Blind Date

Blind Date
120. Bimbang


__ADS_3

"Eh......Ken, wa.....!", ucapan Adelia berhenti begitu gawainya tiba-tiba berdering. Perempuan cantik itu baru saja sampai di taman belakang, sesaat suami dan sepupunya, Kendra beranjak pergi.


Dengan cepat menerima panggilan, Mama Rose.


"Hallo, Assalamualaikum Ma ! ", sapa Adelia.


Terdengar balasan dari seberang sana. Dan pertanyaan dari sana membuat dahi perempuan cantik itu mengernyit. Tumben sekali mamanya bertanya seperti itu. Apalagi setengah berbisik.


"No, Adel sendiri, kenapa Ma ?', tanyanya.


Lalu mendengarkan balasan dari seberang sana sambil memutar pandangan ke sekeliling. Dua lelaki yang tadi dilihatnys sudah tidak tampak lagi siluetnya.


"What's wrong Mom ? now ?", herannya.


Balasan dari seberang sana membuat Adelia langsung menyetujui.


"Okay, Ma, okay, I'm on my way ", ucapnya.


Masih terdengar balasan dari Mamanya yang kembali mengingatkan. Membuat Adelia semakin penasaran.


"Remember, must be alone, sweety !", begitu mamanya berucap lagi.


"Okay, mom, bye, I love you, Assalamualaikum ", Adelia segera menutup teleponnya. Lalu bergegas kembali ke ruang depan, menuju garasi mobil.


********


"Kita ketemuan ya ? Bosen di rumah ", kata Catherine di balik gawainya. Balasan dari seberang sana membuat wajah cantik perempuan itu merengut.


"Kapan ? Sibuk melulu, Ingat ya ada bab.....", rajuknya. Terhenyak dan segera menghentikan ucapannya begitu menyadari keberadaannya. Matanya menyapu sekitar.


Balasan dari seberang sana membuat matanya melirik jam di pergelangan tangannya. Bibirnya menyunggingkan senyum. Akhirnya.


"Uhmm...must be on time, okay ?", girangnya. Balasan dari seberang sana membuat perempuan muda itu menganggukkan kepalanya.


"Bye, see you later !", ucapnya. Lalu mematikan gawainya.


Membulatkan matanya begitu sebuah tangan menepuk bahunya. Cukup keras.


"Surprise !", suara bariton di dekat telinganya. Mengejutkan dan membuat Catherine berseru.


"Hi....are you crazy ?", pekiknya.


Lelaki itu tergelak. Yang tak lain dan tak bukan adalah Kendra.


"Whoa....relax, madam .... !", lelaki itu mengangkat kedua tangannya ke udara. Kembali tergelak, lalu menaikkan sebelah alisnya.


"Serius banget, janjian sama siapa hayo ?", ledeknya.


Perempuan muda itu berdecih lirih.


"Ihhh.....kepo, urusin diri kamu sendiri !", ketusnya.


"Eitssss......wanita hamil nggak boleh marah-marah, pikirin baby kamu !", balas Kendra.


Lalu senyum meledek tersungging di bibirnya

__ADS_1


"Ato jangan-jangan lagi marahan sama daddynya ?", ujarnya.


Catherine senyum mencibir.


"Udah kepo, sok tahu lagi. Minggir, aku mau lewat !", galaknya. Karena sekarang tubuh tinggi besar Kendra berdiri di hadapannya. Seolah menghadangnya.


"Kalo aku nggak mau ?", goda Kendra seraya melipat tangannya di dada.


Catherine mendengkus.


"Aku bilangin Kenan nanti ", rajuknya.


Kendra tergelak keras.


"Kenan?......hahaha.....!", gelaknya membahana.


"Siapa Kenan ? Suami kamu ?", cibirnya.


Lelaki itu berjalan mondar mandir di depan Catherine.


"Ohhh, I know, partner bikin baby ?", ledeknya. Kedua alisnya menukik tinggi.


Catherine menghentakkan kakinya kesal.


"Huft....dasar pengacau !", mendengkus jelas dan melangkah melewati tubuh Kendra. Sengaja menyenggol bahu lelaki itu sedikit kasar.


Kendra tergelak. Dengan cepat memutar tubuhnya mengarahkan pandangan ke arah perempuan muda yang baru saja berlalu itu.


"Woiii....where are you ?", teriaknya.


"Where is Adelia ?", ternyata belum selesai, lelaki itu kembali menggoda.


Terdengar Catherine kembali mendengkus. Menghentikan langkahnya dan menoleh sarkatis ke belakang.


"Cari aja sendiri, emang aku baby sitternya !", sinisnya.


Kendra terkekeh dan mengedikkan bahunya cuek. Lalu berjalan ke arah yang berlawanan dengan kepergian Catherine.


