
Biarpun menjengkelkan, usul lelaki itu masuk akal juga. Apapun alasannya, tidak seharusnya Kenan mengacuhkannya. Sengaja atau tidak. Apalagi kalau disengaja. Adelia harus betul-betul membuat perhitungan dengan suaminya.
"Kamu istri sahnya. Kamu yang lebih berhak. Kenapa malah diacuhkan ?", begitu kata Kendra. Dan benar. Siapa istri sahnya, siapa orang ketiga, kenapa Adelia merasa terabaikan ?
Terbukti beberapa saat yang lalu, kedua orang itu suap-suapan di depan matanya. Kenan sama sekali tidak menegur atau menyapanya. Cuma menatapnya dengan pandangan yang aneh.
Kenapa Adelia biarkan ? Bukankah harusnya Adelia marah? Menendang perempuan itu biar keluar dari mansion mereka ? Atau memukul Kenan karena dengan berani bermesraan di depannya dengan perempuan lain ?
Terlepas dia hamil beneran apa tidak, anak Kenan atau bukan, Adelia harus tegas. Tentu saja masalah yang satu itu hanya mereka bertiga yang tahu.
Tapi intinya, Kendra juga mengatakan, jangan sampai perempuan lain memegang kendali atas rumah tangga Adelia. Adelia tidak boleh diam. Adelia harus ambil tindakan.
Kecuali orang ketiganya adalah Kendra. Maka, lelaki itu justru memberikan usul konyol.
"Atau kita selingkuh aja, biar impas !", usulnya. Yang langsung Adelia balas dengan pukulan keras di tubuh lelaki itu.
Malam ini Adelia akan menyelesaikannya. Sore tadi Papa, mamanya sempat telepon, memintanya dan Kenan datang ke rumah. Mana mungkin kalau mereka masih dalam kemelut seperti ini.
Bukan cuma papa mamanya, tapi juga papa Alex dan Mama Jasmine, mereka meminta hal yang sama. Berharap dirinya dan Kenan berkunjung ke rumah mereka dan berkumpul bersama. Karena setelah menikah, memang Adelia dan Kenan belum berkunjung ke rumah papa mamanya.
Bagaimana Adelia tidak pusing coba ? Sementara lelaki yang menjadi suaminya itu pasti tidak di berondong dengan telepon -telepon itu. Cuma dirinya.
"Ajak anak nakal itu ke sini, kalo nggak mau jewer aja !", begitu pesan mama Jasmine di telepon tadi. Masih bisa Adelia ingat dengan jelas. Yang tentu saja karena mama Jasmine tidak menelepon putranya sendiri.
Dengan langkah pasti, Adelia melangkah menuju kamar Kenan. Kamar pribadi lelaki itu sebelum mereka menikah. Begitu kabar yang Adelia terima dari asisten mansion tentang keberadaan suaminya. Lelaki itu seharian ini sama sekali tak menemuinya.
Okay, Adelia yang akan nyamperin. Lihat saja ! Tanpa mengetuk pintu Adelia langsung memutar handle. Dan pintu terbuka. Sepi. Tak nampak siluet tubuh tinggi atletis itu di sana. Terdengar gemericik air dari kamar mandi.
Fix, Adelia pastikan lelaki itu masih mandi. Malam begini baru mandi ? Apa yang lelaki itu lakukan sedari tadi ? Sibuk dengan perempuannya ? Baiklah, Adelia akan menunggu lelaki itu di balkon. Sambil menghirup udara segar.
Melangkah ke arah pintu penghubung balkon. Perlahan membukanya. Angin dingin malam langsung berhembus menerpa wajah cantiknya.
"Bulan purnama, perfect night ", gumamnya.
Lalu melangkah ke dekat pagar pembatas balkon dan berdiri di sana.
Beberapa saat mengamati indahnya bulan dan bintang. Bibir mungil Adelia tersenyum. Malam ini akan menjadi malam yang indah seandainya tidak ada masalah dengan rumah tangganya. Bercinta di bawah sinar bulan, pasti luar biasa.
Ahhh .... apa yang Adelia pikirkan. Fokus Adel....fokus ! Kamu harus beresin masalah ini dulu ! Batin Adelia.
Perempuan cantik itu menoleh ke belakang begitu terdengar suara yang ditunggunya dari tadi. Tapi sungguh di luar dugaan suara itu terdengar dingin dan datar.
"Any problem ?", lelaki itu berdiri di ambang pintu balkon dengan masih mengenakan bathrobe.
Adelia mengedik. Bukan seperti Kenan yang biasa. Yang mesra dan selalu lembut kepadanya. Perlahan Adelia memutar tubuhnya agar berhadapan dengan lelaki itu. Dilipatnya tangannya di bawah dada.
Ditatapnya lelaki itu dengan pandangan tajam menelisik. Seakan ingin mengetahui apa yang disembunyikan lelaki itu sekarang.
"We need to talk ", balas Adelia.
Kenan melangkah menghampirinya. Dan berdiri di sampingnya. Dengan arah berlawanan.
"Ngomong aja, aku dengerin !", balas lelaki itu. Masih dingin.
