
Flashback
"Wh...what..? perempuan itu tidur satu kamar sama kalian ?", Ina membulatkan matanya tak percaya. Bahkan spontan berdiri. Nino segera membawa istrinya duduk kembali.
"Honey, calm down okay ?", ucapnya menenangkan perempuan yang tengah berbadan dua itu.
Sementara Adelia masih duduk dengan tenang di depan mereka. Mengangguk pelan pertanda mengiyakan.
Mereka bertiga berada di resto hotel sekarang.
Adelia kembali menyesap minumnya. Cold milk untuk menenangkan pikirannya. Lalu melipat tangannya di bawah dada.
"Kenapa kamu lakuin itu, Del ? Apa yang kamu pikirin ? ", Ina masih protes.
Adelia tersenyum tipis. Sangat tipis. Matanya menatap jauh ke arah pantai di depan sana. Lalu beralih ke arah Ina.
"Menurut kamu aku harus gimana, Na ? Dia bilang hamil anak Ken, you know", menekankan jawabannya.
Ina berdecak.
"Lalu kamu langsung percaya ? Kamu ragu sama suami kamu ?", marah perempuan muda itu.
"Sekarang malah ninggalin dia di kamar sama perempuan itu lagi ", gerutu Ina lagi. Terlalu gemas dengan tingkah Adelia. Yang sama sekali jauh dari sifat Adelia yang dia ketahui.
Nino mengelus bahu istrinya lembut. Sebelum kemudian angkat bicara.
"Nona Adelia harus percaya tuan Ken, dia butuh itu dari Nona. Saya yakin dia nggak ngelakuin itu. Saya tahu dia, Nona ", ucap Nino panjang lebar.
Adelia memicingkan mata. Menyatukan alisnya lalu tertawa sengau.
"Really ?", lirihnya.
Awalnya Adelia juga percaya pada suaminya itu. Tapi setelah melihat perempuan itu mual dan muntah-muntah tadi, terbersit sedikit ragu di hati nya.
Perempuan mantan teman karib suaminya itu ternyata tidak bohong tentang kehamilannya. Dia benar-benar sedang hamil.
"Perempuan itu beneran hamil, Na, No. So apa yang harus aku lakuin menurut kalian ?", perempuan cantik itu terlihat pasrah.
Ina kembali berdecak.
"Mana si jenius Adelia yang aku kenal ?", perempuan itu berdiri dan berkacak pinggang. Sebelum itu memasukkan potongan kue ke dalam mulutnya.
"Beneran hamil ? Belum tentu juga anak suami kamu Del. Bisa jadi hamil sama lelaki lain kan ?", mulut Ina sibuk menguntah. Nino beranjak dan meminta istrinya duduk lagi
"Istriku benar, Nona. Jangan vonis tuan Ken sebelum tahu buktinya !", tambah Nino.
"Tuan Ken pasti ngerasa tertekan, Nona ", lanjutnya.
Adelia mengedik.
"I know....but..... ", sebelum Adelia melanjutkan ucapannya, Ina sudah memotong lebih dulu.
"Kamu nggak percaya Kenan? lebih percaya sama perempuan ****** itu? What do you think, Del ?", geram Ina.
"No, Na....not like that, okay. Aku cuma kasihan sama dia ", Adelia menjeda kalimatnya. Lalu menghela berat.
Ina hendak angkat bicara, tapi Nino menggeleng pelan. Memintanya agar diam dulu, membiarkan Adelia melanjutkan ucapannya.
Adelia meraih gelas di depannya. Kembali menyesap minumannya untuk mendinginkan kepalanya yang tiba-tiba memanas.
__ADS_1
"Kalo perempuan itu benar hamil anak Kenan, what should I do, Na ? Tentu aja Kenan harus tanggung jawab kan ? Nggak mungkin perempuan itu nanggung sendiri. Aku bisa bayangin gimana susahnya hamil tanpa ada suami. Apalagi saat dia mual-mual tadi ", aku Adelia.
Pandangannya lekat menatap manik Ina. Ada sedikit rasa khawatir di sana. Tentu saja kalau benar perempuan itu hamil anak Kenan, Adelia harus dengan rela hati membiarkan Kenan bertanggung jawab atas perbuatannya. Bahkan untuk melepaskan Kenan, Adelia harus siap untuk itu.
Ina menggeleng cepat.
"No, Del. Kamu kasihan sama dia, tapi Kamu mikir nggak perasaan suami kamu ? ", ditatapnya ganti manik coklat cantik itu lekat.
Adelia terdiam beberapa saat. Bahkan ketika Ina berucap lagi, bibir mungil perempuan cantik itu hanya tersenyum.
"Perempuan itu mau ngerusak pernikahan kalian. Ngapain harus bersikap lunak sama dia ? Dia pasti cuma pura-pura hamil anak Kenan ", Ina ngotot.
"Mana Adelia yang aku kenal galak dan arogan?", sungutnya lagi.
Adelia menyatukan alisnya. Bibirnya mencebik lucu. Bola mata cantik itu berputar. Sebentar kemudian perempuan cantik itu terkekeh.
"Tumben omongan kamu bener, Na ?", ledek Adelia. Tangannya bergerak memukul bahu sahabatnya itu.
"Anjirrr ya Del, ngomong aku mesti bener ya? Iya, kan, darling ?", Ina menoleh ke arah suaminya. Nino mengangguki. Lalu melabuhkan ciuman di bibir istrinya.
"Okay....okay, I know ", Adelia beranjak dari duduknya. Sebelumnya kembali menyesap minumannya.
