
Bibir lelaki tampan itu menyunggingkan senyum. Puas bisa mengerjai sepupunya. Kini dia melenggang santai di mobil. Di balik kemudi sambil bersiul riang.
"Kamprettt......asssem kamu Ken !", gerutu Kendra tadi. Bukan cuma itu,
bahkan sejuta sumpah serapah Kendra berikan buat dirinya. Tak masalah bagi Kenan, yang penting rencananya berjalan lancar. Apa ? Tentu saja menemui istrinya tanpa gangguan.
Sesudah private jet take off, Kendra disuruhnya ke hotel sendiri. Membawa semua bawaan mereka. Dengan diantar taksi.
Sementara Kenan mengenakan mobil khusus yang dia pesan untuk digunakan selama di Amerika. Untuknya sendiri. Tentu saja Kendra harus menurut. Sebagai syarat yang harus di penuhi agar Kenan mau bercerita tentang gadis cantik yang menabraknya tadi.
"By Ndra, mau ketemu istri aku dulu ", begitu yang diucapkan Kenan tadi sebelum meninggalkan sepupunya itu. Tanpa merasa bersalah sama sekali.
Sambil mengemudi, tangan kiri lelaki itu tampak mengotak-atik gawainya. Mengirimkan sebuah message. Setelah itu terkekeh sendiri.
"Untung kamu punya sepupu gercep", gumamnya.Teringat saat tadi tidak sengaja menguping pembicaraan gadis yang menabrak sepupunya dengan seseorang.
"At last.....you find your girl, dude ", lirihnya. Kemudian menginjak pedal gas agar mobil yang dikendarainya melaju lebih cepat.
***********
Kendra menghempaskan tubuhnya di ranjang hotel. Sebentar mata hazel lelaki itu memejam.
"She is here, you find her !', ucapan itu yang kembali terngiang di telinganya.
"Dasar mesum gila, kalo cuma ngomong gitu aku nggak perlu repot nanya !", bibirnya menggerutu.
"Negeri ini nggak selebar daun kelor, cari di mana coba ?", lanjutnya.
"Usaha dong !", ucap Kendra lagi dengan bibir mencebik menirukan logat sepupunya. Karena pasti itu yang akan dikatakan saudaranya yang menyebalkan itu. Huft....Kendra menghela pelan.
Sekilas kembali terbayang raut cantik yang menabraknya tadi. Lelaki muda itu tersenyum sendiri. Ada sesuatu yang tiba-tiba gelisah di bawah sana. Sesuatu itu berulah hanya dengan mengingat wajah dan tubuh cantik gadis itu.
"Kamu gila, Ndra, apa yang kamu lakuin ", lelaki itu ngedumel sendiri. Spontan bergerak membalik tubuhnya hingga posisi tengkurap.
"Arghhhh.....You're crazy, Kendra !", seraya terkekeh sendiri dan memukuli ranjang dengan tangannya yang menjulur ke atas. Beberapa saat lelaki itu dalam posisi seperti itu.
Hingga sebuah notifikasi masuk. Tangannya bergerak meraih gawai yang dilemparnya sembarang di ranjang tadi.
Segera mengulir layar benda pipih itu, bibir lelaki itu tersenyum lebar.
"Good cousin !", gumamnya. Lalu dengan cepat bangkit dari baringannya. Melangkah pasti menuju ke meja di mana terdapat sebuah laptop berlogo apel tergigit di sana.
__ADS_1
Beberapa saat mengecek laptopnya. Bibir lelaki itu tertarik semakin lebar ke samping.
"Brilliant, Kendra ", pongahnya.
Lalu bangkit dari duduknya dan menghubungj seseorang. Kaki panjangnya terus melangkah menuju pintu kamar.
*******************
Suara bel berbunyi. Menyatukan dahinya, gadis cantik yang baru keluar dari kamar mandi itu melangkah ke arah pintu.
