
Sepasang mata itu menatap tajam ke arah Adelia yang baru keluar kamar. Penuh kebencian. Tanpa Adelia sadari. Sementara bibir mungil gadis cantik itu masih menyunggingkan senyum.
Begitu tubuh mungil itu menjauh dari pintu dan hilang di balik dinding, sesosok tubuh perempuan itu segera menyelinap.
Dengan berjingkat mendekati pintu kamar. Perlahan membuka pintu. Menghela lega begitu pintu tidak terkunci.
Dengan sangat berhati-hati kembali menutup pintu. Lalu dengan mengendap masuk lebih dalam ke kamar besar itu.
Tersenyum lebar begitu mendapati siluet tubuh lelaki bertubuh tinggi atletis itu. Dengan posisi membelakangi, tengah membenahi handuk yang dia gunakan untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Kenan.
Sesosok perempuan itu langsung menghentikan langkahnya, begitu terdengar Kenan terkekeh.
"Apa lagi, sayang ? Mau godain aku ?", ucapnya. Terdengar begitu mesra.
Mimik wajah dari sesosok tubuh perempuan itu cemberut. Tahu benar siapa yang di sapa seperti itu. Tapi sebentar kemudian tersenyum.
"Kennn, makasih !", langsung menghambur memeluk tubuh Kenan dari belakang.
Terkesiap, Kenan segera menjauhkan tangan perempuan itu dan memutar tubuhnya.
"Catherine... you !", mata hazel itu membulat. Mundur beberapa langkah untuk memberi jarak dengan sosok di depannya.
Perempuan itu tersenyum, memamerkan bibirnya yang merah.
"Yes, It's me ", balasnya. Seraya melangkah mendekat.
Kenan menyatukan kedua alisnya.
"Ngapain ke sini ?", tidak suka privasinya diganggu. Apalagi masih dalam keadaan bertelanjang dada seperti ini. Dan cuma menggenakan handuk saja.
Catherine justru semakin mendekat.
"Relax, Ken. Dulu biasa aja aku main ke kamar kamu ", balasnya.
Kenan berdecak lirih
"Ini kamar aku sama istri aku Cath. Beda sama dulu", balasnya. Sedikit kesal.
Lalu melangkah untuk meraih kaos yang tergeletak di tepi ranjang dan dengan cepat memakainya. Iya, kaos yang batal Kenan kenakan semalam, karena terlalu tergoda dengan kemolekan tubuh istrinya.
Entah kenapa Kenan merasa risih bertelanjang dada di depan perempuan yang bukan istrinya.
Padahal dulu juga biasa saja. Apalagi Catherine adalah sahabatnya. Tapi setelah menikah dengan Adelia, semuanya berubah. Perempuan cantik dan hebat itu memang luar biasa.
Aishhhh.....kenapa Kenan tiba-tiba kangen pada perempuan cantik itu. Dan tanpa komando sesuatu di bawah sana ikut bergerak gelisah kalau mengingat istri cantiknya itu.
Catherine mencebikkan bibirnya.
"Okay, I know ", perempuan itu melangkah mondar-mandir. Matanya menyapu seisi kamar.
"Aku mau ajak kamu ke Dokter obgyn pagi ini. Cek kondisi baby kita...", Dokter muda itu menjeda ucapannya.
"Sekalian tes DNA, buat buktiin......", Catherine belum selesai berucap, Kenan segera memotongnya.
"I know ...", seraya mendesah berat.
Catherine tersenyum. Lalu melangkahkan kakinya menuju ke arah ranjang. Di mana Kenan berada di sana. Di sisi yang berlawanan.
"Nice bed, ahhhh....nyamannya ", seraya merebahkan tubuhnya di sana.
Kenan segera melangkah menjauh.
"Okay, tapi kamu keluar sekarang, aku mau mandi ", suruhnya.
Catherine terkikik.
"Need some help ?", tawarnya. Masih terlentang di atas ranjang.
"No, thanks !", tegas Kenan.
Catherine memiringkan tubuhnya. Menaikkan satu kakinya ke atas sehingga mengekspos paha putihnya. Sebelah tangannya dia gunakan untuk menyangga kepalanya.
"Hmmm.....aku cium bau ****** ***** di sini ", gumamnya.
"Apa pose favorit istri kamu ?", lanjutnya. Seraya memainkan jemarinya.
Kenan mendengkus.
"Please Cath, get out now !", kesal Kenan.
Perempuan muda itu kembali terkekeh. Lebih keras. Bahkan tubuhnya ikut bergetar karena gelaknya.
"Okay...okay, aku keluar ", katanya seraya bangkit dari baringnya.
"Thanks for the pizza, it's delicious !", kata Catherine sebelum melangkah menuju pintu. Tidak menyahuti Kenan hanya mengernyitkan dahinya.
"Don't forget, close the door !", serunya.
Perempuan itu menoleh seraya mengedip nakal.
__ADS_1
"Call me if you're ready ", balasnya.
