Blind Date

Blind Date
159. Menangislah Sayang


__ADS_3

"Sayang, boleh mama masuk ?", mama Rose mengetuk pintu kamar Adelia. Sejak pulang diantar Ina tadi, gadis kecilnya itu belum juga keluar kamar. Sampai menjelang sore ini.


Mama Rose membiarkannya tadi, karena memberi waktu putri kecilnya itu untuk beristirahat.


Mama Rose bisa melihat putrinya tidak bersemangat dan begitu galau, juga terlihat capek, mama Rose bisa menerima kalau Adelia beralasan belum bisa bercerita.


Tapi sekarang beliau sudah tidak bisa menahan lagi. Dia harus bertanya sekarang.


"Sayanggg.....", ulang mama Rose sambil memutar handle pintu. Tidak dikunci. Perlahan beliau dorong pintu agar terbuka. Sepi. Kemana putrinya ? Mama Rose was-was.


Mama Rose tahu ada yang tidak beres dengan putri dan menantunya. Mama Rose bisa menebak dari kejadian siang tadi.


Telepon Kenan yang menanyakan putrinya, Adelia yang datang tiba-tiba dengan diantar Ina dan sikap diam gadis kecilnya itu.


"Nyonya besar, sepertinya nona Adel ada di ruang latihan ", suara Bi Gina terdengar dari ambang pintu. Mengejutkannya.


"Sejak kapan di sana ?", mama Rose menoleh ke arah suara.


"Tidak lama sehabis non Ina pulang, Nyonya ", jawab Bi Gina.


Mama Rose memutar langkahnya.


"Hmmm....anak nakal, tadi bilangnya mau istirahat ", gerutunya. Sambil melangkah keluar.


Bi Gina mengekori.


"Uhmm....tadi Non Adel ambil minum di dapur, satu botol besar. Biasanya kalau seperti itu Nona mau latihan, Nyonya ", kata Bi Gina. Masih mengikuti langkah Nyonya besarnya. .


"Biar aku ke sana sendiri, Bibi lanjutin kerjaan di dapur ", pinta mama Rose


"Iya Nyonya ", Bi Gina mengangguk hormat.


********


Bugh....bugh.....suara samsak dipukul dengan keras. Ditinju, ditendang dengan gerakan cepat dan keras. Beberapa kali Adelia berteriak keras, meluapkan sesuatu yang menghimpit dadanya. iya, dadanya terasa sesak setiap mengingat pakaian dalam yang berceceran di kamar suaminya.


Keringat sudah membasahi tubuh gadis cantik itu. Tapi sepertinya dia belum mau berhenti. Masih dengan semangat penuh menghajar targetnya sampai pontang-panting.


"Arghhhhh....I hate you .", teriaknya keras sambil mengayunkan tinjunya. Membuat samsak yang sudah penyok itu semakin tidak karuan bentuknya.


Sepasang mata menatapnya lembut dan sendu dari ujung ruangan. Adelia belum menyadari itu. Hingga suara tepuk tangan membuatnya menoleh seketika.


"Mama....", serunya. Lalu tanpa aba-aba gadis cantik itu berlari ke arah perempuan cantik yang sudah melahirkannya itu. Memeluknya erat. Isak keras langsung terdengar dari balik pelukan.


Mama Rose berusaha menahan genangan air yang entah kenapa tiba-tiba terkumpul di pelupuk matanya. Beliau bisa merasakan kesedihan putrinya. Belum pernah Adelia menangis memilukan seperti ini Selama dua puluh tahun ini.


"Menangislah sayang.....luapin perasaaan kamu", Mama Rose sambil mengelus lembut bahu putri semata wayangnya itu.

__ADS_1


Adelia sesengukan. Mama Rose mengeratkan pelukannya. Sambil terus mengelus bahu dan kepalanya dengan sayang.


"Mama selalu ada buat kamu, sayang", lirihnya.


Tangis Adelia semakin pecah. Gadis itu semakin tenggelam.dalam pelukan mamanya. Tubuhnya bergetar karena menangis.


Beberapa lama.


Setelah isakan gadis kecilnya itu mereda, perlahan Mama Rose menjauhkan tubuh mereka.


"Bilang sama mama, ada apa ?", lembutnya. Diusapnya air yang membasahi pipi putih putrinya..


"Ken...Ma.....Ken...", Adelia masih terisak. Hidung mancungnya sampai memerah bak buah cerry.


Mama Rose membimbing Adelia agar duduk di sofa panjang dalam ruangan itu.


"Ada apa sama Ken, Sayang ? Cerita sama mama ", digenggamnya jemari putrinya erat.


Adelia masih tersiak. Lalu dengan bibir mungilnya yang bergetar mulai bercerita. Mama Rose memperhatikan cerita putrinya dengan seksama. Perempuan paruh baya yang masih cantik itu terlihat tenang. Sesekali tersenyum, menyisipkam helai anak rambut Adelia ke belakang telinga.


