Blind Date

Blind Date
148. Undress


__ADS_3

Hari sudah rembang malam ketika sesosok lelaki tampan bertubuh tinggi itu menuruni satu persatu anak tangga pesawat. Kenan, iya.... lelaki itu adalah Kenan.


Ketika sampai di anak tangga terakhir, beberapa lelaki berjas hitam dan bertubuh tinggi besar langsung menghampiri.


"Silahkan tuan muda !" , kata salah seorang dari mereka dengan sopan.


"Ke mansion ", perintah Kenan.


Para bodyguard itu mengangguk hormat dan langsung mengiringi tuan mudanya menuju mobil yang sudah disiapkan.


Seiring dengan langkah kaki jangkungnya, tangan Kenan meraih gawai di saku jasnya. Tanpa menganggu langkahnya, tangan lelaki itu menyentuh angka satu pada layar gawai untuk menghubungi seseorang.


"Baby, c'mon....!', lirihnya. Beberapa lama masih belum diangkat. Langkah kakinya terus membawanya ke arah mobil. Beberapa bodyguard dengan setia mengawalnya.


Hingga sampai di depan mobil, terlihat lelaki itu belum berhasil menghubungi seseorang di seberang sana. Seorang bodyguard membukakan pintu, mempersilahkannya masuk.


Baru saja akan menutup pintu mobil, seorang bodyguard lain tergopoh-gopoh datang.


"Tuan muda ada telepon ", katanya sambil menunjukkan gawai yang dibawanya.


Kenan mengangkat sebelah tanganya, memberi tanda kalau dia tidak mau diganggu sekarang. Sementara sebelah tangannya masih memegang gawai. Lelaki itu tampak fokus dan asyik mengotak atik gawainya. Belum menyerah untuk menghubungi seseorang.


Bodyguard itu mengangguk hormat. Bodyguard yang lain segera menutup pintu mobil.


"Baby, c'mon ...", gumam Kenan lagi. Tidak sabar.


Dia rebahkan bahunya di sofa mobil. Belum juga di angkat, Tangannya bergerak meraih remote control dan menekannya. Hingga layar monitor besar di depan tempat duduknya menyala.


Di otak-atiknya gawainya, kembali Kenan melakukan panggilan. Baby girl, begitulah nama yang tampak di layar besar itu. Setelah beberapa lama baru panggilan terhubung. Video Call.


Senyum cerah langsung tercetak di bibir seksi lelaki itu begitu melihat tampilan monitor besar di depannya. Sesosok perempuan cantik yang sudah membuatnya gila, sangat gila. Nampak masih menggenakan bathrobe.


"Kennnn ....sorry, baru mandi", katanya di depan gawai. Kaki mungilnya membawa langkahnya ke arah kursi. Di mana di depannya terdapat meja besar dengan sebuah laptop yang masih menyala. Sebentar mengotak-atik laptop, hingga tampilan wajah tampan Kenan muncul di layar monitor.


"Gak ngajakin aku ? ", suara Kenan seperti merajuk.


Adelia hanya mrnggeleng. Suaminya ini selalu bersikap lebay begitu kalau dengannya. Padahal di luar sana garang seperti singa. Upssss......seperti singa kelaparan juga kalau di ranjang !


Dalam hati Adelia terkikik geli.


Kenan tatap setiap pergerakan perempuan cantik itu penuh kerinduan.


"Mau ? gak bilang sih", cebik Adelia.


Kenan tergelak.


"Mau sekarang", ucapnya. Mata hazelnya menatap lekat perempuan cantik yang kini tampak beralih menuju ke ranjang dengan menjinjing laptopnya.


Adelia tersenyum.


"Okay..........come here right now ! I'll be waiting ", balasnya

__ADS_1


seraya menyamankan posisinya di atas ranjang. Lalu menaruh laptop di pangkuannya.


Spontan senyum nakal tercetak di bibir Kenan.


"Open your bathrobe, baby !", pintanya.


"Are you kidding Kennn ?", perempuan cantik itu tersipu malu. Sementara Kenan menatapnya seakan hendak melucutinya.


Buru-buru Adelia mengalihkan pembicaraan.


"Masih di jalan ", tanyanya.


"Hmmmm....", lelaki tampan itu mengangguk.


Lalu menatap Adelia dengan sebelah mata menyipit.


"Malam begini baru mandi, ngapain sayang ?", protesnya.


Adelia pura-pura berpikir. Menaruh jemarinya di dagu sambil memutar bola matanya.


"Ngapain ya ?", ucapnya mengulang pertanyan Kenan.