Adelia merasa tidak nyaman sekali dengan suasana seperti ini. Dengan cepat meraih tubuh Kenan dan memaksanya agar berhadapan dengannya.
"What's a matter with you ? tell me Ken !", Adelia mengguncang tubuh lelaki itu. Kenan tak bergeming. Hendak menyingkirkan tangan Adelia, tapi perempuan cantik itu segera berkata.
"Don't move, look into my eyes !", paksa Adelia.
Lelaki itu mau tak mau di paksa menatap mata cantik di depannya. Tak kuasa mata hazel tajam itu menundukkan pandangan.
Adelia spontan menubruk tubuh lelaki itu. Menjatuhkan tubuhnya di dada Kenan. Memeluk tubuh lelaki itu erat.
"Just tell me, Ken ! jangan simpan sendiri beban kamu, I know what you feel !", gumam Adelia di balik pelukan.
Kenan masih bungkam. Juga tak membalas pelukan Adelia.
"Kamu harus tahan Ken.....harus tahan ", teriak hati lelaki itu.
Adelia tersenyum dalam pelukan. Belum berhasil, Del. Okay, Adelia akan mencari cara lain. Batinnya.
Sebentar menjauhkan tubuh mereka. Lalu Adelia meraih kedua sisi wajah Kenan. Dengan cepat mencium bibir lelaki itu. Memagutnya mesra.
__ADS_1
Masih sama. Lelaki itu tidak merespon. Pasrah saja dengan apa yang dilakukan istrinya.
"Hold on, Ken....hold on !", lagi-lagi hati lelaki itu berteriak.
"Aku nggak kuatttt.....", suara hatinya yang lain menjerit.
"Harus kuat....", suara-suara itu terus berkecamuk di pikirannya.
Tapi tubuh lekaki itu tetap tak bergeming. Tak.juga membalas cumbuan Adelia.
Tak menyerah begitu saja, Adelia dengan intens terus mencumbu bibir lelaki itu. Bahkan kini menurunkan ciuman itu di leher dan dada Kenan.
"Kamu pengen aku ngelakuin ini ", lirihnya di balik ciuman. Ciuman itu terus turun dan kini berhenti di perut sixpack lelaki itu. Tangan Adelia bergerak meraih tali pengikat bathrobe.
Kenan memejamkan matanya. Terlihat sekali dari wajahnya, lelaki itu sedang menahan sesuatu yang sangat tidak nyaman. Sesuatu yang siap meledak. Tampak dari wajahnya yang begitu memerah.
Dan ketika tali bathrobe itu terlepas, terbukalah pemandangan erotis yang membuat pipi Adelia memerah seketika. Sesuatu yang besar tengah berdiri dengan gagah di bawah sana.
Spontan Adelia menegakkan tubuhnya. Bersamaan dengan itu mata hazel lelaki gagah di depannya terbuka.
"Apa aku harus pergi dari hidup kamu ?", tanya Adelia dengan sorot mata dalam. Mata hazel itu menyorotinya tajam, tapi belum berucap apapun.
"Okay, aku anggap kamu jawab ya ", seraya memasang kembali tali pengikat bathrobe. Lalu dengan cepat memutar tubuhnya. Belum sampai melangkahkan kakinya, kedua tangan besar itu memeluknya dari belakang.
"Please, don't go baby !", suara bariton itu berbisik di dekat telinganya. Bahkan kepala lelaki itu bersandar di bahunya.
"I need you, need you so much, baby ", lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya.
Adelia terdiam. Ingin mendengar ucapan lelaki itu selanjutnya. Menurut saja ketika Kenan memutar tubuhnya agar mereka saling berhadapan.
Kenan menatapnya dengan sorot lembut dan sayang seperti biasanya. Tatapan hazel yang Adelia suka. Dia sudah kembali. Batin Adelia.
"I'm so sorry, honey", ucap lelaki itu.
Ditangkupnya kedua sisi wajah cantik itu.
"You know baby, aku tersiksa nggak bisa dekat sama kamu, nggak bisa sentuh kamu", lelaki itu menghela pelan.
"Nyiksa banget saat harus bertahan tanpa kamu, abaikan kamu ", jemari Kenan mengusap pipi mulus itu.
"Apa aku harus pergi .....emhhh ", bibir Adelia tak selesai berucap karena bibir Kenan sudah membungkamnya. Memagut dan mengecapnya lembut dan mesra.
"Don't ....", Ibu jari Kenan kembali mengusap lembut bibir merah itu.
"Don't say that again, okay !", lalu kembali mencumbu bibir itu lagi. Menggulatnya mesra. Perlahan Adelia membalas itu. Keduanya saling berpagut. Beberapa lama.
Sesaat menjauhkan bibir mereka.
"Hmmm....promise me, baby !", Kenan menyakinkan.
"Uhmm....promise ", Adelia mengangguk cepat.
"But...promise me too ! ", pinta Adelia.
Kenan tersenyum dan mengiyakan.
"Don't ignore me ! It's hurt Ken !", Adelia dengan sorot mata sendu.
Kenan tersenyum. Lalu menggeleng cepat.