*********
"Hya....hya ...", gadis cantik itu dengan penuh semangat menggerakkan tubuhnya. Tangan, kaki dan seluruh tubuhnya bergerak lincah.
Setitik cairan bening nampak mengalir di keningnya. Menambah kesan seksi perempuan cantik itu.
Saat gerakan memutar, mengarahkan pandangan matanya ke mansion. Zonk. Tak tampak siluet tubuh yang dicarinya.
Bibir mungil ranum itu sedikit cemberut.
"Lama banget sih, Ken !", gumamnya.
Kemudian kembali melanjutkan latihannya. Menendang, memukul dan kadang kala melompat di udara dan rolling.
Beberapa lama, suaminya tetap belum menampakkan batang hidungnya. Sebentar kemudian Adelia menyudahi latihannya.
Tapi tiba-tiba sebuah serangan mengarah ke wajahnya.
"Ohh.... my gosh !", kagetnya seraya menghindar. Tipis sekali pukulan itu hampir saja menyerempet pipi mulusnya. Seorang lelaki asing. Senyum meledek tersungging di bibir lelaki itu.
Sedikit kesal Adelia langsung membalas serangan. Ingin rasanya memukul kepala lelaki yang sudah mengganggunya. Secara lelaki yang ditunggunya tak kunjung datang. Justru datang biang kerok. Huft....cari gara-gara saja. Batinnya menggerutu.
Keduanya saling serang. Ehhh....waittt !
Kenapa wajah lelaki ini mirip banget sama Kenan. Cuma bedanya dia punya kumis sama cambang.
"Who are you ?", galak Adelia. Masih dengan melakukan serangan. Tanpa jeda.
Lelaki itu tergelak. Meskipun sedikit terdesak oleh serangan Adelia.
"Nggak salah pilihan si mesum !", dengan gelak tawa yang menjengkelkan.
Mendengkus lirih Adelia ingin segera mengakhiri duel itu. Perempuan cantik itu semakin menaikkan tempo serangannya. Lalu pada suatu kesempatan yang ditunggu bergerak cepat dan melompat tinggi ke udara.
"Wonderfull girl !", seru lelaki asing itu. Dengan senyum meledek. Adelia tidak peduli, lebih fokus mencari titik lemah lelaki itu.
Dan saat itu tiba, Adelia dengan cepat mendaratkan pukulan di tubuh lelaki itu.
"Buughhhh.....", pukulan keras Adelia bersarang di tubuh lelaki itu hingga bergeser ke belakang beberapa meter. Untung saja keseimbangan lelaki itu bagus, kalau tidak pasti sudah terpental dia.
"Ougghhh.....", lelaki itu meringis memegangi perutnya. Tapi bibirnya tersenyum, menyeringai ke arah Adelia. Yang kini sudah mendaratkan kakinya dengan mulus di lantai.
"Pura-pura sakit lagi, ngaku siapa kamu ?", Adelia bersidekap.
"Bener-bener galak ya, bikin aku penasaran", gumamnya. Seraya terus melangkah mendekat.
"Stop there !", bentak Adelia. Lelaki itu spontan berhenti.
"Okay....okay....", seraya mengangkat kedua tangannya.
"Siapa kamu ? pencuri ?", selidik Adelia
Bukannya menjawab, lelaki itu malah tergelak. Lebih keras dari tadi.
Ehhh....Mata cantik Adelia membulat sempurna. Memang benar, kalau diperhatikan lebih seksama bukan cuma wajah, suaranya juga mirip dengan Kenan.
Apalagi tertawanya itu. Terdengar menyebalkan. Seperti tawa Kenan awal bertemu dengannya. Membuat Adelia benci setengah mati. Dulu. Sekarang, Adelia sangat mencintai lelaki itu.
"Pencuri hatimu, sayang ", balas lelaki itu dengan mengerling nakal.
Adelia bergidik. Ihhh....lelaki ganjen. Belum apa-apa sudah main mata begitu. Batinnya.
"Coba aja kalo berani !", tantang gadis cantik itu kemudian.
Lelaki itu terkekeh.
"Okay, kita taruhan ", tantangnya ganti.
Adelia mencebik.
"No way, kenal juga kagak, ngapain juga taruhan ?", tolaknya.
Lelaki itu tersenyum. Melangkah lebih mendekat dengan Adelia. Hingga jarak mereka tinggal beberapa langkah saja.
"You know me, baby", katanya.
Adelia menyatukan alisnya. Penuh tanya.
"Kendra, Kenan's cousin ", ucap lelaki itu seraya mengulurkan tangannya.
Adelia tentu saja tidak mau begitu saja percaya. Kenan tidak pernah cerita tentang sepupunya. Perempuan cantik itu menerima uluran tangan lelaki itu.
Lalu tanpa diduga memutar tubuhnya, dan menarik tangan lelaki itu hingga.....brakkkkkk. Adelia banting tubuh lelaki itu di lantai.
