Blind Date

Blind Date
123. Rencana Baru


__ADS_3

"Gotcha !", suara bariton disertai tepukan tangan di bahu lelaki muda yang tengah asyik dengan kamera pengintainya itu.


Secepat kilat tangannya bergerak, menarik tangan yang menepuk bahunya.


"Whoa...whoa....relax man, It's me !", suara bariton seraya menangkis gerakan tangan lelaki itu.


Mendengkus kesal, lelaki muda itu menggerutu.


"Kampreetttt mesum, ngagetin aja kamu !", kesalnya.


Lelaki yang tak lain adalah Kenan itu tergelak. Lalu melipat tangannya dengan angkuh di depan dada.


"Mau nunjukin apa ?", tanyanya pada lelaki yang berdiri di depannya itu. Yang masih tampak bersungut-sungut. Siapa lagi kalau bukan si Kendra, sepupunya.


"Lihat aja sendiri !", Kendra menyerahkan spy cam yang dia gunakan tadi.


Kenan terima dengan tangan kirinya. Lalu dikenakannya untuk mengamati arah yang ditunjukkan Kendra.


Lelaki itu langsung tergelak.


"Kurang kerjaan amat sih, Ndra, ngawasin orang pacaran !", lalu melempar spy cam itu ke arah Kendra.


"Let's go home,. I have a new plan", lanjutnya seraya melangkah mendahului Kendra.


Kendra tangkap spy cam itu dengan tangan kirinya.


"Wh....what ?", lelaki itu mendelik kesal. Sudah sedari pagi dia susah payah mengikuti perempuan itu, tapi sekarang apa ? Seolah sepupunya itu tidak peduli sama sekali. Dasar pembuat masalah !


"Asssemmm ya Ken, kamu yang nyuruh aku ....ehhhh...wait !", akhirnya mengikuti langkah sepupunya yang menjengkelkan itu.


Bukan apa-apa, akan Kendra tendang bokongnya. Lihat saja ! Gerutunya dalam hati.


Baru selangkah, seseorang menarik topi hoodienya. Membuat Kendra semakin kesal saja.


"Pengen main-main ya ? Kamu salah orang, bro ", gumamnya.


Dengan cepat menarik tangan itu. Menariknya ke depan, lalu membanting tubuh orang itu dengan sekali gerakan.


"Brakkkk....." , tubuh besar seorang lelaki terbanting.


Spontan Kenan berhenti melangkah dan menoleh ke arah suara. Pada saat bersamaan tiga lelaki lain nampak menerjang Kendra dari belakang.


"Watchout, Ndra, behind you !", seru Kenan.


Spontan Kendra menoleh. Hampir saja sebuah bogem mentah mengenai wajahnya.


"Eitsss....!", dengan cepat lelaki itu memiringkan wajahnya. Dan pukulan itu lolos.Tiga orang lelaki bertubuh besar sudah berdiri di depannya. Dan satu lagi yang baru saja dia banting juga sudah bergabung dengan teman mereka.


"Serahkan kamera itu pada kami !", ujar salah seorang dari mereka.


Kendra tergelak. Mengacungkan spy cam di tangan kirinya.


"Want this ? C'mon take it !", Kendra menggerakkan telunjuk kanannya, meminta para lelaki itu mendekat.


Sontak saja mereka bersamaan menyerangnya. Kendra membalas serangan itu, sebelumnya melemparkan spy cam ke arah Kenan.


"Ken....take this !", serunya.

__ADS_1


Berdecih lirih Kenan menangkap spy cam itu dengan tangan kirinya.


Sejenak ke empat lelaki itu menghentikan serangannya dan beralih tatapan ke arah Kenan.


"Aku juga pengen main-main, ngapain suruh pegangin ini ?", Kenan melempar spy cam itu sembarang. Lalu dengan seenaknya melangkah mendekat ke arah empat lelaki bertubuh besar itu.


"Hajarrrr diaaaa.....!", seru salah satu lelaki.


Sambil berjalan santai, tangan kokoh Kenan bergerak melancarkan pukulan ke arah para lelaki itu.


"Huft....minta di hajar, come here !", ucapnya.


Dari tadi ingin memukul seseorang untuk mengobati kekesalannya dan ini adalah saat yang tepat. Ada umpan empuk. Batin Kenan.


Kendra melotot konyol. Bukannya memperhatikan sepupunya yang tengah berduel, tapi perhatiannya tertuju pada spy cam yang dilempar sepupunya itu.


"Damnnn.....Kennn ! what the hell are you doing ?", geramnya seraya melompat cepat meraih spy cam yang hendak jatuh di lantai.


"Nyusahin aja bocah tengil itu !", lanjutnya menggerutu. Lalu memposisikan tubuhnya di atas lantai, tepat di bawah kamera itu akan terjatuh.


"Huupppp....I get it !", girangnya begitu berhasil menangkap spy cam.


Sementara Kenan masih menghajar para lelaki bertubuh besar itu. Mereka cukup tahan banting, karena tak cukup di pukul sekali. Mereka masih berusaha bangun dan kembali menyerang Kenan.


"Minta di hajar lagi ? Nih aku kasih !", pukulan terakhir mengarah ke rahang lelaki bertubuh besar itu.


