-raung.


Adelia tepuk bahu Kenan, meminta agar lelaki itu berhenti.


"Kennn...stop !", Adelia tahan dada Kenan


Tidak mau berhenti Kenan justru menurunkan ciuman ke leher dan dada bagian atas yang terbuka karena ulah tangan usilnya.


"Hmmm....what's up baby ?", gumamnya di balik kecupan. Belum mau mengalihkan kegiatannya sama sekali. .


Adelia dorong kepala Kenan agar menjauh.


"Kennn.....!", serunya.


Barulah lelaki itu mendongak. Sinar mata hazel itu sudah berkabut gairah.


"Apa, sayang ?", tanyanya tak merasa bersalah sama sekali. Memang tidak salah sih, tapi ....huft .....menjengkelkan sekali.


"Ada telpon.....kamu ini....", Adelia singkirkan tangan Kenan yang masih bertengger di pinggangnya.


Menghentakkan kakinya di lantai dan melangkah ke arah sofa di mana gawainya berdering nyaring dari sana.


Kenan menghempaskan.tubuhnya di dasbord ranjang. Meletakkan tangannya di belakang sebagai bantalan. Sebelumnya melepas kaosnya dan melemparnya sembarang.


"Siapa sih ganggu aja ?", gerutunya. Sambil menggeram.kesal, karena sesuatu di bawah sana sudah berulah.


Sementara istrinya menerima telepon, tidak kembali padanya justru asyik berbicara dan.duduk di sofa.


"Baby, come here !", aeru Kenan tidak sabar.


Adelia melambaikan tangannya dan menggumam.


"Sebentar, sayang", balasnya.


Bibir Kenan cemberut. Bagaimana dia mengatasi samurainya yang sudah berontak minta keluar dari sarungnya. Arrrghhhh....tidak nyaman.sekali.


Segera beranjak.dari ranjang, Kenan putuskan akan.melakukan itu di.sofa saja. Ahhhh....itu apa Ken ? Masa bodo. Kenan sudah tidak tahan.


Tangannya bergerak mengelus sesuatu yang menegang di.bawah sana, sebelum kemudian.melangkah. Ke sofa itu, iya sofa dimana istrinya tengah asyik duduk di sana.


Baru satu langkah, Kenan mendengkus jelaa karena gawainya yang tergeletak di ranjang berbunyi.


"Argghhh shittt !", kesalnya.


Memutar cepat langkah kakinya kembali. Meraih gawai yang meraung itu dengan kasar


Mengernyit dalam begitu melihat nama yang tertera di layar gawainya.

__ADS_1


"Hallo, granpa !", sapanya.


.


__ADS_2