
"Shittt...!", Catherine mengumpat kesal. Memutar tubuhnya cepat masuk ke kamar. Sebelumnya menutup pintu penghubung ke balkon dengan kasar.
Dengan cepat melangkah ke ranjang, meraih gawainya yang tergeletak sembarang di sana.
Lalu menghubungi seseorang.
"Lihat yang akan aku lakuin nanti !", geramnya. Berjalan mondar-mandir menunggu teleponnya tersambung.
Menghentak kesal begitu sambungan sibuk dan terdengar bunyi tuttt.
Kembali mendial nomor di gawainya, masih berjalan bolak-balik tidak sabar.
Bibir merah perempuan itu menyunggingkan senyum begitu teleponnya terhubung.
"Kenapa lama banget ?", gerutunya.
Perempuan itu merengut begitu mendengar jawaban dari seberang sana.
"Sibuk-sibuk......emang nggak pernah ada ya waktu buat aku ", rajuknya.
Jawaban dari seberang sana membuat mata perempuan muda itu berbinar.
"Really ? I need your help ", manjanya.
Suara dari ujung gawai di seberang sana membuatnya tersenyum puas.
"Okay, see you tomorrow !", katanya.
Menutup sambungan telepon lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Merentangkan kedua tangannya dengan mata memejam.
"No longer....no longer again, you'll be mine", yakinnya.
Beberapa saat terlena dengan pikirannya. Pandangan matanya menerawang jauh ke langit-langit kamar.
Tersenyum sendiri begitu mendengar bunyi krukkkkk.
"Lapar...", gumamnya seraya mengelus perutnya. Perlahan bangkit dari baringnya.
Berjalan ke sisi dinding di dekat pintu lalu memencet sebuah tombol. Tak berapa lama suara pintu di ketuk.
"Masuk ", suruh Catherine.
Nampak handle pintu di putar dari luar. Lalu muncul seorang perempuan asisten mansion.
"Ya nona, ada yang bisa saya bantu ?", tanyanya pada Catherine.
"Aku lapar, bikinin aku makan !", perintah Catherine.
"Maaf, nona mau makan apa ?", tanyanya hormat.
Catherine berpikir sejenak. Lalu menjentikkan jemarinya.
"Aku mau pizza. Tapi Kenan yang bikin", seperti menggumam.
"Bilang tuan Ken, suruh buatin !", lanjutnya.
"Tapi .... tuan Ken bilang nggak mau di ganggu, nona", Asisten mansion sedikit takut-takut.
Caherine langsung melotot kesal.
"Aku nggak peduli, bilang aku yang minta !", galaknya. Dengan suara tinggi.
Asisten mansion sampai berjingkat. Dengan kepala menunduk, perempuan itu mengangguk hormat.
"Ba....baik nona akan saya sampaikan ", balasnya seraya memutar tubuh.
"Buruan, nggak pake lama !" , mengibaskan tangan mengusir asisten itu agar segera pergi.
Tanpa bicara lagi asisten mansion melesat pergi dari hadapan Catherine.
"Nggak mau diganggu ? huft....nyebelin banget !", gerutunya.
"Gara-gara perempuan itu lagi, huhhhhh.....", bibir itu bersungut-sungut kesal.
__ADS_1
********
"Kenn....aku mau nanya !", ucap Adelia. Jemarinya bermain-main di dada bidang Kenan.
Sepasang suami istri itu kini tengah duduk mesra di sofa. Dalam kamar pribadi mereka.
Dengan posisi kedua kaki Adelia menumpang di atas paha Kenan. Sementara sebelah tangan lelaki itu tak lepas memeluk pinggang ramping istrinya. Sebelah yang lain memainkan rambut panjang kecoklatan itu.
"Hmmm......nanya apa sayang ?", lembut lelaki itu.
"Grandma tahu kita udah pulang, siapa yang bilang ?", Adelia sedikit mendongak, mempertemukan pandangan dengan suaminya.
Dalam.jarak yang begitu dekat membuat Kenan dengan mudah meraih bibir merah ranum itu. Mengecapnya lembut.
Adelia tepuk dada lelaki itu. Membuat Kenan terkekeh. Lalu menarik kepala gadis itu ke dalam dekapannya. Berpindah sasaran, sekarang bibir lelaki itu sibuk mengecupi puncak kepala Adelia.
