Blind Date

Blind Date
125. Kecemasan


__ADS_3

Kesokan paginya.


Catherine nampak mondar mandir gelisah di kamarnya. Baru saja terbangun, dia melihat gawainya dan membuka salah satu medsos. Mata perempuan muda itu langsung membulat seakan mau lepas dari tempatnya.


"Ohhh.....shittts..... !", umpatnya. Dan umpatan itu semakin gencar keluar dari bibirnya begitu melihat kabar yang lain di medsos yang lain. Berita utama hari ini. Tentang dirinya.


Ehhh....wait !


Bukan hanya itu. Ada tampilan video juga. Catherine merasa seolah terjun bebas dari langit ketika memutar video itu. Shock, tentu saja sangat shock.


"Brengsekkkk.....!", kesalnya seraya membanting gawainya di ranjang.


"Jhonnnn.....what the hell are you doing ?", gusarnya. Lalu dengan cepat melangkah meraih gawai lain yang teronggok di atas meja.


Sebentar mengotak-atik benda pipih itu, lalu berteriak keras begitu sambungan terhubung.


"Damn you Jhon ! What the hell are you doing ?"


Suara dari seberang sana menyahuti dengan


diliputi kebingungan.


"Wh ..... what do you mean, Cath ?"


Catherine mendengkus nafas kasar.


"Jangan main-main kamu ? Lihat berita di medsos? Di media kamu ? Siapa yg nyebarin berita laknat itu ?", marahnya.


"Be...berita a...apa ?". suara dari seberang sana gelagapan. Sedetik kemudian terdengar barang berjatuhan karena di dorong dengan kasar. Di susul umpatan keras.


"Damnnn .... kelakuan siapa ini ?", suara dari seberang sana terdengar begitu murka.


"Sumpah, bukan aku Cath !", lanjut suara dari ujung gawai di sana.


Catherine menyatukan alisnya dengan kerutan dalam.


"Aku ke sana. Awas aja kalo kamu bohong !", ancamnya.


Terdengar decihan dari seberang sana.


"Aku nggak segila itu sayanggg, aku tunggu !", balasan dari seberang sana mengakhiri panggilan Catherine.


Tak menunggu lama, Catherine segera menyambar gawai yang tergeletak di ranjang. Lalu meraih tas yang ada di meja. Sejenak menghampiri kaca rias dan melihat penampilannya. Lalu dengan cepat melangkah keluar kamar.


*********


Sore hari di sebuah kamar apartemen elit di belahan bumi nan jauh di sana, seorang gadis cantik tampak asyik mengamati laptop. Senyum tipis menghias bibir mungilnya yang merah.


"Dasar nakal ! Aku tahu siapa pelakunya ? ", gumam bibirnya.


"Bad boy....", seraya menghempaskan tubuhnya di bahu kursi.


Mengangkat kedua tangannya ke atas dan meregangkannya. Lalu beranjak dari duduknya. Bunyi dering gawai membuatnya kembali duduk, lalu meraih gawai di sisi kanan laptop.


"Assalamualaikum, Ma !", sapanya begitu menerima panggilan.


Terdengar balasan lembut dari seberang sana.


Gadis cantik itu tersenyum sumringah, sebentar bibir mungilnya menguncup lucu.


"Adel juga kangen sama Mama Papa ", balasnya manja.


Balasan menggoda dari seberang sana membuat perempuan cantik itu terkekeh. Pipi putihnya merona.


"Mamaaa.......", rengeknya.

__ADS_1


Terdengar kekehan dari balik gawai. Lalu ucapan lembut terdengar lagi. Adelia mendengarkan dengan seksama.


"So pasti Ma, Adel akan cepet selesaiin study. Biar bisa cepet pulang ", yakinnya.


Balasan dari seberang sana membuat gadis cantik itu menganggukkan kepalanya.


Lalu ucapan selanjutnya membuat perempuan cantik itu kembali mengamati laptopnya.


"Uhmm.....Adel udah lihat Ma", katanya.


Suara dari seberang sana terdengar setengah berbisik. Senyum tipis tersungging di bibir mungil Adelia.


"Of course Ma, Adel akan tetep fokus study. Believe me !", tegasnya.


Adelia merengut lucu begitu suara lembut dari seberang sana kembali menggodanya.


"Maaaa....udah ya, Adel tutup nih ", rajuknya. Terdengar kikikan geli dari seberang sana.


"Assalamuakaikum Mama, I love you ", dan sambungan telepon terputus begitu salam Adelia di balas. Kekehan masih bisa Adelia dengar dari balik gawai.


"Mama ihhh, godain terus. Kalo aku nggak fokus gimana coba ", bibir mungil gadis cantik itu menggerutu.


Sebentar beranjak dari duduknya.


"Mau mandi ....", lirihnya.


"Kenannn....", tersentak dan menoleh cepat ke belakang begitu merasa ada tangan besar memeluk pinggangnya.


"Oh my gosh.....", Adelia menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk mengusir halusinasinya. Membuang pikiran tentang lelaki tampan yang bagaikan hantu yang tiba-tiba membayanginya. Suaminya. l


Kaki mungil itu dengan cepat melangkah keluar dari kamar. Begitu pintu tertutup, gawai di sebelah laptop kembali berdering. Nomor tanpa nama.


**********


"Enggak Pa, asyik aja pagi-pagi godain putri kita ", mama Rose mengambil alih tugas papa Bram memasangkan dasinya.


"Dia bilang kangen sama kita, mama bilang nggak kangen sama Ken ? ...... ehh malah putri kita malu-malu gitu ", tutur Mama Rose.


