
"Kenapa Rio ? don't you wanna touch me ?", melas Cindy. Karena begitu mereka masuk kamar pengantin, lelaki muda yang kini sudah resmi menjadi suaminya itu kembali terlihat dingin. Arion bersikap cuek tidak seperti layaknya pengantin baru. Justru dari tadi sibuk dengan gawainya.
Bahkan sekarang ini, Cindy sudah melucuti pakaian pengantinnya dan hanya meninggalkan sehelai kain yang menutupi bagian atas dan bawah tubuhnya, meninggalkan perut buncitnya yang terlihat jelas. Tapi sepertinya tidak menarik perhatian lelaki itu.
"No Cin, bukan begitu ", sangkal Arion. Lelaki itu menggeleng tegas. Masih fokus dengan gawainya.
Dengan wajah masam Cindy melangkah menghampiri lelaki yang duduk di tepi ranjang itu.
"So, what ? ini malam pengantin kita Rio, tapi ....", perempuan muda itu duduk di sebelah Arion. Menghempaskan tubuhnya sedikit kasar. Lalu menangkup wajahnya dan menunduk dalam.
Arion segera memutar tubuhnya, menghadap ke arah perempuan cantik di sebelahnya. Menaruh gawainya sembarang, lalu meraih telapak tangan gadis itu. Tampak air bening membasahi kelopak matanya. Arion tatap perempuan berbadan dua yang sudah menjadi istrinya itu lekat.
"Kamu hamil besar, emang nggak papa ngelakuin itu ?'", tanyanya. Sebelah tangannya mengelus perut buncit Cindy.
Lalu menghapus titik air di pipi perempuan yang beberapa jam lalu sudah sah menjadi istrinya.
Cindy menggeleng perlahan. Bibir perempuan muda itu tersenyum tipis.
"Of course, it's okay, Rio. Aku udah tanya dokter obgyn kemarin....sebelum kita nikah ", yakinnya. Wajah cantiknya yang semula masam sedikit berbinar.
"Aku kira kamu nggak mau nyentuh aku, aku kira kamu ......", bibir Cindy tidak bisa berucap lagi begitu bibir Arion membungkamnya.
"What do you say ? You're my wife now, of course I want to touch you ", ucap Arion begitu menjauhkan bibirnya.
Spontan bibir Cindy tersenyum. Lebih lebar.. Lalu tak menunggu lama bangkit dari duduk dan beralih ke pangkuan Arion.
"Thanks Rio, thanks so much....I want you, now ! ", Cindy mengalungkan lengannya manja di leher Arion.
Arion tersenyum lebar. Menatap perempuan yang duduk di pangkuannya itu dengan pandangan nakal.
"Okay, let me drive !", ucapnya seraya menyambar bibir Cindy. Langsung disambut Cindy penuh gairah.
Kedua anak manusia itu saling pagut dan saling sentuh. Tangan keduanya saling bergerak liar mengeksplor tubuh pasangannya.
Hingga ketika tubuh Cindy sudah siap di posisi, bibir perempuan cantik itu berbisik dengan merdu.
"Let's do it, Rio.....but slowly, okay !", pintanya.
Arion mengangguki.
"As you want, honey ", balasnya.
Sebentar kemudian suara-suara kenikmatan terdengar. Begitu keras dan panas. Mungkin setelah sekian lama tidak melakukan kegiatan nikmat itu keduanya seperti harimau kelaparan.
__ADS_1
"Faster Rio.....faster.....oughhhhh !", suara merdu Cindy menambah semangat Arion memacu tubuhnya. Semakin cepat dan cepat. Keduanya seakan lupa diri, terbuai kenikmatan bercinta.
Tapi mendadak Arion menghentikan gerakan tubuhnya. Bibir Cindy yang dari tadi meracau tak jelas mendengkus lirih. Wajahnya terlihat kesal.
Arion tatap wajah Cindy yang sudah penuh peluh dengan rasa bersalah.
"How about the baby ?", tanya Arion sedikit cemas.
Cindy menghentakkan kakinya.
"It will be okay, Arion, c'mon....just go on !", mohonnya. Tidak sabar karena sepertinya perempuan itu sudah merasakan ada sesuatu yang akan meledak.
Arion terkekeh. Lalu kembali memacu tubuhnya.
"You'll get what you want, honey", ucapnya.
***************
"Don't you ask me, baby ?", tanya Kenan. Sebelah tangannya mengelus rambut panjang istri cantiknya. Yang masih basah oleh peluh karena aktivitas panas mereka. Beberapa saat yang lalu.
Sementara kepala perempuan cantik itu bersandar di bahunya. Bahkan sekarang bersembunyi di ceruk lehernya. Dan menggeleng pelan demi mendengar pertanyaan suaminya.