Tersentak dan meringis menahan sakit bertubrukan dengan lantai, kaki lelaki itu spontan bergerak cepat ganti menyapu kaki Adelia. Masih dalam posisi terlentang di lantai.
Dan ....."arghhh", tubuh gadis cantik itu terjatuh ke belakang. Tapi sebelum tubuh itu benar-benar menimpa lantai, lelaki itu dengan cepat menggeser tubuhnya agar berada di bawah tubuh Adelia.
__ADS_1
Akhirnya tubuh istri Kenan jatuh di atas tubuh lelaki itu. Dengan posisi terlentang di atas tubuhnya. Dengan cepat Adelia melompat bangkit.
"Beneran sepupu Kenan ?",selidik Adelia Masih ragu. Lelaki itu mengangguk.
"Hmmm....si mesum nggak pernah cerita ?", tanyanya. . Dengan mimik jengah.
Adelia seketika terkekeh.
"Siapa yang kamu panggil mesum ?", perempuan cantik itu penasaran.
"Suami kamu, siapa lagi ?", balas lelaki itu seenaknya. Perlahan melangkah menuju tatanan meja dengan hidangan di atasnya. Yang sedianya untuk sarapan Kenan dan Adelia.
"Pasti takut aku tikung dia ", kekeh lelaki itu. Tangannya meraih sebuah apel merah. Lalu menggigitnya.
"Sweet ", seraya mengacungkan itu kepada Adelia.
Adelia tidak menanggapi. Lalu melangkah menuju sisi meja yang lain dimana gawainya tergeletak.di sana.
"Mau telpon si mesum ? ", tanya lelaki itu begitu Adelia mengotak-atik gawainya.
Masih sibuk menikmati apelnya.
Adelia masih tidak menggubris. Tapi ketika lelaki itu berucap lagi Adelia segera mendongak dan menatap lelaki itu tajam.
"Coba aja, pasti nggak diangkat !", pongah lelaki itu. Seakan dia tahu tentang Kenan.
"Sok tahu !", ketus Adelia.
Lelaki itu tergelak.
"Just try, darling !", tantangnya
Bahu cantik itu mengedik. Bibir mungilnya mencebik. Meneruskan mengotak-atik gawainya. Tentu saja menghubungi suaminya. Lama panggilan belum terhubung. Lalu terdengar bunyi tutttt panjang.
Berdecih lirih Adelia kembali mendial nomer yang sama. Bibir mungil itu langsung cemberut karena panggilannya di reject.
"Kennn......apa-apaan sih ?", sambil menghentakkan kakinya kesal.
Lelaki itu terkekeh. Masih asyik menikmati buah apelnya. Adelia spontan menoleh dengan tatapan menusuk.
Lelaki itu mengedikkan bahunya cuek. Mulutnya masih sibuk mengunyah apel yang tinggal sedikit itu.
Adelia menarik kursi sedikit kasar. Duduk di sana lalu meraih segelas air putih di meja. Menghabiskan itu dalam sekali tegukan.
Lelaki itu menatap dengan bibir terbuka. Apalagi setelah perempuan cantik yang kini di tangannya memegang buah apel itu berucap.
"Ngapain berdiri terus ? bisulan pantat kamu ?", ledeknya.
Sambil mengigit apel di tangannya
"You want me to sit, honey ? Okay", balas lelaki itu. Menyelesaikan gigitan apel terakhirnya. Lalu duduk di kursi tepat di hadapan Adelia.
"Beneran sepupu Kenan ?", selidik Adelia.
Bibir mungil itu kembali menggigit apel di tangannya.
"Memang aku ada tampang pembohong ?", tanyanya balik.
"Who knows ?", Adelia mengangkat kedua tangannya.
Lelaki itu mendengkus. Tangannya meraih segelas air putih di depannya. Sedianya adalah untuk Kenan. Meneguknya sekali tandas.
"So, gimana tebakan kamu bisa tepat begitu
? Sepupu Kenan bukan dukun kan ya ?", ledek Adelia.
Lelaki itu langsung tergelak keras.
"Tadi bilang pencuri, sekarang dukun. Maybe wajah aku mirip dukun ya ?", godanya.
Adelia mendengkus lirih.
"Dukun cabul ", ketusnya. Membuat lelaki itu semakin tergelak keras.
"So funny, baby. Pantas aja Kenan jatuh cinta, kayaknya aku juga ", seraya mengerling nakal.
"Aisshhh....non sense. C'mon tell me !", desak Adelia.
"You really wanna know, darling ?", lelaki itu menaikturunkan alisnya.
Adelia berdecak sebal. Spontan beranjak dari duduknya dan melangkah pergi.
"I'll find out by myself ", katanya.
"Eh....wait...!", lelaki itu beranjak. Berusaha menahan Adelia.
Perempuan cantik itu tetap melangkah. Tiba-tiba berhenti ketika lelaki itu mengatakan sesuatu.
"Gawai Kenan di bawa perempuan, mereka pergi berdua ".
__ADS_1