Papa Bram terkekeh.


"Hmmm....mama jadi nakal ya sekarang ", seraya mencubit gemas pipi istrinya. Bibir Mama Rose mencebik lucu, langsung papa Bram berikan kecupan lembut di sana.


"Putri kita udah tahu ?", Papa Bram peluk pinggang istrinya.


"Hmmm...", mama Rose mengangguki. Tangannya bergerak lincah merapikan dasi suaminya.


"Jangan sampe bikin dia nggak fokus study nanti ", ucap papa Bram.


Mama Rose menghela pelan. Ditaruhnya kedua telapak tangannya di dada suaminya.


"Believe her, Pa. Putri kita strong, nggak mudah goyah, kayak papanya", yakin mama Rose.


Papa Bram menyetujui itu. Putri mereka memang punya prinsip yang kuat. Tak mudah berubah pendirian. Tapi tidak tahu juga kalau itu menyangkut suaminya, Kenan. Apa dia tidak akan berubah pikiran ?


"I know, honey. Papa harap putri kita bisa selesaiin study di sana", harapnya.


"Biarin Kenan beresin masalahnya dulu sampe bener-bener clear", lanjutnya.


"Of course Pa, mama juga setuju itu. Jangan sampe masalah mereka menyakiti putri kita. Jasmine dan alex juga dukung kita," balas mama Rose.


Papa Bram mengangguki. Semua rencana mereka dan kepergian Adelia adalah atas persetujuan papa dan mama Kenan juga.


"Hmmmm......tentu saja Ma. Mereka nggak pengen papa pukul juga, nih masih strong kan kata Mama ", ucapnya bangga. Sambil mengangkat sebelah tangannya layaknya bina raga.


Mama Rose terkekeh.

__ADS_1


"Emang benar kan ? Nih buktinya masih gagah begini ", Mama Rose


memegangi kedua bahu suaminya dan mengamati tubuh suaminya dari atas sampai bawah dengan senyum di bibir. Senyum menggoda.


"Maa........ jangan salahin papa kalo nggak jadi ke kantor ya ", gemas Papa Bram. Semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Mama Rose.


Bibir Mama Rose mencebik.


"Mau ngapain nggak jadi ke kantor ? Yuk sarapan, nanti kesiangan ", seraya mencubit perut suaminya. Lalu mengurai pelukan lelaki itu dan berjalan melewati tubuh suaminya.


Papa Bram terkekeh. Lalu dengan cepat memutar tubuhnya. Segera menyusul istrinya dan memberikan kecupan lembut di pipi perempuan yang masih terlihat cantik itu begitu mensejajarkan langkahnya.


"Ke kantor sendiri nyantai aja lah, Ma, gimana satu jam ke depan, It's a good idea, isn't it ?", bisiknya.


"Papaaa.....!", teriak Mama Rose. Sedangkan Papa Bram sudah berjalan cepat mendahuluinya sambil terkikik geli.


**************


"Brukkk....!", tabrakan cukup keras terjadi dibarengi teriakan dua orang dengan intonasi yang tidak biasa sama sekali.


"Arghhhh.....shittts....hati-hati dong kalo jalan !", suara Catherine meninggi.


"What..? bukannya kamu yang nabrak ? Jalan pake mata dong !", balasan suara bariton lelaki tak kalah tinggi.


Kendra menatap Catherine dengan sorot meledek.


"By the way, buru-buru amat....pagi buta begini mau kemana ?", oloknya.


Catherine berdecak kesal.


"It's not your bisnis, minggir aku mau lewat !", ketusnya.


Kendra tertawa sengau.


"Hoho....relax madam, just go on, this way !", katanya seraya menggerakkan tangan menyilahkan Catherine lewat.


Mendengkus jelas Catherine dengan cepat melangkah melewati tubuh Kendra.


Sedangkan lelaki yang berwajah mirip Kenan itu tersenyum, meledek seraya melipat tangannya cuek.


"Be careful, jalan yang bener !", teriaknya. Diiringi tertawa ngakak.


Tanpa menoleh Catherine menghentakkan kakinya. Lalu berjalan lebih cepat lagi.


*******


Bolak-balik Catherine melihat arah belakang. Bahkan di dalam mobil tadi sibuk mengamati spionnya.


Karena kejadian menyebalkan sebelum pergi, menabrak sepupu Kenan, Dokter muda itu merasa cemas. Dia khawatir kalau lelaki itu mengikutinya. Bisa tambah runyam.


Dengan cepat melangkah memasuki rumah mewah itu. Begitu sampai di depan pintu langsung di sambut oleh lelaki yang dari tadi ingin segera ditemuinya.


"Jhonnn bagaimana ini ? Media kamu ikut nyebarin berita itu, apa yang kamu lakuin?", cecar Catherine begitu lelaki bernama Jhon itu menutup pintu kembali.


"I sure, Cath.aku nggak tahu menahu soal itu. Shittt.....siapa mereka ?", gusar lelaki itu.


Catherine mendengkus kesal.


"So, gimana ini ? Kamu nggak bisa handle masalah ini ? Beritanya udah nyebar ke seantero jagad maya, Jhonnn. Aku malu !", histeris Catherine.


Jhon mengusap wajahnya kasar.


"Kayaknya ada yang bobol akun media aku, terus up load berita dari sana ", aku Jhon.


"C'mon ikut ke ruang kerja aku, maybe ada sesuatu yang bisa kita lakuin", Jhon melangkah cepat diikuti Catherine di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2