Blind Date

Blind Date
156. Apa ini mimpi ?


__ADS_3

Senyum cantik menghias bibir Adelia. Dari balik masker. Mengenakan jaket hoody dengan penutup kepala, sebuah tas ransel tersampir di bahunya.


Kalau begini penampilannya mirip dengan seorang lelaki.


Tak ada yang mengira kalau ada wajah cantik yang tersembunyi di balik masker dan topi jaket hoodie itu.


Dengan lincah melangkahkan kaki mungilnya ke arah sebuah taksi. Yang sudah menunggunya.


"Silahkan ....!", kata sopir taksi sambil membukakan pintu.


"Terima kasih ', jawab Adelia.


Lalu bergegas masuk.


Sengaja Adelia merahasiakan kepulangannya, karena ingin memberi kejutan pada suaminya. Karena itu memilih menggunakan taksi online adalah pilihan yang tepat menurutnya.


Tujuannya sekarang adalah ke mansion. Tempat tinggalnya bersama suaminya. Tadi Adelia juga sempat mengecek dari gawai, posisi suaminya berada di sana.


"I'm home ", lirihnya. Sambil menghempaskan bahunya ke jok taksi. Seiring dengan laju taksi keluar area bandara.


Tak jauh di belakangnya menyusul sebuah taksi lain dengan penumpang yang sibuk berbicara dari balik gawainya.


********


Tidak butuh waktu lama, sekitar setengah jam saja taksi itu sudah sampai di depan mansion.


"Stop, Pak", ucap Adelia.


"Kenapa Non ? Biar saya antar sampe dalam", balas sopir taksi. Sambil melihat ke bangku belakang dari spion.


Adelia menggeleng.


"Gak usah, sampe sini aja ", ucap Adelia lagi. Sopir taksi segera menghentikan mobilnya.


"Terima kasih , Pak", Adelia sambil menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah ke arah sopir.


"Ini terlalu banyak, Non", kata sopir kebingungan.


"Gak apa-apa, ambil aja Pak ", sebelah tangan Adelia menarik handle pintu.


"Terima kasih banyak , Nona.....terima kasih", sopir taksi mengangguk hormat dan penuh syukur.


Adelia mengangguk dan tersenyum. Lalu keluar dari taksi.


Kaca taksi bagian depan bergerak turun. Sopir taksi melongokkan kepala. Tersenyum lebar dengan mimik yang gembira.


"Terima kasih lagi, Nona ", kembali mengangguk hormat pada Adelia sebelum kemudian melajukan taksinya.


*****


"Ken gak ubah sandinya kan ya ?", gumam Adelia di depan gerbang. Lalu menekan beberapa angka pada gawainya.


"Masih sama ", Adelia tersenyum begitu lock pintu gerbang terdengar membuka.


Segera menerobos masuk, pintu kembali menutup setelah tubuh mungil itu melewatinya.


"Hei....siapa kamu ?", dua orang security datang tergopoh-gopoh.


"Ssttt...", Adelia mengangkat telunjuknya. Segera membuka penutup kepala dan kacamata hitamnya.


Kedua orang security itu menatap penuh selidik.


"Siapaa.....ayo bilang ?", bentak salah seorang security. Rupanya belum mengenali nyonya rumah.


"Hehhh....itu nona, mata kamu rabun ya !", security satunya menyikut lengan temannya. Mengingatkan.

__ADS_1


"Hah....mana mungkin nona, kan lagi sekolah di luar negeri", security satunya bersikeras.


"Buka masker kamu !", lanjutnya memerintah.


Adelia hanya tersenyum di balik masker.


"Jangan ancang kamu, itu nona !", tunjuk security satunya.


Security satunya masih bersikeras. Terbukti memandangi Adelia dengan tatapan curiga. Bahkan lebih mendekati ke arah perempuan bermata cantik itu dengan pandangan meledek.


"Nona siapa ? nona kita nggak ada, lagian kalo pulang pasti dijemput tuan muda ...lha ini, jalan kaki ", security itu masih ngeyel. Kini mengitari tubuh Adelia sambil menepuk-nepukkan tongkatnya ke telapak tangan.