"I'm sorry, baby. Never...never happened again !", yakinnya.
Ditatapnya istrinya dengan penuh rasa bersalah. Menyesal sekali telah mengabaikan perempuan cantik ini seharian. Sama dengan istrinya juga, Kenan begitu tersiksa. Meskipun pada dasarnya Kenan melakukan itu karena terlalu takut Adelia meninggalkannya.
Keduanya saling tatap beberapa lama. Kemudian kedua bibir itu saling mendekat. Bibir Kenan kembali beraksi, menyerang bibir mungil ranum yang menggoda itu. Kembali mereka bercumbu.
Sebentar kemudian Adelia menepuk bahu lelaki itu, memintanya agar melepas ciuman hebatnya.
Kenan masih asyik menikmati bibir ranum itu.
"Emhhh, apa sayang ?", gumamnya di balik cumbuan.
"Stop dulu, Ken.....emhhhh ", balas Adelia. Berusaha menjauhkan bibirnya, tapi Kenan dengan cepat meraup bibirnya lagi. Tangan lelaki itu masih memeluk pinggangnya erat.
__ADS_1
"Huh....huh.....", Adelia terengah begitu Kenan melepas ciumannya.
"Jahat ya, aku bilang stop dulu !", rajuk Adelia. Masih mengatur nafasnya.
Kenan tersenyum. Mengusap bibir mungil yang semakin memerah itu lembut.
"Aku nggak tahan !", akunya.
Adelia mencebik.
"Gombal, tadi aja aku cium diam aja. Nggak respon gitu. Aku pikir udah nggak....", perempuan cantik itu tersenyum meledek.
Kenan melotot konyol.
"Enggak apa, sayang ? Coba bilang !", desaknya. Sudah bisa menerka ke arah mana pembicaraan istrinya.
"Mau aku buktiin sekarang ?", Kenan tarik tubuh cantik itu agar semakin menempel di tubuhnya.
"Masih 100% normal, baby ", lanjutnya seraya mengerling nakal.
Bibir mungil itu manyun lucu.
Lalu memukul dada Kenan manja.
"I know....udah lihat tadi ", tatapan Adelia mengarah ke bawah sana. Bagian bawah tubuh Kenan yang tertutup bathrobe.
Tentu saja membuat Kenan tergelak seketika. Lalu meraih tangan mungil Adelia dan menuntunnya ke arah sana.
"Cuma kamu yang bisa bangunin dia, baby", menahan tangan Adelia agar tetap di sana.
"Kennn....", Adelia berusaha menarik tangannya. Menatap Kenan dengan pipi yang merona. Masih terlihat jelas di bawah benderang bulan purnama.
"Just a minute, baby. Biarin dia tenang dulu.
I want to talk you something ", pinta Kenan.
Adelia menurut. Beberapa lama mereka berada dalam posisi begitu. Sementara tangan Kenan yang lain masih memeluk pinggang Adelia erat.
"Thanks, baby. That's enoungh !", lembut Kenan. Sesaat kemudian, Kenan memutar tubuh cantik Adelia dan memeluknya dari belakang. Lalu membawanya berpegang pada pagar balkon.
"Hasil tes DNA tadi ...", Kenan mulai berucap.
"Positif ?", sahut Adelia. Sedikit menoleh ke belakang untuk mempertemukan pandangan dengan lelakinya. Kenan mengangguk.
Adelia mengecup bibir Kenan sekilas.
"I know ", lembutnya. Kembali menatap ke atas, di mana bulan purnama bersinar terang.
Kenan menghela pelan. Salut dengan kedewasaan pikiran istrinya. Meskipun masih berusia 19 tahun, tapi perempuan cantik ini selalu menyikapi masalah dengan bijak.
Bibir Kenan mengecupi puncak kepala Adelia dengan sayang.
"Kamu nggak marah, sayang ?", bisik Kenan seraya mengecup pipi mulus istrinya.
Adelia terkekeh.
"Pengen aku marah ?", ledeknya. Lalu dengan cepat memutar tubuhnya agar berhadap dengan suaminya.
"Boleh, sini aku pukul ! Dasar jahat, nakal !", katanya seraya memukuli dada Kenan.
Tapi sebentar kemudian memeluk tubuh tinggi atletis itu erat. Kenan membalas pelukan itu, lebih erat.
"Aku nggak akan marah, Ken. Aku percaya sama kamu ", lirih Adelia di balik dekapan.
Tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya, Kenan menjauhkan tubuh mereka. Ingin melihat wajah cantik yang baru saja mengucapkan kata-kata luar biasa yang membuat tenang hatinya.
"Thanks so much, baby", Kenan belai lembut pipi mulus istrinya.
"Harusnya aku jujur dari awal, biar nggak nyakitin kamu, sayang ", lanjutnya penuh sesal.
"Sssttt.....itu yang bikin malam purnama ini makin cantik and hot ", bisik mesra Adelia.
Kenan tersenyum penuh arti. Malam purnama ini akan jadi malam panjang untuk mereka berdua.
__ADS_1
"Fighting, baby ?", goda Kenan
"Absolutely, my love ", balas Adelia.