"I don't know baby. Mama, maybe ", jawab Kenan sekenanya. Karena memainkan rambut istrinya menjadi kegiatan yang lebih menyenangkan kini.
Mengecupi puncak kepala dan rambut panjang perempuan cantik itu, sesekali juga tampak mengelus paha dan kaki Adelia yang berada di pangkuannya.
"Mama tahu ?", Adelia mengernyit. Masih dalam dekapan dada bidang lelakinya.
"Hmmm....", Kenan mengangguki. Bibirnya tak berhenti beraksi.
Adelia menjauhkan kepalanya. Meskipun Kenan menahannya. Menatap lelaki tampan di depannya penuh tanya. Kenan tersenyum nakal. Lalu kembali melabuhkan kecapan lembut di bibir Adelia.
"Aku yang bilang. Sebelum kita pulang tadi mama sempat telepon", akunya.
"Kenapa aku nggak di kasih tahu ? Dasar jahat !", rajuk Adelia.
Melipat tangannya di bawah dada. Bahkan menarik kakinya dari pangkuan Kenan, tapi lelaki itu menahannya.
Kenan mengacak puncak kepala Adelia gemas.
"Kan lagi marahan tadi ?", katanya dengan ekspresi nakal.
Bibir Adelia mencebik lucu. Kenan toel bibir menggemaskan itu dengan telunjuknya.
"Aku bilang, bentar lagi juga ketemu, kita mau pulang ", lelaki itu semakin menggoda.
"Jadi begitu ya, beneran marah sama aku, sampe nggak ngasih tahu kalo mama pengen ngomong ?", kesalnya.
Mata hazel itu membeliak. Terkejut sekaligus ingin tertawa melihat ekspresi istrinya yang hmmm....begitu menggemaskan.
Bagaimana perempuan cantik itu tahu kalau mamanya ingin bicara dengannya di telepon. Ahhh....bodohnya Kenan tentu saja tahu, karena Adelia menantu kesayangan.
Dan memang benar saat menelepon pertama kali yang mamanya tanyakan adalah " Mana mantu cantik mama".
Huft .....Kenan merasa seperti bukan anaknya saja. Tapi dia tidak akan marah, karena Adelia adalah istri dan perempuan yang dicintainya. Sangat dicintainya. Lebih utama lagi, baik hatinya. Pantas saja kalau mama, papa, kakek dan neneknya sangat menyanyanginya. Bahkan semua orang juga menyayanginya.
"Ehhh...siapa bilang mama pengen ngomong ?", elak Kenan akhirnya. Senyum nakal itu masih menghiasi bibirnya.
Adelia mendengkus kesal.
"Don't lie to me, Ken, of course I know !", seraya memutar tubuhnya.
Tapi Kenan segera menarik tubuh cantik itu. Secara refleks tubuh Adelia menghindar, lalu menahan tangan Kenan dan menariknya, lalu membanting tubuh lelaki itu di lantai beralas karpet.
"Brukkk.....", suara tubuh Kenan terjatuh di lantai. Bukannya merasa sakit, lelaki itu justru terkekeh, lalu secepat kilat kakinya bergerak menyapu kaki Adelia.
Sedikit terkejut. gadis cantik itu dengan cepat menghindar, melompat ke belakang. Tapi gerakan mendadak itu membuatnya hilang keseimbangan. Dannn....
"Arrghhhhh....", Adelia memekik terkejut. Tangan Kenan menarik tangannya, hingga tubuhnya jatuh tepat di atas tubuh lelaki itu.
"Ken ... let me go !", Adelia berontak ketika kedua tangan lelaki itu memeluk erat tubuhnya. Sangat erat, sampai-sampai Adelia susah bergerak. Tubuhnya kini menempel di tubuh suaminya.
"I never let you go, baby !", gumam Kenan di atas kepala perempuan cantik itu.
Terdengar Adelia berdecak lirih.
"Kennn....please, jangan kenceng-kenceng peluknya, aku nggak bisa gerak !", mohonnya.
Kenan tergelak.
__ADS_1
"Okay, tapi janji, nggak boleh marah, nggak boleh berisik !", tegas Kenan.
Bibir mungil itu mencebik di balik dekapan
Lalu kepalanya mengangguk cepat.