Kenan terkekeh.
"Why baby ? Don't you wanna know ?", tanyanya dengan nada menggoda, seraya menundukkan kepala agar bisa menatap wajah cantik istrinya.
" I know, you'll find me, all right ?", godanya begitu Kenan melepas pagutannya.
Kenan tergelak. Tangannya yang semula mengelus kepala Adelia bergerak ke bawah. Dari bawah selimut itu diremasnya gemas pinggul polos istrinya. Membuat perempuan cantik iti memekik tertahan.
"Kennnn....", serunya seraya memukul dada terbuka Kenan.
Keduanya masih sama-sama polos setelah pergulatan seru tadi. Dan kini menggunakan selembar selimut untuk menutupi tubuh mereka.
Kenan tergelak keras.
"Naughty girl, kenapa nggak bilang kalo pergi .... hmmm ? of course I'll find you.... everywhere. Tapi .....", Kenan menahan. ucapannya.
"Kamu harus di hukum ", lanjutnya seraya mengangkat tubuh cantik itu agar berpindah ke atas tubuhnya.
Kembali Adelia menjerit tertahan. Tangannya kembali memukul dada Kenan.
"Kenannn.....wh....what....emhhhh ", belum selesai perempuan cantik itu berucap,
__ADS_1
Kenan sudah menyambar bibirnya penuh gairah, hingga perlahan tangan mungil Adelia menghentikan pukulannya.
Kenan melahap bibir ranum itu bagaikan kumbang yang menghisap madu. Adelia selalu terlena cumbuan maut lelaki itu. Akhirnya mereka saling hisap dan memainkan lidah. Beberapa lama, hingga Adelia membulatkan mata begitu merasakan sesuatu menusuk di bawah sana. Besar dan keras.
Perempuan cantik itu dengan cepat mendorong dada Kenan agar cumbuan mereka terlepas. Dengan cepat bangkit.
Lalu duduk di atas perut lelakinya, sebelumnya menyambar selimut untuk menutupi tubuh bagian atasnya.
"Aku mau mandi", rengeknya. Perempuan cantik itu siap berdiri.
Kenan tergelak. Lalu dalam sekali gerakan juga bangkit dari baringnya. Tangannya segera menahan pinggang perempuan cantik itu agar tetap duduk. Tepatnya di pangkuannya sekarang.
"Okay, tapi harus terima hukuman dulu", kata Kenan.
"No way, aku mau mandi ", tegas Adelia. Karena tahu apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu. Lagi.
"Baby, please.......don't you feel it ?", mohon Kenan. Matanya menunjuk ke bawah, di mana ada sesuatu yang tengah gagah berdiri di sana, menyembul dari balik selimut.
Bibir Adelia mencebik. Iya karena itu, makanya Adelia bilang mau mandi. Dia masih capek di hajar lelaki di depannya ini tiga ronde sekaligus.
Dan sekarang pasti mau itu lagi lelaki ini.
"Uhmmm.... I know, but ... I want to get shower", kilahnya.
Kenan cemberut. Perlahan lelaki tampan itu merenggangkan pelukan tangannya di pinggang ramping Adelia.
Dari awal mereka berjumpa, perempuannya ini selalu arogan. Kenan hafal itu. Dan mungkin mengalah justru akan meluluhkan hatinya.
"Just go on, baby !", ucap Kenan akhirnya.
Adelia menggeleng pelan. Lelakinya ini dari dulu tak pernah mau di tolak. Tapi juga tidak mau membuatnya marah. Dalam setiap debat, selalu dia yang mengalah. Bagaimana kalau begini ? Adelia jadi tidak tega kan ? Dasar lelaki mesum modus. Batinnya.
Tersenyum tipis Adelia beranjak bangkit, menggunakan kedua lututnya untuk tumpuan.
Sementara lelaki di depannya ini mengalihkan pandangan ke lain arah. Ngambek kalau boleh dibilang Adelia.
Perlahan Adelia mendekatkan bibirnya ke telinga lelaki itu.
"How about the bathroom ?", bisiknya.
Kenan menoleh cepat demi mendengar suara merdu itu. Terdengar bagai angin surga untuknya. Juga sesuai dengan yang diharapkannya.
"That's what I want, babe ", girangnya.
__ADS_1
Bibir seksi lelaki itu tersenyum lebar. Lalu dengan cepat memeluk erat pinggang perempuan cantik itu, dengan kedua tangan besarnya. Sebelumnya meraih selimut yang di apit Adelia dan melemparnya sembarang.
"You always make me lose control, baby ", lalu bangkit dan mengangkat tubuh cantik itu dalam gendongannya. Mulai melangkah, bibir lelaki itu juga beraksi, memagut bibir ranum yang selalu menjadi candunya tanpa bosan.