Mengamati dari cctv tampak sesosok tubuh jangkung membelakangi. Tak lama sosok itu membalik tubuhnya dan menatap ke arah kamera. Lalu melambaikan tangan. Bibirnya bergumam hallo.
"Ngapain lelaki itu ?", gerutu lirih Adelia.
Tapi tetap saja membuka pintu. Sedikit saja untuk menyembulkan kepalanya di sana.
"Mau apa ?", tanyanya pada lelaki muda itu. Brian, lelaki yang beberapa saat yang lalu meminta jadi temannya.
Lelaki muda itu terkekeh sambil menggaruk kepalanya.
"Main, may I ?", pintanya. Bermaksud meminta masuk.
"Adellll....please !", mohonnya.
"This is America, girl, c'mon !", lanjutnya.
"No way.....Just say......here !", Adelia menekankan ucapannya dari sela pintu yang sedikit terbuka.
Sebentar kemudian berdiri di ambang pintu sambil melipat tangannya di bawah dada. Sebelah kakinya menahan pintu agar tidak terbuka lebar.
"C'mon, talk to me !", desaknya.
Brian tersemyum tipis.
"Would you accompany me ......?", tanyanya.
Adelia langsung menggeleng tegas sebelum lelaki itu menyelesaikan ucapannya.
"Sorry..... I can't....", balasnya.
Brian melotot konyol, lalu langsung tergelak.
__ADS_1
"Ho..ho.....like I guess girl, ...... okay ", ucapnya.
Sebelah mata lelaki muda itu mengedip nakal.
"Maybe next time, how about tomorrow ? Ke kampus bareng ?", tawarnya.
Sebelum Adelia menjawab lelaki itu kembali berucap.
"All right ........", sambil melangkahkan kaki panjangnya.
"I'll pick you up tomorrow", lanjutnya.
Tanpa Adelia duga lelaki itu berhenti sejenak di sebelahnya dan mengacak rambutnya asal.
"See you !" , ucapnya pagi.
"Briannnnn.....keep you hand !", teriak Adelia dibarengi kepalan tangan mungil ke udara. Karena tubuh lelaki yang diteriakinya sudah melesat cepat. Suara kekehan terdengar semakin menjauh.
**********
Masih memakai bathrobe, Adelia menjatuhkan tubuhnya di ranjang besar itu. Belum juga memejamkan matanya, terdengar lagi bel berbunyi.
Membalik tubuhnya cepat hingga tengkurap, kedua tangannya menepuk-nepuk gemas sisi ranjang yang kosong.
"Siapa lagi sih ?", gumamnya. Lalu merebahkan kepalanya di atas tumpukan tangannya. Dengan mata memejam.
Mata cantik itu kembali membuka begitu terdengar bel berbunyi lagi.
"Huft.....!", dihembuskannya nafas kasar seraya beranjak bangun.
"Awas saja ya !", gerutu gadis cantik itu. Kaki mungilnya melangkah cepat ke arah pintu. Melihat sebentar ke cctv, tak ada penampakan apapun di sana. Dahi perempuan cantik itu mengernyit dalam.
Sudah memutar tubuhnya, hendak melangkah balik ke dalam, menghentikan langkah begitu bel kembali berbunyi. Nyaring, dua kali lagi.
Kembali memutar tubuhnya, Adelia bergegas membuka pintu, tanpa mengecek cctv.
"Who is it ?", serunya. Tak menjumpai sesosok bayanganpun. Karena penasaran Adelia melangkah keluar. Melongokkan kepala ke kanan dan ke kiri. Nihil. Tetap tak ada siapapun.
"Dasar rese !", gumamnya. Lalu kembali melangkah menuju pintu. Menarik handle pintu sedikit kasar karena kesal, belum juga pintu terbuka, seseorang telah membekapnya.
"I catch yaa, baby !", suara itu terdengar di dekat sekali di telinga Adelia.
__ADS_1