Perlahan Adelia membuka maskernya. Security yang ada di depan Adelia langsung menunduk hormat.


Sementara security yang ngeyel berada di belakang Adelia. Masih dengan ngedumel.


"Ngaku-ngaku nona, siapa kamu ?", ucapnya.


"Husshhh....sini kamu !", panggil temannya.


"Apaaa.....masih ngeyel kalo dia nona ?", sambil kembali melangkah ke arah depan memenuhi panggilan temannya. Belum melihat ke arah Adelia yang kini melipat tangannya di dada sambil senyum-senyum.


"Buruan buka masker kaa .....!", mulut security itu terngangga begitu melihat perempuan cantik di depannya.


"No.....nona....!", membelalakkan kedua matanya.


Adelia mengangguk dan tersenyum manis.


"Ma....maaf nona. saya tidak mengenali anda", segera menunduk hormat penuh penyesalan.


"Kenapa kamu nggak bilang dari tadi ?", sambil menyenggol bahu teman di sebelahnya.


Security yang dari tadi sudah mengetahui kalau itu adalah nona mudanya menendang kaki temannya.


"Aku udah bilang dari tadi, kamu ngeyel ", kesalnya.


"Udah jangan berantem....aku mau masuk dulu ", kata Adelia.


"Ben...bentar Non, saya panggilkan sopir biar mengantar nona ke mansion ", kata security ngeyel tadi. Sudah mengulir gawainya untuk menghubungi seseorang.


"Gak perlu, aku jalan aja....tapi....", Adelia menjeda ucapannya.


"Apa Nona ?", kedua security itu serempak. Menatap Adelia dengan harap cemas.


"Jangan bilang tuan kalo aku datang", Adelia setengah berbisik.


Lalu perempuan cantik itu terkikik geli.


"Kenapa ekspresi kalian cemas begitu ?", ledeknya.


"Eghhh....enggak Non, kami ....kami takut di hukum tuan Ken.......", balas security yang ngeyel tadi.


"Emm...kami harap Nona tidak cerita ke tuan Ken kalo kami lalai, sampai tidak mengenali Nona ", lanjut temannya.


Adelia terkekeh.


"Okayyy......anggap udah selesai ", Adelia sambil melangkah pergi. Kedua security saling tatap dan menghela nafas lega.


Kaki mungil Adelia melangkah cepat dan lincah. Senyum senantiasa mengembang di wajah cantiknya. Untuk mencapai mansion memang masih lumayan jauh, tapi tidak mengapa, masih pagi juga sekalian jogging. Pikirnya.


*********


"Arghhhh.......lumayan capek juga ", Adelia menghembuskan nafas lega. Akhirnya setelah hampir satu jam sampai juga di mansion.


Mulai memasuki halaman hunian besar dan mewah itu, lalu membuka pintu dengan sandi. Masih sama seperti sebelum dia pergi.

__ADS_1


Tidak lupa berpesan pada asisten rumah yang dijumpainya agar merahasiakan kepulangannya.. Baik di area taman dan jalan sepanjang mansion, maupun di dalam mansion.


Tapi ada sesuatu yang sedikit aneh menurut Adelia pada asisten di dalam mansion.


"Non....ma....maaf, biar saya beritahu tuan Ken kalau nona pulang ", begitu ucapnya tadi. Dengan mimik cemas dan takut.


Ahhhhh....Adelia tidak mau ambil pusing. Adelia harus menemui suaminya sendiri, memberi surprise secara pribadi. Batinnya.


Kini langkah kali mungil itu menuju ke arah kamar paling besar. Kamar pribadinya dan Kenan.


"Kennn.... I miss you ", lirihnya. ,Senyum manis tersungging di bibir mungilnya. Dadanya berdebar kencang begitu semakin mendekati ruangan besar itu. Rasanya seperti orang baru jatuh cinta. Dan semakin kencang begitu sampai di depan pintu.


"Kamu gak rubah sandinya kan ?", gumamnya sambil menekan angka-angka di gawainya. Karena semua kunci pintu area mansion sudah di atur dengan gawai Adelia, juga gawai Kenan.


Bibir mungil itu semakin tersenyum merekah begitu lock pintu terbuka. Perlahan mendorong pintu besar itu.