"Ken jahat Ma.....Ken hianati aku ", pelasnya. Mama Rose tersenyum. Dibelainya pipi putih mulus putrinya yang memerah karena lama menangisn


"Sweetheart.....don't judge Ken like that okay ! ...Uhmm...kamu belum ketemu dia kan ?", tutur mamanya.


Adelia menggeleng.


Mama Rose kembali tersenyum. Perempuan cantik itu berusaha meredam emosi anaknya yang kembali bergejolak.


"I know honey.....tapi mama pikir kamu harus ketemu Ken secara langsung, biar tahu yang sebenarnya ", nasehat mamanya.


"Apalagi ma....semua udah jelas ", balas Adelia. Mama Rose terdiam. Memandangi Adelia dengan tatapan sendu.


"No Ma . .Adel ogah ketemu dia. He hurt me !", Adelia bersikeras.


Bahkan beranjak dari duduknya sambil bersungut kesal.


Kalau ketemu Kenan bisa-bisa Adelia akan menghajarnya. Tanpa ampun. Batin Adelia.


Mama Rose ikut berdiri. Menghampiri putrinya dan meraih tubuh mungil yang tengah terbakar emosi itu ke dalam pelukan.


"It's okay sweety....It's okay, kamu tenangin hati dan pikiran kamu dulu", lembut Mama Rose.


Beliau sangat paham akan putrinya semata wayangnya yang tengah dilanda emosi memuncak. Mau bercerita itupun sudah bagus. Jadi mama Rose tak akan memaksanya. Dari dulu putrinya ini memang mandiri, tidak suka merepotkan, biarpun itu adalah orang tuanya.


Sekilas Mama Rose melihat samsak yang rusak berat karena ulah tangan mungil putrinya. Tubuh mungilnya pun penuh keringat. Perempuan paruh baya itu tersenyum.tipis.


Sedetik kemudian menjauhkan tubuh mereka. Tersenyum cerah seakan tidak ada masalah. Lalu mencubit gemas dagu cantik Adelia. .

__ADS_1


"Sekarang mandi dulu, segerin tubuh dan pikiran kamu.......hmmm....bau acemmm ", godanya sambil pura-pura menutup hidung


Bibir mungil Adelia manyun lucu.


"Mamaaa........", rengeknnya manja. Adelia mengendus bau tubuhnya.


"Enggak ya Ma..... masih wangi ", belanya.


Mama Rose terkekeh.


Gembira bisa melihat putrinya bisa kembali seperti semula. Sifat manja dan menggemaskan itu, ciri khas putrinya.


"Iya....iya....selalu wangi dan cantik putri mama", turutnya.


"Buruan mandi sana !", kata Mama Rose lagi seraya menepuk bahu putrinya lembut. Hendak melangkah pergi tapi ditahan tangannya oleh Adelia.


"Maaa....", panggilnya.


"Hmmm....gimana sayang ?", balas Mama Rose.


"Kalo Ken tanya .....", belum selesai ucapannya sudah dipotong oleh Mama Rose.


"Iyaa cantik, mama tahu harus bilang apa ", gemas mama Rose sembari mencubit pipi putih mulus putrinya.


"Thanks mom..!", sambil mencium pipi mamanya. Mama Rose acak lembut kepala putrinya itu. Lalu melangkah keluar.


Adelia meregangkan tubuhnya dan menaikkan kedua tangannya ke atas. Seperti teringat sesuatu, perempuan cantik itu berseru.


"Maaa.....one more !", ketika mamanya sampai di ambang pintu.


Mama Rose menoleh dan tersenyum.


"What's up honey ?", gemasnya.


"Uhmmm.....jangan bilang papa, please !", mohonnya.


Mama Rose menyatukan telunjuk dan jempolmya. Membentuk lingkaran. Sebelah matanya mengedip, menggoda putrinya.


"As you wish, sweetheart !", dengan senyum tercetak di bibir.


Adelia menghela lega. Bersyukur sekali punya mama yang enak diajak curhat. Meskipun hatinya masih mendongkol dan kesal, tapi sedikit terobati dengan kelembutan dan kasih sayang mamanya.


Papanya sangat menyayanginya. Tapi Adelia berpikir lebih baik beliau tidak tahu dulu, daripada urusan bertambah runyam. Karena bisa saja papanya langsung melabrak keluarga Kenan dan memarahi suaminya itu.


Adelia raih sebotol besar air yang sudah mendasar. Duduk di sofa panjang lalu diteguknya air itu sampai habis.


"Me time....", gumamnya sambil melangkah keluar. Mandi dan berendam adalah aktivitas menyenangkan baginya saat ini. Dan Adelia akan melakukan itu. Sepuasnya.

__ADS_1


Tubuh mungil Adelia melesat menuju ke arah kamarnya. Sementara mama Rose muncul dari balik dinding dan melangkah ke arah berlawanan sambil menghubungi seseorang.


__ADS_2