
Bibir Kendra tersenyum lebar. Begitu kaki mungil perempuan cantik itu melangkah menghampirinya.
Tapi senyum itu langsung berubah menjadi seruan keras ketika telapak tangan mungil tapi kuat itu memukul bahunya keras.
"Awww.....honey, how dare you ?", seraya memegangi bahunya yang terasa panas.
Adelia terkekeh.
"Kenapa ? Jadi ngedate ? c'mon, fight me first !", tantangnya.
Lelaki itu tersenyum miring.
"Ckckck......benar-benar ya, truly fighter?", sambil menggelengkan kepalanya.
Sebentar kemudian bibir lelaki itu tersenyum mesum.
"Jangan-jangan ada syarat juga sebelum making love sama si mesum itu?", ledeknya.
"Kasihan....!", lelaki itu kembali berdecak.
Bahu Adelia mengedik.
"Uhmmm, why not ?", cueknya.
"Biar lebih hot, you know !", dengan mimik wajah centil. Sebelah alisnya terangkat tinggi.
Kendra spontan bersorak. Gelak keras keluar dari bibir lelaki itu. Hingga tanpa keduanya sadari, beberapa asisten mansion keluar ingin melihat apa yang terjadi.
"Amazing, baby, I like this !", katanya.
"So, what are you waiting for ?", Adelia. melangkah menuju area yang lebih luas. Taman berumput hijau dan tebal.
"C'mon !", perempuan cantik itu mengerakkan jemari telunjuknya.
Tidak bisa menahan tawanya, Kendra kembali tergelak.
"Hmmmm.....benar-benar menggoda istri si mesum, gimana kalo aku jatuh cinta coba ?", lirihnya.
"Grandma, jangan salahin aku ya !", batinnya seraya melangkah cepat ke depan Adelia.
Begitu jarak mereka tinggal satu depa, segera perempuan cantik itu memberikan serangan.
Sedikit tersentak Kendra spontan menghindar.
"Whoa....whoa....absolutely hottttt girl !", serunya. Dengan senyum mesum di bibir.
Keduanya saling serang. Dengan gencar Adelia mendesak maju, agak kesal juga melihat senyum mesum lelaki itu.
Huft.....kalau Kenan sih sudah terbiasa. Lha ini lelaki asing. Memang benar wajah mereka mirip, tapi justru itu yang membuat Adelia ingin menghajar lelaki di depannya ini.
Karena apa ? Suaminya tadi pergi tanpa seijin dia, bahkan menelepon juga tidak.
Kalau alasannya gawai di bawa Catherine, kenapa tidak memintanya? Itu yang membuat hati Adelia memanas. Dan pada lelaki di depannya ini Adelia akan menuntaskan amarahnya. Gerakannya semakin lama semakin cepat, tapi tentu saja tidak terkontrol.
"Calm down, sweety ! Jangan buat usaha aku lebih mudah dong !", ledek Kendra lagi. Tahu kalau perempuan cantik istri sepupunya ini tengah di landa emosi.
"Berisik, buktiin aja kalo bisa jatuhin aku !", tantangnya. Terdengar kesal.
Kendra tergelak.
"You'll get what you want, baby !", selesai dengan ucapannya, Kendra bergerak cepat.
Lalu dengan sekali gerakan, berhasil membalik tubuh Adelia dan mengunci pergerakannya. Posisi tubuh Adelia kini membelakangi tubuh Kendra dengan jarak yang begitu dekat.
Bergidik Adelia karena nafas hangat lelaki itu menerpa leher belakangnya. Dengan cepat Adelia menyikut perut Kendra. Lolos. Lelaki itu tergelak.
"Hmmm....wangi.....!", gumamnya seraya mengendus rambut kecoklatan Adelia. Semakin membuat gadis cantik meradang. Kaki mungilmya bergerak cepat menginjak kaki Kendra, lalu dengan cepat menarik tangan lelaki itu ke depan dan membantingnya di tanah berumput.
Gedebug ...gedebug......terjadi bunyi beruntun.
Karena begitu tubuh lelaki itu terjatuh, bersamaan dengan itu menarik tangan Adelia hingga terjatuh di atas tubuhnya.
__ADS_1
Adelia berontak, berusaha melepaskan diri, tapi sebelum berhasil, Kendra membalik posisi mereka. Hingga tubuh gadis cantik itu berada di bawah tubuhnya. Ditahannya tangan mungil itu dengan kedua tangannya. Sementara kedua lututnya menahan pergerakan tubuh cantik itu.