"Of course, I'll find by myself ", gumamnya.


***********


"Tapi Ma, Pa, Adel percaya Kenan ", perempuan cantik itu bersikeras. Mereka berada di ruang tengah sekarang. Rumah Mama dan Papa Adelia.


Papa Bram duduk bersebelahan dengan Mama Rose di sofa panjang, sedang Adelia duduk di sofa lain, agak jauh dari posisi ke dua orang tuanya.


Mama Rose tersenyum.


"I know honey, but it's better kamu ikutin saran papa sama mama ", mama Adelia berusaha membujuk.


"Demi kebaikan kamu dan Ken sayang ", lanjutnya.


Adelia menghela berat. Lalu beranjak dari duduknya. Berjalan mondar - mandir. Wajah cantiknya terlihat kacau.


"Nggak ada cara lain Ma, Pa ?", resahnya.

__ADS_1


Papa Bram dan Mama Rose saling pandang.


"Itu cara terbaik, sayang ", Papa Bram menghela pelan. Kembali saling pandang dengan istrinya. Mama Rose mengangguki


"That's right sweety ", lanjutnya.


Adelia kembali menghempaskan tubuhnya di sofa. Lalu menunduk dalam. Menangkupkan kedua tangannya di wajah.


Apa dia harus mengikuti permintaan papa mamanya ? Bagaimana dengan Kenan nanti ? Adelia jadi bimbang. Dia berada dalam dua pilihan sulit. Seperti makan buah simalakama.


Adelia mendongak begitu terasa sentuhan lembut di bahunya. Papa Bram sudah duduk di sebelahnya.


"Adel bingung Pa", lirihnya.


"Honey, don't think too much, okay ? but remember, think the worst risk too !", tutur papa Bram.


"Papa Mama tahu, kamu pasti bisa lewatin ini,sayang. We believe you, my dear ", Mama Rose juga menghampiri dan duduk di sebelah Adelia. Menarik dagu cantik putrinya dan mengelus pipi mulusnya.


"Hmmm.....?", Mama Rose menatap penuh permohonan.


"Uhmmm ", Adelia mengangguk.


Dia yakin kalau dirinya bisa. Tentu saja. Tapi bagaimana dengan lelaki mesum itu ? Bagaimana papa mama Kenan ?


"Papa Alex sama Mama Jasmine ?", ragu perempuan cantik itu. Akhirnya mengungkapkan yang berkecamuk di pikirannya.


Papa Bram dan Mama Rose tersenyum.


"Don't worry about them. They're completely supporting you, honey ", ujar mama Rose.


"Really ? They know ?", wajah cantik Adelia nampak sedikit lega. Sedikit. Karena tentu saja masih memikirkan suaminya.


Manik coklat cantik itu menatap papa mamanya bergantian. Dan jawaban yang di dengarnya membuat mata cantik itu semakin berbinar.


"Hmmm.....absolutely, sweety ", papa Bram menimpali.


"Okay, Ma, Pa, dua jam lagi kan ? Adelia akan habisin waktu di kolam renang dulu ", perempuan cantik itu beranjak.


Papa mamanya tersenyum sumringah. Lalu ikut beranjak.


"Have a fun, my dear ", mama Rose cubit gemas dagu lancip putrinya. Bibir mungil Adelia tersenyum manis. Dikecupnya pipi mama dan papanya lalu bergegas keluar dari ruang tengah.


Pandangan sendu mama Rose menatao tubuh mungil yang semakin menjauh itu.


"Kasihan putri kita, Pa ", lirih mama Rose begitu tubuh Adelia menghilang di balik dinding.


"Sssttt....she's will be okay, Ma ", hibur papa Bram.


"Mama nggak pengen jauh dari putri kita, Pa ", mama Rose terisak. Dari tadi sebenarnya menahan perasaannya. Berusaha kuat di depan Adelia. Tapi akhirnya air itu tumpah juga.


Papa Bram memutar tubuh mama Rose agar menghadap ke arahnya. Dihapusnya lembut tetesan air mata yang jatuh di pipi istrinya.


"Mama, kita udah sepakat kan ? Cuma sementara, don't be sad, okay ?", lembutnya. Ditatapnya mama Rose penuh sayang.


Perempuan yang masih terlihat cantik mendekati usia kepala empat itu mengangguk. Papa Bram raih tubuh istrinya dalam pelukan hangat. Dielusnya bahu istrinya lembut.

__ADS_1


"Everything will be okay, honey....will be okay", gumamnya di atas kepala istrinya. Menghibur istrinya, sekaligus dirinya sendiri. Karena tanpa permisi kini di pelupuk matanya juga menggenang air bening yang sekuat tenaga berusaha di halaunya.


__ADS_2