Kenan kembali tergelak. Perlahan melonggarkan pelukannya. Tapi kini kedua tangan itu memeluk erat pinggang Adelia.
Adelia menghela lega. Malah kini membaringkan kepalanya miring dengan nyaman di dada bidang lelaki itu
Sesaat keduanya terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing. Tangan Kenan bergerak mengelus bahu dan kepala istrinya dengan sayang. Matanya terpejam, menghirup dalam wangi surai kecoklatan yang tepat berada di bawah dagunya.
"Kennn....", panggil Adelia. Masih dalam posisi yang sama. Membaringkan kepalanya dengan posisi miring di atas dada bidang suaminya.
"Hmmm....what's a matter baby ?", balas lelaki itu, tanpa membuka matanya.
"Uhmmm....kalo hasil tes DNA besok positif, gimana ?", tanya Adelia sedikit takut-takut. Meski lebih takut lagi kalau apa yang di khawatirkannya menjadi kenyataan.
Mata hazel itu spontan membuka. Tapi mulutnya serasa kaku. Lelaki itu menghela berat sebelum mulai berucap.
"I'm sure, itu nggak akan pernah terjadi, baby. You know, aku nggak pernah ngelakuin itu ", yakin Kenan.
Lalu meraih kepala Adelia agar bertemu pandang dengannya. Tatapan mereka bertemu. Adelia sedikit menegakkan tubuhnya, untuk menyamankan posisinya.
Kenan pandang perempuan cantik di depannya dengan tatapan lembut.
"Do you believe me, don't you, baby ?", Kenan menyakinkan.
Adelia tersenyum, sangat cantik. Membuat dada Kenan selalu berdebar melihat itu. Ahhh....gila !
tulah salah satu yang membuat Kenan tak bisa marah pada istrinya.
"I try to believe you, Ken. Tapi ..... ", Adelia berhenti berucap karena Kenan mengernyit tidak suka. Dan hendak protes atas ucapannya.
"... Bentar, aku lanjutin ngomong dulu ", putus Adelia.
"Seumpama....aku bilang seumpama, misal aja, kalo itu bener terjadi, apa yang kamu lakuin ?", lembut Adelia.
"No, baby, itu nggak akan terjadi...nggak akan.....", Kenan bersikeras. Lelaki itu menggeleng tegas.
"Kennnn....", Adelia usap lembut dada lelaki itu.
"Aku bilang seumpama, sayang. We have to think the worst, don't we ?", Adelia tatap mata hazel itu dalam. Bisa Adelia lihat ada sebersit kegamangan di sana.
Kenan menarik nafas dalam.
"Apapun hasilnya, aku nggak akan pernah ninggalin kamu, sayang. I'll never let you go baby..... never ", tegas lelaki itu.
Adelia mengangguk pelan.
"I know, Ken ", lirihnya. Menghela dalam, Adelia mengalihkan pandangan ke dada bidang Kenan. Menghindari tatapan hazel yang menusuk tajam sampai ke ulu hatinya.
"Kalo aku yang pergi ? Aku nggak mungkin bisa berbagi cinta, Ken ", suara Adelia hampir seperti sebuah bisikan.
Tapi Kenan masih dengan sangat jelas mendengarnya.
Spontan lelaki itu mengangkat dagu istrinya. Memaksa Adelia nenatap matanya. Bisa Kenan lihat genangan bening menumpuk di pelupuk mata cantiknya.
"You'll leave me, baby !", sendu Kenan.
"I don't know, Ken ", Adelia menundukkan pandangannya. Mengerjapkan matanya agar genangan di sana tidak sampai jatuh.
Tiba-tiba Kenan bangkit dari baringnya. Membawa perempuan cantik itu agar tetap ada di pangkuannya.
"Just go on, baby. Just try, I'll catch you and bring you back !", tegasnya.
"Aku kejar kamu sampe ke ujung dunia, you hear me, baby ?", Kenan mencengkeram bahu perempuan cantik itu erat. Menatapnya tajam, seolah meminta kepercayaan dari Adelia.
Bibir mungil Adelia mencebik.
"Really ? Bolehkah aku ngerasa jadi perempuan paling beruntung di dunia ini, Ken ?", katanya.
Bibir Kenan perlahan tertarik ke samping.
__ADS_1
"Of course, honey. You're my girl, and always will be my girl, the only one, forever ", tegasnya.