Dannn.....brukkkk.....langsung jatuh tak berdaya.


"C'mon, wake up ! Do you want more ?", tantang Kenan pada ke empat lelaki itu lagi.


"Tangan aku masih gatal ini ", lalu melipat jemarinya hingga berbunyi gemeletuk.


Arrghhhhh....Kenan bisa gila !


Teriaknya dalam hari.


Kebetulan sekali ada pelampiasan. Batin Kenan Membeo.


Lelaki-lelaki itu berusaha bangkit. Lalu dengan mimik takut-takut mengambil langkah seribu, berlalu dari hadapan Kenan.


"Huft ....dasar noobs ! ", gumamnya.


"Ndra, Let's go !", Kenan menggerakkan kepalanya tanda ajakan buat Kendra. Lelaki yang tengah asyik kembali dengan aksi mengintainya itu menoleh sejenak.


"Aku nggak ikut, masih ada urusan. Kita ketemu di mansion, dude ", balasnya.


"Don't be long ! Something I Need to talk !", ingat Kenan. Kendra mengacungkan jempolnya. Kenan hanya menggelengkan kepala. Lalu melangkahkan kaki panjangnya meninggalkan resto di area mall itu.


************


."Ken, I'm sorry !", mohon Adelia.


"No, Del, I can't ", tegas Kenan. Seraya menepis tangan Adelia yang bergelayut di lengannya. Wajah lelaki itu terlihat tenang, tapi dingin.


Sebentar lelaki itu menghela berat


"Setelah apa yang kamu lakuin, you say sorry ?", tanyanya dengan sebelah alis menukik tajam.

__ADS_1


"But Ken, itu bukan mau aku....aku ....",


Adelia tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena Kenan memotong ucapannya.


"Please, stop Del. Lebih baik kita jalan sendiri-sendiri ! ", dinginnya.


"No Ken, Don't do that, okay ?", Adelia kembali memohon. Wajahnya sudah memerah, menahan air yang kini menggenang di pelupuk mata cantiknya.


Kenan tak menggubris. Dengan cepat memutar tubuhnya. Sebelum benar-benar pergi lelaki itu kembali berucap.


"Take yourself !", singkatnya.


"Kennn.....wait ! Don't leave me ! Ken......!", Adelia panggil lelaki itu. Tanpa menoleh sedikitpun lelaki itu terus berjalan menjauh. Semakin jauh. Hingga punggung lebarnya menghilang di balik pintu besar.


Akhirnya air yang menggenang di pelupuk cantik itu turun juga. Seumur-umur Adelia paling jarang menangis. Tapi karena lelaki itu, iya lelaki yang telah menjadu suaminya itu, Adelia menangis.


"Ken.....please don't go away !", panggilnya seraya terisak.


Tersentak membuka matanya begitu suara lembut perempuan memanggil namanya.


"Non Adel, bangun Non....non Adel mimpi ?"


"Mama....?", lirih Adelia. Lalu menyeka matanya yang benar-benar mengeluarkan air.


Suara perempuan itu terkekeh lirih.


"Ini Bibi Non...Bi Gina ", ujarnya.


Spontan Adelia menoleh.


"Bi Gina ?", yakinnya. Perempuan paruh baya itu mengangguk.


Adelia mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha mengingat apa yang terjadi. Matanya terbuka lebar menatap sekeliling. Sebentar melirik ke pergelangan tangannya.


"Kurang dua jam lagi ", gumamnya.


"Non Adel ketiduran. Udah kangen sama tuan Ken ?', Bi Gina dengan nada menggoda.


"Adel mimpi buruk Bi ", Adelia menghela berat.


Bi Gina tersenyum.


"Hanya mimpi Non, nggak usah di bawa kepikiran. Pasti karena non Adel mikir tuan Ken terus ya ?", ucapnya.


Adelia tersenyum. Tidak salah papa mamanya memutuskan Bi Gina yang menemaninya pergi.


Sejak Adelia kecil Bi Gina sudah membantu di rumah. Meskipun bilang tak punya anak dan keluarga Bi Gina sangat baik dan lembut pada anak-anak. Bahkan saat Adelia dewasa dan menikah sekarang ini.


"Aku kepikiran Ken terus, Bi. Aku nggak minta ijin padanya tadi. Aku ngerasa bersalah ", sesal Adelia.


"Enggak papa Non, demi kebaikan non Adel dan Tuan Ken sendiri. Bibi yakin tuan Ken akan ngerti nanti ", hibur Bi Gina.


Adelia menyetujui itu. Demi kebaikannya dan Kenan. Adelia merasa bersyukur, Bi Gina layaknya ibu ketiga setelah mama dan mama mertuanya.


"Iya Bi, semoga aja. Adel akan minta maaf sama Ken nanti ", balasnya. Pasrah.


Tapi apa Kenan akan memaafkannya ? batin Adelia bimbang. Apalagi setelah mimpi yang dia alami barusan. Pikiran Adelia jadi galau.

__ADS_1


"Kennn....what are you doing now ?", gumam Adelia seraya menatap indahnya gumpalan awan putih berarak dari balik jendela pesawat.


__ADS_2