"M....mau apa kamu ?", gagap Adelia begitu lelaki di atasnya tersenyum nakal dan nampak mendekatkan wajahnya.
"Mau cium ", balas Kendra. Dengan seringai mesum.
"No way !", Adelia berusaha berontak. Kakinya siap menendang lelaki di atasnya ini kalau berani macam-macam dengannya.
Ketika tiba-tiba suara bariton terdengar begitu keras dan penuh amarah.
"What are you doing ?"
Spontan Adelia dan Kendra menoleh. Tampak Kenan dan Catherine berdiri tak jauh dari posisi mereka sekarang. Tatapan tajam mata hazel yang penuh amarah dan tatapan Catherine yang terlihat sangat puas.
"Kennn....", lirih Adelia. Seraya melepaskan tangannya dari kungkungan tangan Kendra yang sedikit longgar karena terkejut oleh suara Kenan.
Lalu mendorong tubuh lelaki itu, hingga menyingkir dari atas tubuhnya. Dengan cepat duduk dan menegakkan tubuhnya.
Sementara Kendra, seperti tidak merasa bersalah, malah terkekeh begitu tubuhnya terjengkang.
"Let's go Ken !", Catherine meraih lengan Kenan dan menggelayutkan tangannya dengan manja di sana. Perempuan muda itu menoleh sejenak dan tersenyum sinis meledek ke arah Adelia sebelum melangkah menjauh.
Mata cantik Adelia membulat, bibir mungil itu sampai melongo. Kenan hanya menuruti saja ? Adelia tidak salah lihat kan ?
"Kennn....!", gumamnya seraya berdiri. Mengedipkan matanya beberapa kali, bahkan menepuki pipi mulusnya menyakinkan kalau semua itu bukan mimpi.
Kendra tergelak. Lalu menegakkan tubuhnya, dan duduk bersila di atas rumput.
"Sini aku cium, biar yakin kalo nggak mimpi !", godanya.
Adelia mendengkus. Lalu mata cantiknya menyorot tajam lelaki yang dengan santainya berucap padanya itu.
"Cium-cium, enak aja ! cium rumput sana biar nggak protes !", ketusnya. Lalu dengan cepat melangkah pergi.
"Hi, honey, where are you going ? wait for me !", teriak Kendra selengekan.
Adelia tidak menggubris. Tetap melangkah cepat tanpa menoleh sedikitpun.
Kendra tergelak lagi, lalu menepuk pahanya sendiri berulang-ulang.
**********
Adelia benar-benar tak habis pikir. Suaminya, iya suaminya, kenapa menjadi aneh seperti itu ?
Tidak mungkin kan cemburu pada sepupunya sendiri ? Konyol sekali.
Masih Adelia ingat dengan jelas, ekspresi puas Catherine saat pamer kemesraan dengan Kenan di depannya. Suaminya sama sekali tidak menolak. Apa lelakinya sedang tidak sadar sekarang ? Why ? Karena apa?
Huft....ingin rasanya Adelia memukul kepala lelaki itu agar bisa sadar kembali.
Dengan langkah cepat Adelia bergegas menuju ruang makan. Mungkin dengan memakan sesuatu, makanan favoritnya, bisa sedikit meredakan emosi jiwanya. Karena terus terang, Adelia merasa lapar sekarang.
Aihhh....tentu saja. Tadi cuma minum dan makan apel saja. Adelia ingin makan steak daging kesukaannya.
Menghentikan langkahnya tiba-tiba begitu mendengar samar-samar suara yang seketika membuat dadanya berdebar kencang. Adelia memasang telinganya baik-baik.
Exactly, suara Catherine dan suaminya. Perlahan Adelia kembali melangkah. Sudah terlanjur basah, Adelia lapar. Biar saja apapun yang Adelia lihat nanti, Adelia tidak peduli.
"Buruan makan Cath, katanya lapar tadi ", suara Kenan. Terdengar begitu lembut.
"Suapin ya ? Mau makan kalo disuapin kamu", suara manja Catherine.
Dan begitu Adelia membuka pintu, apa yang Adelia lihat membuat dadanya berdebar semakin kencang. Suaminya tengah menyuapkan sesuatu ke mulut perempuan itu. Terhenti begitu menoleh ke arah pintu dan bertemu pandang dengannya.
Degggg.....deeggg...bunyi jantung Adelia seperti genderang mau perang, sekaligus ada nyeri di ulu hati.