Mimik wajah Adelia cemberut begitu pintu besar itu terbuka lebar. Sepi, tidak ada pergerakan seorangpun di sana. Lampunya juga padam. Ranjang besar di dalam sana masih rapi dan kosong. Suaminya tidak ada di sana.


Adelia menyalakan saklar di dekat pintu. Perlahan melangkah masuk. Memastikan kalau benar tidak ada orang di dalam sana.


"Where are you Ken ?", gumamnya. Tiba-tiba hatinya berdebar tidak karuan. Terbersit kecemasan di wajahnya.


Adelia mengotak-atik gawainya.


Bibir mungil itu tersenyum simpul.


"Bad boy......ngapain di kamar kamu ?", lirihnya. Maksudnya adalah kamar Kenan sebelum menikah dengannya.


Bergegas keluar, menutup kembali pintu dan menguncinya. Langkah kaki Adelia kini menuntunnya ke arah kamar Kenan. Di ujung ruangan, dekat tangga.


Dengan dada yang berdebar tidak karuan, antara menahan rindu dan rasa penasaran, dan juga sedikit was-was, Adelia menekan beberapa angka. Lalu terdengar lock pintu terbuka.


Degub jantungnya semakin keras terdengar. Perlahan Adelia memegang handle pintu dan mendorongnya.


Salah satu kakinya sudah melangkah masuk. Tapi perempuan cantik itu menahan satu lagi langkah kakinya.


Mata cantiknya spontan membola. Untuk sesaat degub jantungnya seakan berhenti. Hendak berteriak, tapi buru-buru membekap bibirnya.


"Kennn....", suaranya gemetar di balik bekapan tangan mungilnya. Tampak di lantai kamar berceceran pakaian wanita. Hampir menjerit lagi saat mata Adelia mendapati pakaian dalam wanita juga.


"Ohhh...my god...", masih dengan suara bergetar. Dan matanya terasa semakin berkabut, ketika mendapati pakaian dalam lelaki. Punya Kenan pastinya.


"Wh...what the hell are you doing, Kennn...", kini terdengar isak di antara gemetar suaranya. Nafasnya terasa sesak.


Tidak mau menunggu lama, Adelia menarik kembali sebelah kakinya yang sudah masuk di ambang pintu. Lalu dengan cepat bergegas memutar tubuhnya. Setengah berlari perempuan cantik itu melesat menuruni tangga.


Otaknya serasa buntu. Sampai melupakan ada lifft yang mungkin bisa membawanya cepat keluar dari mansion yang serasa panas membakar tubuhnya sekarang ini.


Hatinya pedih. Hingga tak terasa air bening yang menggenang di mata cantiknya dari tadi jatuh menetes di pipinya.


"Apa ini mimpi ?", Adelia menepuki kedua pipinya. Mencubitnya. Sakit. Berarti dia tidak mimpi.


Masih setengah berlari menuruni tangga, dua asisten mansion berpapasan dengannya. Di tangga terakhir . Mereka membawa baki makanan.


"Nona Adel.....", asisten perempuan itu menyapanya.


Adelia tidak menyahuti. Tetap melangkahkan kakinya bergegas. Dia ingin segera keluar dari mansion. Secepatnya.


Melangkah cepat hendak menuju pintu, tapi mengurungkan niatnya. Melewati jalan manual akan lama, belum lagi kalau ketemu duo konyol security. Tambah panjang urusannya.


Mengusap air bening di pipinya kasar, Adelia berbalik arah menuju ke ujung ruangan dimana ada ruangan lift di sana. Seingat Adelia langsung menghubungkan ke halaman luar mansion.


Dan benar saja hanya beberapa langkah saja keluar dari pintu lift, Adelia sudah menjumpai pintu gerbang samping.


Menekan angka sandi di gawainya dan pintu terbuka. Dengan cepat melangkah keluar pintu. Pada saat bersamaan sebuah taksi melintas dan spontan berhenti di hadapannya.

__ADS_1


Pintu taksi terbuka dan terdengar suara.


"Butuh tumpangan Nona ?", terdengar suara lelaki yang serasa tidak asing di telinganya.


__ADS_2