"Mau kemana ?", Ina tahan tangan Adelia. "Jagain suami aku lah, Na. Biar nggak di rebut pelakor !", kekeh Adelia.
Ina langsung tersenyum lebar . Sesaat mempertemukan pandangannya dengan Nino yang duduk di sampingnya. Lalu kembali beralih ke arah Adelia.
"Nah ini baru Adelia yang aku kenal. Fighting, girl !", Ina mengangkat genggaman tangannya ke atas.
"Absolutely, thanks NaNo-NaNo !", Adelia seraya melangkah pergi. Melambaikan tangannnya begitu suara cempreng Ina berteriak.
"Adelllll......nakal ya kamu !", gemas perempuan yang kini terlihat langsing itu. . Dengkusan jelas terdengar dari bibirnya.
"Apa maksud kamu panggil Nano-nano begitu ?", lanjutnya dengan suara melengking.
Keduanya bersamaan berdiri. "Ke kamar, honey ?", bisik Nino.
"Uhmm...okay ", Ina mengangguki.
**********
Dengan langkah gontai Adelia melangkah kembali ke arah kamarnya. Tak lama berjalan, dari arah berlawanan melihat siluet tubuh yang susah familiar di matanya.
Mereka berjalan saling mendekat. Dan akhirnya saling berhenti begitu keduanya saling berhadapan.
"You .... what do you want ?", Adelia melipat tangannya di bawah dada.
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu ", kata perempuan itu. Yang tak lain dan tak bukan adalah Cindy.
"Just go on !", balas Adelia cepat. Sedikit mengernyit, Adelia akhirnya mendengarkan cerita perempuan itu
Cindy mulai bercerita. Dengan seksama Adelia mendengarkan.
"Please, Del, bantuin aku !", mohon Cindy.
Adelia menatap Cindy penuh selidik.
"Beneran kamu hamil anak Arion ?", tanyanya.
Cindy tersenyum masam.
__ADS_1
"Aku bukan perempuan murahan , Del. Tentu saja bayi yang aku kandung anak dia. Kamu kira aku apa ?" , bela Cindy
"Okay...okay, sorry, bukan itu maksud aku. Kamu yakin Arion mau dengerin aku ?", ragu Adelia.
Cindy mengangguk cepat.
"Aku yakin. Mau kan bantuin aku ? Kamu bisa ambil ini ", mengulurkan sesuatu pada Adelia.
"Apa ini ?", heran Adelia. Tapi tetap saja menerima sesuatu yang diulurkan Cindy.
"Suami kamu akan butuh ini ?", balas Cindy.
Pipi Adelia seketika memerah. Terdengar kekehan kecil dari bibir mungil itu.
"What the hell, Cin ? You know, suami aku nggak butuh ini. He's the great one ", katanya kemudian.
Kini ganti Cindy yang terkekeh.
"I know....I know...Aku bisa lihat itu , Del. Penawar buat luka suami ", terang Cindy.
Adelia tergelak.
"Aku kira kamu salah lihat, suami aku nggak luka sama sekali ", balas Adelia.
Cindy berdecak pelan.
"Just keep it, Del. Nanti kamu butuh itu ", kataya seraya menepuk bahu Adelia pelan.
"Bye, Adelia. Jangan lupa bantu aku !", ingat Cindy sebelum melewati tubuh perempuan cantik itu.
"Okay....", lirih Adelia. ."I try to believe you ", lanjutnya. Lalu melangkahkan kaki mungilnya.
**********
Flash back off.
Adelia pandangi wajah tampan yang kini terlelap itu. Ternyata perempuan yang dulu merebut pacarnya itu tidak bohong. Yang diberikan padanya adalah benar-benar obat penawar.
Terbukti setelah suaminya menelan pil itu beberapa saat yang lalu, lelakinya itu terlelap. Dan yang jelas tidak menggila gairahnya seperti tadi.
Dan apa yang diceritakan pacar Arion itu, sedikit banyak Adelia mulai percaya. Tapi Adelia tetap punya rencana sendiri untuk mencari kebenaran tentang kehamilan Catherine.
Mereka berada di dalam kamar hotel sekarang. Bukan kamar Ina ataupun kamarnya dengan Kenan tadi. Tapi kamar baru yang Adelia minta dari pihak hotel. Untuknya merawat suaminya sebelum besok pagi mereka check out.
"Apa aku bisa percaya kamu, Ken ?", lirih Adelia. Lalu menunduk, menempelkan bibir mungilnya di bibir seksi suaminya. Mengecapnya lembut. Beberapa saat.
"Aku harap kamu nggak ngecewain aku ", bisiknya di telinga Kenan.
Gadis cantik itu tersenyum, lalu menjauhkan bibirnya. Lelaki ini begitu tenang kalau tidur. Seperti seorang Pangeran tampan dalam negeri dongeng.
Coba kalau enggak, pasti Adelia yang akan diserang habis-habisan malam ini.
"I'm sorry, Ken. Aku nggak bisa nolong kamu tadi", Adelia elus lembut kepala suaminya.
Untung saja Adelia datang tepat waktu, kalau tidak, pasti sudah melihat suaminya itu bergulat di atas ranjang dengan perempuan itu.
Huftt.....Adelia tak akan bisa terima kalau benar terjadi seperti itu !
teriak hatinya.
__ADS_1
"Just take a rest, my love !", lebut Adelia. Kembali mengelus rahang kokoh suaminya. Melabuhkan lagi kecupan kecil di bibir seksi itu. Kemudian beranjak dari duduknya.
Menarik selimut untuk menutupi dada terbuka lelaki itu sebelum kemudian melangkah menuju pintu keluar.