"Aaaa....Ken !", Catherine membuka mulutnya dengan gaya dibuat-buat. Seakan-akan sengaja menunjukkan itu di depan Adelia.
Adelia segera mengalihkan pandangan. Dengan cepat melampaui Kenan dan Catherine menuju ke dapur. Tanpa memperdulikan mata hazel Kenan yang menyorotinya dalam.
"Adel....", panggil Catherine. Adelia berhenti. Tanpa menoleh sedikitpun.
__ADS_1
"Makan bareng yuk !", ajaknya.
"No thanks, just enjoy your time !", balas Adelia seraya kembali melangkah. Perutnya seketika menjadi penuh. Kemana rasa laparnya tadi ? Batinnya.
Tanpa terasa ada sesuatu yang menggenang di pelupuk matanya. Sekuat tenaga Adelia menahan itu agar tidak jatuh.
No....no, kamu bukan perempuan lemah, Adel ! Bukan perempuan lemah !
Nggak boleh nangis, nggak boleh !!!!
teriak hatinya.
Seraya terus melangkah ke arah kulkas besar di ujung dapur. Membukanya, lalu mengambil sesuatu.
Es krim....iya es krim mungkin bisa mendinginkan kepalanya. Karena sekarang perutnya sudah tak terasa lapar lagi.
Satu cup besar es krim ia keluarkan. Dan satu botol besar air mineral. Membawanya duduk di stoolbar dapur, yang sekiranya tidak bisa di lihat dari ruang makan, dimana suaminya tengah menyuapi perempuan itu.
Dengan cepat melahap es krimnya. Tak butuh waktu lama, tinggal satu suapan terakhir.
Saat akan memasukkan itu ke bibirnya, sebuah tangan dari belakang meraih tangannya. Dan membawa suapan es krim itu ke sana.
"Hmmm....so sweet !", suara bariton mengecap bibirnya begitu es krim masuk ke mulutnya.
"Kamu ...", Adelia segera menarik tangannya. Membulatkan matanya begitu tahu siapa pelakunya. Kendra.
"Ngapain ke sini ?", ketusnya seraya membuka tutup botol air mineral.
Kendra terkekeh. Lalu duduk di stoolbar sebelah Adelia.
"Emang nggak boleh ?", cueknya.
Adelia hanya mengedik. Lalu menengak air mineral di tangannya. Kendra memperhatikan dengan senyum di bibir.
Baru saja Adelia akan menaruh botol air mineral, dengan cepat Kendra menyambarnya.
"Haus", katanya. Lalu menengak air di botol besar yang tinggal separuh itu hingga tandas.
Adelia hanya menggeleng pelan. Ngapain lelaki ini mengekorinya terus ? Batinnya.
Samar-samar masih Adelia dengar suara Catherine yang begitu manja dengan suaminya. Semakin mengecil, mengecil dan akhirnya menghilang. Mereka sudah keluar dari ruang makan
Syukurlah !
Batin Adelia. Dia tidak perlu melihat lagi adegan yang menyesakkan dadanya. Sedetik kemudian Adelia beranjak. Tapi sebuah tangan besar menahan tangannya.
"Mau kemana ? Aku lapar ", melas Kendra.
Adelia menarik tangannya.
"Minta tolong sama bibi sana, aku nggak lapar", balas Adelia. Hendak memutar tubuhnya, spontan berhenti ketika Kendra kembali berucap.
"Aku mau buat steak, bisa temeni aku makan ?", suara lelaki itu memohon.
Mata cantik itu menatap Kendra dengan binar di mata.
"Beneran ? Aku mau ", cerianya.
Kendra tersenyum sumringah.
"Yesss....", tangannya mengepal ke udara.
"Emang bisa ?", penasaran Adelia.
"Of course, honey. Bukan cuma bisa, tapi expert ", yakinnya seraya beranjak dari duduknya.
"Just sit down, let me do it, okay !", seraya meminta Adelia duduk kembali.
Bibir mungil itu mencebik. Tapi tetap saja mengikuti kemauan lelaki itu. Menyaksikan sepupu suaminya itu dengan lincah bergerak ke sana kemari, membuka kulkas, mencari bahan dan mempersiapkan alat drillnya.
Sesekali bibirnya tersenyum lucu, ketika Kendra menatap ke arahnya. Dan menunjukkan apa yang dilakukannya.
__ADS_1
Dari balik pintu sepasang mata hazel menatap dengan sorot sendu.
"I'm sorry, baby. I'm sorry ", gumamnya seraya melangkah pergi.