"Babyyyy......", gemas Kenan. Rasanya ingin menggigit bibir mungil yang menggemaskan itu. Tapi hanya menelan saliva yang bisa dia lalukan.


Adelia terkekeh. Apalagi saat suaminya itu tampak membaringkan tubuhnya di sofa mobil. Dengan sebelah tangannya menopang kepala. Mata lelaki itu masih menatapnya dalam.


"Okay.....okay, tadi ngerjain tugas sayang", jujur Adelia akhirnya.


Kenan terkekeh. Tatap matanya tak sedetikpun beralih dari wajah cantik istrinya.


"Uhmmm....not really......but I have to finished this in two days ", aku Adelia.


Kenan menaikkan sebelah alisnya.


"Two days ?", ulangnya.


Adelia mengangguk cepat.


"What happened in two days ?", Kenan pura-pura berpikir.


Adelia mengangkat bahunya, gadis itu terkikik geli.


"Just guess !", godanya.


Lalu merebahkan tubuhnya, melakukan hal yang sama dengan suaminya, menggunakan sebelah tangannya untuk menopang kepalanya. Kini keduanya berbaring miring seolah saling berhadapan.


Kenan gemas sekali dengan perempuan cantik yang sengaja menggodanya itu. Kalau saja.....arggghhhh ..kalau saja, Kenan tidak mungkin terus berhalusinasi kan ? Istrinya ada di depannya sekarang, tapi bukan fisiknya. Lokasi mereka berjauhan. Kenan harus menahan sesuatu yang tiba-tiba tidak nyaman di bawah sana.


Dihelanya nafas dalam, sekaligus untuk meredakan sesuatu yang tengah bergejolak.


"Uhmmm....just forget it ....I know my baby was brilliant, no problem about two days or many, I believe my baby girl could do it ", tegasnya.

__ADS_1


Adelia terkekeh.


"Really?", yakinnya. .


"Hmmm.. ", Kenan mengangguk pasti.


Mereka terkekeh bersama. Sesaat keduanya saling beradu pandang.


"I miss you so much, baby ", ucap Kenan.


"I miss you too, Kennn ", balas Adelia. Keduanya saling mempertemukan tangan di layar monitor.


"I want to see you", Kenan tatap istrinya semakin lekat.


Adelia tersenyum.


"Uhmmm...it's me, I'm here Ken ", balasnya.


Kenan menggeleng pelan.


"Open your bathrobe, baby !", pinta Kenan, mengulangi permintaannya yang awal tadi.


"Kennn....wh.....what do you want ?", tanya Adelia. Sedikit bingung dengan kemauan suaminya.


"Don't you want to change your clothes !", Kenan balik bertanya.


Pandangannya tak beralih dari istrinya. Senyum.nakal semakin jelas terukir di bibirnya.


Pipi Adelia sudah memerah.


"Why ? what will you do ?", tanyanya.


Apa benar yang dipikirkannya sesuai yang dipikirkan Kenan ? Semesum itukah suaminya ? Batin Adelia menggerutu.


Lelaki tampan itu terkekeh. Menepuki sendiri pahanya dengan tangan kanannya.


"I want you undress in front of me, baby ", dengan mengedipkan sebelah mata. Dan menjentikkan jempol dan telunjuknya.


"Hmmmm.......c'mon my love !", lanjutnya.


"Kennnnnn......what do you want ? I'm so shame, you know", Adelia menutup wajahnya dengan sebelah telapak tangannya.


Kenan ingin tergelak keras rasanya. Tapi sebisa mungkin menahannya.


"Kenapa malu sayangggg ? I'm your husband, Pleaseee.....do it for me !", mohonnya.


Adelia mengalihkan telapak tangannya yang dia gunakan untuk menutup wajahnya. Bibirnya cemberut lucu. Kenan hampir saja tidak bisa menahan tawanya. Tingkah lucu istri kecilnya itu sungguh menggemaskan sekali.


Bisa Kenan ingat , bagaimana galak dan arogannya perempuan cantik itu kalau menolak sesuatu yang tidak sesuai dengan inginnya. Atau bahkan menendang orang yang berani menyuruhnya. Tapi bagaimana sekarang ? Kenan akan melihatnya.


"Baby.....please ....!", mohon Kenan memelas.

__ADS_1


Adelia menatap suaminya dalam. Kenan mengangguk, mengisyaratkan benar-benar imenginginkan itu.


Menghela pelan, bibir mungil ranum Adelia akhirnya tersenyum. Perlahan bangkit dari baringnya. Tangannya bergerak berusaha menemukan tali bathrobe. Apa yang akan dilakukannya selain mengikuti kemauan suaminya.


__ADS_2